bc

Green Card Marriage (Bahasa Indonesia)

book_age18+
15
FOLLOW
1K
READ
billionaire
one-night stand
love after marriage
CEO
drama
tragedy
serious
ambitious
love at the first sight
punishment
like
intro-logo
Blurb

Terkadang memang sulit untuk menerima kenyataan hidup. Terutama jika apa yang menimpa kita terlalu pahit menurut diri kita sendiri. Namun percayalah bahwa Tuhan maha adil.

Takdir mengharuskan Kalista untuk pergi ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai seorang pengasuh. Namun siapa yang menyangka ia malah menjadi korban perdagangan manusia. Kondisi semakin buruk tatkala dirinya mengetahui dokumen pribadi miliknya ternyata tidak resmi dan hal ini membuat status Kalista adalah imigran gelap.

Mengetahui hal tersebut Kalista berusaha untuk kabur dan menyelamatkan diri. Ketika ia berhasil lolos dan ingin pergi ke kantor perwakilan Indonesia terdekat, ia malah bimbang. Pasalnya tujuan gadis ini ke negara paman Sam bukan semata-mata mencari pekerjaan. Namun ada tujuan lain yang menjadi prioritas utama. Tentunya tujuan itu belum digapai dan Kalista masih ingin tinggal lama di Amerika.

Keinginan untuk tetap tinggal membuat Kalista menemukan takdir baru yang sedikit rumit namun menyenangkan. Ia bertemu pemuda yang membantu menggapai tujuan yang ingin dicapai. Namun, sekali lagi Kalista dibuat kecewa. Wanita ini kecewa setelah mengetahui kebenaran yang menimpa dirinya dan keluarga hingga ia merasa menyesal berjuang mati-matian bahkan harus melewati masa-masa sulit.

Bagaimana cara Kalista bertahan sedangkan ia berstatus imigran ilegal?, dan apakah Kalista dapat mencapai tujuan utamanya datang ke negara adidaya tersebut?, Lalu apa yang membuat Kalista menyesal dengan apa yang telah ia perjuangkan?

Simak kisahnya di 'Green Card Marriage'

Follow my sosial media

ig : @pemujakhayalan

fb : Pemuja Khayalan

chap-preview
Free preview
Pergi
Aroma kopi mengandung kafein menyeruak masuk ke dalam hidung. Pagi terasa hangat dengan sapaan mentari, bunyi dentingan sendok beradu cangkir sangat terdengar jelas. Harum kopi semakin menusuk tajam tatkala sudah mendekati meja makan. Meja makan sederhana yang terbuat dari kayu. Ia letakkan dua cangkir kopi di depan lalu menatapku duduk sambil bertopang dagu, "Kau sudah benar-benar yakin?" ucapnya. Aku hanya mengangkat bahu sambil meraih secangkir kopi. Bunyi seruput kopi menghangatkan suasana. Tak ada yang lebih nikmat selain kopi panas di pagi hari. Bukankah begitu?. Sambil memegang kedua sisi cangkir, pandanganku menyapu seluruh penjuru ruangan. Ah aku bakalan rindu dengan rumah ini, terlebih suasananya. Amanda kembali, di tangannya terdapat beberapa potong pancake dengan lelehan cokelat. Kenapa baru pagi ini bisa sarapan enak. Pagi-pagi sebelumnya ke mana saja. Aku sedikit kesal. "Sarapan khusus" katanya sambil tersenyum. "Apa semacam pesta perpisahan?" ucapku agak menyindir "Hahahaha..." dan dia hanya tertawa Dia menatapku sejenak, lalu kembali berkata, "Aku baru saja mendapat uang, kau lupa kemarin gaji pertamaku" katanya sambil duduk di sisi kiri. Aku hanya memutar bola mata. Satu potong pancake di sendok sudah masuk ke dalam mulutku. Lumayan pikirku. "Semuanya sudah beres?" dia kembali bertanya. Aku hanya mengangguk. Entahlah, rasanya pagi ini aku enggan berbicara banyak. "Papa sudah bangun?" kini aku yang bertanya. "Belum.." Aku kembali memasukkan pancake ke dalam mulut. Suap demi suap akhirnya kudapan tersebut habis juga. Kulihat koper sudah tertata rapi bersama beberapa barang lainnya. Sejenak aku mengembuskan nafas. Baiklah ini demi kebaikan semua juga kan. Jadi tidak ada yang perlu disedihi, terlebih untuk ditangisi. "Kau sudah siap sayang?" mendengar suara yang tidak asing itu aku menoleh. Dapat kulihat senyum tulus dihadirkan untuk diriku, tentu aku membalas hal yang sama. Saat ia sudah mulai duduk, tangan yang mulai keriput itu menggenggam tangan mungil milikku. "Papa pasti merindukanmu" kalimat lirih dengan tatapan sendu membuat perasaanku menjadi kacau. Seketika penglihatan ku kabur, genangan air di pelupuk mata mulai muncul. Ah, aku tak suka semua ini, aku harus kuat. "Sebaiknya papa bergegas mandi, atau aku akan ketinggalan pesawat" aku sedikit mengusung tawa canggung. Papa segera berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Punggung lebar itu mengingatkanku pada seseorang. Aku sekali lagi menghela nafas, bulir air menetes dari sudut mata membasahi pipi. Oh Tuhan, bisakah aku tidak selemah ini!. Aku harus kuat, demi mewujudkan misiku. * "Bi Mun, aku pergi dulu" teriakku ketika melintasi rumah sederhana dengan cat dinding yang sudah memudar, tanganku melambai-lambai tanda perpisahan. "Hei.!, kau benar-benar nekat?, kau memang luar biasa" teriaknya, daster dengan motif batik tradisional berwarna biru itu sedikit kedodoran. Ah, itu pasti karena ukuran daster tak sesuai dengan tubuh kerdilnya. Setelah beberapa meter puas mengejarku, akhirnya dia terhenti. Semakin lama tubuh kerdil itu semakin mengecil dan hilang dari pandangan. Huh, aku juga pasti merindukan sosok itu.Sepanjang perjalanan tak ada sedikit kata pun yang terucap. Kulihat Devin juga sibuk dengan mainannya. Dia sungguh menggemaskan, pipi chubby nan putih itu seakan-akan minta dicubit. Kulihat papa termenung dengan pandangan ke luar jendela, dan hal yang sama juga dilakukan oleh Amanda. Mereka berdua bagai musuh yang saling enggan untuk bertatap muka. Aku kembali menghela nafas berat. Jika dibilang aku biasa saja, itu hannyalah omong kosong. Buktinya aku sedang tak baik-baik saja. Tidak ada kata baik-baik saja dalam perpisahan. Meski bukan perpisahan selamanya. Namun tetap saja akan ada jarak setelah kata perpisahan. Setelah melewati puluhan meter jalan beraspal. Mobil yang aku tumpangi telah memasuki halaman bandara. Dapat dilihat lalu lalang manusia tak dapat terelakkan. * "Jam berapa penerbanganmu?, aku lupa" mendengar hal tersebut aku hanya bisa mendengus, bisa-bisanya Amanda, pikirku. "40 menit lagi.." kataku sembari membuka pintu mobil, aku berjalan ke arah belakang dan mengambil 2 koper berukuran sedang. Lalu kami berempat pergi menuju pintu masuk bandara. Sesampainya di depan pintu masuk, aku mengalihkan pandangan. Kutatap dua wajah di depan bergantian. Rasanya aku sudah tak tahan lagi. Aku peluk tubuh papa dengan erat dan kudapatkan punggungku dielus pelan. Aku beralih pada tubuh ramping di samping papa. Kurengkuh tubuh itu dengan erat. Bahkan air mata sudah tak dapat terbendung lagi, biarlah, toh cuma sebentar. Sekarang pandanganku teralihkan pada malaikat kecil itu, sungguh sangat mengemaskan ketika ia tertidur pulas. Aku genggam erat jari-jari mungil dan sesekali mencium punggung tangannya. Ingin rasanya membangunkan Devin. Tapi aku tak tega meski Amanda memperbolehkan. Ya, aku tahu Amanda ingin memberiku ruang. Sekedar berbicara dan tertawa untuk terakhir kalinya bersama Devin. Namun, aku tak mau melakukan itu. Aku takut langkahku semakin berat jika melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Tak lama kami saling berpelukan, dua orang pria bersama seorang wanita datang menghampiri kami. Papa dan Amanda semakin memandangku dengan raut wajah yang tak dapat dijelaskan. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi kesedihan mereka. Tiga orang itu sedikit berbincang-bincang kepada papa dan Amanda. Bahkan wanita yang kiranya berusia sekitar 30an itu sesekali menepuk pelan kepala Devin. Dia terlihat seperti sesosok ibu yang menyayangi anaknya. Melihat hal itu, ada rasa yang tak dapat aku jelaskan. Hem, mengapa aku mengingat banyak hal menyedihkan hari ini, menyebalkan. * Sambil menunggu penerbangan, otakku terus berputar menyusun serangkaikan rencana yang nantinya akan aku jalankan. Bahkan aku sudah tidak sabar menanti hal tersebut. "Bagaimana..?, kau sudah siap?" lagi, kalimat kau sudah siap kembali terdengar di telingaku. Tentu saja aku siap, bahkan sangat siap. Tapi aku hanya merespons pertanyaan itu dengan anggukan kepala dan tersenyum kepada Nyonya Karen. Aku melihat ke arah jendela. Rasanya seperti mimpi, aku belum bisa seratus persen percaya jika saat ini aku akan pergi jauh. Lagi, ku lihat pemandangan di luar melalui jendela. Ku pejamkan mata dan ku hembuskan nafas dalam. Selamat tinggal Jakarta. * Pukul 11.30 malam waktu Amerika, pesawat yang ku tumpangi mendarat di bandara John F. Kennedy, salah satu bandara internasional di Amerika. Kepalaku terasa pusing, mungkin karena efek penerbangan yang lumayan lama. Udara malam terasa sangat sejuk hingga menusuk ke tulang, ku gosok-gosokkan kedua telapak tangan berharap dapat mengurangi rasa dingin yang ada. Setelah kudapatkan barang-barang milikku, aku dan Nyonya Karen keluar dari bandara dan langsung masuk ke sebuah mobil hitam yang tampaknya memang sudah menunggu kami. Di luar sedang hujan, suara petir bergemuruh dengan cahaya kilat yang menyambar. Jalanan sangat sepi, hanya ada beberapa mobil yang lewat. “Sudah lama menunggu?” wanita berwajah oriental yang duduk di kursi kemudi bertanya “Tidak juga, kau datang tepat waktu” balas Nyonya Karen Dia mengangguk. Tatapannya datar dan dingin, sepertinya dia adalah wanita dengan kepribadian yang tegas. “Kalista, perkenalkan dia adalah Clara, tugasnya memang menjemput pekerja baru di yayasan” ucap Nyonya Karen Aku mengangguk, tak tahu harus menjawab apa , lagi pula ekspresi yang ditunjukkan wanita bernama Clara itu membuatku agak segan.Aku fokuskan kembali pandangan ke arah luar, baru beberapa jam aku sudah rindu dengan Devin, keponakanku satu-satunya itu pasti akan mencariku. Aku merogoh ponsel di saku jaket, sayang daya ponselku habis padahal aku ingin menelepon Amanda untuk memberitahu bahwa aku sudah tiba. Aku menaruh kembali ponsel dan memilih untuk menyibukkan diri melihat-lihat pemandangan di luar. Impianku akhirnya tercapai, meski ada yang harus aku tinggalkan tapi demi tujuan besar ini tak masalah. Apalagi semua ini aku lakukan juga untuk papa dan Amanda. Udara semakin dingin ditambah gelapnya malam, ternyata tempat yang akan kami tuju cukup berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Ku pikir akan menginap di sebuah hotel atau gedung yang letaknya di pusat kota. Namun nyatanya tempat ini sangat sepi dan cukup mengerikan. Aku memejamkan mata, mencoba untuk mengatur nafas dan menyegarkan pikiran. Tenang Kalista, kau akan baik-baik saja, kalimat ini terus terucap dalam hati. Aku melihat bangunan yang berdiri di depanku. Terdapat beberapa lantai dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang. Mobil berhenti dan aku mengikuti Nyonya Karen keluar. Beberapa orang berjalan ke arah kami dan terlihat seorang wanita dengan pakaian yang mewah dan rambut warna coklat tergerai, dia ditemani dua wanita lain yang berpakaian serba hitam dengan wajah yang lebih tegas. Wanita itu mengisyaratkan sesuatu lewat tatapan mata pada kepada Clara dan Clara langsung pergi “Jadi dia orangnya?” wanita berambut cokelat bertanya, entah kepada siapa “Benar nyonya, namanya Kalista” nyonya Karen menjawab dengan cepat, “Kalista, perkenalkan ini adalah nyonya Lousi, dia merupakan pemilik Yayasan ini sekaligus bosku” Aku mengangguk, “Selamat malam nyonya Lousi” sapaku. “Bawa dia masuk, pasti dia sudah sangat lelah” ucap nyonya Lousi Aku dibawa masuk ke gedung bersama dua wanita lain yang berpakaian serba hitam. Kami masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai 4. Tidak ada pembicaraan sedikit pun di antara kami. Aku dibawa ke sebuah kamar dengan nomor 412. Aku langsung masuk dan sedikit terkejut karena ternyata di dalam kamar ada orang lain. Setidaknya ada 3 orang wanita yang tengah tidur di tiap-tiap kasur. Aku pikir hanya aku sendiri yang akan menempati kamar ini, siapa mereka?, apa mereka juga pekerja di Yayasan ini?, tanyaku dalam hati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook