1. Perampokan
Malam semakin larut, jalanan di salah satu kota di Britania Raya cukup sepi. Di tambah hujan yang begitu deras dan cukup mengganggu pandangan wanita cantik yang sedang menyetir itu.
Wanita itu berusaha focus melihat jalanan karena derasnya hujan ditambah sedikit kabut benar-benar menghalangi pandangan. Wanita itu di buat kaget saat melihat seseorang yang menabrak mobil belakangnya hingga terdengar suara keras.
“Apa itu,” gumamnya menghentikan mobilnya dan melihat kebelakang tetapi tidak terlihat apapun. Akhirnya dia pun menuruni mobil dan membiarkan tubuhnya terguyur air hujan. Wanita cantik itu memekik kaget saat melihat seorang pria terkapar di aspal dengan sepeda motornya yang terguling. Pria itu yang barusan menabrak mobilnya.
“Ya Tuhan.” Wanita itu bergegas mendekati sang pria. “Anda tidak apa-apa?”
Pria itu membuka matanya hingga tatapan mereka bertemu. Dan yang membuat wanita itu memekik kaget adalah pisau yang di keluarkan oleh pria itu dan mengarah ke arah sang wanita.
“Serahkan semua harta bendamu,” serunya.
Wanita itu bergegas bangun dan hendak masuk ke dalam mobil, tetapi gerakannya terhenti saat membalikkan badannya ternyata ada dua orang pria lainnya disana tengah mengacungkan pistol ke arah wanita itu.
“Cepat naik ke dalam mobil,” serunya.
“Kenapa kau membawanya?” tanya pria yang tadi rebahan di atas aspal, kini pria itu sudah berdiri dibelakang sang wanita.
“Kau tidak lihat betapa cantiknya wanita ini. Lumayan untuk hiburan kita,” sahut temannya yang lain.
“Jangan macam-macam kalian!” seru wanita itu mulai siaga dan mengambil ancang-ancang. Dia sedikit memiliki kemampuan bela diri hanya untuk menjaga dirinya sendiri.
“Cepat seret dia ke dalam mobil,” perintah pria tadi yang kini sudah masuk ke dalam mobil si wanita di jok pengemudi.
“Jangan coba-coba!”
Wanita itu berusaha melawan kedua pria di depannya yang hendak menyeretnya masuk ke dalam mobil. Sekuat tenaga dia melawan pria itu, tetapi akhirnya dia pun kalah karena kekuatannya tidak sebanding dengan dua orang pria di depannya.
“Tolong!!!” teriaknya saat kedua lengannya di tarik paksa oleh dua orang pria tadi untuk masuk ke dalam mobil.
“Tolong…..”
Sebuah sepeda motor sport berhenti di depan mobil. Seorang pria yang mengendarai motor itu pun menuruni motor, dia membuka helm fullface nya dan langsung memukulkan helm pada salah satu pria yang memegang lengan si wanita.
Setelah itu terjadilah baku hantam satu orang pria melawan tiga perampok tadi. Si wanita dengan tubuh yang sudah basah kuyup melihat ke arah orang-orang yang sedang berkelahi.
Tak butuh waktu lama pria itu melumpuhkan para perampok yang kini sudah melarikan diri dengan motor butut mereka.
Pria itu berjalan mendekati si wanita sampai tatapan mereka bertemu. Terlihat tubuh si pria menegang kala melihat wajah wanita di depannya dengan lebih jelas.
“Terima kasih banyak, Tuan. Anda sudah menyelamatkan saya,” seru si wanita.
“Sama-sama. Segera naik ke dalam mobil dan bergegas pulang. Malam sudah sangat larut, berbahaya seorang perempuan sendirian di jalanan,” ucapnya hendak berlalu pergi.
“Tunggu!” wanita itu memegang lengan si pria hingga gerakan pria itu terhenti.
Si pria menoleh dan melihat ke arah tangan si wanita yang memegang lengannya.
“Maafkan saya.” Dengan cepat si wanita menarik tangannya.
“Nama saya Javeera. Dengan Tuan?”
“Saya…” pria itu terdiam beberapa saat. Dia seakan tengah mempertimbangkan sesuatu. “Nama saya Archilles.”
“Terima kasih banyak tuan Archli,” ucap Veera.
“Sama-sama.” Pria itu pun berlalu pergi dan kembali menaiki motor sportnya. Sebelum memakai helmnya, dia kembali menoleh ke arah Veera yang tengah tersenyum kepadanya. Setelahnya dia pun memakai helmnya dan berlalu pergi dengan mengendarai motor sportnya.
“Mr. Archli,” gumam Veera. “Oh ya Tuhan, dingin sekali.” Veera mengusap kedua lengannya dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia pun langsung menyalakan mobil dan bergegas meninggalkan tempat itu.
---
Veera berjalan masuk ke dalam mansion keluarganya dengan tubuh yang kedinginan, seluruh pakaiannya basah dan rambutnya pun basah.
“Apa yang terjadi?” tanya seseorang yang ternyata masih menunggunya di ruang televise. Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Veera hingga kini berdiri di hadapan Veera. Sosok pria yang memiliki wajah yang mirip dengan Veera.
“Kenapa kau belum tidur.” Bukannya menjawab, Veera malah balik bertanya.
“Sudah pukul dua dini hari dan kamu masih belum pulang. Bersyukurlah Dad and Mom sedang pergi ke London. Kalau tidak, Dad sudah mencarimu keseluruh Britania,” serunya membuat Veera mencibir.
“Acara makannya berlanjut dengan pesta minum. Aku ke kamar dulu, tubuhku sudah membeku rasanya.” Veera berjalan melewati saudara kembarnya.
“Bagaimana bisa tubuhmu basah kuyup, padahal kamu memakai mobil?” tanya Javier menghentikan langkah Veera.
“Terjadi accident di jalan. Ada yang berniat merampokku. Syukurlah ada orang baik yang menolongku. Sudah ya, aku harus segera ke kamar.” Veera berlari menuju lift.
“Ck, gadis itu,” keluh Javier.
***
Pagi-pagi sekali Veera di kagetkan oleh kedatangan kekasihnya Devan.
“Veera, aku dengar kamu di rampok semalam,” seru Devan penuh kekhawatiran.
“Hampir saja, tapi seseorang menolongku,” jawab Veera.
“Bagaimana keadaanmu. Apa mereka melukaimu?” tanya Devan memutar tubuh Veera membuatnya tersenyum.
“Aku baik-baik saja, Van.”
“Beneran baik-baik saja?” tanya Devan menatap Veera di depannya.
“Ya, sangat baik.”
“Lain kali jangan menolak kalau aku menjemputmu,” ucap Devan.
“Aku bisa menjaga diriku. Kamu tenang saja.”
“Memangnya Veera hampir di rampok semalam?” tanya seseorang membuat Veera dan Devan menoleh ke sumber suara. Disana terlihat seorang wanita dewasa.
“Ya, kak Clara. Tapi untungnya ada seseorang yang menolongku,” jawab Veera.
“Syukurlah. Lain kali jangan pulang terlalu malam. Aku tidak akan menolongmu untuk memberikan alasan pada uncle Regan,” ucap Clara.
“Kak Clara tenang saja,” ucap Veera.
Clara pun berlalu pergi meninggalkan pasangan itu.
“Ayo kita sarapan dulu,” ajak Devan.
“Sepertinya aku langsung berangkat, Van. Aku ada meeting dengan salah satu client penting hari ini.”
“Aku antar kamu.”
“Tidak perlu, Van. Bukankah kamu ada pekerjaan dengan Javier. Kamu tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Tapi…”
“Ini siang, Van. Tidak aka nada perampok, oke.”
“Baiklah. Kamu tetap harus berhati-hati.”
“Oke. Sampai jumpa, Van.” Veera mengecup pipi kekasihnya dan berlalu pergi.
***
Veera menyetir mobilnya menuju ke sebuah perusahaan. Sesampainya di parkiran mobil, asistennya mendatanginya.
“Nona Veera.”
“Maya, apa semua berkasnya sudah di siapkan?”tanya Veera.
“Sudah. Semuanya sudah saya siapkan.”
“Bagus. Semoga client kita menyukainya,” ucap Veera.
“Tentu saja. Desain yang di buat Nona Veera tidak tertandingi,” ucap Maya.
“Ck, kamu selalu bisa menyanjung,” ucap Veera menampilkan senyumannya.
Mereka pun beranjak pergi menuju lift yang ada di sana.
***