Athaya benar-benar frustrasi. Ia berdiri di bawah pancuran air hangat, membiarkan tetesan air mengalir deras di tubuhnya, tapi pikirannya jauh dari kata tenang. Bukannya rileks setelah hari panjang yang melelahkan, otaknya justru terus memutar ulang kejadian tadi. Adeeva. Handuk. Jatuh. Dan sialnya—belahan d**a yang tak sengaja terlihat sebelum ia bisa memalingkan wajah. Astaga. Brengsek. Kenapa harus ada adegan seperti itu? Athaya menggeram, mengusap wajahnya dengan kasar, seolah berharap bisa menghapus ingatan tadi dari otaknya. Tapi percuma. Gambarannya terlalu jelas. Seperti tayangan ulang yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan. "Gue nggak sengaja, sial!" gumamnya, mencoba membela diri sendiri. Ia benar-benar tidak berniat melihat. Sama sekali. Tapi siapa suruh

