Bab 5 Biaya Perawatan

1134 Words
Miris rasanya jika mengingat kenyataan itu. Namun demikian, Rahman berpikir bahwa semua yang Hana alami tak lepas dari kesalahannya yang dulu tak bisa memberi nafkah yang cukup bagi istrinya tersebut. Lalu bagaimana dengan Shaila? Haruskah Rahman mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana jika Shaila lebih menginginkan tinggal bersama ayah kandungnya? Dan apakah ayah kandungnya bisa menerima Shaila? Kepala Rahman rasanya mau pecah, memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi setelah ini. "Maaf, Pak, waktu berkunjung sudah habis. Silahkan Bapak keluar dari ruangan ini. Bapak bisa menunggui pasien di luar saja." Seorang suster berkata pada Rahman dengan ramah. Pria itu pun menurut dan keluar dari ruangan tempat Shaila dirawat. Ia lantas duduk di bangku yang disediakan pihak rumah sakit bagi keluarga pasien. Disandarkannya kepala ke dinding seraya memejamkan mata. Dalam hati Rahman terus memanjatkan doa. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan untuk Shaila. *** Hari-hari berlalu dengan teramat berat. Lebih dari satu bulan Shaila mengalami koma, tapi masih belum ada perkembangan apapun. "Pak, orang yang mau beli mobil sudah menunggu di ruang tamu." Hendi menepuk pundak Rahman pelan. "Eh ... iya, Hen." Rahman pun terlonjak kaget mendengar suara Hendi. Gegas dia menemui orang tersebut. Rahman berniat menjual mobil pickup -nya untuk membayar tagihan rumah sakit yang kian hari kian membengkak. Lalu bagaimana jika hendak mengantar barang? Biarlah itu dipikirkan nanti saja. Saat ini yang Rahman pikirkan hanya harus segera mendapat uang. Karena jika tidak, pihak rumah sakit terpaksa harus melepas alat-alat medis yang menempel di tubuh Shaila. "Selamat siang, Pak!" sapanya pada orang yang menurut Hendi berminat membeli mobil. "Rahman?" seru laki-laki tersebut ketika berbalik badan. "Iya ... maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Rahman sedikit heran karena dia hanya menyebut nama saja tanpa embel-embel Bapak atau semacamnya. "Kamu lupa sama aku?" Bukannya menjawab pertanyaan Rahman, ia justru melontarkan pertanyaan balik. Rahman menggelengkan kepala. Dia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Entah telah melupakannya atau memang tak mengenalnya. "Aku, Andi, yang dulu sama-sama kerja di pabrik sepatu. Masa kamu lupa?" Pria yang mengaku bernama Andi itu mendorong bahu Rahman pelan sambil terkekeh. Rahman memicingkan mata, mencoba mengingat-ingat tentang pria bernama Andi tersebut. "Oh, iya, Andi ... aku ingat sekarang. Kamu beda banget sekarang, makin gagah," seru Rahman seraya memuji Andi setelah ingat dengan sosoknya di masa lalu. "Bisa saja kau ini. Kau juga hebat sekarang. Kau sudah punya usaha sendiri," balas Andi sambil menepuk-nepuk pundak sahabat lamanya. "Duduk, Di!" Rahman mempersilahkan Andi untuk duduk. "Kamu bisnis jual beli mobil, ya, Di?" lanjutnya setelah duduk di hadapan Andi. "Ya ... kecil-kecilan, lah," jawab Andi merendah. "Kau ini selalu saja merendah. Mana ada bisnis begituan kecil-kecilan. Modalnya aja kan ratusan juta bahkan milyaran," ujar Rahman menatap kagum pada Andi. Andi malah tertawa mendengar ucapan Rahman. Dia memang begitu dari dulu. Selalu merendah, tapi tetap ceria. "Ngomong-ngomong, kau mau beli mobil baru, ya?" tanya Andi penuh selidik. Rahman menggeleng sambil tersenyum miris. "Gak usah pura-pura, deh. Tukar tambah saja mobilnya. Nanti aku bawain yang bagus, deh," ucap Andi. Sepertinya dia sedang melancarkan jurus marketingnya. "Enggak, Di. Aku lagi butuh uang. Bukan mau ganti mobil," tegas Rahman. "Terus buat angkut barangnya, gimana? Ada lagi?" tanya Andi penasaran. "Soal itu, nanti ku pikirkan lagi. Untuk sementara aku sewa pickup milik tetanggaku dulu. Yang penting sekarang, aku harus dapat uang secepatnya." Rahman kembali menegaskan pada Andi. "Emang buat apa uangnya?" Andi terus mencecar Rahman dengan banyak pertanyaan. Pria itu membuang nafas berat. Sebenarnya Rahman enggan bercerita pada siapapun. Tapi, Andi pasti akan terus bertanya sebelum mendapat jawaban yang pasti. "Anakku koma, Di. Sudah sebulan lebih dia dirawat di rumah sakit. Aku harus segera membayar tagihan rumah sakit. Kalau tidak segera, pihak rumah sakit akan melepas semua alat-alat medis yang dipasang di tubuh anakku," tutur Rahman dengan menahan sesak di d**a. "Aku turut prihatin. Maaf jika pertanyaanku tadi membuatmu tak nyaman," ucap Andi penuh sesal. "Gak apa-apa, Di. Siapa tahu dengan kamu mengetahui ini semua, kamu bisa sedikit menaikan harga pickup ku," sahut Rahman dengan sedikit kekehan agar suasana kembali mencair. "Ada-ada saja kau ini. Walaupun tak ada cerita begini, aku gak mungkin kasih harga rendah buatmu. Pokoknya, aku akan kasih harga terbaik untuk mobilmu," balas Andi, ia pun ikut tertawa. "Gini aja, deh, daripada kamu sewa mobil tetangga kamu, mending kamu sewa mobil yang kamu jual itu padaku, gimana?" Rahman agak bingung dengan perkataan Andi."Maksudnya, gimana, Di?" tanyaku. "Maksudnya gini, tuh mobil aku bayar hari ini juga. Tapi kamu boleh pake buat anter barang. Hitungannya kamu sewa sama aku. Tarif sewanya lebih rendah dari mobil tetangga kamu itu," jelas Andi dengan serius. "Ya ampun, Di. Aku gak tahu harus ngomong apa ini. Kamu tuh, bener-bener, ya," ucap Rahman bingung sendiri harus berkata apa. Tentu saja Rahman menyambut gembira usulan Andi. Setidaknya dia tak perlu repot-repot mendatangi tetangganya. Juga tak perlu pusing saat mobil sewaan itu sedang dipakai untuk keperluan pribadi sang pemilik. "Udah-udah, gak usah drama, deh. Lagian aku kasih sewa bukan gratis," ucap Andi pura-pura jengah. "Makasih banget, ya, Di." Rahman berkata penuh haru. Dari dulu Andi memang orang yang baik. Sampai sekarang dia masih tak berubah, meskipun sudah menjadi orang sukses. *** Setelah selesai bertransaksi dengan Andi, Rahman langsung pergi ke rumah sakit untuk membayar tagihan rumah sakit tersebut. Sejenak ia terlebih dulu melihat kondisi Shaila walau hanya di balik kaca. Tak ada yang berubah dengan kondisinya. Shaila masih tertidur dengan lelap di atas bed rumah sakit. Tak ingin air mata kembali jatuh jika berlama-lama menatap wajah putrinya, segera saja Rahman beralih menuju ke bagian administrasi. "Sus, saya mau membayar tagihan atas nama Shaila Arrahman," ucapnya saat sudah di depan loket pembayaran. Terlihat suster tersebut mengetikkan sesuatu pada komputer di depannya. "Tagihan atas nama Shaila Arrahman sudah dibayar lunas, Pak," kata suster tersebut. "Sudah lunas?” “Iya, Pak. Bahkan sudah deposit untuk satu bulan ke depan,” jawab suster itu lagi. “Tapi, siapa yang membayarnya? Dan kapan?” Secara beruntun Rahman mengajukan pertanyaan. "Dari datanya, pembayaran dilakukan kemarin, Pak. Tapi tak ada nama orang yang membayarnya, Pak." Suster kembali menegaskan. "Mungkin suster ingat orangnya seperti apa?" tanya Rahman lagi. "Maaf, Pak, kemarin saya tidak masuk. Jadi tidak mengetahui orangnya yang mana," kata suster itu lagi. Alasan yang sebenarnya tidak seperti itu. Petugas administrasi tersebut hanya sedang menutupi data yang bersifat rahasia. Apalagi jika orang yang bersangkutan telah meminta hal tersebut, maka pihak rumah sakit berkewajiban untuk mengupayakan kerahasiaan itu agar tetap terjaga. "Ya sudah, Sus, kalau begitu saya permisi." Terpaksa Rahman meninggalkan loket tersebut dengan perasaan yang … entah. Rahman tak tahu harus senang atau bagaimana. Yang jelas dalam hati dia bertanya-tanya, siapa yang sudah membayar biaya rawat Shaila? Tak mungkin sembarang orang, karena biayanya cukup besar. Dirinya saja sampai harus menjual mobil. Dan itupun hanya cukup menutupi tagihannya saja. Tapi, yang dilakukan orang ini bahkan sampai sudah membayar biaya perawatan Shaila hingga bulan depan. Siapa sebenarnya Sang Dermawan tersebut?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD