Bab 2 Hana Tidur

1002 Words
Bab 3 Hana Tidur Rahman berusaha mengenyahkan segala prasangka buruk pada Hana. Sekarang kesembuhan mereka harus diutamakan. Tiba-tiba saja dokter Irwan dan beberapa orang di belakangnya, entah suster atau dokter juga Rahman tidak tahu. Mereka berlarian masuk ke ruangan di mana Hana dan Shaila berada di dalamnya. "Pasien kritis, Dok," ucap seorang suster yang sedari tadi ada didalam ruangan itu saat dokter membuka pintu. Samar-samar Rahman mendengar ucapannya. Jantung pria itu seketika berpacu dengan sangat cepat. Ibu dan juga kedua mertuanya ikut berdiri melihat ke kaca besar di hadapan mereka. Dengan sigap dokter segera melakukan tindakan medis pada Shaila. Kemudian brankar Shaila didorong keluar oleh beberapa suster. "Suster, anak saya mau dibawa kemana?" tanya Rahman, panik. "Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU, Pak. Tadi pasien sempat kritis jadi butuh perawatan intensif," jawab suster itu sambil terus berjalan mendorong brankar. Rahman pun mengikuti para suster itu menuju ruang ICU. Saat sampai di depan ruang tersebut, mereka melarangnya masuk. Rahman pun hanya bisa pasrah. "Shaila kenapa?" Ibu Rahman bertanya. "Tadi Shaila sempat kritis. Sekarang dia harus masuk ICU," jawab Rahman, berusaha setenang mungkin. Tapi entah mengapa air matanya meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. Ibu memeluknya erat. Ia mengusap punggung untuk menyalurkan ketenangan padahal dirinya sendiri menangis lebih keras dari Rahman. Dari kejauhan terlihat Bapaknya Hana tergopoh-gopoh ke arah kami. "Ada apa, Pak?" tanya Rahman. "Hana sudah sadar," jawabnya dengan napas terengah-engah. Tanpa babibu lagi, Rahman langsung berlari menuju ruangan Hana. Ibu Rahman dan Bapak mertuanya menyusul di belakang. Sampai di ruangan tersebut, tampak Ibu mertua Rahman duduk disamping Hana. Rahman segera menghampiri Hana. Tubuhnya terlihat kaku, matanya pun sayu, namun mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu. Diraihnya tangan yang penuh lebam itu dan diusap perlahan. "Se - selamatkan Shaila," ucap Hana terbata. Rahman pun mengangguk dan air mata menetes. "Maafkan Hana, Mas!" Hana kembali berucap. Lagi-lagi Rahman kembali mengangguk. Sungguh tak kuasa Rahman menyaksikan kesakitannya. Wanita ini, wanita yang sudah menemaninya selama 20 tahun. Selalu setia mendampingi meskipun Rahman berada di titik terendah dalam hidupnya. Tak pernah mengeluh walau hidup susah sekalipun. Dia rela bekerja jadi pembantu di Jakarta demi menyambung ekonomi keluarga. Dan saat ia mengandung Shaila, Rahman meninggalkannya selama 4 tahun untuk bekerja sebagai TKI. Tak pernah ia merengek manja meminta suaminya untuk segera pulang. Dia sangat mengerti bahwa semua yang dilakukan adalah demi masa depan yang lebih baik. Kini setelah kehidupan kami lebih baik, dia justru sedang menahan rasa sakit. Bahkan menyesal, karena sempat membencinya tanpa mengingat kesetiaannya. Dikecupnya buku jari tangan Hana berkali-kali. Kemudian ia menatap wajah istrinya yang penuh dengan luka gores. Hana memaksakan senyum pada Rahman dan perlahan menutup mata. "Hana ...!" teriak ibu mertua. Ibu Rahman pun tak jauh berbeda. Dia menangis histeris dengan posisi bersimpuh di atas permukaan lantai rumah sakit. Bapak mertua merangkul pundak Rahman seraya mengajaknya beranjak dari tempat duduk. Sesaat kemudian beberapa orang masuk dan mulai melepas selang-selang yang terpasang di tubuh Hana. Tak cuma itu, para perawat juga mulai menutupi badan Hana hingga kepala. Rahman menatap bingung pada orang-orang itu. Namun Bapak memaksanya untuk segera keluar. Ibu dan Ibu mertua menyusul di belakang dengan tangis yang meraung-raung. Rahman masih tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia hanya pasrah menuruti langkah Bapak. Tapi, kemudian dia seakan teringat pada Hana sendirian di dalam sana. Rahman buru-buru menghempaskan rangkulan Bapak dan segera berlari kembali masuk ke ruangan Hana tadi. "Apa yang kalian lakukan pada istriku?" teriak Rahman pada suster yang sudah melepas selang-selang di tubuh Hana dan mulai membereskan semuanya. "Kenapa kalian menutup wajahnya? Dia akan sulit bernapas. Cepat pasang kembali selang-selang itu." Rahman memerintah mereka sambil membuka kain yang menutupi wajah Hana. Mereka saling menatap satu sama lain. Tak lama Bapak pun ikut masuk. "Lihat mereka melepas alat-alat medisnya, Pak. Aku akan adukan kalian pada dokter Irwan." Rahman berkata pada Bapak kemudian mengancam para suster. "Istighfar, Rahman. Istighfar ...." Ibu Rahman berucap sambil memeluk anak lelakinya tersebut. "Mereka seenaknya saja melepas alat-alat itu, Bu. Apa mereka takut aku tidak membayar biaya rumah sakit ini?" tanya Rahman pada Ibu. Ia lalu kembali menatap tajam pada para perawat yang masih berdiri di bilik tersebut. Ibu semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan tangisnya semakin terdengar pilu saat memeluk Rahman. "Kita pulang ya, Nak? Biar Bapak yang disini bersama Hana," ucap Ibu lembut. "Tidak, Bu. Aku harus mengawasi para suster itu agar bekerja dengan benar," sahut Rahman, dengan emosional. "Ada Bapak disini. Kau tidak usah khawatir. Bapak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hana." Ibu masih membujuk untuk pulang. "Tapi Hana ...," "Biarkan Hana tidur, dia butuh istirahat. Kau harus ganti baju dulu agar Hana senang saat melihatmu," ucap Ibu lagi. Akhirnya Rahman menuruti kata-kata Ibu untuk pulang. Mereka pulang menaiki angkot yang sudah disewa Ibu. Ibu bilang nanti adik ipar Rahman, Dodi, yang akan mengambil motornya. *** Tiba dirumah, Rahman bergegas mandi dan berpakaian rapi. Dia merasa harus tampil segar saat bertemu Hana lagi. Saat keluar dari kamar, Rahman melihat ada banyak orang di rumahnya. Ada yang di luar dan ada pula yang di dalam. Mereka semua terlihat sibuk. Bahkan orang-orang diluar sedang mendirikan tenda. Ibu juga nampak sibuk berbicara dengan orang-orang. Ada apa ini? Apa mereka akan membuat pesta? Apa mereka tidak tahu kalau anak dan istriku sedang sakit? Bisa-bisanya mereka menggelar pesta saat keluargaku dalam musibah. Begitulah isi pikiran Rahman. Merasa tak suka, Rahman pun menghampiri untuk mengecam perbuatan orang-orang tersebut. Termasuk ibunya yang serupa manusia yang sama sekali tak punya rasa empati. Padahal sebelumnya wanita tua itu selalu terlihat menyayangi Hana. Saat hendak menegur mereka, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil ambulans. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan rumah. Dari dalam mobil ambulans tersebut muncul Ibu dan Bapak mertua. Kemudian disusul oleh beberapa pria berseragam warna putih mengangkat tubuh seseorang yang diselimuti kain sampai kepala. Tubuh Rahman tiba-tiba bergetar, bahkan ia benar-benar merasa tak sanggup lagi berdiri saat para pria itu masuk dan membaringkan tubuh yang tadi mereka angkat. Dibukanya secara perlahan kain yang menutupi wajah itu. Air mata tak lagi bisa dibendung saat kain terbuka dan menampakkan wajah seorang wanita yang sangat ia cintai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD