Ambar menatap para karyawannya yang bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ada yang khusu mengantarkan makanan, bagian kasir, dan memasak. Dia mendorong kursi roda sang ibu menuju taman samping restorannya. Dia ingin membuka cafe dengan menggunakan nama sang ibu sebagai bentuk rasa kasih sayangnya kepada ibunya itu. Beribu syukur, tak henti dia ucapkan karena pada akhirnya kebenaran ini terungkap walaupun pedih dia rasakan. Memiliki orang tua yang pisah tinggal dengannya, dia tak mudah menjalaninya sendirian. "Menurut ibu bagaimana?" "Bagaimana apanya?" Ibu sedang menikmati kue yang dia pesan dari karyawannya tadi. "Restoran Ambar." "Bagus, ibu senang bisa melihat kamu sesukses ini. Tetapi ingat, adakalanya hidup tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Kadang ada di ata

