Suara ketukan pintu dari luar kamar memaksa Rani untuk membuka matanya.
Dengan berat hati dia bangkit dari atas kasur, lalu berjalan menuju pintu, kemudian membukanya lebar.
Terlihat sosok Arya berdiri dengan tubuh sempoyongan. Aroma minuman keras menguar dari diri pria itu.
Rani menutup hidungnya, dia tidak suka mencium aroma tersebut.
“Lo mabuk lagi?” tebak Rani.
Arya tak menanggapi, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
“Eh, ngapain lo masuk ke kamar ini?” tukas Rani.
Arya menoleh, pandangannya tertuju pada sosok Rani yang menatapnya jengkel.
“Lo.” Tangan Arya menuding Rani tegas. Dia bahkan mendorong tubuh Rani dengan telunjuknya. “Dasar bocah kampung. Lo pikir kamar ini punya lo hm? Ini kamar gue,” tukasnya.
Walaupun perkataan Arya terdengar melantur, tapi ucapannya itu membuat Rani merasa kesal, terlebih dia memang sudah sangat membenci Arya setelah beberapa kali mulut pedas pria itu menghina dan meremehkan dirinya.
“Tapi Bude Eni bilang kamar ini milik gue selama gue ada di sini,” tukas Rani.
“Selama lo ada di sini?” Arya tersenyum miring dengan perkataan Rani barusan. “Ya, selama lo ada di sini, hidup gue jadi sangat kacau,” tuturnya.
“Gue padahal berencana lamar Jean tahun ini, tapi gara-gara lo ....” Arya menatap jijik sosok Rani yang berdiri di depannya. “Gara-gara lo rencana gue berantakan,” lanjut Arya.
Tawa getir Arya kemudian terdengar.
“Sialnya gue malah nikah sama perempuan kayak lo,” imbuh Arya.
Rani memalingkan wajahnya, berusaha meredam emosi yang bergejolak di hatinya.
“Denger, ya. Lo itu harusnya sadar diri. Lo enggak pantes jadi istrinya Arya Jencarlos. Yang pantes jadi istri gue itu cuma Jean Arsila. Dia cantik, tubuhnya sempurna, dia juga wanita karir yang sukses,” cakap Arya, kemudian matanya menatap Rani penuh penilaian. “Sedangkan lo ....”
“Lo enggak bosen bangga-banggain cewek lo terus? Gue muak dengernya.” Rani menyela dengan tegas, matanya menatap Arya nyalang.
Arya tertawa mengejek. “Kenapa? Hati lo panas denger fakta yang gue ucapkan?” ujarnya, semakin meremehkan perempuan di depannya itu.
“Satu hal yang harus lo tahu, Kak Arya. Gue juga enggak pernah berharap nikah sama lo. Andai gue bisa milih, gue juga enggak mau jadi istri lo,” sungut Rani. “Dan kalau bukan demi kerhormatan keluarga gue, gue mungkin bakal lebih milih melajang seumur hidup daripada harus menjalani pernikahan dengan orang seperti lo,” tandasnya.
Arya tersenyum miring, dia menganggap perkataan Rani bagai sebuah omongan yang tak penting. Dia benar-benar memandang remeh sosok Rani yang terlihat bagai kutu yang hinggap dan mengganggu hidupnya.
Rani yang tak tahan akhirnya memilih untuk pergi dari kamar itu. Dia melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar yang menjadi saksi bisu atas kejadian nahas yang mengubah seluruh alur hidupnya.
Rani mendesah kesal, andai saat itu dia memilih untuk tidak ikut datang ke Jakarta, mungkinkah nasibnya tidak akan serumit ini?
***
Bunda Eni berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. Manik mata hitamnya itu menatap tajam sosok Arya yang belum bangun dari tidurnya.
“Arya, bangun,” tegas Bunda Eni.
Awalnya Arya tak memberikan respons apa-apa. Pria itu masih tersungkur nyaman dalam mimpi indahnya.
Namun, sebuah air dingin kemudian mengguyur deras wajah Arya, membuat pria itu langsung terbangun dari alam bawah sadarnya.
Arya terlonjak, mimpi indahnya hancur berkeping, padahal sedikit lagi dia dan Jean hampir sampai pada titik puncak.
Arya dengan lesu menghadap sosok ibunya yang terlihat menatapnya penuh amarah.
“Bunda hobi banget sih gangguin aku tidur,” protes Arya, dia mengerjap, kemudian mengusap wajahnya yang basah, saat itulah Arya baru menyadari bahwa sang ibu sudah mengguyurnya dengan air es. “Bunda siram aku lagi?” tanyanya.
