Rumah.................
Aku dan Affan saat ini sudah sampai di rumah. Kami berdua pun sudah kenyang setelah makan di foodcurt tadi. Bunda dan abi belum pulang juga hingga saat ini. Aku membawa barang belanjaan di bantu oleh Affan. Affan meletakkan di meja dan setelah itu ia beranjak ke ruang keluarga tiduran di sofa panjang. Aku mengeluarkan barang belanjaan kemudian menatanya di kulkas. Setelah itu aku kembali menuju kamar tersayangku. Aku tiduran di ranjang empukku. Memandang atap kamar kemudian balkon.
Aku hendak mengusap mata, ketika tangan kananku berada di depan wajah baruku sadari tidak ada sematan cincin emas putih di jari manisku. Aku bangun lalu kubolak-balikkan tanganku memastikan keberadaan cincin itu. Aku beranjak dari ranjang mencari cincin itu. Mulai dari tas, dompet, almari, walk in closet, sarung bantal sampai kolong ranjang aku telusuri. Sudah kucari ke segala penjuru kamar namun benda kecil itu tak ada.
“Duh mana sih cincinnya? perasaan tadi masih ada deh.” Kataku frustasi. Aku turun dari kamar lantai dua rumahku. Ku coba mencari cincin itu ke segala ruangan.
‘grusak.............grusuk’ suara saat aku menggeledah seisi rumah.
“Kak, cari apa sih?” tanya Affan mengagetkanku. Tiba-tiba saja dia sudah di belakangku.
“Astaughfirullah........” batinku.
“Ini dek, cincin kakak hilang. Kamu tahu dimana endak?”
“endak, tadi kakak taruh mana lho?” tanyanya.
“Tadi sebelum kita ke mall itu ada dek, sekarang kok endak ada ya, kamu bantu cari ya dek!” kataku.
“hem...” jawabnya. Aku dan Affan pun mencari cincin itu. Seluruh isi rumah kami gledah, namun tetap tidak ada.
“Kak endak ada, udah semua penjuru rumah Affan puterin, sampek taman juga udah Affan periksa endak ada.” Katanya melapor.
“Hem ya udah lah dek mungkin bukan rejeki kakak. Ya wis lah makasih ya dek udah bantu.” Kataku.
“Hem.....kak, Affan mau keluar bentar ya, beli es kakak mau endak?” katanya.
“boleh dek...makasih ya.” Affan pergi membeli es dan aku kembali ke kamar.
***
Di kamar.....
“Kira-kira dimana ya cincinnya, kok bisa hilang? Hem ya sudahlah mungkin memang bukan rezekiku nemiliki cincin itu kembali.” Setelah itu aku menuju kamar mandi karena waktu telah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Aku memutuskan untuk sholat asar. Mungkin sebentar lagi bunda dan abi akan pulang. Aku tak perlu bilang perihal cincin yang hilang itu pada abi dan bunda. Tepat setelah aku selesai mandi dan sholat asar, abi dan bunda datang. Setelah itu disusul dengan kedatangan Affan. Abi dan bunda kemudian bersih-bersih melepas lelah karena hampir sehariann pergi.
Pukul 16.30 WIB.
Setelah semua nampak segar keluargaku kumpul di taman untuk menikmati senja. Abi dengan Affan yang mengenakan baju koko beserta sarungnya. Aku dan bunda memakai baju gamis syar’i. Pertama keluarga kami melakukan sambung ayat surat Al Kahfi sampai selesai. Setelah itu kami pun mulai menikmati teh yang disuguhkan. Aku duduk dan kemudian mulai menyesap teh yang telah di buat oleh bunda. Ketika berkumpul seperti ini terasa sekali ada yang kurang, Mas Tana tidak ada bersama kami. Biasanya kami berlima kumpul di sini. Sambung ayat bersama. Dengan para lelaki yang kompak mengenakan baju taqwa bersiap-siap sebelum melakukan sholat maghrib.
“Kak!!” panggil abi.
“Inggih abi.”
“Besok mobil kamu dateng. Gunakan dengan baik ya!!” kata abi. “Ha...mobil bi...beneran?”
“iya sayang.” jawab bunda.
“syukron Abi, syukron Bunda. Tapi Bi..em Ziya kan belum fasih bener nyetirnya..?” kataku.
“endak papa sayang, nanti abi carikan supir buat antar jemput kamu.” “Beneran Bi....Alhamdulillah syukron abi.” Kataku lalu kupeluk abi. “Hem..yang baru dapet mobil bahagianya. Yes enggak jadi supir lagi.” girang Affan.
“Abi...Affan boleh bawa mobil? Kan Affan bisa nyetir?” kata Affan yang langsung membuat bunda melotot.
“Endak.....Affan endak boleh bawa mobil ke sekolah.”
“Yah ..... bunda” katanya lesu.
“Terus Affan masak harus dianter terus sama bunda sih, kapan Affan bisa mandiri bund..?” katanya lagi.
“Wlee.....” ejekku.
“Affan belum boleh nak. Kamu bawa motornya Mas Tana aja kalau ke sekolah.” Kata abi.
“mm...motor Mas Tana??? endak papalah. Yey...syukron abi.”
“Abi!!” interupsi bunda.
“Tapi inget jangan ngebut, jangan buat hal aneh-aneh apalagi boncengin lawan jenis. Kalau sampek kamu gunain motornya buat hal-hal yang jelek dan endak di ridhoi Allah langsung abi cabut izinnya.” Kata abi.
“Inggih abi.....Insyaallah.” katanya gembira.
Jelas gembira dia tidak diperbolehkan bawa mobil eh malah disuruh pakek motornya Mas Tana. Kalian tau motor Mas Tana itu motor sport warna hitam. Jadi bisa dibayangin bagaimana penampilan adikku jika mengendarai motor itu. Bisa bisa para akhwat langsung pingsan apabila melihatnya.
Adzan maghrib akan segera berkumandang. Keluargaku bersiap-siap sholat di masjid terutama para prianya. Aku dan bunda kembali ke dalam meletakkan cangkir-cangkir teh tadi. Ketika meletakkan cangkir bunda menyadari kalau aku tidak memakai cincin emas putih itu.
“Lho kak cincin yang biasa kamu pakek mana...?” tanya bunda sambil membersihkan cangkir-cangkir.
“Mm...anu..anu bunda ...mm hilang bunda.” Kataku lamat-lamat takut bunda marah.
“Kok bisa? Sudah kakak cari..?”
“Endak tau bun, udah kakak cari kemana-mana tapi tetep endak ada. Maaf bunda kakak endak bisa ngejaga cincin itu.” Kataku sambil menunduk.
“Wis kak...sudah endak papa, bunda endak marah kok. Bukan rejeki kita sayang.” Kata bunda sambil mengelus pundakku setelah membersihkan cangkir tadi. Kemudian aku memeluk bunda.
“maaf bunda.”
“iya sayang, ya udah ayo ke depan kasian abi sama adekmu nunggu tuh di luar.”
“Hehe iya bunda, syukron bundaku sayang. Kakak sayang bunda.”
“Iya kak...bunda juga sayang sama kakak. Udah ayo kita nyusulin abi sama adekmu.”
“Ok, let’s go bunda.” Bunda geleng-geleng kepala. Setelah acara pelukanku dengan bunda, Abi dan Affan pun pergi ke masjid untuk menjalankan kewajiban sedang aku dan bunda sholat di rumah.
♥♥♥♥