Bermimpi Buruk

1192 Words
Javeera baru saja sampai di mansion Wiratama. Semua orang sudah terlelap. Dia merasa seluruh tubuhku kaku, seharian ini dia terus duduk di kursi dan melakukan pemeriksaan dokumen di beberapa divisi. Bagaimana pun sebelumnya Veera menempati posisi CEO, dan dalam waktu singkat sudah harus menempati posisi Direktur Utama. Ternyata menempati posisi Direktur utama, tidaklah mudah. Wanita itu menghela napas panjang. “Mungkin aku harus berendam.” Veera beranjak dari posisi duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi besarnya dengan segala fasilitas terbaik di dalamnya. Dia mengisi jacuzzi dengan air hangat. Dan menuangkan sabun mandi dengan aroma bunga lily yang menenangkan. Dia melepaskan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam jacuzzi. Merendam seluruh tubuhnya di dalam air yang mengeluarkan uap dan gelombang dari dasar, sehingga mampu memijit tubuh wanita itu. “Um, nyaman sekali,” gumamnya merebahkan kepalanya di bagian kepala kolam kecil itu. Javeera merasa hidupnya terasa hampa, terasa monoton dan tidak ada yang membahagiakan. Entah apa yang dia inginkan dan harapkan dalam kehidupannya ini, tetapi terkadang Veera merasa sangat lelah dengan rutinitas yang dia lakukan. Veera memang terkenal dengan sosok wanita dingin dari saat dia kuliah, dia juga seorang gadis introvert karena tidak suka bergaul dan tidak suka keramaian. Sahabatnya hanya satu orang, yaitu Teressa atau biasa dia panggil Tessa. Terkadang dia bertanya-tanya saat melihat Javier yang begitu setia pada Arabella, padahal gadis itu sudah lama meninggal. Apa cinta seperti itu? Apa cinta seberarti itu? Karena bagi Veera, cinta itu hanya kebutuhan saja. Veera sendiri tidak merasakan apa pun terhadap Devan, pada pria itu sangat baik dan perhatian padanya. Tetapi tidak ada sesuatu yang mengena pada hatinya. Setelah setengah jam, Veera memutuskan menyudahi kegiatan berendamnya itu. Dia memakai gaun tidur sebatas mata kaki berwarna merah. Wanita itu merebahkan tubuhnya dan mengambil ponselnya. Ada pesan dari Devan. Devan [Kamu sudah sampai dirumah? Bagaimana hari pertama menjadi Direktur Utama? Pasti melelahkan, bukan? Jangan lupa selalu diminum vitaminnya, untuk daya tahan tubuhmu.] Veera mengetik sesuatu di ponselnya. [Aku sudah di rumah, dan akan segera tidur.] Setelah membalas pesan dari Devan, Veera pun memutuskan untuk tidur. *** Veera sedang mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya. Suasana kantor mendadak jadi gelap gulita. Dia melihat sekeliling dan memanggil para sekretarisnya tetapi tidak ada yang menyahut. Karena rasa penasaran, Veera pun beranjak bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Dia berjalan menyusuri lorong kantor. “Milly, Edgar, Archi?” Nama-nama itu terus dipanggil oleh Veera. Veera mendengar suara dari arah pantry dan toilet karyawan di lantai itu. Dia pun berjalan mendekati asal suara. “Milly?” panggilnya sampai dia membuka pintu kamar mandi di mana asal suara berada. “Argh!” Veera menjerit kencang melihat sosok pria tinggi berpakaian serba hitam dengan menutup wajah. Pria itu sedang membunuh Milly, darah mengenang dilantai kamar mandi. Melihat itu, tubuh Veera oleng hingga jatuh ke lantai dengan tatapan penuh ketakutan. Pria itu menarik pisau yang menusuk leher Milly, kemudian berjalan mendekati Veera. Melihat langkah kaki pria itu mendekat ke arahnya, Veera segera beranjak bangun dari posisinya dan berlari sekencang-kencangnya hingga sepasang sepatu high heelnya terlepas dari kedua kakinya. Dia berusaha berlari dan berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang menolongnya. Suasana sangat mencekam, seluruh ruangan gelap, dan hanya terdengar langkah kaki berat dari sepatu boots pria tadi. Terdengar sangat menakutkan, seakan itu adalah alarm kematian. Veera sampai di depan lift, dia menekan tombol lift yang benar-benar mati. Suara derap langkah menakutkan itu terdengar semakin dekat. Wanita itu benar-benar tidak bisa berpikir jernih, dia sangat ketakutan. Veera