Bab 1 Berita Kecelakaan
Bab 1 Berita Kecelakaan
"Apa Ibu udah kasih tau Ayah, kalau aku pulang hari ini?" Seorang remaja perempuan bertanya pada ibunya.
"Ya, enggak, lah. Kan, kamu bilang mau kasih kejutan sama Ayah," jawab sang ibu, seraya menampilkan senyuman yang dapat terlihat jelas lewat kaca spion sepeda motornya.
Kedua sudut bibir gadis remaja itu pun tertarik ke atas membentuk lengkungan indah. Merasa puas dengan jawaban yang diberikan sang bunda. "Makasih ya, Bu. I love ... aarrgghhtt ...."
Cekiit....
Braakk ....
Praayy ....
***
"Berita terkini, telah terjadi kecelakaan di Jalan By Pass jalur pantura Kabupaten Cirebon. Sebuah truk bermuatan kayu menabrak sebuah sepeda motor ..."
"Ya Allah ... kasihan sekali mereka ya, Pak." ucap Hendi, salah satu karyawan di toko milik Rahman.
Hendi sedang serius menonton berita di televisi yang menayangkan sebuah kecelakaan lalu lintas. Entah kecelakaan apa dengan apa, Rahman tidak terlalu memerhatikan karena sedang sibuk menghitung uang hasil penjualan bahan bangunan di tokonya.
"Makanya kita harus hati-hati dan taat aturan lalu lintas," sahut Rahman, menimpali gumaman Hendi.
"Itu korbannya juga udah pake helm kok, Pak. Tapi karena mental jadi helmnya lepas," tutur Hendi sedikit menceritakan berita yang baru saja tayang tersebut.
"Ya, mungkin memang sudah takdirnya begitu, Hen. Sudah-sudah kamu kerja lagi sana! Malah nonton tv lagi." Rahman menyuruh Hendi kembali bekerja.
Konsentrasinya jadi terganggu dengan ocehan Hendi. Karyawan Rahman yang satu itu memang agak banyak bicara. Meskipun begitu, orang-orang yang belanja ke toko itu sangat menyukainya. Bahkan beberapa orang tak mau dilayani oleh karyawan yang lain selain Hendi.
Toko material milik Rahman mempekerjakan tiga orang karyawan. Dua orang bekerja melayani di toko sekaligus menjadi kuli muat ketika ada barang yang hendak diantar ke pelanggan. Satu orang bekerja sebagai kurir yang bertugas mengantar barang belanjaan pelanggan ke lokasi bangunan. Rahman sendiri bertindak sebagai kasir, sesekali melayani langsung saat dua pelayan itu tengah kewalahan ketika pembeli yang datang sedang ramai. Sementara itu, bagian kasir akan dipegang oleh Hana, istrinya yang tinggal beberapa ratus meter saja toko tersebut.
Bangunan yang digunakan sebagai tempat usaha tersebut berbentuk ruko dua lantai. lantai bawah berfungsi sebagai toko sekaligus gudang yang terletak di bagian belakang. Sedangkan lantai atas lebih sering digunakan sebagai kantor dan juga ruang tamu. Di sana Rahman sering berdiskusi dengan para suplayer dan juga kontraktor. Mereka membahas mengenai harga serta kualitas barang baik yang sudah tersedia maupun yang akan disediakan.
Rahman menutup buku besar dihadapannya. Buku untuk mencatat barang yang masuk dan keluar dari toko. Dia memasukan uang yang masih berantakan tadi ke dalam laci. Kemudian beranjak hendak pulang. Entah kenapa perasaan Rahman mendadak seperti tak nyaman.
Baru saja dia mendaratkan b****g di atas jok sepeda motor, tiba-tiba ponselnya memekik meminta si pemilik segera menggeser icon warna hijaunya. Ada nama istrinya, Hana, tampil di layar benda canggih tersebut.
"Hallo, sayang," sambutnya setelah menempelkan ponsel ke telinga.
"Hallo, selamat siang! Apa benar Anda suami dari pemilik ponsel ini?" Suara seorang pria asing menyahut di seberang telepon.
Sesaat Rahman terdiam karena terkejut. Pikirannya berusaha menerka-nerka tentang siapa dan ada apa sebenarnya. Hingga akhirnya Rahman pun terpaksa harus bertanya, karena otaknya sama sekali tak menemukan jawaban atas rasa penasarannya.
"Iya, benar. Maaf Anda siapa? Kenapa ponsel istri saya ada pada Anda?" tanya Rahman pada pria di ujung telepon tersebut.
"Saya dari kepolisian.” Deg! Jantung Rahman mulai berdentam. “Kami ingin menyampaikan berita bahwa istri Anda dan seorang gadis remaja yang diboncengnya mengalami kecelakaan," Pria itu masih terus bicara, namun Rahman sudah tak fokus lagi untuk mendengarnya.
Seperti dihantam sebuah balok kayu besar, d**a Rahman terasa begitu nyeri. Tubuh gemetar, pandangan pun seakan mengabur.
"Pak ... Pak ... apa anda masih mendengarkan?" tanya pria yang mengaku polisi tersebut.
Sekuat tenaga Rahman berusaha menguatkan perasaan. Dia harus tetap dalam keadaan sadar walaupun tubuh sudah sangat gemetar.
"I ... iya, Pak. Tolong katakan dimana istri saya sekarang dan bagaimana keadaannya?" jawabnya dengan terbata-bata.
"Istri Anda dilarikan ke RSUD terdekat. Untuk keadaannya, silahkan bapak datang ke rumah sakit, dokter yang akan menjelaskan," tutur polisi tersebut.
Tanpa permisi Rahman memutus sambungan telepon, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih atas informasi yang ia berikan. Rahman segera melajukan sepeda motor menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Rahman langsung ke UGD. Dapat dilihatnya dua orang perempuan yang ia cintai sedang terbaring bersimbah darah. Mereka adalah istri dan anak gadisnya yang berusia 16 tahun.
Anak gadis itu sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Indramayu. Rahman tidak tahu kalau dia pulang hari ini. Kalau saja dia tahu, pasti Rahman yang akan menjemputnya dengan membawa mobil pick up yang ada di toko.
Dokter dan suster terlihat sibuk dengan berbagai alat di tangan mereka. Salah satu suster yang melihat keberadaan Rahman segera memintanya untuk menunggu di luar. Pria berumur 45 tahun itu hanya menurut saja.
Setelah duduk, Rahman teringat dengan keluarganya yang belum diberi kabar. Dia segera menghubungi orang tua dan juga mertuanya, yang tak lain merupakan ayah dan ibu dari Hana. Mereka pun kaget dengan berita buruk yang disampaikan. Namun begitu, mereka mengatakan akan segera menyusul ke rumah sakit.
Satu jam telah berlalu. Keluarga pun sudah tiba di rumah sakit 15 menit yang lalu. Namun, dokter masih tak kunjung keluar dari ruang tindakan yang ada di hadapan mereka.
Setelah sekian lama, akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Rahman segera bangkit dari kursi ruang tunggu tersebut begitupun orang tua dan mertuanya. Mereka segera menghampiri dokter tadi.
"Dokter, bagaimana keadaan anak dan istri saya?" tanya Rahman dengan tak sabar.
"Anak dan istri anda kehilangan banyak darah. Jika dari pihak keluarga ada yang bersedia mendonorkan darahnya nanti suster akan membantu. Jika tidak ada maka bisa menebus di Bank Darah," ujar sang dokter.
"Saya bersedia, Dok. Golongan darah saya A, Dok. Kalau tidak salah golongan darah istri saya juga A." Aku mengajukan diri untuk mendonorkan darah.
Dokter yang ber- nametag Irwan tersebut kemudian menatap lembaran kertas yang berisi rekam medis Shaila dan Hana.
"Golongan darah istri Bapak memang A. Tapi golongan darah putri Bapak B," ungkap dokter Irwan.
Bak tersambar petir, tubuh Rahman luruh ke lantai rumah sakit. “Ya Allah ... cobaan apa lagi ini?” jeritnya dalam hati. Bagaimana bisa golongan darah Shaila berbeda dengan dirinya dan Hana?