Presiden Mahasiswa dan Wakilnya

2558 Words
“Plese, lu bikin gue takut daritadi senyum mulu. Iya gue tau kalau Arsen emang ganteng,” ucap Seline sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan mata Rose, mencoba mengembalikan kesadaran sang teman. “Rose, udah itu air liur lu keluar.” Rose segera menyekanya, dia memang tidak bisa berkedip melihat Arsen yang begitu tampan. Rambutnya yang gondrong dan agak bergelombang benar benar mengalahkan ketampanan idolanya. “Mirip siapa ya? Ganteng banget ini.” “Iyalah, kalau cowok real life, terus ganteng, emang gak ada obat.” “Gue mau ketemu sama dia,” ucapnya berdiri ketika Arsen turun dari podium, membuat Seline segera menarik tangan temannya untuk kembali duduk. “Lu malu maluin, Anjir.” Rose seperti perempuan yang sedang kesurupan, kepalanya mengikuti kemana Arsen melangkah, bahkan memutar ke belakang dengan badannya mengabaikan pemateri di depan sana. “Rose, lu harus catet materinya, ini bakalan jadi absen buat mata kuliah politik hukum.” Rose berdecak malas saat tidak lagi melihat Arsen, sosok itu menghilang dibalik pintu. “Dia mau kemana ya?” Alhasil, sisa seminar membuat Rose malah pusing, dia ingin segera menyelesaikan ini dan bertemu dengan Arsen. Dia ingin mengumumkan pada semua orang kalau Arsen adalah tunangannya. Tapi, apakah itu akan sulit? Mengingat Arsen orang yang terkenal, dia pasti menjadi bahan iri semua orang. “Bodo amat sama orang lain! Yang penting gue happy!” teriak Rose ketika dia memasuki kamar mandi, dan teriakannya itu membuat Seline panic dan segera mengetuk ngetuk pintu. “Apa?! Jangan ganggu gue, gue lagi sibuk mikirin calon masa depan gue!” “Jangan teriak teriak! Ruangan audit ini angker, nanti lu disangka kesurupan.” Rose yang sedang berada di bilik toilet itu langsung terdiam, dia menelan salivanya kasar dan keluar dari sana. dia berdehem kemudian berjalan dengan santai menuju ke westafel dan mencuci tangannya. “Bohong kan, lu gak berak kan?” “Emang enggak, gue pegel duduk mulu. Itu pemateri belum beres beres,” ucap Rose mendumal, dia memang meminta Seline mengantarnya ke toilet di saat seminar masih berlangsung. “Kita di sini aja gak papa kan?” “Jangan lah, bangsaat. Nanti kita dimarahin,” ucap Seline menggelengkan kepalanya. “Ayo ke sana lagi.” “Ih, bentaran lagi, gue mau cek hp dulu.” Karena di dalam audit, Rose tidak bisa memainkan ponsel sesukanya. Ada panitia di belakang yang bertugas untuk memastikan semua orang mendengarkan. Niat Rose membuka ponsel adalah untuk menghubungi Arsen sambil mendumal, “Kesel banget sama ini cowok gak ngehubungin gue.” “Rose, ayo ih ke sana lagi sebelum ada panitia. Gue tau ya gimana kalau BEM Univ yang punya kegiatan.” Semenit setelah Seline mengatakan itu, pintu kamar mandi perempuan terbuka. Seorang berseragam sama dengan Arsen itu masuk dengan tatapan yang tajam. “Ngapain kalian? Cepet ke sana lagi.” Seline segera menarik tangan Rose dan kembali memasuki bangku mereka. “Tuh kan gue bilang apa, jangan lama lama, BEM Universitas itu galaknya minta ampun.” Namun Rose tidak mendengarkan, dia sibuk menyusun kata untuk dia kirimkan pada Arsen. Apa ya yang harus dia katakan? Yang bisa membuat Arsen terkesan dan jatuh cinta padanya? Saking lamanya berfikir, Rose tidak sadar ada panitia yang berjalan ke arahnya kemudian mengambil ponselnya. “Kamu terlalu lama main ponsel, bukannya perhatiin pemateri. Ponsel kamu saya ambil,” ucapnya meninggalkan Rose dengan kekosongan. “Tuh kan, gue bilang apa.” Lagi lagi Seline berkata seperti itu. *** “Gimana dong…. Hiks… hape gue,” ucap Rose menyesali apa yang telah dia lakukan, matanya menatap pada Seline meminta pertolongan. Tapi sepertinya sosok itu tidak akan bisa membantu banyak, jadi dia hanya bisa memalingkan wajahnya. “Lu jangan berpaling hiks… bantuin gue.” Dan sekarang ini Rose sedang memohon di wc audit setelah acara selesai. Dia menangisi ponselnya yang dibawa oleh pihak panitia. “Iya gue bantuin ngomong. Udah dong, lu jangan nangis. Malu itu, bikin gue kesel juga. Untung salah satu ciri istrinya Kim taehyung itu sabar,” ucapnya memuji diri sendiri. Dia menarik tangan Rose keluar dari kamar mandi dan mendekati salah satu panitia. Seline memberi isyarat pada Rose untuk bicara. “Kak, maaf mau nanyain hape yang diambil sama panitia lain tadi.” Perempuan yang memakai tanda panitia itu menoleh. “Dari fakultas hukum ya?” “Iya, Kak.” “Tadi denger gak isyarat Pak Dekan? Khusus fakultas hukum segera masuk ke kelas karena ada tindak lanjut tentang materi ini. Kamu dengerin gak? Malah ngurus hape?” “Tapi saya perlu hape saya, Kak.” “Tadi dipegang sama bagian kominfo, cari sendiri,” ucapnya kemudian kembali membalikan badan dan focus pada pekerjaannya. Rose ingin kembali bicara, namun mulutnya ditutup oleh Seline kemudian dia ditarik keluar dari audit. “Please jangan ngacau, ayo kita ke kelas aja dulu.” “Gak bisa, hape gue gimana nasibnya?” “Bukan Cuma lu yang hapenya diambil, jadi nanti aja ke sekre BEM Univ, nanti gue temenin.” Terpaksa, Rose masuk ke kelas tanpa membawa ponselnya. Mungkin ini adalah hari paling sial untuknya, dia di sana bertemu dengan dosen yang memarahinya karena terlambat. “Kamu tadi ada gak di audit?” “Ada, Pak,” jawab Seline terlihat gugup. “Terus kenapa gak langsung ke sini? Kan saya bilang gak boleh ada orang masuk lagi, saya lagi focus maateri ini.” “Maaf, Pak. Tadi saya sakit perut jadi agak lama, kasian juga kalau saya nahan sakit perut. Nanti kalau dikelas kentut, kan bau,” ucap Rose tanpa tau malu. Sengaja dia mengatakan itu karena keadaan kelas sedang gelap, si dosen sedang menggunakan proyketor. “Udah cepetan masuk, abis ini gak ada toleransi lagi.” Seline menarik tangan Rose dan duduk di bangku paling belakang. “Sial banget gue sama lu hari ini,” bisi Seline yang hanya dibalas helaan napas oleh Rose. Materi di depannya saja tidak terlalu diperhatikan. Rose adalah type orang yang membutuhkan mood boster dalam melakukan sesuatu, termasuk belajar. Jika ada tujuannya, dia pasti akan semangat. Namun kali ini, masa depannya abu abu. Terlalu banyak hal yang harus dia khawatirkan ketimbang yang harus dia mimpikan. Hingga Rose baru tersadar ketika lampu menyala, matanya mengerjap dan melihat ke sekitar dengan penuh heran. “Kamu anak baru ya di kelas ini? Siapa namanya?” Tanya pria botak yang menjabat sebagi dosen politik hukum itu. “Rose, Pak.” “Oke, Rose. Coba jelaskan apa yang kamu ketahui tentang konfigurasi politik.” Rose terdiam, tubuhnya menegang. Apa ya yang harus dia katakan? “Kamu perhatikan saya gak pas tadi saya presentasi di depan?” “Mampus,” bisik Seline. “Ini dosen killer kalau lu mau tau.” Ketika si bapak hendak membuka mulutnya lagi, pintu ruangan lebih dulu terbuka. Dosen itu terlihat hendak marah, tapi tertahan ketika melihat siapa yang masuk. “Loh Arsen?” “Maaf saya terlambat, Pak, tadi dipanggil rector dulu.” “Acaranya udah selesai? Urusan kamu?” “Sudah, Pak.” “Padahal santai aja, kamu gak masuk juga gak papa. Bapak ngerti kok kamu juga sibuk demi Universitas kita. Yaudah silahkan duduk.” Si bapak memperlakukan Arsen dengan begitu baik. Dimana pria yang memiliki wajah dingin itu langsung melangkah mencari bangku kosong. Sesaat pandangan Rose dan Arsen bertabrakan. Rose mulai tersenyum dan hendak menyapa, tapi pria itu memasang wajah datar dan segera duduk di depan Rose tanpa menyapa ataupun tersenyum. Membuat Rose terdiam di tempatnya, mematung dengan tangan yang hampir melambai. “Jangan mimpi bakalan disapa sama Presiden Mahasiswa kita,” bisik Seline sambil tertawa. “Oleg gak tuh, kasian Park Jimin dilupain.” ** Rose bertanya Tanya di kepalanya? Apa pria itu bercanda? Apa dia memang tidak mengenalinya? Mereka memang saling bertatap muka selama beberapa menit saat itu. namun Rose yakin kalau Arsen bukanlah type pria yang pelupa mengingat dia adalah seorang presiden mahasiswa. “Lu kenapa sih?” Tanya Seline begitu selesai pembelajaaran. “Hei, lu mau kemana?” “Bentar mau ke toilet.” “Gue mau ke kantin nih,” ucap Seline yang sedang membereskan bukunya. “Duluan ya, nanti ketemu di sana.” Rose tidak menjawabnya, tujuannya hanya satu yaitu Arsen yang keluar dari ruangan. Sayangnya Rose tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan pria tersebut, setiap langkahnya saja ada dosen yang ditemui hingga Arsen dan dosen tersebut berbicara. Dan Rose menunggu gilirannya dengan berdiri tidak jauh dari sana. sampai sang dosen yang berbicara dengan Arsen menyadari kalau ada sosok selain mereka di sana. “Kamu lagi nguping ya?” Rose kaget, Arsen juga melihat keberadaannya. “Enggak, Pak. Ini… lagi baca madding,” ucapnya sambil menunjuk majalah dinding yang dijadikan sebagai sandaran sebelumnya. Buru buru dia membacanya tanpa melihat lagi Arsen dan juga dosen itu. Malu juga, padahal Rose hendak membangun citra yang baik di depan Arsen. “Kamu ngikutin saya?” Kaget, tubuh Rose sampai tergelonjak. Dia menoleh dan mendapati pria yang menjulang tinggi di belakangnya. Insecure Rose itu, mana tingginya hanya sebatas d**a pria itu. bahkan perlu mengadah untuk bicara dengannya. “Iya, ada hal yang harus aku omongin sama kamu.” Rose tidak bisa bertahan dalam bahasa baku jika bersama dengan orang seumurannya, rasanya aneh saja apalagi dirinya sudah membayangkan kalau pria di depannya ini adalah pacarnya. Masa jika sudah pacaran nanti akan seperti ini, “Sayang, saya mau ke toilet dulu ya.” “Iya sayang, saya juga mau ke gedung rector dulu. Nanti kamu telpon aku ya kalau udah selesai BAB, nanti saya jemput.” “Tapi saya mau ke perpustakaan dulu, Sayang. kamu duluan aja, saya ada urusan sama buku buku.” “Kamu lupa kembaliin ya, Sayang? kayak saya banget pas dulu masuk ke sini.” Membayangkan bagian itu, membuat Rose bergidik ngeri. “Kenapa?” Tanya Arsen menyadarkan Rose dari lamunannya. “Kenapa kamu gak hubungin aku? Kemarin kamu bilang mau pas kita tukeran nomor hape.” “Gak sempet, nanti saya hubungin kamu kalau udah pulang kuliah.” “Sekarang aja, cepetan.” “Tapikan kamu udah punya nomor telpon saya, kenapa gak kamu duluan yang chat saya?” Tanya Arsen. Dan nada pertanyaan itu membuat Rose agak kesal, seolah Arsen adalah pria paling sibuk sedunia. “Tapi semuanya diawali sama cowok yang chat duluan.” Arsen menghela napasnya dalam, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Rose memiliki kesempatan mengintip, dan dia dikagetkan dengan ratusan pesan yang belum dibalas oleh pria itu. “Udah dikirim pesan. Sekarang apalagi?” “Hape aku gak ada di aku loh,” ucap Rose mengangkat tangannya. “Tadi diambil sama panitia pas seminar.” “Jadi alasan kamu nemui saya itu buat minta bantuan ambilin hape kamu?” Rose mengangguk. “Iya, eh enggak, aku mau minta anter ke sana. sekalian saling mengenal juga. Jarak dari fakultas hukum ke ruangan Sekretariat BEM kan jauh. Gimana?” Arsen menatap jam tangannya. “Gak bisa, saya harus pergi ke Pusdik. Bukan Cuma kamu yang hapenya diambil, ke sana aja. Saya duluan.” Meninggalkan Rose yang bahkan belum mengatakan sepatah katapun, membuat sosok itu terkekeh dibuatnya, tidak percaya ada pria sejenis itu. “Whoaaa, dia laki laki jenis apa ya?” Tanya Rose sambil memijat kepalanya, dia bergegas mengeluarkan cermin dari dalam tas. “Muka gue perasaan cantik gini, blasteran Indonesia Australia. Buta yakali tuh mata,” ucapnya mendengus kesal sambil melangkah pergi dari sana. Akhirnya, dia akan minta Seline mengantarnya ke sekre BEM Universitas. *** “Heran gue, dari mana lu coba tadi?” Berakhir dengan Rose yang makan di kantin, dia melahap bakso membayangkan kalau itu adalah kepala Arsen dan juga Derry. Dua pria yang sama sama menyebalkannya. Bayangan Rose jika dirinya pergi ke secretariat BEM Univ bersama dengan Arsen adalah seperti ini. “Arsen, siapa itu yang sama lu?” “Calon bini gue.” Pasti akan meledak, terlebih jika banyak anggota BEM di sana yang mengetahuinya. Khususnya Derry, pasti dia akan menyesal karena dirinya telah mendapatkan yang lebih baik. “Lu denger gak sih apa yang gue omongin?” Tanya Seline kesal, dia sudah menceritakan banyak tentang group K-pop yang dia sukai akhir akhir ini. “Nyebelin lu, Anjir.” “Mau photocard taehyung yang era persona gak?” “Mauu!” menggebrak meja sampai semua orang menatap ke arah mereka. seline tertawa karenanya, dia menghentak hentakan kakinya tidak sabaran. “Mau mau, yuk kita ke apartemen lu. Ada di sana ‘kan?” “Iyap, tapi harus ngambil hape gue yuk.” “Bentar, mau boker dulu gue,” ucapnya bergegas pergi dari sana, meninggalkan Rose yang menghela napasnya dalam dan menggeleng heran. Mudah sekali untuk berbaur dengan oorang yang memiliki hobby sama, seperti dirinya dan Seline. Rose yang terlalu banyak berfikir itu tidak menyadari kalau dirinya dijadikan bahan perhatian. Mengingat mereka berada di kantin fakultas, jadi mahasiswa lain sadar kalau Rose adalah anak baru. apalagi rambutnya yang pirang membuatnya menjadi mencolok. “Tau gak?” “Emak kaget!” teriak Rose kesal, dia menatap pada Seline yang tiba tiba menggebraknya dari belakang. “Lu…. Hufftt… ciri ciri orang cantik itu sabar.” “Lu diomongin banyak orang loh.” “Huh?” “Semua orang tau lu anak baru, jadi lagi pada diomongin.” Rose menngibaskan rambutnya. “Udah biasa sih dari dulu juga begitu.” Dan memang terbukti, saat dirinya melewati ruang kelas fakultas hukum, beberapa orang yang sedang belajar sampai menoleh melihat Rose yang melewati kelas hendak menuju secretariat BEM Univ. “Ngomong ngomong tentang Arsen, lu tau sesuatu tentang dia gak?” “Tentang dia yang kayak gimana?” “Ya, kayak Derry yang wakil ketuanya itu, dia udah punya tunangan atau pacar belum? Terus orangnya kayak gimana?” “Itu tuh, dia tuh gak punya oacar, gak pernah deket sama siapapun, kagak pernah keliatan tertarik sama cewek yang bikin semua orang itu makin semangat karena yakin kalau dia masih jomblo.” “Emang gak pernah keliatan deket sama siapapun? Lu kan sama dia sekelas, masa gak ada interaksi sama sekali.” “Nah justru itu, gue aja yang sekelas sama dia dicuekin, diabaikan. Dia kalau ngomong sama cewek seperlunya aja, gak pernah gunain kekuasaannya buat deketin cewek. Suka gue tuh sama cowok cool kaya dia. Udah ganteng, pinter, gak mainin cewek juga. Gak ada kekurangannya sama sekali. Mana Presiden dari semua mahasiswa,” ucap Seline sambil tersenyum membayangkan bagaimana kerennya Arsen. Rose terdiam, pikirannya mencari cara bagaimana dirinya bisa mendapatkan perhatian pria itu, mendapatkan semua perhatian itu. “Kalau ketua BEM Fakultas Hukum siapa? Dia terkenal juga gak?” “Semua ketua BEM Fakultas terkenal di fakultasnya sendiri, tapi kalau udah disandingin sama Presiden Mahasiswa, udah kelar deh.” Jadi Arsen itu menduduki rantai tertinggi kekuasaan di kalangan mahasiswa, dia presiden dari semua presiden. Ketua BEM tingkat Universitas yang memegang semua fakultas, atau nama lainnya adalah Presiden Mahasiswa. “Duh kayaknya timingnya gak tepat deh, lagi banyak orang itu,” ucap Seline yang membuat Rose menatap ke arah yang sama. Di sekrtetariat BEM Universitas sedang banyak orang, dan didominasi oleh anggota BEM Universitas itu sendiri. Mereka sepertinya sedang makan makan bersama, dan yang membuat Rose sesak adalah keberadaan Derry dengan kekasihnya. Sepertinya kekasih Derry sudah tidak asing berada di lingkungan itu, dia bahkan tertawa bersama dengan anggota BEM yang lain, dia diperlakukan dengan baik. “Balik aja deh.” “Eh jangan, ayok ambil. Udah nanggung ini.” Seline menahan tangan Rose. Gila saja mereka berbalik, mereka sudah jauh jauh ke sini. “Ayok gue anter.” “Gak mau, gue males ke sana.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD