Suasana taman tampak sepi, tetapi terdengar ramai karena tangisan meyayat hati seseorang. Haikal menatap wanita di sebelahnya yang sedari tadi tidak berhenti menangis. Ambarwati, wanita yang selama ini ternyata pura-pura kuat. Perjalanan hidup yang kurang menyenangkan mungkin membuatnya menjadi sosok yang kuat. Namun, ternyata hidupnya sangat rumit daripada yang dilihat. Tinggal serumah ternyata tidak membuat Ambar mengenali sosok yang dikenalnya sebagai ayah. Haikal sudah mendengar semua dari Ambar. Walau mungkin wanita itu sudah menjauhinya karena Santi yang selalu mengganggu dirinya dan Ambar. Namun, dia tidak akan membiarkan Ambar menjauh darinya. Hatinya sungguh telah jatuh kepada wanita yang sedang menangis itu.
Ingin sekali Haikal merengkuhnya, mengusap punggungnya untuk menenangkan supaya Ambar bisa lebih tenang lagi. Namun, dia tak bisa melakukannya sampai saat ini.
Andai dia sudah menikah dengan Ambar. Ah, khayalannya terlalu tinggi. Tak apa, itu keinginannya.
"Sedari tadi kamu sudah menangis, kuharap besok kamu tak akan bersedih lagi," ujar Haikal dengan helaan nafas panjang.
Ambar berusaha meredakan tangisannya. "A-ku mana bisa melupakannya dalam sekejap. Ayah .... "
"Iya, aku tahu. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu sudah menemui ibumu?"
Ambar menghentikan tangisannya. Dia teringat sosok wanita paruh baya yang dia ketahui ternyata memang ibu kandungnya. Kini dia mengingat perkataan kasarnya kepada wanita paruh baya itu waktu lalu. Dimana Ambar juga mengusirnya. Tentu bagi seorang ibu itu adalah hal yang menyedihkan.
"Ayo, kita temui ibumu ketika kamu sudah merasa lebih baik," ajak Haikal tanpa menatap Ambar yang terdiam.
Keheningan menyapa. Ambar tak ada niatan untuk menjawab. Dia hanya sedang memikirkan kejadian yang telah membuat hatinya sakit. Haikal pun memilih tak berkata lagi. Seseorang yang sedih hanya butuh ketenangan, bukan berbagai pertanyaan yang hanya akan membuatnya makin pusing saja. Haikal pun memilih mengerti bagaimana keadaan Ambar sekarang. Keadaannya yang sudah membaik semenjak kecelakaan itu, bagaimana dia khawatir saat mendengar suara tangisan Ambar di seberang telfon. Sontak saja membuatnya segera datang ke rumah Arda. Namun, Ambar memintanya menuju taman dengan deraian ar mata yang mengalir di kedua pipi tirusnya. Semula dia tak mengetahui apa yang terjadi. Hingga dia paham kondisi yang sebenarnya. Terlebih suara Galih yang mencegah kepergian Ambar juga tangisan Arda. Belum lagi ayah Ambar yang menatap putrinya dengan sendu.
"Antarkan aku!" kata Ambar tiba-tiba membuat Haikal tersentak kaget. Lamunannya seketika buyar.
"Kemana?"
"Rumah sakit jiwa," jawab Ambar dengan suara lirih. Haikal mengangguk. Dia lalu meminta Ambar untuk mengusap kedua pipinya. Wajah Ambar yang kentara sekali sedang sedih. Belum lagi kedua matanya yang membengkak karena terlalu lama menangis. Namun, hal itu tak mengurangi kecantikan Ambar.
Ambar mencebikkan bibirnya saat masuk ke dalam mobil. Dia menahan tangisan yang hendak ke luar lagi. Haikal melihat sisi lain dari Ambar. Dia memilih diam dan fokus mengemudikan mobilnya.
Takdir seakan mendukung perjalanan kali ini, jalan raya yang tampak lengang juga cuaca yan mendukung. Haikal semakin mengemudikannya dengan cepat, dia melirik Ambar sekilas. Dia rasa tak apa-apa. Karena entah kenapa Haikal hanya merasa khawatir jika ayah Ambar memindahkan wanita paruh baya itu ke rumah sakit jiwa yang lain.
Tak lama, mobil berhenti di parkiran rumah sakit jiwa. Ambar menghembuskan nafas kasar. Dia turun lebih dulu dan masuk ke dalam rumah sakit jiwa meninggalkan Haikal yang sedang memarkirkan mobil. Sesampainya di ruangan wanita paruh baya itu, Haikal begitu terkejut melihatnya. Keadaan yang sungguh tidak menyenangkan. Wanita paruh baya itu teriak tanpa menoleh menatap Ambar. Bahkan, meminta perawat untuk mengusir seseorang yang datang. Ambar merasa sakit melihatnya. Hatinya seakan diremas dengan kuat, menerima fakta yang dia lihat sekarang.
"Ibu," panggil Ambar dengan suara pelan. Haikal menatap Ambar dengan tatapan sendu. Dia merasa sedih dengan melihat Ambar sedih. Kelihatannya sok tegar, padahal hatinya rapuh. Butuh bahu untuk bersandar. Butuh seseorang yang mengertinya.
"Ibu, ini Ambar," ujar Ambar lagi. Dia mencoba mendekat. Tetapi, wanita itu semakin berteriak. Ambar jatuh terduduk. "Maaf, Bu." Ambar tak kuasa melihat ibu kandungnya seperti itu.
"Ambar, ibumu mungkin butuh waktu. Sekarang kamu memilih merawat ibumu di rumah atau tetap di tempat ini?"
Ambar mengangguk mengerti. Dia mengambil suatu keputusan yang menurutnya sangat betul dia lakukan. Terlebih saat melihat kondisi ibu kandungnya.
**********
"Sepertinya Ambar sudah bahagia dengan yang lain. Dia benar-benar telah melupakan putra kita."
"Benar, Bu. Kemarin Bapak lihat Ambar bersama lelaki lain tampak bahagia."
Wanita paruh baya itu menatap televisi dengan pandangan kosong. Hatinya hancur saat sang putra difitnah dan dipermalukan. Saat wanita yang dicintai anaknya pun tak percaya sama sekali. Seakan keluarganya begitu pantas dipermalukan akan sesuatu yang belum benar faktanya.
"Jika Keenan sudah kembali, ibu tidak akan membiarkan Keenan mengejar Ambar lagi. Wanita yang sudah menyia-nyiakan putra kita, Pak. Bahkan, dengan teganya melupakan putra kita. Cinta mana ada sekejap. Cinta adalah kepercayaan. Seharusnya Ambar lebih percaya pada kita, Pak. Dibandingkan dengan yang lainnya."
Wanita paruh baya itu yang dulu menyukai Ambar saat anaknya—Keenan membawa Ambar ke rumah ini pun menyambut dengan bahagia. Kini, hanya sisa dengki di dadaa. Kebencian karena sebuah kesalahpahaman. Bukan membenci Ambar, hanya saja tidak suka pada tabiatnya yang tidak percaya pada anaknya. Dia paham mungkin Ambar begitu karena memang keadaannya begitu. Hanya saja, bagaimana bisa Ambar seperti itu kepadanya dan suaminya. Dia tak rela. Ketika sopan santun berganti dengan tidak memiliki tata krama karena sebuah kejadian yang memilukan. Entah kemana sikap ramah Ambar. Berganti dengan rasa angkuh, cuek, dan dingin.
"Bu, kita hanya bisa mendo'akan saja. Bapak kecewa atas apa yang terjadi. Walaupun sudah lama, bapak sungguh tak menyangka sama sekali. Bapak mengira ini hanyalah mimpi."
"Tidak ada mimpi. Kita sudah dipermalukan saat itu, Pak. Bahkan, tidak ada yang membela keluarga kita. Kita meminta kesempatan untuk membuktikan, tetapi tetap tak ada yang mau berada di pihak kita. Muka kita direkam oleh keluarga Ambar. Kita dipermalukan, seakan tak becus dalam mendidik anak. Malu, Pak. Malu sekali mengingatnya. Walaupun sudah lama, ibu selalu meminta maaf atas kejadian itu. Tetapi, kenapa pihak sana juga tak berupaya untuk meminta maaf pada kita Pak? Sedangkan, kita selalu berusaha berbaik hati dengan meminta maaf duluan. Walau belum benar nyatanya anak kita bersalah. Sebelum bertemu dengan Keenan, ibu tak akan percaya. Ibu yang melahirkan Keenan. Anak baik, berbakti sama kita, menyayangi Ambar mana mungkin dengan tega mengkhianati kita terlebih Ambar Pak."
Bapak dari Keenan hanya terdiam melihat sang istri begitu emosi. Sudah lama kejadian itu, tetapi tetap saja membekas di hati. Ketika dipermalukan dihadapan banyak orang. Rasanya sudah tak memiliki muka lagi. Belum lagi tak ada yang bijak dalam menyikapi situasi itu. Hari bahagia menjadi hari yang paling dibenci saat itu. Sungguh tiada yang tahu takdir.