Tiga Bulan Kemudian …
Kini Javeera mendapatkan tugas cukup berat, dia harus mengelola perusahaan Wiratama yang ada di London, sedangkan kembarannya mengurus perusahaan di Britania.
Wanita itu sudah bersiap dengan setelan formalnya, dia hendak pergi ke kantor. Ini bukan hari pertamanya bekerja, tetapi dia masih cukup gugup karena kini menempati posisi Direktur Utama. Veera terpaksa harus menurut, karena, Ariana dan Zaydan bekerja meneruskan bisnis rumah sakit dan perusahaan Sanders di Swiss.
“Oke, aku bisa melakukannya,” gumam Veera menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan.
Wanita itu berjalan keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam lift menuju meja makan dimana seluruh keluarganya sudah berkumpul.
“Selamat pagi,” sapa Javeera menyapa semua orang yang ada di meja makan.
“Pagi, Sayang.” Angela menyapanya dengan senyuman hangat.
Gadis itu menyantap sarapannya.
“Veera, Daddy sudah mencari beberapa bodyguard untuk melindungimu,” ucap Regan mulai membuka suara.
“Bodyguard? Aku rasa, aku tidak membutuhkan itu, Dad,” jawab Veera.
“Kamu butuh, Sayang.” Angela menyahuti.
“Aku akan pastikan selalu aman. Tidak perlu memakai bodyguard,” tolak Veera.
“Kamu sekarang menempati posisi Direktur utama, dengan banyaknya pesaing bisnis kita, kamu yakin aman?” tanya Regan.
“Ya, kurasa,” jawab Javeera.
“Sebelum berangkat nanti, kamu pilih beberapa orang untuk jadi bodyguardmu. Daddy sudah memilih mereka yang sangat tangkas dalam segala hal,” jelas Regan.
“Dad ….” Javeera masih berusaha membujuk Ayahnya.
“Dengarkan saja Daddy mu, Nak. Itu demi keamanan kamu,” ucap Davero.
“Benar, Nak. Lagipula kami tidak selalu stanby disini. Kakakmu juga sibuk di Britania,” jelas Angela.
Wanita itu hanya bisa menghela nafasnya. “Terserah kalian saja.”
Nafsu makan Veera mendadak hilang entah kemana. Dia lebih suka sendirian dibandingkan di buntuti oleh seseorang. Dia sendiri merasa damai setelah pindah ke London, karena tidak perlu bertemu dengan Devan setiap hari.
Usai sarapan, Regan membawa Javeera ke depan rumah. Di sana terlihat tiga orang pria muda dengan tubuh kekar nan gagah. Fokus Javeera tertuju pada satu sosok yang tidak asing padanya.
“Anda? Tuan Archil?” tanya Javeera dan pria itu membungkukkan sedikit badannya ke arah Javeera.
“Kamu mengenalnya?” tanya Regan.
“Ya, Dad. Tuan Archil ini yang menolongku saat aku hampir di rampok,” jelas Javeera.
“Kebetulan sekali. Jadi kamu akan memilih siapa untuk menjadi bodyguardmu?” tanya Regan.
Javeera masih memegang berkas berisi data pribadi ketiga orang di depannya.
“Aku memilih tuan Archil saja. Aku sudah pernah melihatnya berkelahi, dan kurasa dia bisa melindungiku,” ucap Javeera.
“Baiklah kalau begitu. Jadi sudah sepakat,” ucap Regan.
“Aku akan menunggu di mobil,” ucap Javeera berlalu pergi sedangkan Archil harus mengisi beberapa formulir.
---
Javeera memainkan ponselnya di dalam mobil. Dia mengirimkan pesan pada salah satu sahabatnya yang bernama Teressa. Wanita itu bekerja sebagai seorang Dokter kecantikan dan membuka klinik sendiri.
Teressa
[Selamat pagi, Bu Direktur. Wah, ini hari pertama kamu menduduki posisi sebagai Direktur Utama]
Javeera tersenyum melihat pesan itu. Dia pun membalas pesan dari sahabatnya itu.
[Setelah ini, sepertinya akan banyak kerutan di wajahku]
Teressa
[Tenang saja, Dokter Teressa yang cantik ini akan selalu merawat kulit wajah bu Direktur. Biar tuan Devan semakin falling in love denganmu.]
Javeera hanya tersenyum membaca pesan itu.
Seseorang masuk ke dalam mobil di kursi kemudi membuat Veera menoleh ke arahnya.
“Maaf karena saya terlambat,” seru Archil.
“Tidak masalah. Kita bisa langsung berangkat sekarang,” ucap Javeera membuat pria itu mengangguk kecil.
Archiles mulai menjalankan mobil meninggalkan pekarangan Wiratama.
Sesekali pria itu melihat melihat Javeera yang fokus menatap keluar jendela mobil dari kaca depan. Pria itu terus mengamati kecantikan Javeera dari kaca itu.
“Aku tidak tau kalau kamu pindah ke London,” seru Javeera membuka percakapan.
