Keaadaan rumah yang sepi, belum lagi cuaca yang dingin karena semalam hujan turun dengan deras. Tampak pepohonan segar dan semakin indah dipandang. Galih dan Arda sedang menginap di rumah saudara Arda, dan hanya ada ayah dan Ambar saja yang di rumah.
Kebiasaan ke luar siang dari kamar kali ini Ambar hilangkan. Entah kenapa dia merasa ingin ke luar kamar lebih pagi. Langkah kakinya yang hendak menuju ruang tamu pun terhenti saat melihat ayah berpakaian rapi. Ambar segera mencari tempat persembunyiannya. Dia merasa heran dengan penampilan ayahnya kali ini. Kemana pagi-pagi ini ayahnya akan pergi?
Kepalanya terasa pening jika harus memikirkan sesuatu yang tidak dia dapatkan jawabannya sama sekali. Hingga dia mengingat perkataan Haikal padanya. Jika ayahnya tampak mencurigakan, walau sebagai anaknya dia tak pantas mencurigai ayah sendiri tetapi dia juga perlu berjaga-jaga. Dia pernah melihat ayahnya pergi pagi-pagi sekali dan informasi yang dia dapatkan dari Haikal bahwa ayahnya sedang berada di rumah sakit jiwa. Mungkinkah ayahnya berada di rumah sakit jiwa itu lagi? Dengan segera dia memesan jasa antar jemput menggunakan mobil.
Ambar dengan segera memasuki kamar, mengambil jaket barunya yang modelnya seperti lelaki. Dia juga memakai kacamata hitam supaya tak ada yang mengenalinya. Tak lupa masker untuk menutupi wajahnya. Ah, saat dia sudah berada di halaman depan dia tak menemukan mobil ayahnya. Dengan cepat dia mengunci pintu rumahnya. Dia celingak-celinguk menatap jalanan. Mana satpam jika pagi belum bekerja.
Dia ingin mengambil ponselnya dan menghubungi Haikal, tetapi dia ingat Haikal masih dalam kondisi pemulihan setelah kecelakaan itu. Mungkin saja juga mengalami sedikit trauma. Hal yang membuatnya merasa bersalah dan sungkan jika meminta bantuan Haikal lagi terkait misinya. Namun, Haikal tetap kekeuh ingin membantunya.
Mobil yang dia pesan datang, Ambar segera masuk dan meminta supir mengemudikan lebih cepat. Saat di tikungan, Ambar menggigit jarinya. Bingung dimana ayahnya lewat. Dengan asal dia menunjuk jalan ke sebelah kanan.
Suara dering ponsel membuat Ambar segera mengangkat tanpa menatap si penelfon. "Ada apa?" tanyanya to the point.
"Santai dong." Suara khas Haikal menyapa indera pendengarannya.
"Ada apa sih? Aku lagi ngikutin ayah," ujar Ambar. Kemudian dia melihat mobil yang dikendarai ayahnya. Dia meminta sang supir untuk mengikutinya.
"Kamu sendirian?" tanya Haikal yang terdengar khawatir.
"Memangnya kenapa?"
"Seharusnya kamu ngajak aku."
"Aku mana punya waktu sih. Tadi saja kehilangan jejak ayah. Kamu juga masih pemulihan."
Haikal berdecak kesal. "Aku sudah sembuh."
"Sembuh darimananya? Coba kalau kepalamu aku benturkan, sakit gak?"
"Kamu ngomongnya gak bener deh. Ya udah, hati-hati ya. Jangan gegabah," ujar Haikal mengingatkan.
Ambar mengangguk walau tahu jika Haikal pasti tidak akan mendengarnya. "Aku tutup telfonnya," ujar Ambar lalu mematikan sambungan telfon. Dia juga mengubah ponselnya menjadi nada hening. Berjaga-jaga jika ada yang menghubunginya tidak menimbulkan suara yang membuat ayah curiga.
Hingga tak terasa mobil sampai di rumah sakit jiwa. Ambar melirik nama rumah sakit jiwa itu, lokasinya tidak terlalu jauh daripada yang lalu. Ambar turun dan meminta supir untuk menunggunya. Dia masuk dengan pelan dan membenahi pakaiannya. Dia mengerutkan dahi saat ayah tidak sendirian. Ada seseorang wanita yang menunggu ayah di sana. Tampak sekali ayah akrab padanya. Ambar tak pernah melihatnya, entah siapa wanita paruh baya itu.
"Mas Broto, bagaimana kabarmu?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman manis.
Ambar melihatnya dari kejauhan. Namun, dia dapat mendengar perkataan wanita paruh baya itu yang terkesal dilembut-lembutkan.
"Baik, Lalisa. Untuk apa kamu memintaku datang ke sini?"
"Aku hanya ingin mengajakmu melihat pasien nakal itu."
Broto—ayah Ambar itu pun terkekeh pelan. "Pasien nakal? Bukankah kamu yang lebih nakal darinya?"
Wanita yang bersama ayahnya itu pun cemberut. Ambar semakin masuk mengikuti mereka. Walau tadi sempat ditanya penjaga sana, dan dia menjawab datang bersama ayahnya tetapi ayahnya sudah ada di dalam duluan. Dia juga menunjukkan foto ayahnya sebagai bukti bahwa dia memang pergi bersama ayahnya. Memang kejadian tiga tahun lalu karena ada seseorang yang membawa kabur pasien rumah sakit jiwa di sini, oleh karenanya dijaga lebih ketat lagi. Supaya kembali mendapatkan kepercayaan lagi oleh masyarakat dan lainnya.
"Siapa dia?" tanya Ambar. Dia tak bisa melihatnya lebih dekat. Mana beberapa pasien sengaja dilepaskan. Dia harus fokus mengusir beberapa pasien.
"Bagaimana keadaannya?" Samar-samar Ambar bisa mendengar percakapan ayahnya.
"Baik, Pak. Hanya saja belakangan ini dia tidak mau makan."
"Dia ingin mati," desis wanita paruh baya yang Ambar ketahui tadi bernama Lalisa. Dia sangat tak suka ayahnya memiliki teman seperti itu. Seperti yang dia lihat wanita paruh baya itu juga sepertinya menyukai ayahnya. Huh, dia tak mau memiliki ibu tiri seperti wanita itu.
"Diam kamu Lalisa!"
"Kenapa? Kamu tak terima jika wanita yang masih kamu cintai itu mati?"
Ambar terkejut mendengarnya. Wanita yang masih dicintai ayahnya? Jadi, selama ini ayahnya tak mencintai ibu tirinya. Pantas saja dia tak melihat keberadaan foto-foto ayah dan almarhumah ibu tirinya di kamar sang ayah.
"Diam kamu!" Ayah mendengkus kesal.
"Kamu tidak menginginkannya mati, tetapi kamu menyiksa batinnya. Bukankah sama saja membuatnya mati dengan perlahan?"
Ambar begitu terkejut mendengarnya lagi. Dia semakin penasaran akan sosok yang menjadi pasien itu. Langkahnya tiba-tiba mundur saat rambutnya hampir saja ditarik oleh salah satu pasien rumah sakit jiwa. Sungguh mengganggunya saja.
"Diam kamu Lalisa! Lebih baik kamu pergi dari sini!"
"Tidak!" Wanita paruh baya itu menolak dengan tegas.
"Saya ingin melihat keadaannya," ujar ayah.
Ambar tidak bisa melihatnya saat ayah masuk ke dalam. Dia hanya bisa melihat bahwa orang yang ayah kunjungi adalah seorang wanita yang sedang meringkuk kedinginan di lantai. Ambar mengerutkan dahi tak mengerti. Siapa wanita gila itu? Dan, apa hubungannya ayah dengan wanita bernama Lalisa itu?
Ambar memutuskan untuk menjauh dulu. Nanti dia akan kembali setelah ayah pergi. Daripada dia dicurigai hingga membuat ayah memindahkan wanita gila itu lagi. Entah kenapa ayah menyembunyikan keberadaannya. Dia mengira-ngira apakah Galih juga mengetahuinya atau tidak.
Ambar merogoh ponselnya dan menuliskan pesan kepada Haikal. Memberitahunya akan apa yang dia lihat tadi. Tak berselang lama muncul jawaban dari Haikal yang membuat dia marah seketika.
"Kamu harus bisa menemui wanita itu. Bagaimana jika wanita itu adalah yang kamu cari selama ini. Kamu jangan mudah mempercayai seseorang."
Perkataan Haikal tanpa sadar telah menuduh ayahnya melakukan hal buruk pada wanita paruh baya yang dia cari. Namun, mana mungkin ayahnya sudah bertemu dengan wanita paruh baya itu. Lagipula yang dia lihat wanita itu tidaklah sakit. Kenapa harus ada di rumah sakit jiwa? Ah, dia harus melihatnya secara langsung. Apakah memang benar atau tidak. Dia juga tak boleh suudzon karena tidaklah baik.