Mataku menatap tiga gadis yang juga melihat ke arahku. Mereka semua masih muda, mungkin seumuran denganku. Ketiga gadis itu turun dari kasur dan berjalan mendekatiku. Mata mereka tak lepas, menelusuri tubuhku dari atas hingga bawah.
“Sepertinya kau anak baru, siapa namamu?” salah satu dari mereka bertanya, gadis dengan hidung mancung dan mata bulat yang besar.
“Kalista, iya aku anak baru” ku berikan senyum terbaik, mereka akan menjadi rekan kerjaku dan aku harus bersikap ramah
“Dari mana kau berasal?, tampaknya kau wanita Asia, apa benar?” gadis itu bertanya lagi
“Ya, aku dari Indonesia” aku masih mempertahankan senyum di wajah, mereka kelihatannya baik-baik, pikirku.
“Oh aku pernah dengar negara itu” gadis lain ikut berbicara, gadis dengan kulit lebih gelap dan rambut bergelombang. Dia maju selangkah dan tersenyum menatapku, “Bukankah negara tempatmu berasal itu masih terbilang konservatif? Bahkan yang ku tahu masih banyak gadis perawan di sana” dia menatap dua temannya secara bergantian.
“Benarkah?” gadis bermata bulat bertanya dengan ekspresi terkejut, “Apa kau masih perawan?”
Aku merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut, senyumku berubah menjadi agak sedikit terpaksa. Mereka masih menatapku, menunggu jawaban yang membuatku semakin tidak nyaman.
“Oh maaf jika membuatmu tidak nyaman”
“Ah tidak masalah” balasku, nada bicaraku masih agak kaku akibat syok dengan pertanyaan yang sama sekali tidak ku duga.
“Tapi, jika kau benar masih perawan, bukankah itu sangat menguntungkanmu”
“Iya, katakan berapa mami Lousi memberimu uang untuk perawanmu itu? Yang lain ikut berbicara, gadis dengan kulit putih dan mata berwarna biru. Dia bertanya dengan penuh semangat.
“Apa menjadi seorang pengasuh ada pengaruhnya dengan semua itu?” Tanyaku sedikit bingung.
Mereka bertiga tidak kalah bingung, mereka saling pandang kemudian kembali menatapku secara bersamaan. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka, aku juga baru menyadari bahwa mereka mengenakan pakaian serba terbuka. Apa tidak dingin mengenakan pakaian seperti itu?, aku saja merasa dingin meski sudah ada jaket yang membalut tubuh ini.
“Pengasuh?” gadis berkulit gelap kembali bersuara, dia tampak bingung begitu juga dengan dua temannya.
“Ada yang aneh, apa kau tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan dilakukan oleh semua orang di gedung ini?” gadis dengan mata biru bertanya sambil menatapku secara intens.
“Ini Yayasan Love Community bukan?, Yayasan yang menyalurkan tenaga kerja untuk bekerja sebagai pengasuh bayi atau lansia?” ujarku
“Hahahaha...” mereka bertiga langsung tertawa secara Bersama-sama. Aku hanya diam melihat reaksi mereka, meski hatiku mulai merasa tidak nyaman.
“Sepertinya kebanyakan wanita dari Asia selalu tertipu” ucap si gadis berkulit gelap
“Kau benar, baru dua hari yang lalu aku bertemu dengan anak baru, dia berasal dari Vietnam dan mengeluh karena tertipu” kata gadis dengan mata bulat, dia dengan keras tertawa hingga mengeluarkan air mata.
“Siapa namamu tadi?, em-m, Kalista. Ya, dengar ini memang Yayasan Love Community, tapi pekerja di Yayasan ini bukan bekerja sebagai pengasuh anak-anak atau bahkan lansia”
“Lalu..?”
“Melainkan..., eh disini kita juga sebagai pengasuh, tapi pengasuh para lelaki yang kekurangan kasih sayang, hahahaha” mata bulat milik gadis itu semakin melebar seiring dengan tawanya yang kian mengeras.
“Kau masih belum paham?, ah kau terlalu polos, kita di sini bekerja sebagai pemuas para pria” kata gadis berkulit gelap dan diangguki oleh dua temannya.
Tubuhku seperti tersambar petir tatkala mendengar ucapan yang ia lontarkan. Aku berdiri menegang, terasa kaku hingga tak dapat bergerak. Mereka masih tertawa, mungkin menertawakan diriku yang terlihat bodoh.
Aku segera berbalik dan turun menuju lantai dasar. Setelah lift terbuka, mataku langsung melihat Nyonya Karen dan wanita yang bernama Lousi sedang berbincang sambil duduk di kursi. Aku segera menghampirinya.
“Ka-Kalista, mengapa kau ke mari?” Nyonya Karen gelagapan tatkala melihatku sudah berdiri di dekatnya.
“Bisa kau jelaskan nyonya Karen perihal semua ini” ku layangkan tatapan tajam ke arahnya
“Apa yang kau maksud?” nyonya Karen bertanya seolah-olah ia tak mengerti yang ku bicarakan
“Jangan berbohong!” ku hunuskan telunjuk tepat di wajahnya, “Mengapa kau tega membawaku ke tempat seperti ini!” aku berteriak
“Hei beraninya kau berteriak di hadapanku!” nyonya Karen berdiri dan tak kalah berteriak, “Dengar!, kau seharusnya berterima kasih karena aku memberikan pekerjaan yang nyaman untukmu”
“Aku tidak sudi..!”
“Hahaha, terserah kau sudi atau tidak. Yang jelas kau tidak bisa berbuat apa-apa” dia tersenyum licik, ingin rasanya ku hancurkan wajahnya sekarang.
“Ah iya satu lagi, perlu kau ingat Kalista” dia mengelus-elus pipiku, “Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, itu tidak akan pernah menguntungkan dirimu”
Dia mundur satu langkah, masih menunjukkan senyum licik yang benar-benar membuatku muak. Nyonya Karen menatapku sambil berkacak pinggang, “Kau tidak ingin bertanya mengapa?”
Aku tidak sudi menjawab pertanyaannya dan hanya diam sambil membalas tatapannya. Jika aku bisa, mungkin sudah ku cekik ia sampai mati.
“Baiklah jika kau tidak ingin bertanya, biar aku saja yang memberitahu” dia berbalik dan berjalan kembali ke arah kursi tempat ia duduk sebelumnya, “Kalista, maaf aku harus jujur padamu. Sebenarnya semua dokumen milikmu itu tidak resmi, maka dari itu kau tidak bisa pergi dan lebih baik tetap di sini, hahaha”
Nyonya Karen tertawa, sungguh dia dengan santainya menunjukkan ekspresi tidak bersalah. Aku diam, tidak tahu harus bagaimana, namun aku masih berusaha untuk mencari cara agar bisa pergi secepatnya.
“Kenapa kau memandangku seperti itu?, kau kaget?, atau tidak percaya?” dia masih menunjukkan senyum liciknya
“Baiklah, ku rasa tidak ada kesempatan untukku lepas darimu Nyonya Karen, aku permisi kembali ke kamar”
Ku bawa kaki ini melangkah kembali ke kamar, sembari berjalan aku terus berpikir. Mencari cara agar bisa lepas tanpa harus ketahuan, percuma aku memberontak, wanita gila itu pasti tak dapat dikalahkan.
*
Udara terasa sangat sejuk, bahkan menyapa saraf-saraf di tubuhku. Perlahan ku buka kelopak mata, mulai duduk dan memperhatikan sekitar. Tiga gadis yang berada di kamar yang sama masih terlelap dengan pulas.
Aku segera meraih ponselku, dan juga dompet, hanya itu yang aku raih. Tanpa menunggu lama aku membuka jendela dengan perlahan, waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku menatap ke bawah, seketika tubuhku bergetar tapi tekadku jauh lebih kuat. Aku tidak mau bernasib tragis di tempat seperti ini, lebih baik mati daripada harus menjalani hidup yang menjijikkan.
Perlahan aku keluar melalui jendela, untung saja aku sudah mengamati kondisi sekitar beberapa jam yang lalu. Dengan jantung yang berdetak kencang, aku berjalan perlahan menelusuri balkon gedung.
Akhirnya aku berhasil keluar, Tuhan ternyata masih menyayangiku. Untung saja aku menemukan lubang sempit di salah satu dinding pagar. Sekarang yang harus aku lakukan adalah pergi mencari bantuan, dan tempat yang harus aku datangi adalah kedutaan besar Indonesia berharap bisa mendapat perlindungan.
*
Aku sudah berada tak jauh dari kantor kedutaan besar Indonesia setempat, tubuhku sangat kotor dan energi ku terkuras habis karena berjam-jam tanpa minum dan makan. Matahari sudah naik kira-kira 30 derajat di atas langit, aku bersembunyi dan tak berani untuk keluar. Bisa saja orang-orang Nyonya Karen atau wanita bernama Lousi itu tengah mencariku, dan aku yakin mereka sudah mengetahui kepergiannku.
“Hah...!”
Aku langsung menutup mulutku, jantungku berdetak kencang, aliran darah terasa lebih cepat. Siapa?, siapa yang menempuk bahuku?. Dadaku naik turun, nafasku tercekat dan ku tutup mata ini dengan erat. Tidak mungkin Nyonya Karen menemukanku secepat ini, jeritku dalam hati.
Ya Tuhan, baru saja aku bernafas dengan lega, mengapa aku harus dihadapi dengan situasi sulit lagi.
“Halo?, sedang apa kau di sini?”
Suara seseorang di belakangku sedikit membuatku bingung. Sepertinya aku salah sangka, tampaknya bukan orang-orang Nyonya Karen. Perlahan ku putar tubuhku dan aku terkejut saat mengetahui siapa yang berada di hadapanku saat ini.
“Kalista...!”
“Tante Re..” mulutku menganga, sungguh aku tak percaya bisa dipertemukan dengan tante Renata dalam kondisi seperti ini. Oh Tuhan, maaf jika aku sudah berburuk sangka terhadap Mu.
“Sedang apa kau di sini?” wanita paruh baya itu langsung memelukku, begitu pula sebaliknya, ku balas pelukannya, “Hei, apa yang terjadi?, mengapa kau seperti ketakutan?”
“Tante Re...”, aku tidak bisa mengendalikan emosi, bertemu dengan tante Renata seakan bertemu malaikat penolong. Ku eratkan pelukan ditubuhnya dan ia pun memberikanku waktu untuk menenangkan diri.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya setelah memberikan aku waktu sembari memeluknya selama beberapa menit
“Ya..” aku mengangguk dan ku lepaskan pelukanku, ku tatap wajah cantik milik wanita yang sangat berarti dalam hidupku ini.
“Ayo kita duduk dulu” tante Renata menarik ku duduk di salah satu kursi taman, kursi itu berada di balik pohon besar yang ku rasa cukup terlindungi.
“Ayo ceritakan apa yang terjadi?, baru saja pagi tadi aku mendapat telepon dari Amanda dan ia mengatakan jika kau pergi ke Amerika, sekarang aku justru menemukanmu dengan kondisi...” tante Renata berhenti berbicara dan menelusuri diriku melalui tatapannya.
“Ceritanya panjang tante, yang jelas bisakah tante menolongku. Semua dokumenku hilang, aku sebenarnya ingin meminta bantuan ke kedutaan tapi sepertinya aku berubah pikiran. Tante tahu kan sudah sejak lama aku ingin ke sini, dan aku tidak mau pulang dengan kondisi yang menyedihkan”
“Aku mengerti, dan apa tadi?, dokumen pribadimu hilang?”
“Iya..”
“Astaga..., Ini masalah besar Kalista, kau tahukan?”
Aku mengangguk lesu, “Lalu aku harus bagaimana tante?”
“Sebaiknya kau tinggal dulu di apartemenku, nanti kita pikirkan bagaimana caranya agar kau tetap bisa tinggal di sini dengan aman” jawabnya
Aku menarik nafas lega, setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk tetap berada di sini dan mengejar tujuan utamaku.