"Elo yakin?" Dua kata itu yang sejak tadi ditanyakan Nayla. Kalau aku tidak salah menghitung, mungkin ada sekitar enam-delapan kali ia mengucapkan kata yang sama sejak lima menit aku selesai bercerita. Aku menyadari, kalau sekuat apa pun aku mencoba memendam, semuanya tetap tak terbendung. Perasaan hancur setelah semalam mengetahui kalau Al tidak baik-baik saja, membuatku kewalahan. Merasa kalah karena memutuskan menelannya sendiri. Dan, ya, pilihan itu jatuh pada Nayla. Ketika ia tadi bertanya bagaimana perkembangan sikap Al. Reaksi pertama Nayla setelah aku selesai bercerita adalah diam. Sebelum dua kata tadi yang berhasil ia lontarkan. "Yep." Aku tersenyum. Sesakit apa pun, Kay tak boleh kehilangan senyuman. Seperti apa yang dikatakan Tara, hidupku lebih cocok untuk ceria. Bukan mera