“Biar kamu cepet sadar dari efek mabuk minuman keras yang kamu minum semalam,” tukas Bunda Eni.
Arya diam tak menanggapi. Dia mengaku salah karena sudah ingkar janji lagi.
“Kamu kalau masih mau mabuk-mabukan, minggat aja dari rumah ini, Arya,” cakap Bunda Eni. “Dan setelah kamu keluar dari rumah ini, jangan pernah anggap aku sebagai ibumu lagi,” tandasnya.
Arya masih diam, tak berani membantah.
Ya, inilah sisi baik Arya. Sekalipun di luar sana dia terkenal sangat keras, arogan dan sarkas. Tapi di depan ibunya, dia bagai anak kecil yang penurut.
Bukan berarti Arya anak mama yang pengecut. Tapi sikap patuhnya ini adalah caranya menghormati sosok perempuan yang sudah berjuang atas kehidupannya.
Arya sangat menghormati dan menyayangi ibunya yang sudah melahirkannya dan membesarkannya dengan penuh perjuangan. Itulah alasan mengapa Arya tidak pernah meninggikan suaranya di depan sang ibu, bahkan satu kali pun dia tidak pernah bersikap keras pada ibunya.
“Maaf,” lirih Arya. “Aku janji enggak akan mabuk-mabukan lagi,” cakapnya.
Bunda Eni mengembuskan napas berat. “Bunda bosen denger janji kamu terus, pada akhirnya kamu juga bakal ingkar janji lagi kan,” ujarnya.
Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia sendiri juga tidak yakin akan menepati janjinya atau tidak. Karena melawan godaan alkohol adalah hal yang sulit bagi Arya, apalagi saat dirinya sudah bercampur dengan dua teman berengseknya.
“Satu lagi yang mau bunda omongin sama kamu. Kenapa kamu tidur di sini? Kamu usir Rani dari kamar ini?” tanya Bunda Eni kemudian.
“Aku enggak usir dia kok,” kilah Arya, dia tidak begitu ingat dengan jelas apa yang terjadi semalam. Tapi Arya yakin dia tidak mungkin mengusir Rani dari kamar ini.
“Bunda kan pernah bilang sama kamu. Selama Rani tinggal di sini, kamar ini milik dia. Kamu jangan pura-pura lupa, Arya.”
“Iya, aku masih inget,” jawab Arya, menanggapi perkataan ibunya.
“Terus kenapa semalam dia bisa tidur di sofa ruang tamu, sedangkan kamu enak-enakan tidur di sini?” tanya sang ibu.
“Ya mana aku tahu,” cicit Arya.
Bunda Eni menggebuk cukup keras bahu putranya itu. “Rani enggak mungkin pergi dari kamar ini kalau kamu enggak asal masuk dan tidur di sini, Arya,” sungut Bunda Eni. “Ini nih yang buat kejadian malam itu terjadi, sampai Rani harus rela nikah sama laki-laki kayak kamu,” tukasnya.
“Bunda bilang gitu seolah-olah aku ini laki-laki buruk,” protes Arya.
“Arya, Bunda ini ibu kamu. Bunda tahu apa yang buruk dari kamu. Karena itu bunda ngerasa bersalah sama Rani. Harusnya dia bisa menikah dengan laki-laki yang baik, tapi gara-gara kamu merusaknya, dia jadi terpaksa menikah sama laki-laki seperti kamu.”
Arya terbengong mendengar perkataan ibunya barusan. Bisa-bisanya ibunya itu justru membela Rani alih-alih dirinya. Arya tahu kalau Bunda Eni sejak dulu sangat menyayangi Rani seperti anak perempuannya sendiri. Tapi haruskah ibunya itu menjelekkan dirinya yang notabennya adalah putra kandungnya sendiri. Seketika Arya merasa sangat cemburu.
“Bunda, harusnya aku yang rugi nikah sama dia. Aku bisa aja nikah sama perempuan yang lebih—”
“Sudahlah, Arya. Kamu jangan berusaha membela diri kamu sendiri. Sana buruan mandi. Setelah mandi datanglah ke ruang tengah,” suruh Bunda Eni.
“Ngapain ke ruang tengah?” tanya Arya.
“Bahas pernikahan kamu sama Rani,” jawab Bunda Eni. Setelah itu beliau berlalu pergi dari dalam kamar tersebut, meninggalkan Arya yang terlihat menghela napasnya berat.