Selama dalam perjalanan, Naura terlihat hanya diam. Baginya, tak ada lagi yang perlu dia bicarakan lagi kepada Alex. Dia hanya bisa berharap, waktu segera berlalu. Sampai akhirnya dia bisa terlepas dari Alex.
"Kita akan langsung menemui kedua orang tuaku," ucap Alex menyadarkan lamunan Naura.
"Tuan, apa Anda yakin dengan yang akan Anda lakukan?" tanya Naura memastikan kembali.
"Tentu saja. Inilah saat-saat yang mereka nantikan dariku. Akhirnya, aku akan memiliki anak. Kamu tak perlu cemaskan hal itu! Aku akan tetap pada tujuan awalku," jawab Alex dengan penuh keyakinan.
Mereka sudah sampai di Mansion orang tua Alex. Tubuh Naura bergetar, wajahnya terlihat tegang. Jantungnya pun berdegup kencang. Dia tak merasa yakin, kalau mami dari suaminya itu akan menerima kedua anak dalam kandungannya.
"Ayo, turun!"
Naura berjalan mengekor di belakang Alex. Sejak turun dia memilih menunduk, untuk menutupi perasaan gugupnya.
"Duduklah dulu di sini, aku ingin menghampiri kedua orang tuaku di kamarnya," ucap Alex dan Naura menganggukkan kepalanya.
Alex langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang beristirahat di kamarnya. Mendengar suara ketukan pintu kamarnya, Mami Berliana bergegas untuk membukanya.
"Alex? Tak biasanya kamu datang. Laura bilang, kamu sedang ada pekerjaan di luar kota." Mami Berliana berkata.
Melihat anaknya datang, Papinya pun ikut bangun.
"Aku datang membawa kabar bahagia. Saat ini Naura sedang hamil anakku. Dia sedang hamil anak kembar," ungkap Alex.
Mata Mami Berliana langsung membulat sempurna. Dia begitu terkejut mendengarnya. Dia tak menyukai hal ini.
"Sudah mami katakan, mami tak akan pernah menerima anak dari wanita itu! Lagipula, belum tentu juga itu anak kamu," jawab Mami Berliana sinis.
"Ma--maksud Mami apa berkata demikian? Alex tak mengerti," sahut Alex.
"Wanita itu pergi meninggalkan kamu cukup lama. Bisa saja dia melakukannya dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya dia hamil. Mau saja kamu dibodohi wanita itu. Jangan langsung percaya!" Ujar Mami Berliana.
Alex sempat terdiam, yang dikatakan maminya memang ada benarnya. Tapi, apa mungkin Naura bersikap demikian? Rasanya, tak mungkin. Alex justru tak percaya, kalau Naura melakukannya dengan laki-laki lain. Meskipun mereka terpisah cukup lama.
"Dia bukan wanita seperti itu. Alex yakin itu. Meskipun Mami tak menerima kedua anak itu. Alex pikir, kehadiran kedua anak itu bisa mengubah pendirian Mami. Tapi ternyata, Aku salah." Alex berkata sinis.
"Mami tak menyangka, kamu lebih membela wanita kampung itu. Dibandingkan mami kamu sendiri. Mami yakin, suatu hari nanti kamu akan menyesali perbuatan kamu. Sudah sana pergi! Mami tak ingin melihat kamu. Jangan pernah injakan kaki kamu di Mansion ini, jika kamu masih bersama wanita itu. Kamu akan menyesal lebih memilih wanita itu, daripada Laura," sahut Mami Berliana.
"Sudahlah, Mi. Jangan berkeras hati! Alex sudah dewasa. Dia sudah bisa memilih, mana yang terbaik untuknya. Mungkin, dia lebih merasa nyaman dengan wanita sederhana. Apalagi sekarang, sudah ada benihnya di rahim wanita itu. Restu saja pernikahan mereka," ucap Papi Samuel.
"Oh, jadi papi ikut membela wanita itu? Dia itu hanya seorang pelayan. Tak pantas untuk Alex. Lagipula, wanita itu sudah sempat pergi beberapa bulan. Mami yakin, janin yang dikandungnya sekarang. Bukan anak Alex. Wanita itu licik, dia tak akan melepaskan Alex begitu saja. Makanya, dia mengaku-ngaku kalau anak itu anak Alex."
"Mami salah! Alex justru yang mencari keberadaan dia, dan Alex juga yang memaksa dia untuk tetap bersama Alex. Dia pun tak menginginkan anak itu, karena tak ingin terikat dengan Alex. Jadi, Alex minta sama mami. Jangan pernah berpikir, kalau Naura yang menjebak Alex. Alex sendiri yang sudah menitipkan benih di rahimnya. Sudahlah, Alex cape. Alex ingin segera pulang, dan beristirahat." Alex mencoba menjelaskan. Namun, maminya masih saja bersikeras.
Alex langsung pergi meninggalkan kamar orang tuanya, dan mengajak Naura pulang. Selama dalam perjalanan, Alex terlihat hanya diam. Naura pun tak berani bertanya kepada Alex.
"Pasti maminya tak mau menerima kehadiran kedua anak ini," gumam Naura.
"Apa kamu yakin, kalau anak itu adalah anakku?"
Naura membelalakkan matanya, tak percaya mendengar penuturan Alex. Meskipun dia tak menerima kehadiran kedua janin di dalam rahimnya, hatinya tetap saja merasa sakit.
"Apa Tuan meragukannya? Jika ragu, gugurkan saja anak ini! Kasihan, jika nantinya Anda tak mengakuinya," jawab Naura.
"Bukan seperti itu. Beberapa bulan ini kamu sempat menghilang. Apa kamu tak melakukannya dengan laki-laki lain?" Alex berkata.
Naura tersenyum sinis.
"Memangnya, Anda pikir saya w************n, yang rela menjual tubuhnya ke banyak laki-laki? Saya memang miskin. Tapi, saya masih punya harga diri. Lebih baik saya cape memasak, untuk jualan. Jika memang Anda merasa ragu dengan kedua anak ini. Anda bisa melepaskan saya, membiarkan saya pergi dari hidup Anda," jawab Naura, membuat Alex tak bisa berkata-kata.
Sungguh, dia tak menginginkan hal ini. Alex menginginkan anak itu. Meskipun hatinya sedikit goyah, karena penuturan maminya. Namun sekarang, dia tak ingin mengambil pusing. Nantinya, dia bisa melakukan tes DNA untuk meyakinkan dirinya. Kalau kedua anak itu, memang anaknya.
Mereka sudah sampai di Mansion. Kedua pun turun dari mobil.
"Jangan pernah coba-coba kabur lagi dari hidupku!"
Kali ini Alex akan melakukan penjagaan ketat terhadap Naura. Dia tak akan membiarkan Naura pergi sendiri meninggalkan Mansion.
"Kita langsung ke kamar! Kamu perlu beristirahat. Ingat, kamu harus menjaganya dengan baik," ucap Alex.
Dia tak membiarkan Naura berbincang dengan Leticia. Naura mengikuti Alex masuk ke kamarnya. Tanpa rasa malu, Alex membuka seluruh pakaian hendak mandi. Spontan Naura menutup matanya dengan kedua tangannya, membuat Alex terkekeh dalam hati.
"Dasar wanita polos! Sudah melihat dan merasakan berkali-kali saja. Dia masih saja merasa malu," umpat Alex dalam hati.
Naura merasa tersiksa berada satu kamar dengan majikannya, meskipun majikannya sekarang adalah suaminya. Alex terlihat sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Naura masih terlihat diam terpaku.
"Hei, mengapa kamu tak ikut berbaring? Apa kamu takut, aku akan menerkammu? Segeralah mandi, dan beristirahat!" Suara barito Alex begitu menakutkan.
Alex terlihat sudah memejamkan matanya, saat Naura keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menghampiri ranjang, dan naik secara perlahan. Dia tak ingin mengganggu tidurnya Alex. Perlahan, dia pun memejamkan matanya. Hingga akhirnya dia ikut tertidur menyusul Alex yang sudah lebih dulu tertidur nyenyak. Suara dengkuran Alex pun sudah terdengar.
"Aku akan memisahkan kamu dari Alex, dan membuat kamu keguguran. Sampai kapanpun, aku tak menerima kehadiran kamu ataupun kedua bayi itu. Aku tak sudi memiliki cucu dari wanita miskin sepertimu!" Dia sedang memikirkan cara, memisahkan Alex dari Naura.
"Apa aku perlu meminta bantuan Laura, agar Alex meninggalkan wanita kampung itu?"
"Aku harus segera bertemu Laura. Agar tidak berlarut-larut. Aku tak akan membiarkan Alex mencintai wanita itu," ucap Mami Berliana menyeringai licik.