SEULAS CERITA DI BALIK TINGWE
"Permisi, Mami," panggil Seroja.
"Masuk!" perintah Maria.
"Aku sudah tahu kau menolak kan? Tapi apakah kau yakin? Baca aturan kerjaku baru putuskan!" perintah Maria sambil mengambil map berisi rules aturan kerjanya. Dengan sedikit bergetar dan ketakutan Seroja mendekati meja mami Maria.
"Duduk dan bacalah dulu. Kalau memang ada yang kurang kita bisa negosiasikan," ujar Mami Maria berdiri mengambil kotak jati kayu ukiran cantik sekali.
Mami maria membuka kotak itu, ternyata di dalamnya berisi tembakau, dalam wadah kecil terdapat cengkih dan korek gas. Dengan anggun tapi cekatan Maria mengambil kertas papir premium berbungkus box hitam dengan tulisan luxury, Seroja baru pertama kali melihat bungkusan seperti itu. Seroja yang penasaran mengamati Maria, bukannya tanpa alasan karena sebenarnya almarhum bapaknya di kampung memang penikmat rokok 'Tingwe' atau lintingan dewe atau melinting sendiri, bukan rokok buatan pabrik. Bedanya kertas pembungkus yang di gunakan hanya memakai klobot jagung yang di keringkan atau jika memiliki duit lebih akan membeli kertas paper warungan seharga dua ribuan.
Maria menggulung sejumput tembakau dengan membubuhkan rempah atau cengkih lalu di tetesi dengan cairan merah setetes. Maria melinting kertas itu, lalu merekatkan nya dengan ludahnya sendiri. Seroja menatap dengan tatapan heran karena biasanya tingwe semula dilakukan oleh pekerja kerah biru dan petani di perdesaan. Ada yang memang jadi kebiasaan harian, ada juga yang selingan karena di waktu tertentu seperti hajatan mengisap buatan pabrik. Memang ada suatu masa dimana rokok beserta jenis dan mereknya menunjukkan strata sosial.
"Rasanya memang gaya Mami Maria saja dia memilih tingwe dari pada rokok pabrikan. Semua alat tingwe nya juga berbeda, tak seperti milik orang desa kebanyakan," gumam Seroja.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Maria yang menyadari sedari tadi Seroja memperhatikannya melinting rokok.
"Ti- tidak Mami, maaf," jawab Seroja tergagap sambil langsung membaca surat lagi.
"Cih," decih Maria.
Dia tahu banyak orang yang heran dengan kebiasaan merokoknya yang lebih memilih ribet dengan melinting tembakau sendiri padahal bagi Maria membuat dan meracik rokok yang akan di nikmati nya merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Layaknya penggemar kopi yang mencampur atau nge-blend beragam kopi, tingwe juga memadukan aneka tembakau dari berbagai penjuru. Ada yang meramu agar aroma dan rasanya seperti rokok favoritnya, ada pula yang pengin original.
"Aku tahu kau pasti bertanya kan mengapa aku memilih ini?" tanya Maria. Seroja menganggukkan kepalanya.
"Memang apa yang terlintas dalam benak pikiranmu jika seorang wanita merokok seperti ini? Jawablah, aku ingin tahu apa pemikiran dan pendapatmu," perintah Maria.
"Nakal, itu yang saya pikirkan di lingkungan kerja dan rumah dulu, Mi. Namun saat saya sudah di sini sepertinya di lingkungan ini merokok adalah hal yang biasa," jelas Seroja.
Maria tersenyum kecut sambil menyalakan ujung rokoknya dengan korek gas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan zaman sangat berpengaruh terhadap perubahan sosial dan perilaku masyarakat. Di era ini sudah tidak asing lagi apabila kita menjumpai seorang perempuan yang merokok. Fenomena ini seringkali menjadi perdebatan dikalangan masyarakat, karena adanya stigma masyarakat yang menganggap kalau perempuan merokok adalah perilaku tidak lazim dan tidak pantas, bahkan seringkali perempuan perokok dicap buruk oleh masyarakat.
Perilaku merokok yang dilakukan oleh seorang wanita tentu saja memiliki motif dan makna sendiri terlepas dari fenomena perubahan sosial. Ini terjadi disebabkan oleh berbagai macam faktor, yakni faktor lingkungan dan faktor dari dalam diri mereka sendiri (para perempuan perokok). Perempuan yang memiliki kebiasaan merokok pada awalnya tidak pernah mengkonsumsi rokok, namun dikarenakan adanya pengaruh oleh lingkungan akhirnya menyebabkan perempuan menjadi perokok aktif. Perempuan perokok tidak hanya mengalami perubahan atas dirinya sendiri, tetapi juga mengalami perubahan yang terjadi di lingkup masyarakat.
"Ya. Namun kau akan di maklumi dan dianggap wajar jika ada di lingkungan yang sama perokok. Seperti yang kau ucapkan tadi, stigma buruk dari masyarakat tentang perempuan perokok yang mana stigma ini sudah tertanam sejak dahulu. Hal ini menyebabkan perempuan perokok terkadang mendapatkan diskriminasi oleh lingkungan sekitarnya. Padahal beberapa wanita seperti kita bisa meyakini bahwa merokok merupakan salah satu cara untuk pengalihan dari masalah yang sedang kita alami, tekanan hidup, dan untuk saling menertawakan kehidupan kita yang rasanya tak adil, bukan? Dengan merokok aku sendiri merasa lebih lega dan percaya diri mengambil semua keputusan," jelas Maria.
Meskipun tidak membantu mengatasi permasalahan secara langsung, namun dengan merokok membuat pikiran menjadi lebih tenang ketika sedang menghadapi masalah. Rasa tenang ini dihasilkan oleh peningkatan dopamin yang berlebih, efeknya dapat memberikan rasa tenang, bahagia, dan senang saat menghisap rokok.
"Merokok dengan melinting sendiri menurutku cerminan kesahajaan, sederhana memang sebatas melinting sendiri tapi bukankah ini bisa dianggap sebagai perlawanan?" tanya Maria sambil menarik dalam-dalam asap keabu-abuan itu, lalu menghembuskan perlahan seolah terasa enggan untuk di uraikan, menikmati, begitu kesannya yang bisa ditangkap Seroja.
"Hidup itu berproses seperti saat kita melinting rokok ini. Sebelum siap di nikmati, kita harus menata tembakau dan cengkeh diatas kertas cigaret, dilanjutkan dengan melinting atau menggulung, dan itu dilakukan dengan dua tangan, harus sinergi serta penuh dengan penghayatan, tanpa di hayati sering dan acap kali gulungan itu akan pudar atau terbuka. Benar bukan?" tanya Maria. Seroja menganggukkan kepalanya.
"Kesederhanaan, kesabaran, ketelatenan, dan sinergitas akan menjadikan rokok tingwe siap di hisap dalam-dalam sama seperti hidupmu saat ini. Pikirkan lagi, di mana lagi kau bisa mendapatkan pekerjaan mudah tak susah seperti ini? Banyak wanita yang ingin bergabung denganku, aku menolaknya, tapi secara khusus aku memilihmu," kata Maria sambil berdiri.
Maria mendekatkan dirinya pada Seroja, dia merangkul wanita itu dari belakang. Jantung Seroja berdetak begitu keras sekarang, berbeda dengan Maria yang menghirup dalam- dalam rokok itu lalu menghembuskannya ke wajah Seroja. Sepersekian detik Seroja merasa nyaman dan lebih rileks setelah menghirup asap rokok itu.
"Aku tahu impianmu memberikan sawah untuk Simbok mu di kampung kan, Seroja?" tanya Maria. Mendengar ucapan Maria, dia pun mendongakkan kepalanya.
"Hahaha, kenapa wajahmu menegang? Tenang Seroja, kau jangan kaget, aku mendengarnya dari siapapun apalagi dari Cindy. Aku adalah MARIA BINTI FATIMAH yang bisa tahu semuanya. Seroja, dengarkan aku sekarang dan pikirkan. Apa yang kau cari di dunia ini? Apa yang menjadi tujuan di hidupmu? Pasti satu membahagiakan kedua orang tuamu kan? Tapi sayangnya bapakmu sudah mati. Kalau kau hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga saja, sedangkan kau harus mengirim uang untuk anakmu di kampung untuk membeli susu dan pampers, apakah cukup gajimu? Kau mau menabung sampai berapa puluh tahun? Hahaha," ujar Maria.
"Itu rasanya tak akan bisa membeli itu, sedangkan jika kau bekerja seperti Cindy maka bisa ku pastikan kau bia mendapatkannya dengan mudah hanya dalam hitungan mungkin kurang dari satu tahun, semua tergantung kemauan untuk bekerja mu. Bagaimana?" iming-iming Maria.
AKANKAH SEROJA TERGODA BUJUKAN MARIA MENJADI SEORANG P S K?
BERSAMBUNG