Ultimatum

1152 Words
Sementara itu, terentang ratusan kilometer dari Kamila, Arzan membiarkan telefon genggamnya tergeletak saja di atas meja, di samping asbak dan bungkus rokoknya. Sudah lebih dari lima kali handphonenya itu berbunyi menyuarakan panggilan dari mamanya. Namun, ia tak peduli. Ia lebih suka memperhatikan langit yang mulai menjingga menandai senja dari balkon hotel tempatnya menginap di Bandung. Ia hanya memandangi sekilas-sekilas aktivitas layar telefonnya dari jauh. Dirinya enggan menanggapi semua pangilan dan pesan, apalagi dari mamanya, sebab, ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan mamanya. Pasti tentang rencananya menjodohkannya dengan Kamila, janda mendiang adiknya. Seminggu lalu, mama mulai mengusiknya dengan ide yang menurut Arzan sangat ngaco itu. Meskipun, ia tahu, sudah menjadi hal yang biasa, adik atau kakak menikahi janda saudaranya yang meninggal dunia. Tetapi, ia sama sekali tidak pernah terpikirkan hal itu bakal terjadi pada dirinya. Walau ia belum juga menikah di umurnya yang sudah tiga puluh dua tahun, ia merasa dirinya tak seputus asa itu. Arzan tidak memungkiri, bahwa Kamila adalah wanita yang memiliki kecantikan klasik yang menarik dan tidak membosankan. Dengan rambut panjang membingkai bentuk wajah oval, mata besar, serta hidung dan bibir yang memikat. Ditambah lagi dengan kepribadiannya yang juga baik. Ia pernah iri dan memberikan makian bercanda kepada Ardian yang dua tahun lebih muda darinya sebagai lelaki yang beruntung, karena sudah mendapatkan belahan jiwanya di usia yang masih belia. Tidak seperti dirinya, yang selalu gagal mengajak wanita pujaannya ke pelaminan. Ponselnya berdering lagi. Arzan menoleh. Kali ini nama yang tertera memanggilnya adalah Divya. Ia tak tega mengabaikan adik bungsunya yang manja ini, meskipun sadar, ada kemungkinan gadis itu disuruh ibu mereka untuk menelefonnya. “Halo!” “Di mana Kak? Kok nggak datang ke acara pengajian Kak Ardian?” Divya langsung menyerangnya dengan pertanyaan yang pasti ditanyakan semua orang yang datang ke rumah mamanya hari ini. “Aku sudah bilang ke mama kemarin, kalau aku nggak bisa datang. Aku ada acara kantor di Bandung,” jawab Arzan. “Acara kantor? Hari Sabtu? Weekend?” Divya tidak percaya. “Memang nggak boleh?” Arzan balik bertanya. “Aneh aja sih! … Coba tukar vid-call!” Arzan gemas pada Divya. Ketelitian dan nalar anak ini membuatnya sukar sekali untuk dikelabui. Apapun yang membuatnya penasaran akan dikejar dan dikulitinya sampai dia puas. Untung saja Arzan memang sedang berada di kota yang disebutkannya. Sengaja ia mengeser jadwal kunjungan supervisinya bertepatan dengan acara peringatan seratus hari meninggal adiknya. Sebab ia yakin, kesempatan kumpul keluarga besarnya itu pasti akan menjadi ajang pembahasan wacana perjodohannya dengan Kamila. “Kenapa kamu nggak percayaan, sih?” tanya Arzan pada Divya setelah menerima pengalihan panggilan suara menjadi panggilan video. Di layarnya, tampak wajah Divya yang tersenyum puas. “Aku tahu kenapa Kak Arzan kabur ke Bandung!” “Jangan sok tahu Anak Kecil! Aku beneran ada kerjaan di sini!” “Bareng Kak Nadine?” Divya mengedipkan matanya. “Memangnya kenapa kalau sama dia?” “Berarti sudah nyambung lagi?” “Memangnya kenapa kalau nyambung lagi?” Arzan terus mengejar tanya. “Nggak bosan apa? Putus nyambung melulu nggak jelas!” Arzan hanya tersenyum menanggapi. “Tadi sudah dibahas tuh perjodohan Kak Arzan sama Kak Kamila! Semua keluarga sudah setuju! … Aku juga setuju!” Arzan menepuk jidatnya. “Akunya saja nggak kepikiran, kok kalian semua main setuju-setuju aja? Memangnya aku nggak bisa cari jodoh sendiri?” “Memang sudah terbukti nggak bisa!” Divya tergelak. Jika saja berhadapan langsung, pasti Arzan sudah menoyor jidat Divya. “Sudahlah Kak! … Sama Kak Kamila saja. Buat apa Kak Arzan menunggu Kak Nadine terus yang cuma tarik ulur saja. Kakak bukan layangan, kan?” “Kamu disuruh mama ngomong begini?” tuduh Arzan. ”Nggak! … Ini pendapatku sendiri. Aku nggak suka Kak Nadine. Plin plan, nggak punya pendirian. Aku suka Kak Kamila. Dia baik, nggak macam-macam, sayang sama keluarga kita. Dan lagi, ada Naura. Pahala dan berkahnya besar loh Kak, ngurus anak yatim.” Arzan tak sanggup memikirkan kata-kata yang tepat untuk merespon pendapat Divya. Ia hanya terdiam memandangi layar ponselnya. Gambar Divya terlihat kabur tak jelas, ia sepertinya sedang bergerak entah kemana. Lalu, tiba-tiba tampak wajah mungil Naura yang menggemaskan. Divya sengaja menyertakan gadis kecil itu bersamanya agar Arzan bisa melihat keponakan lucunya itu. Mungkin dipikirnya hal itu akan langsung mengubah pikiran Arzan. ”Naura, lihat! Siapa itu!” Divya menunjukkan layar telefonnya pada Naura. Senyum Naura langsung terkembang begitu melihat Arzan di ponsel Divya. Mata bulat mirip mamanya berbinar, lalu senyumnya berubah menjadi tawa lebar, memamerkan deretan gigi s**u putih bersihnya. “Hai, Om Jan!” sapa gadis kecil yang wajah cantiknya serupa malaikat, dan sedari bayi sudah membuat Arzan jatuh hati. “Hai!” “Om Jan kemana? Aku kangen, nih!” “Oh ya? Hmm… Aku juga kangen sama kamu.” “Aku kangen papa juga. … Tapi, kata Oma, Om Jan nanti jadi papaku” Arzan tercekat. Dalam hati ia terenyuh mendengar ucapan Naura, sekaligus kesal karena mamanya telah meracuni pikiran polos Naura dengan sesuatu yang baginya sangat absurd itu. Malam itu, Arzan tidak bisa tidur. Bayangan Kamila muncul. Ingatan-ingatan tentang perempuan itu bertebaran di otaknya. Saat-saat Kamila tersenyum dan tertawa di berbagai kesempatan Arzan bertemu dengannya. Dan, terakhir, saat Kamila memeluk Naura dengan tatapan hampanya di depan makam Ardian. Arzan menyibakkan selimutnya. Hatinya resah. Kemudian ia keluar ke balkon kamarnya. Ia ganti memikirkan Nadine yang sudah bertahun-tahun dicintainya, namun selalu mengatakan belum siap jika diajak menikah, dengan alasan masih ingin fokus dengan karirnya. Ia takut pernikahan akan memundurkan karirnya, apalagi jika kemudian hamil dan melahirkan. Entah harus bagaimana lagi ia meyakinkan Nadine. Segala cara sudah ia coba, tapi belum ada yang bisa meluluhkannya. Dari cara yang halus sampai ancaman akan ditinggalkan oleh Arzan, tak juga membuatnya goyah. Ketika Arzan benar memutuskannya, Nadine menangis. Namun, paling lama sebulan kemudian, mereka sudah berbaikan lagi. Dua minggu selanjutnya, Arzan hidup dalam kegalauan. Setiap hari mama menelefon dan mendesaknya. Kesal, jengkel, sebal dan segala rupa rasa yang menggambarkan ketidaksukaan atas gagasan mamanya menggumpal di dadanya. Namun, semakin Arzan menghindar, Mama Dian bertambah gigih mengejarnya, hingga bahkan mendatangi rumahnya. Arzan tak bisa menghindar. Ia terpaksa menerima kehadiran mamanya, berikut semua keluhan atas sikapnya. “Apa yang menjadi alasan kamu menolak Kamila? Dia cantik! Sudah terbukti isteri yang baik!” Mama bertanya dengan tatapan geram kepada anak pertamanya itu. “Aku sudah menganggap Kamila sebagai adik, Ma!” Arzan berkilah. “Tapi, tetap saja dia bukan adikmu! Tak ada larangan kamu kawin dengan dia!” Mama Dian tak mau kalah. Bantahan mama membuat Arzan tidak bisa mencari alasan lain. “Kamu masih mencintai dan mengharapkan Nadine?” tanya mama. Arzan diam, enggan menjawab. Ia tahu mamanya tidak terlalu menyukai Nadine. “Oke, begini saja, mama sudah lelah dengan hubungan kamu dan Nadine. Mama kasih kamu waktu dua minggu. Jika dalam dua minggu ini Nadine bersedia kamu nikahi, mama akan merestuinya. Kalau nggak, maka kamu harus menikah dengan Kamila!” Mama menatap Arzan tajam. Arzan diam tak mampu berkata-kata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD