"Ternyata, ingatan kamu cukup bagus," ucap Alex tersenyum begitu menakutkan bagi Naura. Meskipun sebenarnya laki-laki di hadapannya begitu tampan.
Alex langsung melepaskan Naura. Dia tak ingin Naura pingsan, karena merasa ketakutan. Dia mencoba memberikan ruang gerak untuk Naura. Naura tampak memperhatikan gerak-gerik Alex yang kini duduk di sofa tua di ruang tamunya. Alex juga terlihat menyilangkan kakinya, membuka kaca mata hitamnya, dan juga topinya.
"Untuk apa, Tuan datang ke sini? Saya ingin mengakhiri kontrak dengan Anda. Ibu saya telah meninggal dunia, karena saya datang telat waktu itu. Mami Anda pun tak menyukai kehadiran saya di hidup Anda. Tak ada gunanya kita melanjutkan kontrak pernikahan itu. Lebih baik Anda menikah dengan wanita pilihan mami Anda, dan memiliki anak darinya. Saya tak pantas untuk Anda. Tolong jangan ganggu hidup saya lagi! Saya sudah hidup tenang di sini," ucap Naura tegas.
Jika selama ini dia terlihat lemah, kali ini dia ingin terlihat berani di hadapan Alex.
Alex terbakar amarah. Dia terlihat sudah mengepalkan tangannya, dan menatap Naura tajam. Naura pun balik menatapnya tajam. Tak ada yang patut dia takutkan lagi. Alex bukan majikannya lagi. Naura langsung masuk ke kamar meninggalkan Alex, dia hendak mengambil uang yang Alex berikan kepadanya waktu itu.
Dia memang sudah berniat mengembalikan uang itu, jika suatu saat Alex memintanya kembali karena dia membatalkan kontrak pernikahan dengannya. Naura memang sempat meminjam uang dari Alex, untuk memulai kehidupan barunya. Namun sekarang, nominalnya sudah cukup. Selama ini dia berusaha hidup prihatin, agar bisa mengumpulkan kembali uang itu dari hasil kerja kerasnya selama dua bulan ini.
"Ini uang Anda, nominalnya sama seperti yang Anda berikan kepada saya. Awalnya, saya memang sempat memakainya. Tapi sekarang, nominalnya sudah cukup kembali. Saya tak butuh uang ini, silakan ambil lagi uang ini! Bagi saya, harga diri saya lebih penting. Meskipun saya hanyalah orang miskin, tapi saya masih memiliki harga diri." Naura berkata tegas.
Alex dibuat tercengang dengan sikap Naura kepadanya. Dia tak percaya, kalau Naura akan berani padanya. Sebagai orang yang memiliki segalanya, tentu saja Alex merasa terhina. Dia merasa tak terima.
Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Naura, dan menatapnya tajam. Hingga akhirnya dia menggendong Naura, dan membawanya ke kamar. Naura berusaha memberontak.
"Empht ...." Alex membungkam bibir Naura dengan bibirnya. Dia pun mulai menyapu lembut bibir yang dia rindukan.
Napasnya memburu, dia mulai hilang kendali. Seakan dirinya menginginkan lebih, bukan hanya sekadar ciuman saja. Miliknya di bawah sana pun mulai bereaksi, meminta dilepaskan dari kandangnya. Selama Naura tak ada, dia memang tak pernah menuntaskan hasratnya.
"Lepas! Anda mau apa? Aku tak sudi mengandung benih Anda," ucap Naura berusaha memberontak.
"Aku akan membuat kamu, tak akan pernah bisa terlepas dari aku!"
Alex mulai melancarkan aksinya. Dia pun sudah tak sanggup menahannya lagi. Tubuh Naura terlalu indah, untuk dilewati. Naura semakin panik. Kala melihat Alex sudah melucuti pakaiannya, menunjukkan tubuhnya yang sudah dalam keadaan polos.
"Saya mohon, Tuan! Jangan lakukan lagi! Tolong lepaskan saya!" Naura memohon iba. Wajah Naura sudah terlihat pucat, dia terlihat ketakutan.
Naura mencoba kabur dari Alex. Namun, Alex dengan cepat menangkapnya. Alex langsung menggendongnya. Kemudian melempar tubuh Naura ke tempat tidur, dan mengungkungnya. Tubuhnya kini sudah dalam keadaan polos, karena ulah Alex. Air mata Naura mulai menetes satu persatu.
"Apa aku tak bisa hidup bahagia? Mengapa takdir begitu kejam padaku? Mengapa aku harus dipertemukan kembali dengan laki-laki kejam ini?"
Naura terlihat begitu sedih. Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya, saat Alex mulai menguasai tubuhnya. Dia masih berharap, kalau semua ini adalah sebuah mimpi. Alex terlihat begitu menikmatinya, tapi tidak dengan Naura.
Alex semakin mempercepat permainannya, menggoyangkan pinggulnya. Sampai akhirnya dia berhasil mengerang, mendapatkan pelepasan. Baginya, begitu nikmat.
"Naura ... Naura," panggil Alex.
Alex panik, saat melihat Naura tak sadarkan diri. Dia goyangkan tubuh Naura dengan kasar, berharap Naura segera membuka matanya. Tapi hasilnya, tetap sama. Naura jatuh pingsan.
"Aku harus membawanya ke rumah sakit atau klinik," ucapnya dalam hati.
Dia langsung memakai pakaiannya kembali. Kemudian mengambil pakaian Naura yang baru, dan memakaikannya. Karena pakaian Naura yang tadi sudah robek, karena ulahnya. Setelah itu, dia langsung menggendong Naura keluar.
"Ayo, cepat! Kita harus segera membawanya ke klinik atau rumah sakit. Nyonya pingsan," teriak Alex panik.
Alex membawa Naura ke dalam mobil, dan Joy langsung melajukan mobil. Kedua orang suruhannya Joy, diminta Alex untuk mengurus orang-orang kampung yang berkumpul berniat mengepungnya.
"Ada apa dengan Nyonya Naura, Tuan?" tanya Joy kepada bosnya.
"Kau tak perlu tahu! Lebih baik sekarang, kau fokus menyetir. Biar kita bisa segera sampai di klinik atau rumah sakit," sarkas Alex.
Mereka sudah sampai di sebuah klinik sederhana di daerah itu. Joy memarkirkan mobilnya, dan Alex langsung turun menggendong Naura. Kemudian membawanya ke IGD. Hanya klinik itu yang terdekat.
"Cepat kamu tangani pasien ini!" pekik Alex kepada dokter dan perawat yang berada di ruangan itu.
Tak ada yang berani membantah. Suasana menjadi tegang. Mereka dapat melihat, kalau Alex bukanlah orang sembarangan. Alex begitu menakutkan.
"Pasien mengalami dehidrasi, harus di infus," ucap sang dokter.
"Lakukan yang terbaik untuknya!" sahut Alex.
Selama ini, Naura berjuang keras mengumpulkan uang. Dia selalu menahan rasa lelahnya. Dia juga kerap melewatkan waktu makannya. Ditambah dia shock, dengan apa yang Alex perbuat padanya.
Saat perawat hendak memasangkan infus di tangannya, Naura membuka matanya. Tiba-tiba saja perutnya terasa mual. Hingga dia langsung bangkit, dan turun dari ranjang. Naura langsung berlari ke kamar mandi, dan menumpahkan isi perutnya. Tubuhnya benar-benar lemas, seperti tak ada kekuatan. Wajahnya pun terlihat begitu pucat. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.
"Apa pasien saat ini sedang hamil?" tanya dokter yang menangani Naura. Sontak ucapan sang dokter membuat Alex terkejut.
"Ha-hamil? Maksud Anda istri saya seperti itu, karena saat ini dia sedang hamil?" tanya Alex memastikan.
"Bisa saja. Hal ini kerap terjadi pada kehamilan di trimester pertama. Kondisi tubuhnya sedang beradaptasi. Rata-rata wanita yang sedang hamil muda, mengalami seperti ini. Dia akan merasakan mual dan lemas. Kapan terakhir istri Anda datang bulan? Coba Anda konsultasikan ke bidan atau Tuan bisa beli alat tes kehamilan terlebih dahulu, untuk memastikan. Jika hasilnya positif, berarti benar. Istri Anda saat ini sedang hamil. Jika hasilnya negatif, berarti murni istri Anda hanya mengalami dehidrasi dan asam lambungnya meningkat," jelas Dokter Ardi.
Naura keluar dari kamar mandi, dan langsung berjalan ke arah Alex dan dokter yang sedang berbincang. Melihat Naura datang, Alex langsung merangkulnya.
"Sayang, kata dokter ada kemungkinan kamu seperti itu karena sedang hamil," ucapnya mesra. Dia menunjukkan kepada semua orang di sana, kalau dia adalah suami dari Naura.
"Ha--hamil?" Sama halnya dengan Alex, Naura pun begitu terkejut mendengarnya.
"Iya. Aku akan menyuruh Joy membeli alat tes kehamilan. Biar kamu bisa melakukan pengetesan. Semoga saja benar, kalau kamu memang benar sedang hamil," ucap Alex.
Alex melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Naura, menemui Joy di luar. Dia meminta Joy membeli alat tes kehamilan dua buah dengan merk yang berbeda.
"Nyonya Naura hamil, Tuan?" tanya Joy.
"Sudah sana, tak perlu banyak tanya! Lebih baik sekarang kamu lakukan perintah saya! Biar secepatnya saya bisa tahu hasilnya," jawab Alex ketus.
Ada perasaan senang di hati Alex, dia berharap hasilnya tak mengecewakannya. Dia tak menyangka, kalau Naura bisa hamil secepat itu. Dulu, mantan istrinya saja tak hamil-hamil. Meskipun mereka kerap melakukannya. Sampai dia sempat berpikir, kalau dirinya tak subur.
"Coba kamu lakukan tes sekarang! Biar kita tahu hasilnya," titahnya kepada Naura.
Alex memberikan kantong plastik berisi dua alat tes kehamilan. Naura mulai melakukan pengetesan. Tangannya sampai gemetar, saat dia mencelupkan alat tes itu ke dalam tabung berisi urine. Berbeda dengan Alex, Naura justru berharap hasilnya negatif. Dia tak ingin berhubungan lagi dengan Alex. Naura memilih ingin mengakhiri semuanya.
Air matanya menetes satu persatu. Harapannya musnah sudah. Alat tes yang dia gunakan, menunjukkan dua garis merah. Menandakan kalau dirinya sedang hamil anak laki-laki kejam itu.
"Sayang, gimana hasilnya?"
Alex mengetuk pintu kamar mandi, karena dia sudah tak sabar menanti Naura yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Dengan perasaan terpaksa, akhirnya Naura keluar dari kamar mandi. Dia sempat mematung, menatap Alex.
"Hei, mengapa kamu seperti itu? Bagaimana hasilnya?" tegur Alex.
Tanpa menjawab, Naura menunjukkan dua alat tes kehamilan yang dia gunakan.
"Ka--kamu, benar-benar hamil?" tanya Alex untuk memastikan. Naura menganggukkan kepalanya lemah, sebagai tanda jawaban pertanyaan Alex.
"Akhirnya, aku akan segera menjadi Daddy. Apa tubuh kamu masih lemas? Kalau masih, biar dokter memasangkan infus dahulu di tanganmu. Sampai kondisi kamu normal. Setelah itu, barulah kita kembali ke Jakarta," ucap Alex.
Naura diam tak bergeming. Dia mengumpat dirinya, mengapa dia harus hamil anak Alex. Sungguh, dia tak menginginkan anak ini. Dia pun tak ingin kembali ke Jakarta. Naura teringat ucapan Mami Berliana, yang tak akan pernah mengakui anaknya sebagai cucu dia. Penghinaan Mami Berliana masih terngiang di pikirannya.