Hari senin menjadi awal baru bagi Sekar berada di kantor pusat, setelah mengantarkan Galaxy ke sekolah dan bertemu dengan gurunya Sekar bergegas menuju kantor karena dia tidak mau telat di hari pertama dirinya masuk kantor. Meskipun dia terbilang sudah lama bergabung dengan perusahaan ini tetapi di kantor pusat ini tetap saja dia adalah orang baru.
Sekar kedapatan menjadi bagian dari Departemen Marketing, dia pun bertemu langsung dengan Bu Winda selaku penanggung jawab Departemen Marketing, Bu winda sendiri pun sudah mengetahui perihal kepindahan Sekar dari kantor cabang Bandung menjadi ke kantor pusat di Jakarta.
Ketukan pada pintu kaca ruangan Bu Winda pun terdengar oleh si pemilik ruangan dari dalam, setelah di persilahkan masuk Sekar pun melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Bu Winda.
“Selamat pagi Sekar!” Sapa Bu Winda wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan juga segar, yang memang sudah mengetahui nama Sekar.
Sekar tersenyum ramah denga kepala yang dia tundukan. “Pagi Bu Winda”
“Bagaimana dengan Jakarta, panas ya? Berbeda dengan di Bandung yang sejuk?” Tanya Bu Winda begitu ramah kepada Sekar.
Sebelum menjawab Sekar menyunggingkan senyumannya terlebih dahulu. “Sama saja Bu, Bandung sekarang sudah aga panas”
“Tapi tidak sepanas Jakarta tentunya kan!” Canda Bu Winda mereka pun saling tersenyum lebar. Nampaknya Bu Winda ini adalah tipe atasan yang humble terhadap bawahannya, bukan tipe-tipe atasan yang gila hormat, dan juga menyeramkan.
Winda mejulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Sekar, Sekar pun menyambutnya dengan sedikit menundukan kepalanya. “Selamat bergabung di kantor pusat, semoga kamu betah dan nyaman di sini” kata Winda memberikan sambutan kepada Sekar.
“Terimakasih Bu!” Jawabnya dengan seulas senyuman pula.
“Job Desk kita di kantor pusat dan kantor cabang sama saja, hanya saja kita akan mengadakan rapat setiap dua minggu sekali dengan CEO langsung, dan biasanya itu akan di wakili dari setiap departemen, biasanya saya akan di temani oleh salah satu dari tim Marketing, jadi kamu harus selalu siap jika nanti saya minta untuk temani saya dalam rapat mingguan bersama dengan Pak CEO?” Ujar Winda.
Sekar mengangguk-anggukan kepalanya. “Saya akan selalu siap kapan saja jika Ibu membutuhkan bantuan saya” jawabnya tegas.
Winda pun tersenyum puas. “Ini yang buat kamu di pindahkan ke kantor pusat. Baik, mari saya antar ke meja kerja kamu!” Tutur Winda lalu mereka beruda pun berjalan menuju meja yang akan Sekar tempati. Dan tidak lupa Winda pun memperkenalkan Sekar kepada tim lainnya. Setelah itu Winda kembali ke ruangannya dan Sekar mulai berkutat denga pekerjaannya!”
“Hai, gue Rara!” Kata Rara seraya mengulurkan tangannya pad Sekar. Rara adalah teman satu tim Sekar, kebetulan sekali meja mereka saling bersebelahan, dan untuk satu meja sebelah Sekar masih kosong.
Sekar pun menyambut uluran tangan Rara dengan senyum yang mengembang di wajahnya. “Sekar”
“Akhirnya gue punya temen satu meja juga, setelah satu bulan ini kosong!” Keluh Rara karena dia bekerja sendiri selama sebulan kebelakang.
Sekar hanya tersenyum menanggapi keluhan Rara. Mereka pun kembali sibuk dengan komputer di depan mereka. Hingga jam istirahat pun tiba, dan Sekar harus segera menjemput Galaxy lalu mengantarkannya ke tempat penitipan anak yang sudah di pastikan keamanannya dan banyak pula permainan yang akan membuat anak-anak betah berada di sana.
“Sekar, kantin yuk!” Ajak Rara.
Dengan berat hati dan rasa tidak enaknya Sekar harus menolak ajakan Rara karena dia harsu segera menjemput putranya di sekolah. “Nanti gue nyusul deh Ra, gue harus keluar sebentar ada urusan” sesal Sekar.
“O oke, mau gue anter gak?”
Sekar tersenyum. “Gak usah, repotin lo nanti. Lagian ini jam istirahat lo harus isi amunisi biar cacing di perut lo gak demo!” Canda Sekar.
“Ih tahu aja si lo!” Sahut Rara dengan tawa di akhirnya.
“Ya udah, gue duluan ya!” Pamitnya sedikit terburu-buru.
“Hati-hati, Kar!” Pesan Rara.
Sekar pun segera menuju ojek online pesanannya, dia tidka mungkin memesantaxi online karena pasti di jam-jam seperti ini jalanan akan sedikit padat. Karena banyaknya karyawan yang keluar untuk mencari makan siang.
Tidak lama ojek pun tiba di sekolah Galaxy, Sekar segera berjalan sedikit cepat menuju gerbang sekolah Gala, dan benar saja Galaxy sedang terduduk di kursi panjang yang sudah di sediakan pihak sekolah, di sana Galaxy di temani oleh Bu Dina selaku wali kelas Galaxy.
“Maaf Bu Dina, saya terlambat jemput Gala” sesal Sekar merasa tidak enak karena Bu Dina harus menunggu dirinya untuk menemani Gala.
Bu Dina pun tersenyum. “Tidak apa-apa Mama Gala. Sudah kewajian saya untuk menemani setiap anak yang belum di jemput oleh orang tuanya” jawab Bu Dina ramah.
“Sekali lagi terimakasih banyak Bu”
“Sama-sama Mama Gala, kalau begitu saya permisi. Ibu kembali ke ruangan ya Gala?” Pamit Dina kepada Sekar juga Gala.
Sekar pun menganggukan kepalanya sambil mengulas senyuman di wajahnya.
“Maat ya, Mama telat jemputnya” sesal Sekar pada sang putra.
Gala sedikit cemberut karena Mamanya ini selalu sibuk dengan pekerjaannya.
“Gala marah sama Mama, hm?” Tanya Sekar hati-hati seraya berlutut di hadapan sang putra.
“Maaf ya, Mama kan harus kerja dulu tadi”
“Kenapa Mama gak sama Ayah saja, biar Mama bisa fokus sama aku bial Ayah yang kerja” pinta Gala dengan raut wajah sedihnya membuat hati Sekar merasakan sakit mendengarnya.
Karena Gala tidak mengetahui siapa Ayah kandungnya, Sekar tidak pernah menceritakan itu kepada Galaxy. Dia hanya tidak mau Galaxy mencari-cari keberadaan Ayah kandungnya nanti. Maka Sekar menutupi siapa Ayah dari Galaxy, siapa Galaxy sebenarnya.
“Maafin Mama sayang!” Lirih Sekar lalu memeluk tubuh mungil sang putra, dengan cairan bening yang sudah meluruh mebasahi kedua pipi Sekar.
Sekar pun membawa Galaxy menuju tempat penitipan anak dan Sekar sudah mendaftarkan Galaxy disana ketika mereka berbelanja kemarin bersama dengan Anrez tentunya. Jadi pihak pengelola mengetahui wali dari Galaxy adalah Sekar dan juga Anrez. Dan yang berhak menjemput Galaxy hanyalah Sekar atau Anrez saja. Itu sudah menjadi ketentuan yang diberikan pihak pengelola.
Dengan berat hati Sekar harus meninggalkan Galaxy di sana, dengan raut wajah Gala yang masih cemeberut, nampaknya anak laki-laki sedang dalam mood yang tidak baik saat ini. Itu menjadi beban pikiran tersendiri bagi Sekar karena melihat putranya yang nampak marah terhadap dirinya, tetapi Sekar tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidka mungkin terus melibatkan Anrez dalam kehidupannya bersama dengan Galaxy, sudah cukup selama ini dia selalu merepotkan Anrez. Apalagi saat Galaxy baru bisa berbicara dan melihat Anrez lalu memanggil Anrez dengan panggila Ayah. Sungguh membuat hati Sekar merasa tidak enak, meskipun Anrez sendiri tidak keberatan dengan itu.