Bab 3 Bahagia Dalam Nestapa

1985 Words
Bab 4 Bahagia Dalam Nestapa "Kami turut berduka cita," ucap para kerabat, keluarga dan tetangga yang datang bertakziah ke rumah Rahman. Entah siapa saja yang datang menyalami serta memeluknya. Pandangan Rahman seakan buram karena air mata yang tak kunjung berhenti. Biarlah jika orang menganggapnya pria cengeng, Rahman tak peduli. Kini Hana telah berpulang. Dia meninggalkan Rahman dengan berjuta kenangan dan pertanyaan. "Kang Rahman, yang tabah, ya," ucap seorang perempuan. Rahman pun hanya mengangguk saja. Namun, setelah itu ia tersadar akan suara perempuan tadi. Otaknya seolah mengingat sesuatu. Ya, Rahman ingat dulu pemilik suara itulah yang membawa Hana bekerja di Jakarta. "Ranti ...." Rahman memanggilnya lirih. "Eh ...." Ranti menoleh ragu. Memang suara Rahman tidak begitu jelas di indra pendengarannya. Sehingga Ranti takut salah tanggap. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Rahman padanya. "Ada apa, Kang?" Ranti balik bertanya. Tiba-tiba saja Rahman mencengkram lengannya dan membawa Ranti ke belakang rumah. "Aww …!" Ranti meringis kesakitan. "Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu," ucap Rahman, menyesal. Ranti hanya mengangguk. "Ranti, bukankah dulu kau yang mengajak Hana kerja di Jakarta?" Tanpa basa-basi, Rahman langsung bertanya pada Ranti. "I ... iya, Kang. Kenapa memangnya?" Ranti sedikit tergagap. "Aku ingin tahu kenapa saat itu Hana tak mau kembali bekerja ke Jakarta lagi?" tanya Rahman lagi. Ranti pun seketika dilanda rasa gugup. Perasaan Ranti mulai tak tenang. "Bu ... bukankah Hana sudah mengatakan alasannya sama Kang Rahman?" "Jangan bertele-tele, Ranti. Aku yakin kamu lebih tahu alasan sebenarnya," desak Rahman dengan tidak sabaran. Ranti menghela nafas berat. Sepertinya benar dugaan Rahman selama ini. Ada yang Hana sembunyikan darinya. "Selepas pemakaman Hana, saya akan ceritakan semuanya sama Kang Rahman dan juga orang tua Hana." Ranti meninggalkan Rahman setelah berkata demikian. *** Sesuai dengan apa yang Ranti janjikan sebelumnya, dia akan menceritakan segalanya pada Rahman setelah acara pemakaman selesai. Ranti bak seorang pesakitan yang tengah diintimidasi. Dia berada di antara keluarga Rahman dan keluarga Hana yang menatapnya penuh tanya dan penekanan. "Hana diperkosa oleh anak dari majikan kami." tutur Ranti dengan air mata yang menganak sungai. Rahman mengepalkan buku-buku jari. Dadanya naik turun menahan emosi. Jantung pun berpacu dengan sangat cepat. Semua orang bahkan sampai menutup mulut mereka yang ternganga mendengar penuturan Ranti. Ranti menceritakan semua secara detail. Dia mengatakan bahwa Hana sempat trauma dan mengurung diri selama beberapa hari. Rahman mengutuk diri sendiri yang tidak peka terhadap Hana. Dia sama sekali tidak mengetahui luka yang disimpan Hana selama ini. Lima tahun usia pernikahannya dengan Hana, mereka tak kunjung memilili anak. Sampai setelah wanita itu pulang dari Jakarta, dua bulan kemudian Hana positif hamil. Rahman kira anak itu memang anaknya. Dia bahkan tak menyadari bahwa setelah memiliki Shaila, Hana tak lagi bisa mengandung. Sekarang dia baru sadar ternyata selama ini ada kemungkinan kalau dirinya mandul. Rahman mengusap wajah dengan kasar. Setelah itu dia berlari keluar dan pergi mengendarai sepeda motor. Tak dihiraukan teriakan Ibu dan mertua yang menggaungkan namanya. Rahman melajukan sepeda motor menuju rumah sakit di mana Shaila dirawat. Dia meminta izin pada dokter untuk bisa menjenguk Shaila yang sampai sekarang belum sadarkan diri. Ditatapnya wajah gadis itu. Gadis yang selalu jadi kebanggaan selama ini. Dia anak sholeha, pintar dan taat beribadah. Dia selalu mempersembahkan prestasi untuknya.” Dia putriku, putri kesayanganku.” Rahman bicara pada diri sendiri. Shaila adalah harta paling berharga yang Hana wariskan padanya. Bahkan Rahman sudah berjanji pada Hana untuk menyelamatkan Shaila. "Kenapa anak saya tak kunjung sadar, Dok?" tanyanya pada dokter yang sedang memeriksa Shaila. "Anak Bapak mengalami koma, Pak," ujar dokter tersebut. "Ya Allah ... kenapa berat sekali cobaan ini?" Lagi-lagi Rahman meraup wajah dengan kedua telapak tangan. "Yang sabar, Pak. Jangan lupa berdoa," ucap dokter itu lagi. "Kapan anak saya bangun dari komanya, Dok?" Rahman kembali bertanya. "Kami tidak bisa memastikan kapan pasien bangun dari koma. Kami hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien." Dokter berujar sebelum keluar dari ruangan tersebut. "Kamu akan sembuh, Nak. Ayah janji akan lakukan apapun demi kesembuhanmu." Melihat wajah Shaila yang terlelap, membuat Rahman teringat akan cerita Ranti. "Hana …!" teriak Ranti saat mendapati Hana sedang menangis dibawah shower sambil memeluk lututnya sendiri. "Hana, kamu kenapa? Katakan padaku apa yang sudah terjadi?" tanyanya yang juga ikut menangis melihat keadaan Hana yang sangat memprihatinkan. Tak ada jawaban apapun dari Hana. Hanya suara isak tangis yang semakin lama semakin tak terdengar. Hana kehilangan suaranya setelah sangat lama meratapi diri yang seakan begitu kotor dan hina. Kemarin, Hana masih baik-baik saja saat Ranti hendak pergi bersama majikan mereka. Ranti dan Hana bekerja di rumah milik keluarga Wang. Tuan Steven Wang adalah pria yang berasal dari Hongkong. Ia menikah dengan wanita asli Indonesia, nyonya Kalina. Mereka memiliki 3 orang anak laki-laki. Di sana Ranti bekerja sebagai pengasuh salah satu cucu dari Tuan Wang, sedangkan Hana sebagai asisten rumah tangga. Setiap ada acara keluarga, Ranti selalu diikut sertakan. Mereka tak mau ambil resiko kerepotan mengurus cucu mereka. Karena itulah kemarin Ranti pergi meninggalkan Hana. Gegas Ranti memapah Hana menuju ranjang. Dia dan Hana tinggal satu kamar. Segera Ranti membantu Hana mengganti bajunya yang basah. Kemudian membaringkannya dan menyelimutinya. Setelah itu Ranti membiarkan ia tidur. *** "Hana, katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Ranti sesaat setelah Hana bangun. Hari itu Ranti memintakan izin pada majikan merekai agar Hana tidak bekerja. Ranti mengatakan pada mereka bahwa Hana sedang sakit. "Tuan muda ...." ucap Hana terbata. Dia kemudian memeluk Ranti dan kembali menangis. "Kenapa dengan Tuan muda?" tanya Ranti lagi. Tuan muda adalah putra sulung dari Keluarga Wang, namanya Darriel Wang. Usianya sudah sangat dewasa, tetapi tak kunjung menikah. Padahal kedua adiknya bahkan sudah punya anak semua. Sebesrsit kabar mengatakan kalau pria itu pernah patah hati. "Tuan muda ... memperk*saku." Hana berkata sambil tergugu pilu. Alangkah terkejutnya Ranti kala itu. Sedikit pun tak pernah menyangka kalau tuan mereka yang selalu baik itu bisa berbuat demikian. Hana pun bercerita sambil terisak. Ia memaparkan kondisi tuan muda mereka saat itu. Darriel Wang pulang dalam keadaan mabuk. Ia lantas menerjang Hana tanpa ampun. Keadaan rumah yang besar dan luas, membuat Hana tak mampu meminta pertolongan. Meski di luar sana satu orang security, nyatanya orang itu sama sekali tak mampu menangkap suara teriakan Hana yang meronta-ronta. Ranti mengeratkan pelukan sambil mengusap punggung Hana. Dia pun turut menangis mendengar penuturan Hana. "Bagaimana bisa? Kemana para ART yang lain? Kenapa tidak ada yang menolongmu?" rentetan pertanyaan terus dilayangkan Ranti pada diri sendiri. Hana mengatakan bahwa, dia yang membuka pintu saat Tuan muda pulang tengah malam. Saat itu ART yang lain mungkin tidur sangat lelap. Apalagi, letak kamar para pembantu memang cukup jauh dari pintu utama. Mereka hanya bisa mendengar saat ada yang menekan bel, atau memanggil lewat interkom. Tuan muda yang pulang dalam keadaan mabuk, kemudian menyeret Hana ke kamarnya. Sebenarnya Ranti pernah mengadukan perbuatan Tuan muda pada Tuan Wang, tetapi mereka seakan menutup mata. Mereka sama sekali tak mau percaya. Wajar memang, mengingat anak mereka, Darriel, selama ini selalu bersikap baik dan ramah saat berada di rumah. Mereka juga mengancam Ranti dan Hana jika terus menerus mengatakan hal yang sama, maka mereka tak akan tinggal diam. Setelah itu, Ranti tak berani lagi membicarakan hal tersebut, baik pada majikannya maupun pada ART yang lain. Walau bagaimanapun, mereka orang kaya yang bisa bertindak sesuka hati dengan menggunakan uang mereka. Sedangkan Hana dan Rantii tak akan mampu melawan mereka hanya dengan bermodal kejujuran saja. Pada akhirnya, kejadian naas itu hanya menjadi rahasia antara Ranti dan Hana, serta Tuan muda. Itupun jika ia ingat akan perbuatan bejatnya tersebut. *** Beberapa hari Hana tak mau keluar kamar. Ia sangat takut bertemu dengan tuan muda. Hana trauma. Dan pada saat Tuan muda pergi keluar negeri, saat itulah Hana ingin segera pulang. Ranti pun menyetujui dan menuruti permintaannya. Segera ia sampaikan keinginan Hana pada Tuan Wang dan Nyonya Kalina. Tanpa banyak bertanya, mereka pun segera menyetujui keputusan Hana. Ranti semakin yakin kalau sebenarnya mereka mengetahui perbuatan Darriel pada Hana malam itu. Hanya saja, mereka terlalu angkuh untuk mengakui kebenaran tersebut. Tentunya mereka tak mau kalau sampai kejadian memalukan itu pada akhirnya mencoreng nama baik keluarga. Terlebih yang menjadi korban merupakan wanita yang berasal dari rakyat jelata. *** Dua bulan kemudian Ranti pun pulang kampung. Tapi hanya untuk berlibur. Tak seperti Hana yang pulang kampung karena berhenti bekerja. Saat tiba di kampung, Ranti segera menemui Hana. Dia masih khawatir dengan keadaan perempuan itu. "Ranti?" sapa Rahman saat membuka pintu rumahnya. "Hananya ada, Kang?" tanya Ranti. "Ada, tapi lagi istirahat di kamar. Kamu ke kamar saja," ujar Rahman, sambil menunjuk arah kamar mereka yang memang menghadap langsung ke ruang tamu. "Emang Hana kenapa? Sakit?" tanya Ranti lagi. "Bukan sakit, Hana lagi ngidam." Rahman berkata dengan mata berbinar. Ranti pun melihat Rahman sangat bangga dan bahagia mendapati Hana sedang mengandung. Namun, berbeda dengan hati dan pikiran Ranti. Batinnya bertanya-tanya, anak siapa yang Hana kandung? Anak Rahman atau anak Tuan muda Darriel? "Ranti ...." panggilan Kang Rahman memecah lamunan Ranti yang melayang jauh sekali. "I ... iya, Kang," sahutnya cepat. "Kok, melamun. Katanya mau ketemu Hana," tegur Rahman. "Iya, Kang," sahut Ranti, sedikit tergagap. "Kamu ke kamarnya saja. Saya mau ke kota mengurus paspor," tutur Rahman, yang mulai mengayunkan langkah di teras rumah. "Emang Kang Rahman mau kemana? Kok pakai paspor segala?" tanya Ranti, penasaran.. "Saya mau kerja keluar negri. Hana, kan, sedang hamil, pasti nanti butuh biaya banyak. Lagi pula, kalau kerja di luar negri kan gajinya besar. Saya bisa ngumpulin buat modal usaha nantinya," ujar Rahman, menjelaskan "Ya udah, Kang, semoga sukses, ya," ucap Ranti kemudian. "Aamiin ... makasih, ya, Ran. Ya udah, saya berangkat dulu. Kamu langsung ke kamar saja, ya." Ranti pun mengangguk. Ranti berjalan menuju kamar Hana, ia lantas menyibak gordennya sedikit, ternyata pintunya tak ditutup. Bisa ia lihat Hana sedang berbaring dibalut selimut motif bunga-bunga. "Han ... Hana ... boleh aku masuk?" ucap Ranti sambil berdiri di ambang pintu. Hana menoleh ke arah Ranti. Sontak ia langsung bangun dari tidurnya dan Ranti pun segera menghampiri Hana. "Kamu sakit, Han?" tanya Ranti setelah duduk di tepi ranjang Hana. Hana menggeleng. Namun, sesaat kemudian ada yang jatuh dari pelupuk matanya. Hana kemudian memeluk Ranti erat sambil terisak. Pemikiran Ranti semakin menguat tentang janin yang tengah dikandung Hana. Ranti yakin insting Hana lebih kuat untuk menyadari benih siapa yang tumbuh di rahimnya. "Aku harus bagaimana, Ran? Aku berdosa pada Mas Rahman," ucap Hana di sela-sela isak tangisnya. "Han, apa Kang Rahman curiga sama kamu?" tanya Ranti. Hana menggeleng. "Apa Kang Rahman ada tanya sesuatu tentang kandungan kamu?" tanyanya lagi. Hana pun menggeleng lagi. Hana menatap penuh tanya pada sahabatnya. Ranti pun segera mengerti arti tatapannya itu. Dia seolah mengatakan, dari mana aku tahu kalau dia sedang mengandung. "Han, tadi aku sempat ketemu sama suamimu. Dia kelihatan sangat bahagia saat mengatakan bahwa kamu sedang hamil," ujar Ranti, memangkas rasa penasaran Hana. "Ran, aku mau jujur sama Mas Rahman. Aku akan memberitahunya kalau anak ini bukan anaknya," ucap Hana. Ranti pun terbelalak mendengar pernyataan Hana. Sungguh hal itu merupakan keputusan yang sangat beresiko tinggi kalau sampai Hana betul-betul merealisasikannya. "Hana, kamu pikirkan lagi ucapanmu barusan. Kalau kamu memberitahunya, itu sama saja kamu menghancurkan kebahagiaannya. Bukankah selama ini kalian ingin punya anak? Bukan hanya itu, kamu juga akan jadi cemoohan orang-orang karena hamil anak dari pria lain yang bukan suamimu. “Ada lagi yang harus lebih kamu pikirkan, anakmu. Anakmu kelak akan disebut anak haram. Dia akan jadi bahan ejekan teman-temannya nanti. Pikirkan baik-baik, Hana. Kalau kau mengatakan kebenaran ini, maka kau akan melukai banyak orang. Suamimu, mertuamu, bahkan orang tuamu. Semuanya akan kecewa padamu. Dan anakmu yang akan menanggung akibatnya kelak." Panjang lebar Ranti meyakinkan Hana. Ranti tahu, semua itu salah. Tetapi, Ranti juga tak tega kalau Hana harus menanggung malu seumur hidupnya. Tak cuma malu, akan tetapi, kebenaran itu akan jadi bahan gunjingan orang-orang. Entah bagaimana nantinya Hana harus menghadapi sanksi sosial dari orang-orang di sekelilingnya. Lagi pula, bukankah suaminya juga sangat ingin punya anak Ranti juga merasa lebih percaya kalau Rahman yang pantas jadi ayah dari bayi yang Hana kandung, dari pada ayah biologisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD