Para Bad Boy Kelas Atas

1151 Words
Diamond Sky, sebuah klub malam yang terkenal mewah di salah satu daerah Jakarta Selatan. Seperti malam-malam sebelumnya, klub itu terlihat meriah seperti biasa. Apalagi saat si primadona klub tiba dan langsung naik ke lantai DJ. Semua orang bersorak sorai, meminta pria itu agar lekas memainkan musiknya. Arya, dialah DJ yang terkenal di klub itu, bahkan banyak palancong dari luar negeri sampai terpesona dengan permainan musiknya. Setelah satu jam memegang kendali kehebohan lantai dansa. Arya pun pergi menuju lantai dua, tempat para black card berkumpul. “Lihat siapa yang datang,” ujar seorang pria bertato. Namanya Bagas Adipura, seorang anak konglomerat pemilik tambang timah. Arya tersenyum, lalu menyapa pria itu dengan sapaan khas mereka. “Musik lo hari ini lebih b*******h, lo lagi ada masalah?” tanya Bagas. Arya tersenyum miring, dia paling benci dengan temannya satu ini, pria itu selalu berhasil menebak suasana hatinya. “Seorang Arya mana mungkin ada masalah, apalagi dia punya segalanya,” komentar pria lain. Namanya Willy Bramansyah. Tentu saja dia juga merupakan seorang pria kaya, dia memiliki bisnisnya sendiri sejak berusia 24 tahun, kini perusahaan distributor bahan bangunannya berkembang pesat dan terbilang sukses. Terlebih, ayahnya merupakan seorang petinggi perusahaan besar di China. Sedangkan ibunya merupakan seorang profesor fakultas ekonomi di universitas ternama. Tiga sekawan itu adalah para pria berparas tampan dengan harta kekayaan yang melimpah. Karena itu sejak SMA mereka sering disebut sebagai primadona, secara harfiah mereka adalah three flower atau kembang tiga rupa yang semerbak harumnya. Sebab setiap kali ada mereka, maka para gadis pasti akan berkumpul, menatap dengan kagum. “Sialnya, orang sepertiku sekarang lagi apes banget,” curhat Arya. Bagas tersenyum miring. “Emangnya lo apes kenapa? Kekurangan dana? Bisnis lo enggak jalan? Atau klinik lo sekarang sepi?” terkanya. “Kalau soal uang, lo tenang aja, Arya. Kita berdua bisa jadi sugar daddy lo kok,” sahut Willy, kemudian tertawa renyah bersama Bagas. “Apaan sih lo berdua, jijik banget,” komentar Arya. “Tck, bercanda doang. Lo kok jadi kaku banget sih. Enggak seru ah,” kata Bagas sambil menegak minuman keras yang ada di selokinya. Arya mengembuskan napas berat. “Gue bentar lagi bakal nikah,” tutur Arya. Bagas tersedak. Willy yang sedang berciuman dengan salah satu gadis club langsung menoleh ke arah Arya. Dua pria itu menatap Arya dengan raut kaget mereka. “Lo serius?” tanya mereka, hampir bersamaan. “Emang muka gue kelihatan bercanda,” sungut Arya. “Tapi enggak masalah sih lo nikah. Akhirnya lo bisa klaim Jean jadi milik lo seorang,” kata Bagas, dia mengira Arya akan menikah dengan Jean, gadis cantik impian semua pria. “Kalau gue nikah sama Jean, mood gue enggak akan sejelek ini. Gue juga pasti bakal heboh dan traktir kalian minum sepuasnya,” ujar Arya. “Maksud lo, lo bukan nikah sama Jean? Karena muka lo sekarang kelihatan banget kayak tahu busuk, masem,” kata Willy. Arya mendelik, rasanya ingin memukul kepala teman karibnya itu. “Jadi lo mau nikah sama siapa, Ar?” tanya Bagas. “Gue dipaksa nikah sama adek sepupu gue,” terang Arya, tampak sangat frustrasi, pria itu bahkan mengacak rambutnya kesal. “Dipaksa?” Kening Bagas dan Willy berkerut, mereka menatap dengan raut heran. “Kok bisa?” tanya Willy pada Arya. “Beberapa hari yang lalu setelah gue pulang dari perayaan Black Lotus, gue langsung pulang ke rumah nenek dalam keadaan mabuk, dan karena pengaruh minuman keras, gue sama adek sepupu gue ....” Arya mendesah pelan, merasa kesal setiap kali mengingat kejadian malam itu. “Lo perkaos adek sepupu lo sendiri?” tebak Willy. “Gila lo, mana mungkin gue sebejat itu,” omel Arya, tak terima asal dituduh begitu. “Lah tadi lo sendiri yang bilang kalau lo pulang dalam keadaan mabuk dan lo sama adik sepupu lo pasti ngelakuin ‘sesuatu’ kan?” ujar Willy. Bagas mengangguk membenarkan asumsi Willy. Arya bernapas berat, dia menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Gue emang dikira sama keluarga udah ngelakuin hal enggak senonoh ke bocah itu, tapi gue inget bocah itu juga sadar waktu gue mulai kehilangan kendali. Gue yakin dia yang mancing gue. Tapi ....” Arya mengusap wajahnya kasar. “Dia manipulatif banget, dia enggak mau ngaku dan bisanya cuma nangis doang, akhirnya semua orang nuduh gue yang salah,” kesalnya. Bagas dan Willy tertawa mendengar kemalangan yang menimpat teman karibnya itu. “Sumpah gue jadi penasaran sama adek sepupu lo. Dia cantik enggak? Lebih cantik dari Jean?” tanya Bagas. “Cantik apanya. Dari ujung rambut dia sampai ujung kakinya, sedikit pun enggak ada yang bisa dibandingin sama Jean,” cakap Arya. “Jadi maksudnya, dia di bawah rata-rata?” tebak Willy. Arya mengangguk. “Tck, gue jadi makin penasaran. Bisalah lo ketemuin kita sama dia,” cakap Bagas. Arya kembali menghela napasnya. “Dia adeknya Rendy,” ujarnya kemudian. “Rendy? Maksud lo Rendy yang kita kenal? Rendy Brata Pamungkas?” tanya Willy. “Ya iya, emang Rendy yang mana lagi,” cakap Arya, kembali bersandar dengan raut putus asanya. “Wah, gila sih lo, padahal lo sama Rendy itu udah kayak saudara kandung sendiri, bisa-bisanya lo sentuh adeknya,” komentar Willy. “Berarti lo ibaratnya kayak makan adek saudara lo sendiri dong,” imbuhnya. Arya memukul kepala Willy gemas, sejak tadi temannya itu asal melantur saja. Kemudian Arya menyuruh para wanita club untuk menyingkir dari area itu, hingga tersisa hanya mereka bertiga. “Gue sama itu bocah udah sepuluh tahun enggak ketemu,” terang Arya. “Walaupun lo enggak ketemu sama dia selama seribu tahun, selagi dia adek kandungnya Rendy, harusnya jangan lo sentuh lah, Ar,” cakap Willy. Arya mendengus. “Gue juga ogah sentuh dia kalau gue dalam kondisi sadar, Wil. Masalahnya waktu itu gue mabuk,” kesalnya, emosi sendiri. “Jadi sekarang keluarga kalian mutusin buat nikahin lo sama adek sepupu lo itu?” Arya mengangguk. Bagas bernapas berat, begitu juga dengan Willy, ikut pusing sendiri memikirkan peliknya masalah yang Arya hadapi. “Terus lo mau gimana? Secara lo enggak bisa ngelak dari pernikahan itu kan,” kata Bagas. “Bener, lo enggak bisa ngehindar dari pernikahan itu. Apa lo udah bilang masalah ini ke Jean?” sahut Willy. “Itu yang lagi gue pikirin. Dan gue punya rencana kalau gue bakal rahasian pernikahan gue ini dari Jean,” cakap Arya. “Maksudnya lo masih tetep mau menjalin hubungan sama Jean, walaupun nanti lo udah nikah sama adek sepupu lo itu?” tanya Bagas. “Iya.” “Lo serius, Ar? Lo enggak kasihan sama adeknya Rendy?” tanya Willy. “Dia juga udah tahu kalau gue punya cewek, dan ya mau enggak mau dia harus terima kenyataan itu,” tutur Arya. “Gimana kalau dia ngadu sama keluarga kalian?” Arya mengembuskan napas beratnya, kemudian dia menuang minuman keras ke dalam seloki, lalu menegaknya dalam satu kali tegukan. “Gue bakal berusaha atasin bocah itu dengan cara gue,” cakap Arya sambil mengurai senyum miringnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD