Menikah

1595 Words
“Menikah..!” aku dan pria di hadapanku berteriak di waktu yang bersamaan, mata kami saling tatap dengan tatapan asing sekaligus bingung. “Ya, menikah. Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa membantumu Kalista” “Tapi tante Re, bagaimana dengan Bima?” aku memandang tante Renata penuh makna, dan wanita itu hanya menghela nafas. “Kalista, aku tahu ini berat bagimu. Tapi bukankah kau sendiri tidak mau pulang ke Indonesia sekarang, lagi pula kalian jangan terkejut dulu dan berikan aku waktu untuk menjelaskan” Aku diam, tak mengerti apa yang ada di kepala tante Renata, bagaimana bisa dia memiliki rencana seperti sekarang. Oke aku percaya dengannya, wanita ini tidak mungkin berbuat buruk padaku, tapi bagaimana dengan Bima?. “Tante paham perasaanmu saat ini, masalah Bima biarkan tante yang urus. Selagi dia tidak mengetahui apa yang terjadi, kau bisa menyembunyikan apapun yang terjadi di sini” “Tante ingin aku berbohong dengan Bima?” tak bisa ku percaya, apa tante Renata tidak khawatir dengan perasaan anaknya sendiri?, pikir ku. “Kau jangan salah paham dulu” tante Renata sepertinya benar-benar paham isi kepalaku, “Mungkin ini berat bagimu terlebih Bima jika putraku itu mengetahui ibunya memiliki rencana seperti ini. Tapi semua juga untukmu Kalista, jika memang kau tetap ingin tinggal di sini dan masih berusaha mengejar tujuanmu maka menikahlah dengan Max” Aku melirik pria berwajah datar yang tampak dingin di seberangku. Dia sempat kaget sebelumnya, tapi secepat itu ekspresinya berubah. “Kalista kenalkan ini Maximilian, kau bisa memanggilnya Max dia anak tiri tante dan Max, ini Kalista pacar Bima, adikmu” Sekali lagi aku dibuat tercengang, ternyata pria dingin ini anak tiri tante Renata?, itu artinya dia adalah saudara tiri Bima. Mengapa rasanya semakin rumit begini. Aku memang sedikit mengetahui tentang tante Renata yang menikah lagi dan memiliki anak tiri, semua informasi itu ku dapat dari Bima. “Apa ini tidak terlalu berisiko?” mataku menatap tante Renata dengan penuh kekhawatiran “Percayalah semuanya akan baik-baik saja nak” tante Renata mengusap punggung tanganku, mencoba menenangkan. “Bagaimana Max, mama mohon tolonglah Kalista, dia punya tujuan penting hingga nekat datang ke sini, mama tidak tahu harus menolongnya dengan cara apalagi. Mama rasa ini satu-satunya jalan” ucap tante Renata lembut dengan tatapan memohon. “Aku tidak mau jadi masalah nantinya, terlebih jika Bima tahu akan hal ini” suara itu terdengar datar dan dingin “Sudah mama katakan, masalah Bima itu urusan mama, tolonglah Max” “Hemm, baiklah aku mau. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena selama ini mama lebih mengerti kondisi dari pada pria itu” kini nada bicaranya terdengar ketus “Dia ayahmu Max, mungkin dia agak keterlaluan tapi yakinlah di balik semua sikapnya ada alasan yang kuat” “Terserah mama saja, aku ingin pergi ke kantor dulu” Pria itu pergi begitu saja meninggalkan aku dan tante Renata, aku tidak mengerti percakapan di antara keduanya. Kepalaku masih merasa pusing dengan semua ini. “Tante akan mempersiapkan pernikahan kalian, sambil menunggu kau tetap tinggal di tempat tante saja dulu, jangan terlalu hiraukan sikap Max. Sejatinya dia merupakan pria yang baik” Aku hanya mengangguk pasrah, tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kami meninggalkan kediaman Max karena memang sang pemilik rumah sudah pergi dari tadi. * Aku mematut diri di depan cermin panjang, tubuhku sudah terbalut gaun indah berwarna putih. Seorang pria tengah fokus dengan kuas di tangannya, menghias wajahku. Mataku terasa pedas, waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya hari ini tiba. Hari di mana aku terpaksa menikah dengan pria bernama Max, pria yang sama sekali tidak aku kenali. Padahal impianku selama ini hanya menikah dengan Bima. Rasa sesal menghampiri tatkala teringat bagaimana keras kepalanya aku karena tidak mengindahkan larangan Bima untuk meninggalkan Jakarta. Lebih parahnya lagi saking kesalnya aku bahkan tidak menghubunginya saat aku pergi. Bagaimana perasaan Bima jika ia mengetahui bahwa aku telah mengkhianati kisah cinta kami?. Kisah cinta yang sudah dirajut selama kurang lebih 6 tahun belakangan ini. “Kau sudah siap Kalista?” tante Renata sudah berada di belakangku, sebentar lagi wanita itu akan menjadi ibu mertuaku. Tapi sayang aku merasa tidak bahagia. “Siap tante” “Baiklah, biar om Hansel yang akan mendampingimu untuk berjalan menuju altar pernikahan” om Hansel hanya mengangguk menyetujui usulan istrinya. Kini aku sudah berada di tengah-tengah keramaian, aku tidak menyangka pernikahan yang katanya sederhana tidak sesederhana yang aku bayangkan. Cukup banyak orang yang hadir dan aku merasa kesal dengan tante Renata, mengapa dia berbohong. Tuan Hansel masih menggandeng tanganku, kami berjalan beriringan menuju altar pernikahan. Di sana sudah ada pria yang berdiri dengan gagahnya, ekspresinya tetap sama sejak terakhir kali aku bertemu, datar dan dingin. Bunyi tepukan tangan menggemuruh tatkala aku dan Max selesai mengucapkan janji suci pernikahan. Beberapa dari mereka bahkan tidak segan-segan berteriak menyuruh pria itu menciumiku. Astaga bagaimana bisa aku lupa bahwa aku akan melewati tradisi ini. Max bergeming, tampaknya dia enggan melakukan hal tersebut. Aku berharap ini tidak terjadi, ingin rasanya aku tutup mulut ini. Tidak, bibir ini hanya untuk Bima dan aku tidak rela ada orang lain yang merasakannya. Namun perasaanku mulai kalut saat tubuh Max mulai condong ke arahku dan dengan cepat meraih tengkukku lalu mencium bibir ini. Aku termangu, Max dengan lembut memberikan ciuman. Oh Tuhan, ciuman pertamaku...!, hatiku menjerit. Mobil berjalan membelah jalanan yang padat. Pesta pernikahan telah usai hanya beberapa jam saja, dan kini aku berada di mobil Max. Kami menuju kediaman pria yang saat ini sudah berstatus suamiku. Ya Tuhan, bagaimana aku menjalani hari-hari berikutnya?. “Bos, Tuan meminta Anda untuk berbalik menuju bandara” ujar pria yang tengah mengemudi “Abaikan saja, pernikahan ini hanya sebatas formalitas bukan sesungguhnya” jawab Max dengan tegas “Tapi bagaimana jika tuan marah?” “Sudah ku katakan abaikan saja, apa kau tidak mengerti juga” Max mulai kesal “Ba-baik bos” pria di kursi kemudi agak tergagap “Bilang padanya jangan berharap lebih dariku. Aku melakukan semua ini hanya sebagai bentuk terima kasihku pada istri tercintanya itu, biar bagaimanapun juga aku masih memiliki rasa hormat kepadanya” “Baik bos” Tidak ada percakapan lagi hingga mobil berhenti di sebuah gedung tinggi yang aku ketahui itu merupakan gedung apartemen milik Max. “Bos yakin tidak menerima hadiah yang diberikan tuan besar dan memilih untuk tetap tinggal di apartemen?” “Mengapa hari ini kau mulai banyak bicara?, bukankah kau tahu aku tidak suka akan semua itu” Max kembali berbicara dengan nada kesal,tanpa bicara lebih lanjut ia segera turun dan pergi meninggalkan kami di dalam mobil. Aku agak terkejut ketika Max menutup pintu dengan keras. “Saya harap nona bisa memaklumi semua sikapnya” “Sebenarnya ada apa?” aku sedikit penasaran mengenai masalah antara Max dan ayahnya, “Maaf saya tidak bisa bercerita, yang jelas saya harap nona bisa mengubah sikap tuan muda itu menjadi lebih baik, saya mohon karena ini menyangkut keselamatan keluarga saya juga” “Ha?, keluargamu?, apa hubungannya?” “Ya, perkenalkan saya John, asisten pribadi tuan Max. Saya sebenarnya bekerja untuknya, tapi saya diminta untuk membujuk tuan Max agar mau mengelola perusahaan ayahnya. Mungkin sebagai istri nona bisa membantu saya” “Aku rasa kau lebih tahu mengapa aku bisa menjadi istrinya” John mengangguk, “Ya, tapi saya harap kalian bisa menjadi pasangan sungguhan” “Itu tidak mungkin, setelah aku mendapatkan apa yang menjadi tujuanku, maka aku akan berpisah dengannya dan kembali pada kekasihku” ah aku kembali mengingat Bima, merasa berdosa karena bibirku sudah ternodai oleh Max. Lebih sakit lagi karena kini aku benar-benar menghianatinya. “Kita lihat saja, sebaiknya nona turun karena saya harus kembali ke kantor” Aku segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam apartemen. Entah mengapa rasa gugup mulai menghampiri, padahal ini bukan kali pertamanya aku masuk ke dalam apartemen Max. Apa mungkin karena kini statusku sudah berbeda. Aku langsung masuk karena John sempat memberitahu kode pintu apartemen Max. Ruangan tampak sepi dan aku sedikit bingung. “Mengapa kau berdiri di situ?” suara bariton itu mengejutkanku Aku berbalik dan seketika menutup mata ini karena tak sengaja melihat pemandangan yang seharusnya tidak aku lihat. Mengapa Max bertelanjang d**a seperti itu? “Masuklah ke kamar dan mandi, semua perlengkapanmu sudah disediakan oleh mama” setelah mengatakan itu Max berjalan ke arah dapur. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan segera melepas gaun yang memang membuat tubuh ini sangat gerah. Aku segera ke kamar mandi dan berganti pakaian. “Di sini hanya ada satu kamar tidur, jadi terpaksa kita akan tidur sekamar” “Bukankah kau anak orang kaya?, bahkan ayahmu memberikan rumah sebagai hadiah pernikahan, mengapa tidak kau terima?” “Heh.., ternyata kau sama saja dengan wanita pada umumnya” Max menatap rendah diriku, “Masalah itu kau tidak perlu tahu, jika kau mau tinggal saja di rumah itu” ucapnya acuh, “Aku masih bisa hidup sendiri tanpa bantuannya” Setelah bergantian pakaian, Max memang mintaku ke dapur untuk berbicara. “Kau jangan salah paham dulu, maksudku jika kita tinggal di rumah pemberian ayahmu bukankah akan ada beberapa kamar?, jadi kita tidak perlu tidur sekamar?” aku merasa risih mendengar kata sekamar. “Aku tidak mau merendahkan harga diriku dengan menerima pemberiannya” Aku mengerutkan kening. “Sudahlah, aku ingin pergi ke kantor dan tolong jangan rusak barang-barang yang ada di sini” Max lagi-lagi meninggalkan diriku yang sedang dilanda kebingungan. Mengapa dia sangat aneh?. Apa salahnya seorang anak menerima pemberian orang tua?, lalu bagaimana kami akan tidur sedangkan di dalam kamar itu hanya ada satu kasur. Tidak mungkin aku dan dia harus berbagi kasur yang sama. Itu akan menjadi hal yang sulit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD