Mengembalikan Cincin

1077 Words
kamu siapkan mental dan belajar dari sekarang untuk melayani aku nanti ketika diranjang". Itulah ucapan yang Reza bisikan ditelinga Gea sebelum akhirnya ia pergi. "gak..gak.. aku gak mau, sampai kapan pun aku gak mau". Gea masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, apa lagi ia harus bertunangan dengan orang yang pernah menyakiti hatinya. Walaupun rasa itu mulai tumbuh tapi tidak secepat ini. Sudah 2 hari berlalu pasca acara pertunangan yang tidak diinginkan oleh Gea. Masih terngiang di ingatan kata-kata yang dibisikkan oleh Reza. Gea merasa sangat frustasi dengan kata-kata yang diberikan Reza. "Apa maksud kamu memberikan cincin pertunangan ini sama saya Gea?" "Hmm.. maaf pak sebelumnya, saya fikir saya tidak layak untuk menjadi istri putra bapak. Bapak kan tau sendiri bagaimana keluarga saya, kasta kita berbeda. Lagian saya juga tidak ingin menikah dalam waktu dekat pak" "Gea, saya tidak memandang kamu dan keluarga kamu dari kekayaan. Sebelum saya melakukan ini saya sudah fikirkan baik-baik. Dan bagi saya itu gak berpengaruh sama sekali. Apa alasan kamu gak mau nikah?" "Hmmm.. gini pak saya pernah trauma dengan sifat laki-laki yang suka membully saya waktu sekolah dulu, saya tidak percaya kalo ada laki-laki yang tulus mencintai saya. Saya juga takut nanti ketika saya udah percaya dan memberikan segalanya ia malah mengkhianati saya. Saya belum siap pak" "Gea..Gea.. semua yang kamu ucapkan memang benar segala kemungkinan bisa saja terjadi dimasa akan datang, tapi apa salahnya jika kamu mencoba membuka sedikit hati kamu untuk Reza. Saya yakin anak saya tidak akan melakukan itu. Jadi saya mohon sama kamu, kamu fikirkan kembali ya" "Baik pak, saya akan mencoba sebisa saya kalo pada akhirnya saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini saya minta maaf pak sebab yang saya tau segala sesuatu yang dipaksakan itu seringkali berakhir dengan kekecewaan" "Iya saya juga minta maaf bukan maksud saya untuk memaksakan perasaan kamu terhadap Reza. Cuma saya berharap kita bisa menjadi keluarga suatu hari nanti" "Hmm baiklah pak. Kalo gak ada apa-apa lagi saya izin keluar pak" tanpa disuruh keluar Gea langsung membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar saat akan membuka pintu pak Rizal kembali memanggilnya. "Hmm Gea kesini bentar" "Iya pak ada apa" "Ini cincinnya ketinggalan, kamu pake ya" "Oh iya pak saya lupa, maaf.. saya kembali bekerja ya pak permisi" Setelah keluar dari ruangan bos nya Gea kembali duduk diruangannya, ia masih memikirkan semua ucapan pak Rizal sambil memainkan cincin yang telah disematkan oleh calon mama mertuanya itu. "Hmm iya sih bener yang dibilang pak Rizal gak ada salahnya aku mencoba kan kedepannya juga gak tau gimana. Tapi aku masih ragu, aku gak mau salah langkah, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Nanti kalo aku udah mulai cinta, mulai sayang tiba-tiba dia khianati aku gimana. Belum lagi masalah aku harus ngelayanin dia duuuhhh mumet kepalaku". Gea masih memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan membuatnya pusing sendiri. "Ndin, apa perasaan kamu waktu nikah kemaren?" Belum sempat Andin duduk sudah dicecar pertanyaan oleh Gea. "Kamu nih ya kebiasaan. Tunggulah aku duduk dulu, minum atau apa ini malah nanya kayak gitu. Kenapa udah ngebet banget pengen kawin mau tau rasanya kawin gimana?" Andin melempar senyum nakal kearah Gea. "Gak bukan itu, kamu kan tau sendiri aku gimana Ndin jangankan mau kawin mikirin kawin aja aku gak pernah". "Ya sekarang kamu cobalah mikirin soal pernikahan, umur kamu juga udah bertambah. Orang tua juga makin lama makin tua Gea" "Iya aku tau Ndin, tapi aku belum siap. aku takut nanti kalo aku nikah aku gak bahagia Ndin" "Hmm... Gea, Gea.. percaya aja sama Allah bahwa rencana yang telah Allah siapkan adalah skenario yang terbaik. Jangan takut apalagi mikirin hal yang belum terjadi stres nanti kamu baru tau rasa" "Iya aku percaya tapi aku takut Ndin" "Apa yang kamu takutkan? Orang tua kamu kayaknya setuju kalo kamu sama Reza" "Iss kamu nih Ndin tambah pusing aku ngobrol sama kamu" "Ya kamu si, entah apapun yang kamu takutkan, atau jangan-jangan kamu takut ngelakuin itu yaa.. haa ayo ngaku" "Eehh gak ada ya kayak gitu mana ada aku takut" "Beneran? Sakit loh rasanya Gea, iiiihhh gak kebayang deh" Andin dengan ekspresi yang dibuat-buat sakit dan senyum jahil terpancar di wajahnya. "Masa sih sampai kayak gitu Ndin" "Iya aku serius loh Gea" "Tapi aku liat kamu oke aja Ndin gak berasa kayak orang sakit". Gea melihat kearah Andin dari ujung rambut sampe ujung kaki. "Iya udah sering gak sakit lagi hehhhe". Andin tersenyum sambil membayangkan hal itu. "Eehh ngomongin apa sih, udahlah aku mau makan" Gea pura-pura mengalihkan pembicaraan agar tidak berlanjut sebab kalo berlanjut bisa sampai kemana-mana Gea sudah hafal dengan tabiat sahabatnya itu. Dan merekapun memilih untuk menyantap makanan yang telah disediakan. Ketika tengah asik mengobrol tiba-tiba Reza datang dan menghampiri mereka berdua. "Hay.. boleh ikut gabung gak" Reza menyapa keduanya. "Eh Reza.. boleh kok, duduk sini" Andin yang antusias melihat kedatangan Reza. Gea hanya menatap malas kearah Reza dan pura-pura memainkan ponselnya. Sedang asyik ngobrol bersama Reza tiba-tiba handphone Andin bunyi ternyata suaminya menyuruh ia untuk segera pulang jadi hanya ada Gea dan Reza sekarang. Mereka berdua hanya diam dan lari dalam pikiran masing-masing. Reza memberanikan diri untuk memulai pembicaraan tapi satu pertanyaan yang diajukan oleh Reza dan satu pula Jawaban yang diberikan oleh Gea. Gea sangat malas bertemu dengan Reza setelah acara pertunangan itu. Ia merasa sangat ilfil dengan Reza, apalagi ketika ia mengingatkan senyum jahil yang diberikan Reza bulu kuduknya langsung berdiri sendiri. Hampir 10 menit mereka hanya diam Gea memutuskan untuk segera pulang. "Aku permisi mau pulang udah sore" Gea berbicara tanpa menoleh kearah Reza. "Hmm iya hati-hati dijalan ya, aku minta maaf soal yang kemarin aku cuman bercanda kok" Reza berdiri dan berusaha meminta maaf atas kata-kata yang ia bisikan ditelinga Gea. "Hmm..." Hanya itu Jawaban Gea dan ia langsung pergi. Tapi Reza mengejarnya sampai diparkiran. Ketika mau masuk kedalam mobil Reza langsung menahan pintu mobil tersebut masih ada hal yang ingin dibicarakan sama Gea. "Ada apa lagi?" Gea menjawab tanpa melihat Reza sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. "Aku minta maaf Gea" Reza memohon kepada Gea. "Cuman itu? Udah?" "Iya.. aku gak ada maksud apa-apa kok Gea serius" Reza melihat Gea dengan tatapan memelas "Hmmm....Ya udah sana lepasin tangan kamu dari pintu mobil aku, aku mau pulang" "Gak.. aku gak mau lepasin sebelum kamu maafin aku" "Iihh apaan sih lepasin gak kalo gak aku teriak nih biar dihajar kamu sama warga" "Teriak aja aku gak takut" "Aku gak tanggung jawab kalo kamu dihajar aku udah bilang sama kamu baik-baik" "Coba aja.." "Tolong.. tolong.. tolong...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD