Maria Si Induk Semang Bermulut Semanis Madu

1067 Words
MARIA SI INDUK SEMANG BERMULUT SEMANIS MADU! "Itu rasanya tak akan bisa membeli itu, sedangkan jika kau bekerja seperti Cindy maka bisa ku pastikan kau bia mendapatkannya dengan mudah hanya dalam hitungan mungkin kurang dari satu tahun, semua tergantung kemauan untuk bekerja mu. Bagaimana?" iming-iming Maria. Seroja masih terdiam, dia membaca perjanjian kerja di pegangnya itu. Terdiri dari lima lembar, dalam perjanjian itu sangat detail sekali mendeskripsikan semua pekerjaan yang di lakukan oleh Seroja dan berapa lama dia ingin bekerja di mulai dari dua tahu kontrak pertama sampai perlima tahun sekali. Tak hanya itu di sana juga ada fasilitas apa saja yang akan di berikan Maria sebagai feedback nya. "Ah tapi aku tidak akan memaksamu, Sayang. Semua kembali padamu, aku hanya mencarikan solusi untuk hidupmu saja agar menjadi lebih mudah. Aku tak akan banyak bicara kau sudah tahu Cindy kan? So, kau bisa mengambil kesimpulan. Bagaimana enaknya kerja bersamaku dari temanmu dan sahabatmu itu," ujar Maria sambil berjalan kembali ke arah belakang meja kerjanya. Seroja tertegun dan meneguk ludahnya berkali-kali, sungguh iming- iming yang sangat menggoda. Di benaknya sudah terbayang bagaimana jika dia bisa berhasil memberikan tanah untuk simboknya, tentu rona bahagia akan terpancar. DIa bisa mengambil pekerjaan paling singkat selama dua tahun saja bisa mengumpulkan modal yang cukup banyak juga. Meski pekerjaan ini jelas haram. "Tapi Mami, saya takut..." "Apa yang kau takutkan?" tanya Maria. "Banyak hal, Mi. Pertama bagaimana nanti kalau orang-orang di kampung saya tahu jika saya bekerja seperti ini? Sungguh saya tak ingin mengecewakan Simbok di kampung," jawab Seroja. "Hahaha kau ini polos dan lugu sekali Seroja, kenapa orang kampungmu harus tahu kau bekerja seperti ini? Mereka tak perlu tahu, Sayang. Ini rahasiamu, asal kau tak sering meng upload di sosial media gaya hidupmu, tutup rapat semua privasimu, dan serahkan semua padaku. Maka tak jamin hidupmu akan lebih mudah" sahut Maria. "Tapi Mami, penampilan saya..." "Diam lah, bukan kah aku tadi sudah menawarkan kepadamu? Kau butuh dan mau perawatan ke salon mana? Mau tanam benang? Filler hidung? Botox? MAssage, spa? Apapun yang kau mau lakukanlah," perintah Maria. "Ta- tapi saya tidak punya uang, Mi," jawabnya. "Gampang. Aku akan membayar semuanya jika kamu mau. Bahkan aku bisa menelepon Cindy agar dia mengirim lokasi salonmu dan menelepon sopir pribadiku mengantarkanmu ke sana. Kalau kau mau dan siap ke salon dan membenahi dirimu maka kau bisa bekerja mulai nanti malam," ucap Maria. "Kau ini cantik, jadi gampang mencari uang untuk membelikan sawah Ibumu. Coba saja ambil setahun atau dua tahun. Kerja lah denganku baru kau menilainya nanti," sambungnya. "Ta- tapi saya memiliki permintaan, Mami," pinta Seroja. "Apa yang kau minta, Sayang?" tanya Maria. "Saya tidak bisa jika berhubungan dengan lelaki yang tua, saya juga tidak mau jika mereka melakukan aneh- aneh. Ingin yang sewajarnya aja," jawab Seroja. "Nice Sayang! Apa maumu? Aku akan mendengarkan apa permintaanmu, ini bukan gang Dolly cintaku, kau berhak mengatakan apa maumu, mengatakan tamu seperti apa yang menjadi kriteriamu? Kita hidup di jaman modern di mana hidup ini tidak se- dramatis dulu," jelas Maria tertawa terbahak- bahak. "Kau nanti perlu ke salon, kau membersihkan tiap jengkal daki dalam tubuhmu menjadi wangi lalu berfoto ya, Sayang. Kau pose menggoda seperti wanita ini," perintah Maria. "Harus seperti ini, Mami? Kalau saya tak bisa bagaimana?" tanya Seroja polos. "Tenang saja. Fotografernya sangat profesional! Mami menghindari cara menjual dengan memajang. Kuno! Kau harus berfoto menggoda, agar saat tamu boss itu memerlukan mu tinggal mengirimkan file foto kalian. Jadi berikan yang terbaik, Sayang," ucap Maria sambil mematikan rokoknya yang sudah tinggal seujung kuku. Maria tersenyum penuh arti, sebagai induk semang dia sangat tahu bahwa sekarang wanita cantik polos di hadapannya ini akan menjadi pundi- pundi cuan untuknya. Permainan bisnis prostitusi tersebut dimainkan dengan cara menjajakan seks secara dramatis dengan mendudukan para PSK di depan kaca besar layaknya manekin dipusat perbelanjaan yang memang tujuannya untuk diperdagangkan. Para pekerja seks yang di pajang di balik kaca seperti ikan dalam akuarium tersebut sudah menjadi ciri khas bagi wilayah prostitusi Dolly. Para penjaja sekss pun bebas memilih wanita yang terdapat dibalik kaca besar tersebut. Meskipun tidak di perlihatkan dengan jelas dalam penanda nama yang terpampang dengan jelas bertuliskan “Dolly”, namun semua orang sudah mengetahui bahwa kawasan kompleks pelacuran Dolly mempunyai daya tarik dan nila jual tersendiri. Hal itulah yang menyebabkan Dolly menjadi idola hingga ke Asia Tenggara. Perkembangan bisnis protitusi di Dolly dimulai sejak tahun 1967. Pada mulanya Dolly merupakan daerah pemakaman cina yang sepi. Lalu tempat tersebut dibongkar dan dijadikan sebagai tempat tinggal. Setelah dibukanya lokalisasi Dolly, masyarakat secara tidak langsung menggantungkan hidupnya dengan wisma – wisma yang menjadi sumber penghasilan utama bagi keberlangsungan hidupnya. Kawasan Dolly berkembang dengan sangat ramai dan semakin bertambah besar pada tahun 1980-an Jumlah mucikari dan WTS (Wanita Tuna Susila) mengalami kenaikan secara signifikan dari tiap tahunnya mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitar lokalisasi. "Oh ya, apa yang kau inginkan dari Mami, Sayang? Kau jangan anggap Mami sebagai mucikarii mu, tidak. Mami ini adalah Mamimu, bukan mucikarii mu! Jadi kau bisa bercerita apapun pada Mami, Sayang. Kau kurang uang? Bisa minta Mamii, ketika kau memilih beberapa tahun ikut Mami, kau tanda tangan diatas kertas itu, well maka Mami akan memberimu satu kamar khusus seperti Cindy," bujuk Maria. Dalam kegiatan pelacuran, mucikari mempunyai peran yang sangat penting. Yang dimaksud dengan germo atau mucikari adalah seseorang perempuan maupun laki – laki yang mata pencahariannya yaitu memimpin, membiayai, menyewakan, dan mengatur tempat untuk praktek pelacuran setiap Pekerja Seks Komersial yang sudah menjadi anak asuh di wisma miliknya untuk dipertemukan dengan laki – laki yang akan menyetubuhinya dengan bayaran yang sudah di sepakati antara PSK, mucikari, dan pelanggan. Dari praktik bisnis prostitusi yang dilakukan, mucikari mendapatkan sebagian dari hasil kerja pelacur. Atau bisa didefinisikan mucikari merupakan orang yang menjadi penyalur atau perantara antara pelanggan dengan PSK untuk memudahkan terjalinnya hubungan seksual. Dari hasil kerja tersebut, mucikari mendapatkan sebagian hasil yang diperoleh para anak asuhnya (wanita pelacur) dari laki – laki yang dipuaskan hasratnya. "Lalu apakah tak ada jaminan nya, Mi?" tanya Seroja. "Jaminan untuk apa, Sayang?" sahut balik Maria sambil mengambil cerutunya menyalakan rokoknya lagi. "Karena Mami memberikan semua fasilitas ini kepada Seroja, bukankah semua tak ada yang gratis di dunia ini, Mami. Jujur saja kalau uang Seroja tak punya banyak hanya sepuluh juta saja, adanya hanya KTP, ijazah, dan Akta kelahiran," jelas Seroja dengan polosnya. "Huahhahahahaah! Hahahahh! Uhuk- uhuk," tawa Maria memenuhi ruangan. "Sayang kau polos sekali! Aku benar- benar menyukaimu," puji Maria. MENGAPA MARIA TERTAWA? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD