Tring... Tring... Tringg...
"Pakeeeeeet"
Pagi ini Gea dibangunkan oleh kang paket, kalo gak ada kang paket ia pasti udah telat..
"Hmmm... Paket?" Gea membuka pintu sambil mengucek matanya.
"Iya mbak ni ada paket atas nama Gea Adisti" jawab kang paket.
"Perasaan saya gak ada mesen apa-apa pak, salah orang kali pak" Gea masih bingung karena ia tidak merasa memesan paket itu.
"Ya gak mungkin salah mbak, nama mbak bener kan sama yang tertulis dipaket ini? Alamatnya juga sama. Ya udah mbak tanda tangan aja disini, masih banyak paket yang mau saya kirim" kang paket merasa kesal dengan Gea dan memilih untuk mempercepat transaksi agar ia bisa segera pergi.
"Eh iya iya pak maaf. Nih udah pak, terimakasih pak" Gea senyum terpaksa melihat kang paket udah kesal.
"Ya udah saya permisi" kang paket berlalu pergi dari kediaman Gea.
"Pagi-pagi udah ada drama sama kang paket, siapa juga ngirim ini. Seinget aku memang gak pernah pesan ini deh, apa sih isinya?" Gea kaget mengetahui siapa yang mengirim paket itu kepadanya.
"Dari Reza Wijaya teruntuk calon istriku yang paling cantik sedunia, selamat belajar ya sayang. Ih apa-apaan sih si Reza pake ngirimin beginian lagi nyuruh aku belajar idiiiih ogah"
Ternyata Reza yang mengirim paket tersebut dan isinya adalah sebuah buku tentang 'panduan lengkap untuk pernikahan'. Gea langsung membuang buku tersebut dan memilih untuk segera mandi agar stresnya berkurang.
Drrrtt... Drrrtt..
"Assalamualaikum cantik ku" Gea mengangkat panggilan tersebut dan langsung menyapa wanita yang telah melahirkannya itu.
"Waalaikumsalam nduk, kamu lagi apa?"
"Gak lagi ngapa-ngapain kok Bu, ibu lagi apa?"
"Ibu lagi duduk aja ditambak sambil liat ayah kamu panen lele"
"Waaah.. enak nih ada yang lagi panen hehe mudah-mudahan banyak ya bu hasilnya kali ini"
"Iya aammiiin ya Allah, terimakasih ya nduk"
"Iya Bu sama-sama "
"Oh iya nduk gimana kamu udah ngajuin cuti?"
"Haaa cuti? Untuk apa Bu gea ngajuin cuti orang gak kemana-mana juga"
"Ehh kamu masa lupa sih nduk, kan kamu udah tunangan dan itu artinya kamu akan nikah bentar lagi"
"Ni...ni..nikah Bu?"
"Iya nikah, kenapa?"
"Gea belum mau nikah dalam waktu dekat ini Bu, pengenalan aja dulu Bu mau liat karakter nya cocok apa gak sama Gea. Terus mau liat juga dia sabar atau gak menghadapi Gea yang kayak gini"
"Itu kan nanti bisa setelah nikah nduk"
"Gak..gak.. Gea belum mau Bu biar Gea jalanin dulu. Gea gak mau buru-buru"
"Ibu sama ayah udah tua nak, kami ingin liat kamu nikah nanti kalo kami gak sempat liat kamu nikah gimana?"
"Iiihh ibu kok gitu sih ngomongnya, Gea gak suka"
"Iya ibu cuman bilang sama kamu, ya udah kamu fikirkan aja baik-baik ya nduk semoga kamu segera menikah. Ya udah ibu mau bantuin ayah dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Panggilan telepon tersebut langsung terputus dan Gea pun bingung harus bagaimana kelanjutan pertunangan ini.
Sore itu Gea lebih memilih pergi ke pantai untuk merilekskan pikiran dan tubuh nya. Perasaannya cukup amburadul ia sama sekali tidak ingin menikah. Segala kemungkinan-kemungkinan itu terus aja bermain di kepalanya.
Dalam lamunannya Gea berfikir kenapa ia masih harus bertemu dengan Reza kembali. Dan sedikit dari masa lalunya kini terlintas dimana Reza waktu itu mempermalukan dirinya didepan semua orang dan mengatakan kepada semuanya bahwa Gea sangat menyukai dirinya. Tanpa terasa air matanya kembali meleleh mengingat semua kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Mengapa kedua orangtuanya sangat percaya kepada Reza padahal mereka tau perbuatan yang pernah Reza lakukan terhadap nya.
Gea pun mengakui bahwa kedua orangtuanya Reza sangat-sangat baik dan jika memiliki mertua seperti mereka akan merasa sangat diperhatikan dan disayang layaknya anak kandung. Tapi semua itu belum cukup bagi Gea, semua orang bisa berubah dalam waktu singkat bagaimana nanti jika ia juga dikecewakan oleh keluarganya Reza. Membayangkan itu semua tambah membuat Gea sakit kepala. Gea memilih merebahkan tubuhnya dan memijat sedikit kepalanya.
"Kalo ada masalah itu cerita jangan dipendam sendiri gak baik loh untuk kesehatan"
Gea kaget tiba-tiba ada yang nyeletuk seperti itu, ia segera membuka matanya dan tanpa ia sangka ada Maya di depan matanya.
"Ma..ma..maayaaa.. ini beneran kamu" Gea mengucek matanya seakan tidak percaya. Ia seperti sedang mimpi dan kemudian ia mencubit sedikit tangannya dan terasa sakit ya ini bukan lah mimpi.
"Kamu perlu bantuan ngak? Kalo perlu sini aku jitak kepala kamu. Iya lah ini aku, kamu pikir aku ini setan apa!" Maya melihat heran kepada Gea yang masih berdiri mematung seakan tidak percaya bahwa itu beneran Maya.
Gea langsung memeluk Maya dengan sangat erat sambil menangis terisak. Bagaimana tidak Maya juga sahabatnya yang telah lama tidak bertemu. semenjak selesai sekolah Maya memilih ikut dengan keluarganya pindah ke Jepang. Kini ia kembali dan langsung menemui sahabatnya itu.
"Udah ah nangisnya Gea malu semua orang liatin kita" Maya berbisik ditelinga Gea agar Gea melepaskan pelukannya.
"Aku kangen banget sama kamu may, kenapa pulang kesini gak bilang-bilang" Gea menjawab sambil masih sedikit terisak.
"Iya aku juga kangen sama kamu Gea, makanya aku langsung nemuin kamu"
"Eehh tunggu.. tunggu.. dari mana kamu tau aku ada disini? Padahal aku gak ada buat story apa-apa"
"Hmm.. aku kenal kamu bukan baru sebulan Gea. Pertanyaan aneh itu menurutku"
"Hehehe iya iya maaf" Gea kembali memeluk tubuh Maya..
"Hmm kamu ada masalah apa? Udah bisa cerita?" Maya bertanya kepada Gea dengan tatapan serius.
"Kamu juga ada masalah apa sampe harus kesini?"
"Orang nanya malah balik nanya, kamu jawab dulu pertanyaan aku. Nanti aku jawab pertanyaan kamu"
"Iiihh gak asik banget kamu may, kamu dong yang cerita duluan nanti gantian aku yang cerita. Ayolah" Gea tersenyum dan memelas agar Maya mau bercerita dulu tentangnya.
"Kamu kebiasaan gak mau ngalah, sering aku yang ngalah" Maya cemberut melihat Gea. Gea yang melihat itupun hanya tersenyum.
"Ya kamu tau sendiri gimana aku"
"Aku fikir udah bertahun-tahun gak ketemu berubah ini sama aja kayak dulu cuman penampilan aja yang beda"
"Hehehe iya dong tampilan boleh beda tapi sifat kalo ketemu sahabat gak boleh berubah"
"Dihh.. kok ada ya manusia modelan kayak kamu"
"Iya ada nih didepan mata kamu, ayolah cepatan kamu cerita May aku udah gak sabar mau dengerin cerita kamu"
"Kamu serius mau dengerin cerita aku? Nanti kamu trauma loh Gee"
"Trauma? Hahaha trauma dari mana nya si may" Gea masih tertawa sambil melihat kearah maya.
Maya hanya menundukkan kepalanya kebawah sambil memainkan ujung baju yang ia kenakan.
"Ayo may kamu kenapa cepatan cerita" Gea menunggu cerita dari Maya dengan sangat antusias.
"Aku.. aku.. sudah pisah sama indra"
"Aaa...aaapaa... Kamu serius?"