Derit suara pintu terdengar. Rani menoleh, dia mengernyit saat Arya masuk ke dalam kamar yang disinggahinya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Rani, ketus.
"Gue mau bicara sama lo," cakap Arya, kemudian duduk di ranjang yang biasa dia tiduri.
"Bicara apa?"
"Gue mau pernikahan kita enggak ada yang tahu," ujar Arya.
Rani menyipit. "Maksud lo?"
"Gue enggak mau orang lain tahu kalau kita akan menikah," ulang Arya, kali ini dia mengeja setiap hurufnya dengan penuh penegasan.
"Lah, keluarga kita kan udah pada tahu," ujarnya. "Penghulu, saksi, sama tetangga lo pasti juga bakal tahu," cakap Rani.
Arya bernapas berat, kemudian bangkit dan melangkah maju mendekat pada tubuh Rani. Dalam jarak yang sangat minim, dia mengintimidasi Rani melalui tatapan tajamnya.
"Lo bisa enggak jangan deket-deket, kalau mau bicara ya bicara aja, enggak usah nempel-nempel kayak gini," protes Rani, mengalihkan pandangannya saat wajah Arya dirasa sangat dekat dengannya.
Arya tersenyum miring, dia lantas mundur satu jengkal, memberi sedikit jarak antara dirinya dan adik sepupunya itu.
"Gue enggak mau kejadian siang tadi terulang lagi," cakap Arya kemudian.
"Ha?" Rani melongo, tak paham dengan perkataan Arya barusan. Memangnya kejadian apa yang Arya maksud?
"Lo enggak dungu kan?"
"Apaan sih. Lo tuh yang dungu," balas Rani, tak terima dicibir sembarangan.
"Bisa enggak sih lo serius dikit?"
"Ya ini gue lagi serius," sungut Rani. "Lagian lo tuh kalau ngomong yang jelas. Mana gue paham lo tiba-tiba larang gue ngulang kejadian siang tadi. Emangnya kejadian apaan," tandasnya.
Arya mendesah frustrasi. "Dengerin baik-baik," ucapnya kemudian.
"Iya gue udah dengerin," cakap Rani, dengan tampang terpaksanya dia menatap Arya.
Arya mengembuskan napasnya berat, kemudian dia berkata dengan sorot tegasnya, "Jangan pernah bilang kayak gitu lagi di depan Jean."
"Ha?"
Lagi-lagi Rani dibuat bingung sendiri karena Arya kembali memberikan larangan tanpa menjelaskan apa yang tidak boleh dia lakukan.
Rani pun hanya bisa merespons dengan raut bengong seperti sebelumnya, dan tentu saja Arya pasti sebal dibuatnya.
"Ha terus. Lo bisa enggak sih nanggepinya yang serius dikit?" desah Arya, kesal sendiri melihat respons Rani yang tak sesuai kemauannya.
"Ya gue udah serius ini," ujar Rani.
"Lo paham maksud gue?"
Rani diam. Kemudian menggeleng pelan dengan raut polosnya.
"Astaga. Lo beneran otak udang ya," kesal Arya.
Bola mata Rani melotot. "Mulut lo kalau ngomong emang suka seenaknya banget, ya," kesalnya. "Lagian bisa enggak sih lo kalau ngomong yang jelas, harus berapa kali gue bilang, ngomong yang jelas, Kak Arya," tutur Rani, tersulut emosi.
Arya menatap tak peduli. Menurutnya dia sudah cukup jelas memberitahu Rani, harusnya perempuan itu paham tanpa perlu dia mengatakan detailnya.
Begitulah Arya, dia ingin orang-orang yang ada di dekatnya cepat tanggap dengan apa yang dia ucapkan.
Padahal kenyataannya tak semua orang bisa mengerti apalagi memahami dirinya begitu saja.
"Gue ingetin ke lo ya," ucap Arya, telunjuknya dengan tegas menghunus lurus di depan muka Rani. "Jangan pernah ngaku-ngaku jadi calon istri gue di depan Jean kayak tadi siang," titahnya.
"Lah, gue kan emang calon istri lo," ujar Rani, dengan santai dia menanggapi perkataan Arya tadi.
"Oh, jadi lo emang berharap jadi istri gue?" Arya menatap sinis adik sepupunya itu. "Sorry ya, Ran. Gue enggak tertarik sama lo. Lagian gue udah punya pacar yang lebih oke dari lo. Harusnya lo sadar diri lah, Ran. Lo lihat sendiri kan penampilan Jean tadi siang? Lo sama sekali enggak ada apa-apanya dibandingkan dia," cibir Arya.
Rani menghela napas panjang, berusaha meredam emosinya yang meluap karena perkataan Arya barusan.
'Tenang, Rani. Jangan kebawa emosi. Please, anggep aja yang ngomong sama lo sekarang adalah kadal ijo. Jadi lo enggak boleh kebawa emosi. Biarin dia ngehina lo. Enggak pa-pa. Orang sabar masuk surga.' Batin Rani bersuara.
Sebaik mungkin Rani berusaha meredam amarahnya yang terasa menggebu.
"Mungkin kalau lo disandingin sama Jean, lo itu lebih mirip butiran debu, sedangkan Jean, dia lebih pantas disebut butiran berlian yang berharga. Jelas banget kalau kalian beda level," lanjut Arya.
Rani mencebik. "Udah puas ngehinanya?" tukas Rani.
"Belum. Gue enggak akan pernah puas ngehina lo," cakap Arya. Pandangannya kembali mengintimidasi Rani, bahkan kali ini dia menatap Rani dari atas hingga bawah, menelisik tubuh perempuan itu dengan tatapan meremehkan.
"Ngelihat fisik lo buat gue sadar betapa apesnya gue harus nikah sama cewek kayak lo. Udah pendek, tubuh kayak triplek harga diskonan, muka juga pas-pasan. Enggak ada yang patut gue banggain punya istri kayak lo," tukasnya.
Rani tak menanggapi. Dia sudah terlanjur malas menghadapi omongan buruk kakak sepupunya itu.
Lagi pula, kalau Rani buka suara, takutnya omongan yang keluar dari mulutnya hanya perkataan yang sudah pasti berisi sumpah serapah beserta umpatan kasar untuk Arya.
Saat ini Rani masih bisa menahan diri karena sekalipun dia kesal, dia cukup sadar bahwa saat ini dirinya tengah menumpang di rumah budenya, di rumah ibunda Arya. Apalagi kamar yang di tempatnya ini milik pria itu.
"Pokoknya gue mau pernikahan kita nanti jangan ada banyak orang yang tahu, kecuali orang-orang yang memang udah tahu atau orang-orang yang memang harus tahu," kata Arya, dia tegas mengatakannya.
"Satu lagi," lanjut Arya. "Lo harus inget ini sampai kapan pun, lo jangan pernah muncul lagi di depan Jean. Jangan pernah dateng juga ke klinik gue. Kalau pun lo sakit gigi, cari klinik lain," suruhnya.
Rani masih diam tak memberikan tanggapan. Dia menatap Arya dengan muka datar, membuat pria di depannya itu merasa omongannya tak didengar. Arya pun menjadi sangat kesal.
"Lo denger enggak sih sama yang barusan gue bilang?" sungut Arya.
"Gue denger, gue paham, dan gue ngerti," sewot Rani. "Sekarang lo bisa pergi dari kamar ini? Telinga gue gatel denger lo ngomel mulu," usirnya.
Arya mendengus. Tapi karena Rani sudah paham dan terlihat mengerti perkataannya tadi, Arya pun pergi tanpa protes.
Setelah pintu kamar ditutup oleh Arya dan pria itu lenyap dari pandangannya. Rani seketika mengembuskan napas lega.
Perempuan itu terduduk di tepi ranjang sambil memegang dadanya. Dia merasa perih.
Bohong kalau Rani tidak sakit hati dengan omongan Arya tadi. Apalagi pria itu sangat sarkas menghinanya. Jujur saja, Rani sakit hati. Dia merasa direndahkan serendah-rendahnya.
Namun, mirisnya dia tak dapat mengelak. Karena hinaan kakak sepupunya itu seolah memang benar semua.
Rani sangat sadar diri bahwa dirinya pendek, tingginya bahkan hanya mencapai 158 sentimeter, tinggi standar wanita Indonesia yang seringkali menjadi bahan tertawaan di negeri orang.
Kulitnya pun tak seputih bening Jean. Wajahnya juga tak secantik Jean yang merupakan keturunan Italia.
Jika dipikir-pikir, memang benar kata Arya, dirinya dan Jean tak sebanding.
Tapi, haruskah Arya menghinanya segamblang itu?!
Rani meringis, miris sekali nasibnya karena dia terpaksa harus menikah dengan cowok yang bahkan secara terang-terangan menghinanya.
"Gue emang enggak secantik pacar lo, Kak Arya. Tapi harus banget ya lo ngehina gue kayak gitu. Sejelek jeleknya gue, gue juga masih punya harga diri," lirih Rani. Pandangannya tampak nanar, menatap lurus ke depan.