Saat ini aku sudah berada di kamarku. Setelah membersihkan wajah dan memakai baju tidur. Aku berbaring di kamarku sambil terus melihat cincin pertunangan ku.. Betapa indahnya cincin ini.
"Sudah, jangan di liatin terus cincinnya. Tidak bakalan hilang tuh di tangan kamu kecuali kamu melepasnya."
"Ishhh... abang Devan nih suka banget usilin Disha. Ada apa abang ke kamar Disha?"
"Oh jadi sekarang abang tidak boleh masuk ke kamar kamu gitu? Sombong amat sih dek."
Aku ketawa melihat wajah abang Devan yang cemberut tapi ikut juga berbaring bersamaku menatap ke atas kamarku.
"Apa kamu sangat bahagia dek, setelah resmi bertunangan sama Radit?"
Aku menoleh dan memperhatikan wajah abang kandungku ini.
"Jelas berbahagialah bang. Akhirnya aku bisa bersama orang yang aku cintai. Kenapa abang Devan bertanya seperti itu? Apa yang ada di pikiran abang saat ini?"
"Tidak apa-apa dek. Abang juga sangat senang dan bahagia melihatmu yang berbahagia dek. Tapi kalau sampai Radit menyakiti dan membuatmu menangis, abang yang akan maju untuk menghajarnya."
Aku langsung bangun dan duduk di ranjang kasurku. Dan Abang Devan pun ikut duduk juga.
"Ishhh.. Abang devan kok kejam amat.! Takut Disha dengarnya."
"Makanya dek. Jangan sampai dia menyakiti dan membuatmu menangis. Kalau sampai itu terjadi yah... siap-siaplah untuk abang hajar. Abang tidak mau adik yang paling abang sayangi di sakiti dengannya."
Kami pun tertawa bersama. Tidak ku sangka sebesar itu rasa sayangnya abang Devan padaku. Tapi wajar sih. Kami bersaudara cuma berdua. Sedari kecil juga memang abang Devan yang selalu menjagaku. Saudaraku satu-satunya. Setelah abang Devan keluar dari kamarku. Aku pun lanjutkan untuk tidur.
Hari ini aku mengantar mas Radit yang akan berangkat ke luar kota selama sebulan. Dia harus menyelesaikan urusan kantornya di sana. Dan selama dia pergi, aku akan merenovasi kamar di rumah yang akan kami tinggali nanti.
Setiap pulang dari sekolah TK, aku selalu singgah di rumah ini. Melukis dan mewarnai di kamar itu. Kamar yang akan menjadi kamar kami berdua setelah menikah nanti.
Dan akhirnya hari ini lukisanku di kamar ini selesai ku cat dan di warnai dengan sangat indah. Aku sangat bangga dan senang melihat gambar lukisanku... Tidak sabar rasanya menunggu Mas Radit pulang. Aku ingin memberi kejutan saat dia melihat kamar ini nanti. Kamar khusus yang cuma ada lukisanku, karyaku di rumah ini.
Selama dia di luar kota, cuma sekali saja dia menghubungiku. Katanya di sana jaringan Sinyalnya susah. Dan aku memakluminya. Sebisa mungkin aku menjaga hubungan kami. Aku tidak ingin hubungan kami rusak cuma gara-gara pertengkaran kecil saja.
Apalagi sebulan itu tidak akan lama. Dan aku akan tetap sabar menunggu. Pasti tidak terasa waktu berlalu nanti. Pelan-pelan aku menghitung sambil mencoret tanggalan yang ada di kamarku... Duh... tidak sabar rasanya ingin memperlihatkan Mas Radit kejutan yang ku buat di kamar itu. Kejutan hasil karyaku sendiri. Lukisan tanganku yang nantinya akan kami lihat pada waktu kami bangun di pagi hari.
Ternyata benar kata Ayah... Biarkan Waktu yang berbicara, jodoh itu sudah ada yang atur. Kita cuma bisa berencana. Tapi kita tidak bisa melawan yang namanya takdir.
Niatnya ingin memberi kejutan buat Mas Radit, Ternyata malah aku yang mendapatkan kejutan darinya sepulangnya dia dari luar kota. Kejutan yang sangat-sangat membuatku ingin menghilang saja dari dunia ini. Kejutan yang membuatku tidak bisa berhenti menangis. Dan mengurung diri di dalam kamarku..
Semuanya di mulai saat aku pulang bekerja dari sekolah TK. Tidak tau kenapa hari ini aku ingin sekali pergi ke rumah yang Mas Radit persiapkan buat kami tinggali nanti setelah menikah. Ada perasaan aneh yang tidak bisa ku katakan secara jelas. Perasaan apa ini? membuat aku tidak tenang. Jadi aku putuskan sepulang sekolah aku akan mampir di rumah itu. Apalagi memang sudah lama aku tidak ke sana lagi. Semenjak aku sudah menyelesaikan Lukisan, hasil karyaku di kamar yang akan menjadi kamar tidurku bersama mas Radit. Aku tidak pernah lagi ke sana untuk melihat-lihat rumah itu.
Dalam perjalanan ke rumah itu. Aku singgah dulu di pinggir jalan ingin mencoba menelfon Mas Radit. Aku tidak tau perasaanku kok aneh begini. Mungkin karena lagi LDR aku jadi kangen banget padanya. Sambungan pun tersambung. Aneh.. Kata Mas Radit di sana jaringan susah. Tapi aku menelfon kok bisa tersambung ya? tapi baguslah biar rasa rinduku bisa berkurang sedikit mendengarkan suaranya berbicara di telfon.
Sambungan ke tiga kali, panggilan telfon ku baru di angkat. Baru saja aku ingin berkata Halo, tapi aku sudah di kaget dengan suara yang mengangkat telfonnya. Suara seorang gadis. Aku perhatikan lagi nomor Mas radit. Apa aku salah nomor yah? tapi ini memang sudah benar nomor Mas Radit. Tapi kok suara gadis? Ku lihat panggilan telfon ku masing tersambung.. Apa Mas Radit di sana selingkuh yah? astagfirullah.. aku tidak boleh asal main tuduh saja. Aku mencoba mendekatkan lagi hpku ke telinga ku. Dan di sana yang menjawab akhirnya suara Mas Radit.
"Halo sayang... Maaf tadi aku dari toilet. Yang angkat tadi teman kantorku. Kami lagi di luar. Biasa lagi acara makan-makan kantor. Banyak nih teman-teman cewe dan cowo ngumpul. Kamu lagi di mana?"
Kok aku merasa dari suara Mas Radit sepertinya dia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Mas Radit benaran lagi acara makan-makan sama anak kantor?"
"Yah benarlah. Disha tidak percaya? Mau aku ubah ke panggilan Videocall. Tapi sayang di sini jaringan susah buat Videocall.. Tapi percaya deh.. Aku tidak mungkin berbohong pada kamu sayang. Jadi tungguin aku pulang ya. Mungkin dalam tiga hari lagi. Tadinya aku mau kasih kejutan buat kamu, tapi tidak jadi gara-gara kamu menelfon duluan."
"Beneran Mas? Baiklah, akan Disha tunggu mas Radit pulang? Jangan lupa bawa oleh-oleh buat Disha yah Mas. Oia mas, apa Disha harus pergi bersihkan rumah impian kita?"
"Tidak usah sayang. Nanti kamu kecapean lagi. Tunggu mas pulang saja. Nanti kita bersihkan sama-sama.. Oke sayang. Mas harus matikan telfonnya dulu yah. Soalnya teman-teman mas sudah memanggil. Dah."
Ternyata merek lagi acara makan-makan. Kok aku bisa berpikir dia selingkuh..Maafkan aku mas Radit sudah salah menuduh mu. Berarti aku tidak usah ke rumah itu dulu. Tunggu Mas Radit pulang saja baru aku ke sana. Sekalian memberikan dia kejutan dengan hasil karya lukisanku yang sangat indah di kamar tidur kami nanti.
Sudah terlanjur datang ke sini. Bagus aku singgah dan melihat dari luar saja rumahnya. Yang penting aku sudah memastikan kalau rumah itu baik-baik saja.
Ku bawa motorku dan berhenti di depan pagar rumah ini. Aku menatap heran melihat kunci pagar yang terbuka. Siapa yang membukanya? Sedangkan Rumah ini kan kuncinya cuma dua. Satu ada padaku. Satunya lagi ada pada Mas Radit. Apa jangan-jangan Mas Radit sudah pulang. Bukan 3 hari kemudian tapi hari ini.
Aku yang sangat gembira langsung mendorong pagar rumah dan berlari masuk ke dalam rumah ini. Tepat di depan pintu aku melihat Sepatu kepunyaan Mas Radit... Tapi jantungku langsung berhenti berdetak di saat aku melihat. Di sebelah sepatu Mas Radit ada sepatu high heels hitam. Sepatu siapa itu? Siapa yang Mas Radit bawa ke rumah ini? Kenapa Mas Radit berbohong padaku?.