Wajah ibu Bayu berubah. Dari keterkejutan, menjadi kesedihan, lalu perlahan berganti menjadi kekecewaan yang mendalam. Ia memandang putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara marah, sakit hati, dan kehancuran. Seluruh keyakinannya tentang anaknya runtuh dalam hitungan detik. “Bayu…” suaranya bergetar, hampir tak mampu keluar dari bibirnya yang gemetar. “Apa yang Mama lihat sekarang… ini sungguhan?” Bayu ingin mengatakan sesuatu. Ingin membela diri. Ingin mencari alasan. Namun, bagaimana mungkin? Tidak ada pembelaan yang cukup kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tidak ada alasan yang bisa menutupi fakta bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan ibunya. Erika mencoba berbicara, tetapi lidahnya terasa kelu. Situasi ini jauh lebih buruk dari yang pernah ia bayangkan. I

