Tempat Permainan Anak

1477 Words
“Kamu sudah kembali, Rain?” tanya Veera saat sampai di meja makan, di mana keluarganya sudah berkumpul untuk menyantap sarapan bersama. “Ya, dipaksa pulang sama kak Javier,” keluh gadis itu menyuapkan makanannya ke dalam mulut. “Kenapa?” tanya Veera. “Katanya, Kak Javier sibuk. Tapi aku yakin, dia menyembunyikan sesuatu. Dia punya kekasih,” ucap Rain. “Kekasih? Jangan ngaco, Javier mana bisa move on dari Arabella,” jawab Javeera mengambil roti panggang, potongan sosis, daging cincang juga telur rebus. “Aku serius, dia mencurigakan.” “Mungkin Kakakmu sedang sibuk, dan berhenti kabur-kaburan,” tegur Angela. “Yes, Mom.” “Kalau bosan, nanti malam sepulang Kakak dari kantor, kita jalan-jalan,” ucap Veera. “Ke mana?” tanya Rain. “Terserah kamu, maunya ke mana,” ucap Veera. “Aku mau naik bianglala, main ke tempat permainan anak saja,” usul Rain. “Kamu bukan anak berusia 10 tahun lagi, Rain. Kenapa malah ingin datang ke tempat yang seperti itu,” keluh Veera menyuapkan sarapannya. “Ya, kan Kakak yang mengajakku, dan aku ingin pergi ke sana.” “Turuti saja,” ucap Angela. “Baiklah. Sore nanti, Kakak akan minta Archil menjemputmu dan kita pergi bersama,” ucap Veera. “Yes, nah begitu, dong,” kekehnya membuat Veera menggelengkan kepalanya. *** Veera saat ini berada di dalam mobil dengan Archil yang menyetir mobilnya. Jalanan hari ini terlihat ramai dan sedikit macet. “Ar, nanti sore, tolong jemput adik saya dari mansion, ya,” ucap Veera. “Baik, Nona.” “Ah, ya. Kamu tidak perlu menjagaku siang malam. Setelah sampai di mansion, kamu bisa istirahat,” ucap Veera. Archil melihat dari kaca depan, di sana Veera sedang duduk tenang dengan mengotak atik ponselnya. Tatapannya sangat misterius dan sulit di artikan. “Ya, Nona.” Panggilan masuk ke ponsel Veera, wanita itu pun menerima panggilan tersebut. “Ya, Van.” “Kamu sedang apa, Veer? Sudah berangkat ke kantor?” tanya Devan dari seberang sana. “Ya, aku sedang dalam perjalanan menuju kantor. Kamu sudah di kantor?” tanya Veera. “Ya, aku sudah ada di kantor. Oh, ya, pekan ini aku ada pekerjaan, sepertinya tidak bisa menemuimu di London, kamu tidak masalah, kan?” tanya Devan. “Tidak apa-apa. Fokus saja sama pekerjaanmu.” “Ya, harusnya si Marcel yang pergi, tapi dia tidak mau, jadi aku yang harus pergi,” jelas Devan. “Iya, tidak apa-apa.” “Oh, ya. Katanya kamu sudah mendapatkan bodyguard yang baru? Aku dengar dari Rain, kemarin.” “Oh ya, Daddy yang menyiapkannya,” jawab Veera. “Baguslah, setidaknya kamu akan aman. Apalagi sekarang simpang siur berita mengenai pembunuhan berantai dan para wanita muda yang di incar. Jujur saja, aku sangat mengkhawatirkanmu.” “Tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagi pula, selain kantor dan rumah, aku tidak pergi ke tempat lain, selain bertemu sama Tessa,” jelas Veera. “Ya, syukurlah. Setidaknya aku cukup tenang mendengar sudah ada bodyguard yang melindungimu.” “Ya,” jawab Veera. Archil menatap tajam ke arah Veera dari kaca depan dengan mencengkeram kuat setir mobilnya. Ada rasa kesal sekaligus marah, melihat Veera berbicara dan tersenyum pada seseorang di seberang telepon. *** Seperti biasa, keseharian Veera di suguhkan oleh banyaknya pekerjaan. Wanita itu menghentikan kegiatannya yang sedang mengetik sesuatu di laptop. Tubuhnya merinding saat mendengar suara derap langkah berat. Langkah itu seperti di dalam mimpinya dan sangat menakutkan, Veera jadi tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya karena suara langkah kaki itu. Wanita itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Dia di sambut oleh ruangan para sekretarisnya yang juga sedang sibuk bekerja di sana. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Millie. Veera menatap Millie cukup lama, dia kembali terbayang wajah Millie di dalam mimpi. Gadis cantik itu terlihat pucat pasi dengan darah yang mengenang dilantai. “Tidak ada, Mil,” jawab Veera dan derap langkah itu semakin dekat. Berat dan berirama, Veera mengalihkan atensinya ke sumber suara dan ternyata itu adalah Archil yang sedang berjalan mendekatinya. “Archil?” “Ya, Nona? Anda butuh sesuatu?” tanya Archil yang sudah berdiri di hadapan Veera. “Tidak ada, kamu dari mana?” tanya Veera. “Saya habis dari kamar mandi,” jawab Archil dan Veera menganggukkan kepalanya. Tanpa kata, Veera pun kembali ke dalam ruangannya. “Ada apa denganku?” gumam Veera menghela napasnya. Veera