melihat sekeliling untuk mencari tempat bersembunyi. Bodohnya, dia malah kembali ke dalam ruangannya dan mengunci pintu ruangan. Veera bersembunyi dibalik meja kerjanya dan berusaha menghubungi kontak saudara kembarnya, Ayahnya, Pamannya, dan Devan. Tidak ada yang mengangkat panggilannya. Prank! Veera menutup mulut dengan telapak tangannya penuh ketakutan saat mendengar kaca pintu ruangannya dipecahkan. Keringat sudah membanjiri tubuhnya, tatapannya sudah sangat ketakutan, rasanya dia ingin menangis. Derap langkah itu semakin mendekat ke arahnya. Dan tatapannya melebar saat kepala pria tadi muncul di hadapannya. Yang terlihat hanya sepasang matanya yang berwarna Amber. “Arghhhh!” Veera terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang bermandikan keringat, tubuhnya terasa menggigil. Dia menatap sekeliling ruangan yang dimana dia sedang berada di dalam kamarnya sendiri. Wanita itu mengusap wajahnya gusar. “Hanya mimpi, kenapa aku harus bermimpi si pembunuh itu?” gumamnya sangat ketakutan. Veera melihat gelas minumnya telah kosong. Dia pun beranjak menuruni ranjang seraya membawa gelas minumnya. Dia berjalan keluar kamar dan berpapasan dengan Archil. “Oh, Archil, kenapa kamu di sini?” tanya Veera. “Saya mendengar anda berteriak. Apa anda baik-baik, saja?” tanya pria itu. “Ya, saya baik-baik saja. Bagaimana kamu bisa mendengar teriakan saya? Kamarmu ada di lantai dasar, bukan?” “Kebetulan saya sedang patroli di balkon dekat kamar anda, Nona. Tadi saya berniat kembali ke kamar setelah memastikan di sekitar anda aman. Baru sampai tangga, saya sudah mendengar teriakan anda, makanya saya kembali,” jelas pria itu. “Saya hanya bermimpi buruk,” jawab Veera. “Ini sudah larut malam, seharian kamu sudah mengikuti saya. Sebaiknya kamu tidur,” ucap Veera. “Dan, kamu tidak usah khawatir, di dalam mansion pasti aku akan selalu aman. Penjagaan rumah ini sangat aman.” “Baik, Nona. Anda mau ke mana?” tanya Archil. “Oh, saya mau mengisi air minum,” jawab Veera. “Kamu istirahatlah.” Veera beranjak melewati Archil dan berjalan menuju pantry kecil di lantai itu, dimana terdapat kulkas dan camilan. Archil masih mengamati Veera dengan tatapan tak terbaca hingga wanita itu menghilang di belokan. *** Saat ini, Veera pergi menemui Tessa di sebuah restoran. Mereka memesan menu makan siang juga minuman kesukaan mereka. “Wajahmu pucat, kamu sakit, Veer?” tanya Tessa. “Um, tidak.” Veera tersenyum seraya mengusap tengkuknya. “Pria yang berdiri di sana itu, bodyguardmu yang baru?” tanya Tessa menunjuk ke arah Archil yang berdiri tidak jauh di belakang Veera. “Ya, bodyguard baruku. Daddy memaksa untuk selalu di dampingi bodyguard,” jelas Veera. “Ya, mungkin karena beliau khawatir padamu. Rain nggak ikut?” tanya Tessa. “Dia sedang kabur ke Britania. Ya, dia memang tidak pernah betah di rumah kalau libur sekolah,” ucap Veera. “Ngomong-ngomong bodyguardmu tampan juga, ya. Kekar lagi badannya,” seru Tessa. “Ck, tahu saja sama yang tampan.” Tessa terkekeh. “So, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Devan?” “Tidak ada perkembangan apa-apa,” jawab Veera menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. “Kapan bertunangan dan menikah?” tanya Tessa hingga membuat Veera tersedak makanannya sendiri. Wanita itu kemudian mengambil gelasnya dan meneguknya. “Belum terpikirkan ke arah sana,” jawab Veera. “Hm, padahal kalian sudah lama berpacaran.” “Belum lama, baru juga satu tahunan kalau tidak salah. Entahlah, aku sendiri pun lupa,” jawab Veera dengan santai. “Haduhh, kamu memang berbeda dengan wanita kebanyakan, Veer. Sangat cuek dan dingin. Ayolah, jangan terlalu dingin pada kekasihmu,” ucap Tessa dan Veera hanya diam saja. Veera tidak bisa menjawab apa-apa. Dia pun tidak bisa membantah ucapan Tessa, karena dia memang sangat cuek pada Devan. Hanya saja, Devan begitu sabar menghadapi sikapnya ini. Entah apa yang disukai pria itu darinya, yang jelas Veera tidak memahami jalan pikiran Devan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD