Bab 2 Kabar Mengejutkan
Belum hilang kepanikan Rahman yang mengetahui anak dan istrinya kecelakaan, kini ditambah lagi dengan kabar yang lebih mengejutkan lagi.
Rahman mengusap wajah dengan kasar lalu menoleh pada kedua mertua. Sorot matanya ingin meminta penjelasan pada mereka. Apa sebenarnya yang sudah diperbuat oleh anak mereka, Hana.
"Jelaskan padaku, Bu, Pak! Apa yang sudah dilakukan anak Bapak dan Ibu di belakangku." Rahman berucap dengan gigi bergemeletuk.
Ibu mertuanya menggeleng sambil menangis. Bapak mertua pun sama. Dibelakang, Ibunda Rahman mengusap punggung untuk menenangkan.
"Sabar, Nak. Kamu tahan emosimu dulu. Kamu simpan dulu semua pertanyaanmu itu. Sekarang kita harus segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan Hana dan Shaila," ujar Ibunda Rahman lembut.
"Apa aku harus menolong wanita yang sudah menghianatiku? Apa aku juga harus menebus darah untuk anak yang bukan darah dagingku?" Rahman berteriak di hadapan semua orang.
"Istighfar, Nak. Belum tentu semua yang kamu tuduhkan pada Hana itu benar." Ibunya berucap sambil menangis.
Rasanya sulit sekali Rahman percaya dengan ucapan ibunya. Bagaimana bisa dia masih membela Hana, sedangkan sudah jelas buktinya Shaila bukan anak Rahman.
"Kenapa Ibu masih membela Hana? Dia sudah menghianatiku, Bu. Shaila adalah bukti penghianatannya." Rahman semakin geram pada Ibunya.
"Ini bukan soal Ibu membela Hana atau tidak tapi ini soal kemanusiaan. Mereka berdua sekarat, Rahman ...." Ibuku menangis histeris. Dia pun luruh ke lantai dengan air mata membanjiri wajahnya yang sudah mulai keriput.
Ibu Rahman memang sangat menyayangi Hana dan Shaila. Itu semua karena Hana juga sangat menyayangi wanita tua tersebut. Bahkan saat sakit pun Ibu Rahman hanya ingin Hana yang merawatnya meskipun ia punya dua orang anak perempuan.
"Selamatkan Hana dan Shaila, Rahman. Ibu mohon sama kamu. Nanti setelah Hana sadar, kita bisa minta penjelasannya," pinta Ibu Rahman sambil sesenggukan.
Rahman pun tak tega melihat Ibunya menangis seperti itu. Sedangkan mertuanya bahkan tak bicara sedikitpun. Mereka hanya bisa terus menangis. Tapi melihat sikap kedua orang tua Hana begitu, sepertinya mereka juga tidak tahu apa-apa. Mereka pun nampak kaget saat dokter menyatakan bahwa golongan darah Shaila berbeda dengan Rahman ataupun Hana.
"Baiklah, Bu, aku akan bicara dengan suster. Tapi aku tidak akan mendonorkan darahku untuk Hana. Biar menebus saja di Bank Darah. Aku tidak sudi darahku mengalir di tubuh penghianat itu." Rahman berkata penuh penekanan.
Segera Rahman menemui dokter untuk membicarakan solusi terbaik untuk pengobatan dua wanita yang telah menjadi orang asing baginya itu.
***
Rahman duduk bersandar di sebuah tiang yang ada di teras masjid rumah sakit. Setelah menjalankan shalat ashar dia hanya termenung disana. Merenungi semua dosa-dosanya di masa lalu.
Dia sadar bahwa dirinya juga punya banyak salah dan dosa. Tetapi, Rahman tidak tahu kesalahannya yang mana yang membuat Hana tega berkhianat.
"Bapak minta maaf atas nama Hana,"
Rahman menoleh, ada Bapak mertua duduk di sampingnya.
"Bapak dan Ibu sama sekali tidak pernah mengetahui kebenaran tentang Shaila. Kami juga baru tau hari ini," lanjutnya lagi.
Rahman melihat lelaki tua itu menunduk sambil sesekali mengusap sudut matanya yang berair. Rahman masih bergeming tak sedikit pun menyahut setiap ucapan sang ayah mertua.
"Kalau kau lupa, Hana pernah bekerja di Jakarta sebagai pembantu saat kau kena PHK dulu." Bapak mendongak ke atas seakan membayangkan masa lalu.
Tiba-tiba saja cuplikan masa lalu itu berkelebat dalam benak Rahman. Masa di mana mereka kesulitan dalam ekonomi. Rahman pernah di PHK dari sebuah pabrik sepatu. Dan setelah itu dia menganggur cukup lama.
Saat itu Hana meminta izin padanya untuk bekerja di Jakarta menjadi pembantu. Rahman tak setuju sebenarnya, tapi keadaan yang memaksanya harus mengijinkan Hana pergi.
Namun, baru satu bulan bekerja, Hana sudah pulang dan tak mau kembali ke Jakarta. Setiap ditanya apa alasanya? Dia hanya mengatakan kalau majikannya cerewet sehingga membuatnya tak betah.
Rahman memaklumi alasannya karena selama ini keluarganya selalu memperlakukan dia dengan baik serta lemah lembut.
"Pak, apa mungkin Hana digagahi majikannya?" Rahman yang sudah mulai sedikit tenang bertanya pada mertuanya.
"Bapak juga tidak tahu. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi." Pria yang ia panggil Bapak itu memberi jawaban meski dia pun tak jauh beda dengan Rahman, yakni bimbang.
"Maafkan saya, Pak. Saya sudah berprasangka buruk pada Hana." Rahman mencium tangan sang mertua.
Bapak menepuk bahunya pelan.
"Walaupun Hana anak Bapak, tapi kalau dia salah, Bapak tak segan menegurnya. Bahkan bila perlu Bapak akan menghukumnya," tegas Bapak.
"Tapi untuk saat ini, Bapak mohon sama kamu, jangan tinggalkan Hana dulu! Setelah dia sembuh, kami akan meminta penjelasan Hana. Setelah itu kau boleh mengambil keputusan apapun sesuai kata hatimu. Dan satu lagi, Shaila tidak tau apa-apa. Dia bahkan lebih menyayangimu daripada Hana." Bapak berujar sambil menitikkan air mata.
"Bapak berharap kau jangan dulu berprasangka buruk pada Hana. Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Kau bisa minta penjelasan pada dokter tentang kemungkinan perbedaan golongan darah antara orang tua dan anak. Kita cuma orang awam yang tak paham masalah seperti ini," tambahnya lagi.
Rahman berusaha mencerna kata-kata Bapak. Dia sadar sudah terburu emosi sampai tak bisa berpikir jernih. Benar yang dikatakan mertuanya tadi, sebaiknya Rahman bertanya pada dokter.
"Bapak akan kembali ke tempat Hana. Apa kau masih ingin disini?" Bapak bangkit dari duduknya seraya bertanya pada menantunya..
"Bapak duluan saja, nanti saya menyusul," balas Rahman kemudian.
***
Setelah dari masjid, Rahman mencari di mana letak ruangan dokter Irwan. Ia pun bertanya pada beberapa suster yang yang berpapasan dengannya. Mereka dengan ramah mengarahkan Rahman ke ruangan dokter Irwan.
Diketuknya pintu bercat putih yang tadi ditunjukan oleh salah satu suster. Kemudian terdengar sahutan dari dalam yang mempersilahkan dirinya masuk.
"Permisi, Dok!" sapa Rahman saat sudah berada didalam ruangan dokter tersebut.
"Pak Rahman? Silahkan duduk, Pak." ucap dokter Irwan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya kemudian.
"Dok, saya mau bertanya, apakah jika golongan darah seorang anak berbeda dengan orang tuanya itu berarti dia bukan anak kandung?" tanya Rahman kemudian.
"Jawabannya belum tentu, Pak. Kalau Bapak ingin memastikan seorang anak itu anak kandung atau bukan maka sebaiknya dilakukan tes DNA. Hasilnya akan lebih akurat. Kenapa memangnya Bapak menanyakan hal itu?" Dokter Irwan menjelaskan kemudian balik bertanya.
"Kata dokter golongan darah anak saya berbeda dengan saya dan istri saya. Saya jadi khawatir kalau ternyata dia bukan anak kandung saya," jawab Rahman.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya kira Bapak sudah paham tentang ini, makanya saya langsung pergi setelah itu. Bapak tidak bisa menyimpulkan bahwa anak itu bukan anak kandung Bapak hanya berdasarkan golongan darah." Dokter Irwan menjelaskan panjang lebar.
"Baik, Dok, terima kasih atas waktu dan informasinya.”
"Sama-sama, Pak," sahutnya.
Setelah itu Rahman pamit dan keluar dari ruangan dokter. Ada sedikit rasa lega di hatinya mendengar penjelasan dokter Irwan barusan. Rahman pun segera kembali ke ruangan dimana Hana dan Shaila berada.
Rahman hanya bisa melihat mereka lewat jendela kaca. Mereka masih belum sadarkan diri. Ditatapnya satu persatu wajah kedua wanita yang ia cintai itu. Namun, detik berikutnya Rahman terpaku saat menatap paras Shaila.
Kulit putih bersih dan raut oriental terpahat jelas di wajahnya. Kenapa Rahman baru menyadari wajah Shaila memang berbeda dengan dirinya atau pun Hana.
“Ya Allah ... jauhkanlah segala pikiran buruk ku terhadap mereka. Semoga semua kekhawatiranku ini tidak benar”. Rahman hanya bisa berdoa dalam hati dengan sepenuh jiwa.