“Sebenarnya saya tinggal disini. Tiga bulan lalu di Britania, saya sedang bekerja disana,” jawab Archil.
“Bekerja apa? Kenapa keluar?” tanya Veera.
“Bekerja sebagai keamanan di salah satu club malam,” jawab Archil. “Saya harus kembali ke London, karena disini adik saya tidak ada yang menjaga.”
“Kamu punya adik?”
“Ya, dia masih 15 tahun dan duduk di bangku SMA,” jawab Archil.
“Kamu hanya tinggal berdua dengannya? Dimana orangtua kalian?” tanya Javeera.
“Orangtua kami sudah lama meninggal.” Jawaban Archil membuat Javeera merasa kikuk.
“Maafkan aku.”
“Tidak apa-apa. Anda mungkin perlu tahu kehidupan saya,” jawab Archil begitu formal. Javeera pun tidak bertanya lagi.
Tidak butuh waktu lama, mobil sudah terparkir di perusahaan besar Wiratama. Archil menuruni mobil lebih dulu dan membukakan pintu penumpang untuk Javeera.
Wanita itu menuruni mobilnya dan berjalan menuju lift diikuti Archil. Pria itu bergerak cepat menekan tombol lift sampai lift terbuka lebar. Javeera berjalan memasuki lift dan lift itu kembali tertutup.
Pintu lift terbuka di lantai yang di tuju oleh wanita itu. Javeera berjalan dengan anggun keluar dari lift diikuti Archil.
Para sekretaris menyambut kedatangannya dan membungkukkan badan saat Javeera sampai disana.
“Berikan laporan internal perusahaan tiga bulan ini padaku,” perintah Javeera yang langsung di jawab siap oleh sekretarisnya.
“Ah ya, perkenalkan nama kalian,” ucap Javeera berdiri di hadapan empat orang.
“Saya Milli, sekretaris yang bertugas mengatur jadwal anda dan memenuhi kebutuhan anda,” ucap Milli.
“Saya Edgar, sekretaris yang berhubungan dengan para-Manager juga General Manager,” ucap Egdar.
“Saya Zoya, Sekretaris yang menerima pesan dan membalas pesan dari luar perusahaan, baik dalam maupun luar Negri.”
“Dan saya, Landon. Saya bertugas untuk mengurusi kontrak kerja dan beberapa proposal untuk kerjasama dengan investor.”
“Baiklah, saya paham dengan tugas singkat kalian. Saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik. Ke depannya saya sangat butuh bantuan kalian.”
Mereka menjawab dengan kompak. Setelahnya Javeera masuk ke dalam ruangannya dan Archil berdiri tegak diluar ruangan.
‘Benar-benar siaga,’ pikir Javeera.
Wanita itu menyisir seluruh ruangan besar itu. Ruangan yang dulu sering dia datangi saat Ayahnya bekerja disini. Tidak disangka dia yang akan menempati ruangan ini sekarang. Javier benar-benar enggan meninggalkan Britania, mungkin karena masih mencari keberadaan wanita itu.
Veera menyimpan tasnya di atas meja luas itu. Dia berjalan mendekati jendela yang luas. Dia melihat ramainya pusat kota dengan kendaraan dan gedung-gedung pencakar langit. Dari sana pun dia bisa melihat menara big ben.
“Pemandangan ini cukup menarik,” gumamnya.
Ketukan di pintu membuat wanita itu menoleh ke sumber suara. “Masuklah.”
“Direktur, ini dokumen yang anda minta,” ucap Milli.
“Bawa kemari,” perintah Javeera kini menduduki kursi kebesarannya.
Milli berjalan dan memberikan dokumen-dokumen di atas meja. “Sebagian sudah saya kirim via email,” ucap Milli.
“Oke. Terima kasih,” ucap Javeera.
“Oh Milli,” panggil Javeera menghentikan langkah wanita itu.
“Iya, Bu?” tanya wanita berkacamata itu.
“Bisa tolong buatkan aku segelas vanilla late,” ucap Javeera.
“Baik, akan segera saya siapkan.”
“Terima kasih.”
Wanita berkacamata itu pun keluar dari ruangan. Javeera mulai membuka laporan yang diberikan Milli. Fokusnya teralihkan saat mendengar berita di televise yang memang sudah menyala.
Disana kembali diberitakan di temukannya mayat seorang wanita muda.
“Ini mayat ketiga dalam sepekan ini, apa pembunuhnya orang yang sama?” gumam Veera.
“Semakin lama semakin tidak aman,” gumamnya dan kembali mengamati laporan.
Dari luar pintu, Archil diam-diam mengawasi Javeera. Pria itu menatap wajah cantik Javeera dengan tatapan yang sulit di artikan. Ruangan itu memang dikelilingi oleh jendela, sehingga dari luar ruangan bisa melihat ke dalam.
‘Setelah 10 tahun berlalu, kamu masih terlihat cantik, Veera,’ batin Archil.
***