Dari dulu ayahnya memang keras. Jadi tidak heran. Tapi aku kaget juga, Pa. Fabian malah diusir. Padahal itu anak satu-satunya." Mama dan Papanya Abel sibuk membicarakan Fabian esok paginya di meja makan. Abel tentu mendengar karena ia juga duduk bersama mereka. Perempuan itu hanya diam karena tak tahu harus berkomentar apa. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi latar bagi pembicaraan yang terus berlanjut. Aroma teh hangat menguar di udara, bercampur dengan harumnya roti panggang yang masih mengepulkan asap. "Kamu masih dekat sama Abi kan, Bel?" Mamanya tiba-tiba bertanya, membuat Abel tersentak dari lamunannya. Ia mengangkat kepala, menatap ibunya yang kini menunggunya memberikan jawaban. Abel mengangguk pelan. "Iya, Ma, masih. Tapi... kita nggak sering ngobrol lagi kayak dulu.