terlalu overthinking dan menghubungkan mimpi buruk dengan kehidupan nyata, sudah jelas itu hanya mimpi, bukan pertanda apa-apa. “Fokus, Veera.” Wanita itu berjalan menuju kursi eksklusifnya. Tetapi Veera memiliki trauma, dia pernah di jahili oleh Clara dan dikurung di dalam gudang yang sangat gelap di mansion, saat dia berusia 10 tahun. Semalaman, dia sangat ketakutan dan menangis terisak. Dia merasa seluruh ruangan itu menghimpitnya dan menyesakkan dadanya. Trauma yang di alami Veera, merupakan trauma bawaan dari orang tuanya. Seperti yang di derita Angela. *** Sesuai janji, Veera menemani Rain pergi ke taman bermain. Mereka pergi bertiga dengan Archil yang mengikuti mereka dari belakang. “Kak, aku mau naik itu,” ucap Rain menunjuk ke salah satu permainan. “Kamu sendiri saja, Kakak lelah.” “Ah, Kak Veera nggak seru. Nggak kayak Kak Dilbara,” keluh Rain yang membicarakan adik perempuan Devan. “Baiklah, aku akan temani kamu,” ucap Veera yang naik salah satu permainan kereta gantung. “Kenapa, Kakak lihat bodyguard Archil terus?” tanya Rain karena Veera terus melihat Archil yang menunggu mereka di bawah sana. “Nggak apa-apa. Hanya saja, pria itu cukup misterius,” kekeh Veera. “Mungkin karena dia tidak banyak bicara,” jawab Rain. “Ya, sepertinya seperti itu. Dia tidak banyak bicara, jadi cukup misterius.” “Tapi dia tampan, ya,” kekeh Rain membuat Veera mendelik ke arah Rain. “Tahu saja sama yang tampan.” Rain terkekeh. “Iya, dong. Kan aku sudah dewasa dan seorang wanita normal.” “Masih kecil.” “Sudah dewasa, Kak.” “Apanya? Baru juga 15 tahun,” ucap Veera. “Kak, habis ini aku mau naik roller coaster.” “Kamu sendiri saja, Kakak takut.” “Ck, dasar penakut, ayolah.” “Kenapa harus permainan itu, apa kamu tidak mau naik kuda-kuda yang berputar itu,” tunjuk Veera pada salah satu permainan kuda. “Memangnya aku bocah. Pokoknya naik roller coaster, ajak saja bodyguard tampan itu,” ucap Rain. “Hm ... baiklah.” “Jangan kaku jadi cewek,” ejeknya membuat Veera mendengus. Setelah puas menaiki kereta gantung. Mereka naik roller coaster, dan dengan paksaan dari Veera, akhirnya Archil mau naik roller coaster. Saat permainan berlangsung, Veera dan Rain berteriak dan tertawa puas. Archil yang berada di belakang mereka, diam-diam mengamati Veera di depannya yang terlihat cantik dilihat dari sisi mana pun. ‘Kamu sama sekali tidak berubah, Veer. Selain tetap cantik, kamu juga masih begitu tertutup,’ batin Archil *** Mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Rain pamit ke kamar mandi. “Duduklah, Ar. Kita makan bersama,” ucap Veera pada Archil yang tetap berdiri di sudut ruangan. “Tidak usah, Nona.” “Ini perintah. Ayolah, jangan terlalu kaku,” ucap Veera. “Tapi, nona Rain-“ “Dia tidak akan marah, duduk dan pesanlah makan. Kita makan bersama,” perintah Veera. “Baiklah, terima kasih, Nona.” Archil pun duduk di hadapan Veera dan melihat buku menu. “Kamu mau pesan apa?” tanya Veera. “Apa saja, terserah Nona.” “Kalau aku berikan kamu racun, apa kamu juga akan memakannya?” tanya Veera membuat tatapan mereka bertemu. “Ya, saya akan memakannya,” jawab Archil dengan tatapan serius dan saat itu Veera terkekeh melihatnya. “Kamu ini karena menghargaiku atau bodoh? Kenapa mau memakan racun?” tanya Veera. “Anda bisa menilai kalau saya bodoh. Tetapi, menuruti perintah anda adalah tugas saya,” ucap Archil. “Loyal sekali,” kekeh Veera. “Ku pikir, kamu seorang yang naif.” “Kalau begitu, anda melihat saya, sebagai seorang yang bagaimana?” tanya Archil. “Um, aku harap penilaianku terhadapmu tidak salah,” jawab Veera. “Wah, tuan kulkas satu pintu, mau duduk juga dan makan bersama kita,” kekeh Rain saat datang dan bergabung dengan mereka. “Kulkas satu pintu?” tanya Veera mengernyitkan dahinya. “Ya, karena kulkas dua pintu, sudah menjadi ciri khas kak Javier.” Veera terkekeh mendengar seruan Rain itu. “Tolong jangan marah karena perkataan Rain,” ucap Veera. “Saya sama sekali tidak tersinggung, Nona.” “Tuh kan, kaku banget kayak kanebo,” kekeh Rain. “Hush!” tegur Veera. “Maaf ya, Kakak bodyguard tampan.” “Tidak apa-apa, Nona.” “Genit,” bisik Veera. “Biarin.” Rain mengedikkan kedua bahunya acuh. Atensi Archil terus tertuju pada sosok Veera yang sedang menikmati makanannya seraya berbincang ringan dengan Rain. Gadis itu selalu terlihat cantik, dan memesona dimata Archil. Baik di masa lalu, maupun sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD