Part 8. Hamil Anak Kembar

1308 Words
Alex melirik ke arah Naura yang sejak tadi hanya diam. Dia melihat wajah Naura yang terlihat murung. Dia yakin, kalau Naura merasa kecewa dengan kehamilannya. "Aku hanya minta waktumu sembilan bulan saja. Setelah itu, kamu boleh pergi dari hidupku. Kamu bisa melanjutkan kehidupan kamu, setelah anak itu lahir," ucap Alex memecah keheningan. "Mungkin, bagi Anda ini hal yang mudah. Tapi, tidak denganku. Bagaimana, kalau mami Anda tak menerima kehadiran Anak ini? Lebih baik, aku gugurkan saja anak ini," jawab Naura ketus. "Jangan! Jangan lakukan itu! Dia tak salah. Aku pun sudah sangat menantinya. Aku tak akan membiarkan kamu melakukan itu. Setelah kondisi kamu membaik, kita kembali ke Jakarta. Aku akan membawa kamu menemui orang tuaku. Semoga kehadiran anak itu, membuat mamiku berubah pikiran. Aku minta sama kamu, jangan keras kepala!" tukas Alex. Tak ada perbincangan lagi setelah itu. Alex tak akan melepaskan Naura. Dia pun langsung menemui asistennya, memerintah untuk melakukan penjagaan ketat terhadap Naura. Alex tak ingin kejadian waktu itu, terulang kembali. Dia tak akan membiarkan Naura membawa kabur anaknya. "Argh ...! Mengapa nasibku begitu sial? Mengapa aku harus berada di posisi ini?" Umpat Naura dalam hati. Alex meminta Joy membelikan Naura makanan, cemilan, dan juga buah. Tak lupa juga s**u hamil. Dia ingin memperhatikan asupan gizi yang di makan dan minum Naura. Alex ingin anaknya tumbuh sehat di rahim Naura. "Makanlah! Mulai sekarang, kamu harus memperhatikan kondisi kesehatan kamu. Ingat, di dalam rahim kamu sudah ada anakku! Aku ingin dia selalu sehat dan terlahir normal," ujar Alex. "Aku tidak lapar! Nanti saja." Naura berkata sinis. Alex menghela napas panjang. Dia tak menyangka, kalau Naura aslinya sangat kerap kepala. Hingga akhirnya, dia terpaksa memaksa Naura untuk makan. Bahkan, dia sampai menyuapi Naura makan. "Semua yang aku lakukan ini. Hanya semata-mata, karena kamu sedang mengandung anakku. Bukan karena aku mencintai kamu," ucap Alex dengan sombongnya. Sakit rasanya, dia mendengarnya. Naura memalingkan wajahnya sinis. Dia pun tak meminta Alex mencintai dia. Dia juga sudah berjanji dalam hatinya, untuk tidak mencintai Alex. Daripada nantinya dia akan merasa sakit hati yang luar biasa. Tak ada pilihan lagi untuknya, selain menerima semua ini. Benar apa yang dikatakan Alex, dia hanya perlu menunggu sampai anak dalam kandungannya terlahir ke dunia. Entah kehidupan seperti apa nantinya. Alex akan menjadikan dia seperti seorang tawanan. Naura terpaksa membuka mulutnya, menerima suapan makanan dari Alex. Kondisi Naura sudah berangsur pulih, Alex memutuskan untuk mengajak Naura kembali ke Jakarta. Mereka saat ini sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. "Jika kamu mengantuk, tidur saja! Perjalanan kita masih sangat jauh," cicit Alex memecah keheningan. "Aku tak mengantuk," jawabnya sinis. Naura melirik ke arah laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya, Alex terlihat sudah tertidur nyenyak. Wajahnya terlihat lelah. Semalam, dia tak bisa tidur karena merasa tak nyaman. "Semoga saja, nenek kamu menerima kehadiran kamu," ucap Naura dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata. Sepanjang perjalanan, Naura terus menatap ke arah jalanan. Tatapannya seperti kosong. Tentu saja hal itu, menjadi perhatian Joy. Sesekali dia memperhatikan Naura dari kaca spion di dalam mobil. "Kasihan Naura. Semoga saja nyonya besar mau menerima kehadirannya dan bayi dalam kandungannya. Aku yakin, kalau dia wanita yang baik untuk Tuan Alex," ucap Joy dalam hati. Tiba-tiba saja Naura merasa mual. Naura berusaha menahannya. Tapi, tak bisa. "Aku mohon berhenti! Aku sudah tak tahan," pintanya. Alex pun akhirnya terbangun, mendengarnya. Setelah Joy memberhentikan mobilnya, Naura langsung turun dari mobil, dan berlari untuk memuntahkan isi perutnya. Alex turun dari mobil, untuk melihat keadaan Naura. Wajah Naura yang terlihat pucat. Tubuhnya pun terasa lemas, dan bergetar. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Naura mencoba menyapunya. "Gimana keadaan kamu? Kita menginap saja dulu di hotel. Besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Alex. "Lagian sih kamu, kabur jauh-jauh. Sudah tak bisa di jangkau pesawat," protes Alex. Naura tak menanggapi. Kepalanya sekarang terasa sakit. Dia tak bisa menolak ucapan Alex. Mungkin, memang terbaik seperti itu. Kehamilannya membuat dia terasa lemah. Hingga akhirnya malam ini mereka harus menginap di hotel. "Tuan, mengapa kita tidur satu kamar?" Protes Naura panik. Alex tahu apa yang dipikirkan Naura. "Apa kata orang, kalau kita tidur di kamar terpisah? Lagipula, aku tak segila itu. Tak perlu khawatir. Aku tak akan menerkammu," jawab Alex. Naura merasa canggung satu kamar dengan bosnya, meskipun mereka adalah pasangan suami istri. Di rahimnya pun sudah ada benih majikannya. "Bersihkan tubuhmu, dan segeralah tidur!" titah Alex. Naura menganggukkan kepalanya dan langsung ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat. Dia sekarang sudah mulai segar. Naura tampak bingung, berpikir dia tidur di mana. Di sana hanya ada satu ranjang ukuran cukup besar, dan tak ada sofa. Hotel itu sangat jauh dari kata mewah. Alex terpaksa menyewa di hotel itu, karena mereka harus menghentikan perjalanan. "Kenapa diam?" tegur Alex. Naura menggelengkan kepalanya, menepis yang dia rasakan saat itu. Dia pun akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya sudah sangat lelah, dia harus istirahat. Setelah Alex selesai mandi, dia melihat Naura yang sudah terlelap. "Kasihan dia. Gara-gara mengandung anakku, dia jadi tersiksa. Ah, tidak-tidak! Bukankah itu memang tugasnya? Aku sudah membayarnya sangat mahal." Dia pun segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia ingin segera menyusul Naura. Naura meremang, saat merasakan tangan kekar Alex memeluknya seperti guling. Membuat dia kesulitan bergerak. Naura mencoba melepaskan tangan Alex. Dia hendak buang air kecil. Alex tersentak kaget, dan langsung melepaskan pelukannya. Dia tak habis pikir, mengapa dia memeluk Naura. "Sial! Mengapa aku merasa nyaman, tidur sambil memeluknya," umpatnya dalam hati. Alex berpura-pura tidur kembali, menutupi rasa malunya di hadapan Naura. Gengsinya sangat tinggi, untuk mengakuinya. Lagipula, dia tak ingin membuka hatinya untuk Naura. Baginya, Naura hanyalah wanita yang dia sewa untuk mengandung benihnya sampai anak itu terlahir ke dunia. Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Jakarta. Alex memperhatikan gerak-gerik Naura yang tampak gelisah. Naura mengalami ngidam yang cukup parah. Rasanya dia sudah tak sanggup menahannya. Hingga akhirnya dia alihkan dengan tidur selama perjalanan. Akhirnya, mereka sudah sampai Mansion. Alex meminta Naura langsung ke kamarnya. "Aku minta sama kamu. Jaga kandungan kamu dengan baik! Aku ingin anakku terlahir sehat tanpa kurang satupun," ucap Alex dan Naura menganggukkan kepalanya. * Naura merasa gugup. Pasalnya, hari ini dia akan berhadapan dengan Mami Berliana. Tak bisa terbayangkan, reaksi Mami Berliana saat mengetahui kehamilannya. Entah dia menerimanya, atau justru menolaknya. "Apa sudah siap? Kita berangkat sekarang," ujar Alex yang baru saja masuk ke dalam kamar. Naura menganggukkan kepalanya, kemudian menyambar tas jinjingnya. Dia sedikit memoles wajahnya, menutupi wajah pucatnya. Dia terlihat anggun, menggunakan dress selutut berwarna peach. Selama dalam perjalanan Naura terlihat hanya diam. Rasa tegang menyelimutinya. Seakan dia bertemu malaikat pencabut nyawa. Hal itu justru, sangat berbeda dengan yang Alex rasakan. Sebelum ke Mansion Mami Berliana, mereka mampir dulu ke rumah sakit untuk memastikan kehamilan Naura. Mobil yang membawa mereka sudah sampai di sebuah rumah sakit, pastinya rumah sakit yang mewah yang menjadi pilihan Alex. Dalan segi fasilitas, Alex akan memanjakan Naura dengan fasilitas mewah. Mereka menunggu, saatnya Naura diperiksa. "Semoga anakku baik-baik saja," ucap Alex. Berbeda halnya dengan Naura, yang justru berharap anak itu tak bisa dipertahankan. Dia ingin pertemuan Mami Berliana, tak akan pernah terjadi. Kini saatnya Naura yang giliran diperiksa. Mereka masuk bersama. Dokter menanyakan keluhan yang Naura rasakan, Alex meminta Naura memberikan alat tes kehamilan yang dia gunakan. "Baiklah. Sekarang, coba Nyonya Naura berbaring dulu di ranjang. Kita akan lakukan USG, untuk memastikan kondisi kehamilannya," ucap sang dokter. Naura pun mengikuti perintah sang dokter. Dokter mulai mengoleskan gel USG di perutnya, dan meletakkan transducer di perutnya. Kemudian, dia mulai menggerakkannya secara perlahan. "Selamat, janin Nyonya Naura kembar. Di sini terdapat dua kantung bayi. Kondisinya sehat. Namun, Nyonya Naura tetap harus memperhatikan kondisi kehamilannya. Trimester pertama, kondisi masih sangat lemah," jelas sang dokter. Alex terlihat begitu bahagia, dia akan mendapatkan dua orang anak sekaligus. Dia yakin, maminya pasti akan senang akan mendapatkan dua orang cucu sekaligus. Berbeda halnya dengan Naura yang justru merasa gelisah. "Apa Nyonya Berli akan menerima kedua calon cucunya?" gumam Naura dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD