Aku percaya, tak ada pemeran jahat dalam skenario dunia. Tak ada protagomis yang selalu diagungkan itu. Sebab, pikiran manusia bisa berubah pada situasi tertentu. Tekanan beberapa faktor juga bisa menjadi pemicu. Begitupun aku memaklumi perempuan cantik di hadapanku ini. Ia mengenakan blus sepanjang siku, celana bahan hitam. Wajahnya masih seceria biasanya. Ia juga tak pelit untuk memberiku senyum. Pun tak sombong, sebab ia masih mau meminum hot chocolate panas yang kupesankan. "Kay, kamu tahu enggak kalau Al punya adik?" Alu tersenyum seraya mengaduk espresso. "Tahu, Tante. Al cerita. Saya turut berduka cita." Kepalanya mengangguk. Tante Siska memgitari bibir gelas dengan jemari lentiknya. "Dulu, Al punya adik waktu dia udah SMA. Saya pikir dia akan marah, nggak mau nerima adiknya.

