25-Bab 25

1059 Words
Ambar tak kuasa menahan air mata saat mengetahui kebenarannya. Apa ini? Kenapa semuanya terasa rumit baginya? Ayah yang dia percaya telah memasukkan wanita yang dia cari itu ke rumah sakit jiwa. Dia tak mau berprasangka karena belum tahu kebenarannya apakah wanita itu memang ibu kandungnya atau tidak. Ambar pulang ke rumah, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Entah dia hanya ingin melampiaskan rasa kesalnya saja saat melihat kenyataan tadi. Keadaan wanita paruh baya itu tidaklah baik, bahkan sangat buruk sejak terakhir kali dia bertemu dengannya. Lebih kurus, kantung mata yang besar, belum lagi tampak kucel dan lain sebagainya. Dia sungguh prihatin melihatnya. Padahal yang dia lihat di foto sangatlah cantik, begitu berbeda dengan yang sekarang. "Ambar, tadi kakak belikan kamu jaket lho," ujar Arda yang juga baru pulang menggunakan taksi. Ambar hanya meliriknya sekilas. Arda merasa bingung seketika akan sikap yang ditunjukkan oleh Ambar. Ambar mencari ayahnya dan memanggilnya. Arda yang dibelakangnya pun semakin bingung. Dia segera menelfon Galih, memintanya untuk segera pulang. "Ayah," teriak Ambar. "Ada apa Ambar?" Rupanya ayah baru ssja dari halaman belakang. Tampak bajunya kotor. "Ambar ingin bicara dengan ayah," ujar Ambar. "Biarkan ayah membersihkan tubuh dulu, Ambar," tukas Arda. Dia meletakkan belanjaannya di sofa. Meminta Ambar untuk duduk menunggu ayah. "Tidak usah, sepertinya anak ayah ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada ayah." Ayah tersenyum menatap Ambar. Ambar berjalan mendekati ayah, memberikan sebuah foto yang membuat ayah membelalakkan kedua matanya. "Apa ini Ambar?" "Bukankah ayah sudah tahu," ujar Ambar tanpa mau menjelaskan. "Kamu dapatkan darimana?" "Tidak penting Ambar mendapatkannya darimana. Ambar cuman meminta penjelasan. Benar jika ibu kandung Ambar telah meninggal?" Tampak ayah terkejut. Dia melihat wajah muram ayahnya. Ayah mengangguk menjawab perkataan Ambar. "Lalu, siapa wanita yang ada di foto itu?" tanya Ambar. Arda melihat interaksi keduanya dengan bingung. Dia tak mengerti siapa yang sedang dibicarakan di foto tersebut. "Teman ayah," jawab ayah dengan singkat. "Lalu, dimana foto ibu kandung Ambar?" Ayah menghela nafas panjang. "Ada apa denganmu Ambar?" "Ada apa? Kenapa ayah menyembunyikan kebenarannya!" Ambar berteriak kesal. Suara deru mobil membuat Arda menoleh. Rupanya Galih datang dengan wajah panik. Dia terkejut mendengar teriakan Ambar kepada ayah. "Ada apa ini?" Namun, pertanyaannya tidak ada yang mau menjawabnya sama sekali. "Ambar, kenapa kamh berteriak kepada ayahmu? Dimana sopan santunmu." Ambar menoleh ke arah Galih. Dia tertawa keras. "Sopan santun? Ayah menyembunyikan kebenarannya. Ayah telah berbohong padaku." "Berbohong bagaimana?" Ayah menyela, "Apa yang kamu ketahui tentang foto ini?" "Wanita itu adalah ibu kandungku, benar bukan?" Ambar berharap apa yang dia katakan tidaklah benar. Namun, anggukan dari ayahnya membuat Ambar tersentak. Dia memegang dadaanya yang terasa sesak. Ayahnya telah membuat ibunya berada di rumah sakit jiwa. "Kenapa ayah? Kenapa ayah memasukkan istri ayah ke dalam rumah sakit jiwa? Kenapa ayah menelantarkan ibu dan membiarkan ibu hidup tidak menentu seperti itu? Kenapa ayah malah menikah dengan wanita lain?" Ambar meracau. Di jatuh terduduk. Air mata membasahi kedua pipinya. Ternyata memang inilah kebenarannya. Dia tak bisa menampik lagi. "Ibu kandung? Rumah sakit jiwa?" Galih bertanya dengan nada pelan. Arda cukup kaget mendengar perkataan ayah juga Ambar. Dia tak mengira ayahnya menyembunyikan rahasia besar selama ini. Bahkan, kepada putrinya sendiri. "Kamu mau tahu kebenarannya?" "Ayah!" Galih menggelengkan kepala. Dia tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. "Katakan ayah, walaupun terdengar menyakitkan sekalipun," pinta Ambar. Dia mendongak menatap ayahnya dengan air mata yang masih mengalir. "Dia memang ibu kandungmu, dan dia bukan istriku." Ambar semakin kaget mendengarnya. Mungkinkah ayahnya sudah bercerai dengan ibunya lalu menikah lagi? Dan mungkinkah alasannya karena kehadiran orang ketiga? Dia semakin tak mengerti. "Ibumu adalah istri dari kakak ayah," ujar Ayah dengan tatapan datarnya. Dia sakit saat melihat putri kesayangannya menangis histeris seperti tadi. Dia telah melukai hati putrinya, tetapi memang inilah kenyataannya. Ambar terkejut mendengarnya. Dia berkata dengan pelan, "Apa aku anak haram ayah? Anak selingkuhan ayah dengan ibu?" "AMBAR!" Galih tak suka mendengarnya. Dia menggoncangkan kedua bahu adiknya. "Sadar Ambar. Apa yang kamu katakan? Kamu adik, kakak." Ambar menggelengkan kepala tak percaya. Dia sudah sangat terkejut saat ini. Tolong, dia tak mau menerima kenyataan pahit lagi walaupun dia ingin mendengarnya. "Bukan, Ambar," ujar Ayah dengan sedih. Dia tak suka mendengar perkataan putrinya. Kedua matanya menatap selembaran foto yang menjadi saksi bahwa keluarganya hancur karena kehadiran wanita itu. Dulu, menjadi sahabat dalam suka maupun duka. Hingga cinta membinasakan. Hal yang masih melekat dalam hatinya, menabur luka yang tak pernah hilang dalam pikirannya. Semua karena wanita yang ada dalam foto ini. "Ambar, berdirilah!" Galih membantu Ambar berdiri namun ditolak oleh adiknya. "Katakan ayah, katakan dengan jelas. Ambar ingin mendengarnya." "Ambar, cukup!" Galih menatap ayahnya dengan gelengan kepala. "Kenapa? Apa jangan-jangan kakak tahu kebenarannya." Galih menggelengkan kepala. Dia hanya satu satu kebenaran saja. Namun, dia tak mau Ambar semakin menjauhinya jika tahu kebenarannya. "Ambar bukanlah anak kandung ayah," ujar ayah dengan satu tarikan nafas. Sungguh dia tak kuat melihat putrinya tampak begitu terluka. Dia tak mau putrinya menganggap dirinya adalah anak di luar nikah. Galih memejamkan kedua matanya. Kini rahasia itu telah terungkap. Dia tak mengerti kenapa ayah mengatakannya. Walaupum Ambar bukan adik kandungnya, dia sangat menyayangi Ambar, menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Setelah ini, entahlah apakah Ambar akan memperlakukannya sebagai seorang abang atau justru menjauhinya. Dia sungguh tak mau mendengar kata terakhir dari pemikirannya itu. "Apa ayah?" Ambar menggelengkan kepala tak percaya. Kenapa banyak sekali rahasia dan dia tak mengetahuinya sama sekali. Ayah berjalan mendekati Ambar. Dia meremas foto itu. Hendak memeluk Ambar tetapi ditolak. "Aku bukan anak kandung ayah," ujar Ambar dengan nada menyakitkan. Arda yang sedari tadi melihat pun hanya menangis. Dia tak kuasa melihat keadaan Ambar. Adik iparnya adalah gadis yang malang. Dia tak percaya akan hal ini. "Berapa tahun ayah menyembunyikan kebenaran ini. Tahukah ayah? Ini lebih menyakitkan dibanding kejadian dua tahun lalu saat Keenan meninggalkanku di hari pernikahan kita." Ambar tertawa pelan. Tawa menyedihkan yang membuat siapapun mendengarnya ikut sedih. "Ambar, walaupun kamu bukan anak kandung ayah. Kamu tetaplah anak ayah. Ayah sangat menyayangimu, Ambar, kamu putri ayah," ujar ayah. Ambar menggelengkan kepala pelan. "Anak kandung berbeda dengan anak angkat ayah." "AMBAR!" Galih membentak Ambar. Dia semakin tak suka mendengarnya. "Kenapa kak? Memang itulah kebenarannya." Ayah menggelengkan kepala. Dia memegang kedua bahu Ambar. "Kamu adalah keponakan ayah." Ayah memperlihatkan foto. "Kamu lihat 'kan foto ini? Lelaki yang di sini adalah foto ayah kandung kamu, dia adalah kakak ayah." "Dimana dia?" "Dia sudah tiada." Ambar menundukkan kepala mendengarnya. Dia membungkam bibirnya. Kebenaran yang cukup menyakitkan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD