Pagi ini seperti biasa, Sekar menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Galaxy. Dan Sekar pun menyiapkan bekal untuk makan siang Galaxy nanti. Namun pagi ini Galaxy belum keluar dari kamarnya, tidak seperti biasanya, maka dari itu Sekar pun berjalan menuju kamar Galaxy dia mengetuk pintu lebih dahulu sebelum masuk ke kamar putranya ini.
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu menggema di ruangan kecil ini.
"Galaxy, Mama masuk ya" izin Sekar kepada putranya.
Ya, Sekar selalu menanamkan sikap sopan santun kepada putranya, meskipun Galaxy terbilang masih kecil, tetapi di umur Galaxy inilah harus ditanamkan sikap baik, karena itu akan menjadi kebiasaan baginya hingga dia dewasa nanti.
Sekar membuka pintu kamar Galaxy, lalu menyembulkan kepalanya lebih dahulu dan tersenyum begitu iris matanya mendapati sosok sang putra yang tengah merapihkan pakaiannya. Sekar melangkahkan kakinya, mendekati sang putra.
"Tumben sekali masih di dalam kamar, ternyata masih belum selesai rapih-rapihnya, hm" ujar Sekar begitu dirinya berada tepat di samping sang putra.
"Sudah siap kok, Ma" jawab Galaxy dengan wajah polosnya, lalu tangannya meraih tas ransel miliknya dan memakainya di pundak.
"Ya sudah, kita sarapan dulu ya" ajak Sekar.
Sekar dan Galaxy pun melangkahkan kaki mereka keluar kamar menuju ruangan kecil yang multifungsi, yang bisa menjadi ruang tamu, ruang santai, ruang menonton televisi, dan juga ruang makan bagi Sekar dan Galaxy. Maklum, rumah sewa yang Sekar tempati bersama Galaxy ini begitu mungil.
Galaxy begitu lahap menyantap menu sarapan yang sang Mama buatkan, yaitu nasi goreng. Galaxy sangat menyukai nasi goreng, apalgi nasi goreng buatan Anrez, itu adalah nasi goreng favoritnya, Sekar pun merasa aneh dengan Galaxy yang sangat menyukai masakan Anrez.
"Sudah selesai, Gala?" Tanya Sekar dan di angguki oleh Galaxy.
"Sudah, Mama!" Jawabnya seraya meminum air putih di gelasnya.
"Kita berangkat sekarang ya" ajak Sekar dan lagi-lagi di angguki kepala oleh Galaxy.
Sekar dan Gala pun keluar dari rumah sewa mereka ini, namun betapa terkejutnya mereka kala melihat sosok pria begitu pintu terbuka.
"Ayaaaaaah!" Teriak Galaxy begitu melihat sosok pria tersebut, Gala pun berlari menghampiri pria tersebut.
Sekara merasa bingung dengan kedatangannya. "Loh, Anrez!" Kaget Sekar.
Anrez pun hanya memasang senyumannya dengan kepala yang mendongak menatap Sekar, karena posisi Anrez yang setengah jongkok agar tingginya sama dengan Galaxy.
"Ayah kangen banget sama Galaxy" ucap Anrez begitu Galaxy berada di hadapannya.
"Kalau Ayah kangen, kenapa Ayah nggak tinggal saja disini sama aku sama Mama, kan bial Ayah gak usah kangen-kangen sama aku telus" jawab Galaxy seperti biasanya, bocah kecil itu akan terus menjawab seperti itu jika Anrez mengatakan merindukan dirinya.
Baik Anrez mau pun Sekar sudah terbiasa dengan jawaban Galaxy yang seperti itu.
"Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita jalan-jalan?" Usul Anrez agar mengalihkan dari pernyataan Galaxy tadi.
"Wah, jalan-jalan. Mau, mau, aku mau jalan-jalan Ayah" seru Galaxy.
Begitulah Galaxy, yang sangat dekat dengan sosok Anrez, karena Anrez yang begitu perhatian terhadap dirinya, membuat Galaxy sangat nyaman berada dengan dirinya.
"Kamu gak ke kantor?" Tanya Sekar.
Anrez berdiri dan menatap Sekar, yang juga tengah menatap dirinya.
"Aku ke kantor pagi ini, dan siang nanti aku yang akan jemput Galaxy, dan aku izin untuk mengajaknya jalan-jalan" kata Anrez seraya meminta izin kepada Sekar, untuk mengajak Galaxy berjalan-jalan.
"Kamu sedang tidak sibuk di kantor?" Tanya Sekar kembali sebelum meng-iyakan Anrez yang ingin mengajak Galaxy jalan-jalan.
Anrez menggelengkan kepalanya dengan senyuman manis di wajahnya.
"Jadi, apa boleh aku ajak Galaxy jalan-jalan, hn?" Tanya Anrez kembali dan akhirnya di angguki kepala oleh Sekar.
"Yeaay! Kita jalan-jalan Ayah" seru Galaxy begitu bahagia.
"Oke, sekarang kita berangkat sekolah dahulu!" Ajak Anrez, lalu keduanya pun berlari menuju mobil Anrez dan di ikuti oleh Sekar.
Setelah mengantarkan Galaxy ke sekolahannya, kini Anrez mengantarkan Sekar menuju kantornya. Awalnya Sekar menolak untuk di antarkan oleh Anrez, karena dia merasa tidak enak. Takut saja jika Anrez harus buru-buru tiba di kantor, tetapi Anrez bisa meyakikan Sekar dan akhirnya Sekar pun di antar oleh Anrez sampai kantornya.
"Terimakasih ya, maaf selalu merepotkan" ucap Sekar kepada Anrez.
"Sudah aku katakan, jangan selalu mengucapkan terimakasih!" Ingatkan Anrez dam tentu saja itu semua membuat Sekar tersenyum.
"Baiklah, aku keluar. Kamu hati-hati bawa mobilnya, aku duluan!" Pesan dan pamit Sekar kepada Anrez.
Anrez pun tersenyum dengan kepala yang dia anggukan. Sekar melambaikan tangannya pada Anrez sebelum dia masuk ke dalam kantornya.
Mobil Anrez pun melaju meninggalkan area perkantoran tempat Sekar bekerja.
Sekar tengah menunggu pintu lift terbuka, saat pintu lift terbuka dia pun masuk ke dalamnya, dan tanpa dia sadari ada yang mengikutinya masuk ke dalam lift. Namun, karena Sekar yang tidak sadar pada akhirnya orang tersebutlah yang harus menyapa Sekar lebih dahulu.
"Mba, permisi saya mau bertanya?" Tanyanya kepada Sekar.
"Iya Mba, tanya apa?" Jawab Sekar dan belum melihat wajah orang yang bertanya.
"Ruangan Ibu Winda dari Departemen Marketing di sebelah mana ya?" Tanyanya.
"Bu Winda?" Ulang Sekar kembali lalu menatap wajah si orang yang bertanya.
Dan betapa terkejutnya Sekar kala melihat siapa orang tersebut. Sekar ngelag dalam beberapa saat begitu dirinya menyadari siapa orang yang berada satu lift dengannya.
"Anjir ih, kok ada lo disini, aaaaargh!" Teriak Sekar heboh lalu memeluk tubuh Wulan.
Ya, orang yang bertanya kepada Sekar adalah Wulan.
"Wulandariiiiiii!!" Heboh Sekar disaat mereka berpelukan.
"Ngapain lo disini?" Bingung Sekar begitu keduanya telah melepaskan pelukan mereka.
"Gue dipindah tugaskan di kantor pusat!" Sahut Wulan dan tentu saja membuat Sekar kembali terkejut.
"Dan lo nggak cerita sama gue, bahkan saat teleponan kemarin pun lo gak bilang sama gue!" Protes Sekar kepada Wulan.
"Awalnya gue telepon lo itu mau ngabarin, kalau gue mau pindah tugas ke Jakarta, tapi karena lo lagi sedih, ya udah gak jadi. Biar jadi surprise aja buat lo. Dan see, lo terkejut kan!" Seru Wulan dengan alis yang dia naik turunkan.
Sekar pun memicingkan kedua matanya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya, ya, gue terkejut, amat sangat terkejut!" Jawabnya dengan senyuman bahagianya begitu pun dengan Wulan.
Mereka pun keluar dari lift begitu pintu lift terbuka, menandakan bahwa mereka telah sampai dilantai tujuan.
"Tapi serius, gue harus ke ruangan Bu Winda nih!" Kata Wulan.
"Ya, ya tau gue, ikuti senior!" Canda Sekar pada Wulan, dan di tanggapi oleh wanita itu.
"Baik senior!" Jawab Wulan sambil menundukkan kepalanya pada Sekar.