Tercekat

1227 Words
Di minggu siang yang mendung, tepat setelah 4 bulan 10 hari masa berkabungnya, Kamila mengunjungi makam Ardian bersama Naura. Setelah berdoa dan menaburkan bunga, Kamila duduk setengah bersimpuh memandangi nisan bertuliskan nama lelaki yang sangat mencintainya. “Izinkan aku dan Naura melanjutkan hidup kami ya, Ar!” ucapnya sambil memeluk bahu Naura. Air mata Kamila menetes, yang segera diusapnya dengan ujung pashminanya. Berbagai kenangan bersama Ardian berseliweran di benaknya. Ia membiarkan pikirannya dipenuhi rentetan memori yang menghanyutkan tanpa mengetahui Naura beranjak dari sisinya. Kamila baru menyadari ketiadaan Naura di dekatnya kala memalingkan mata ke samping kirinya, gadis kecilnya tidak ada. “Naura!” Seketika ia berdiri dan menoleh ke semua arah. Ia gemetar dilanda panik. Ia takut Naura hilang diambil orang tanpa ia sadari. Walaupun merupakan ruang terbuka, kompleks pemakaman ini begitu luas. Di sana-sini terlihat penziarah lainnya. Jika memang ada yang berniat jahat, dengan mudahnya bisa membawa Naura masuk ke dalam mobil yang bebas masuk dan parkir di jalanan yang membelah-belah deretan makam. Kamila hampir berteriak lagi ketika matanya kemudian menangkap tubuh mungil Naura yang sedang berdiri membelakanginya menghadap seseorang yang berjongkok di hadapannya. Cukup jauh darinya. Kamila tidak bisa melihat wajah orang itu karena terhalang kepala Naura. “Naura!” seru Kamila memanggilnya. Ia bergegas berlari menghampiri puterinya. Bersamaan dengan itu, sosok di hadapan Naura berdiri, dan langsung ia kenali. Arzan. Seketika kepanikan di d**a Kamila terhempas, dan tergantikan rasa takut karena lelaki itu menatapnya tajam. “Mama! Aku ketemu Om Jan!” Naura menunjuk Arzan. “Kenapa kamu nggak bilang-bilang ninggalin mama?” Kamila memeluk Naura. “Aku kejar kupu-kupu tadi!” jawab Naura tanpa merasa bersalah. “Kamu yang lengah! Untung saja aku kesini dan melihat dia berlarian sendirian. Kalau ada orang jahat bagaimana?” sela Arzan dengan suara bernada kesal. Kamila enggan membantah. Ia menunduk membelai rambut Naura, sungkan memandang Arzan. “Kamu sudah selesai?” Suara Arzan melunak. Ia iba juga melihat penyesalan di wajah Kamila. “Iya, kami sudah mau pulang,” jawab Kamila. “Kalau begitu, tunggu di mobil! Pulang bareng aku nanti sekalian.” Arzan menunjuk ke arah mobilnya terparkir, dan memberikan kuncinya kepada Kamila. Lalu ia berjalan menuju makam adiknya. Kamila menggandeng Naura berjalan di sela-sela gundukan makam. “Mama! Om Jan marah ya sama Mama?” tanya Naura. “Sepertinya iya,” jawab Kamila. “Kenapa?” “Karana kamu nggak bilang mau kejar kupu-kupu ke mama tadi. Jadi Om Jan anggap mama lalai jagain kamu.” “Mama berdoanya lama sih!” Kamila terdiam. “Kita nggak naik taksi lagi, Ma?” “Nggak. Om Jan katanya mau antar kita pulang.” Naura menolak masuk ke mobil. Ia memilih berjalan-jalan menjelajahi sekitarnya. Kamila mengikutinya. Beberapa kali ia menoleh ke arah makam Ardian, memperhatikan Arzan yang sedang berdoa dari kejauhan. Sejak Mama Dian memberitahunya tentang rencananya menjodohkannya dengan Arzan, baru kali ini lagi ia bertemu dengan kayak iparnya itu. Kamila enggan menghubunginya, begitu juga Arzan yang tak mencoba menemuinya. Padahal Kamila sungguh ingin membahas situasi yang membuatnya resah dan serba salah ini. Seminggu lalu, Mama Dian mengajaknya bicara untuk memastikan Kamila menuruti rencananya. Ketika Kamila menyampaikan kemungkinan ia berjodoh dengan orang lain, Mama Dian mempersilahkannya. Tapi, dengan syarat, Kamila harus menyerahkan pengasuhan Naura kepada dirinya. Kamila sungguh tidak bisa berkutik. Baginya Naura adalah jiwanya. Tak mungkin ia menyerahkannya kepada siapapun, meskipun neneknya sendiri. Maka, ia pun mengiyakan keinginan mertuanya. Baginya, apapun adalah untuk Naura. Sekitar lima belas menit kemudian, Kamila melihat Arzan telah meninggalkan makam Ardian. Ia memanggil Naura. Butuh waktu dan tenaga ekstra bagi Kamila untuk meminta anaknya masuk ke dalam mobil. Tubuh mungilnya lincah berlarian ke segala arah sambil tertawa. Kamila memaklumi, sudah cukup lama Naura tidak bermain di tempat terbuka. Arzan akhirnya turun tangan mengejar dan menangkap Naura. Gadis kecil itu menjerit-jerit kegelian diciumi Arzan. Kamila membukakan pintu baris kedua. Arzan meletakkan Naura di atas kursi. Kamila kemudian memberikan kunci kepada Arzan sebelum berniat naik dan duduk di sebelah puterinya. Tetapi, Naura berteriak. “No! No! Ini kursi aku semuanya! Mama duduk di depan!” Kamila tertegun sejenak. Kaget dengan perintah anaknya. Anak ini sungguh tidak mengerti rasa jengah Kamila bila harus duduk di sebelah Arzan. “Sudah, biarkan saja dia sendiri.” Arzan membuka pintu belakang, mengambil goodie bag cukup besar dan memberikannya kepada Naura. Gadis itu menjerit kegirangan mengetahui isinya adalah beberapa mainan dan boneka. “Kalau diberi sesuatu, bilang apa, Naura?” Kamila mengingatkan. “Thank you, Om!” ucap Naura. “You’re welcome!” sahut Arzan. Ia menyalakan mobilnya dan mengemudi meninggalkan area pemakaman. Naura langsung sibuk dengan semua mainannya. Kamila sesekali menengok ke belakang untuk memperhatikan aktivitas Naura. Mulut ceriwisnya tak henti mengomentari mainannya. “Kak, apa nggak terlalu banyak hadiah mainannya?” Kamila mencoba mencairkan kecanggungan yang dirasakannya di antara dirinya dan Arzan. Padahal mereka dulu cukup akrab. “Nggak,” jawab Arzan singkat. Kamila menunggu kata-kata lanjutan Arzan, tapi tak juga terdengar. “Kakak tadi, langsung dari rumah?” tanya Kamila meneruskan basa-basinya. “Nggak. Aku ke rumah mama dulu. Mama bilang kalian baru saja lima belas menit jalan, dan minta aku nyusul,” jawab Arzan tanpa menoleh pada Kamila. Kamila memperhatikan jalanan. Ia menyadari Arzan langsung mengambil rute terdekat kembali ke rumah ibunya. Padahal ia berencana mampir ke rumahnya sendiri dulu. Ingin ia meminta Arzan memutar kembali mobilnya. Namun, Kamila ragu. Tetangganya pasti akan kasak-kusuk melihatnya bersama seorang lelaki lain, datang kembali ke rumahnya yang sudah beberapa bulan tidak ditinggalinya. “Kak, ….” Kamila memberanikan diri menatap Arzan. “Ya?” Arzan melirik Kamila sekilas. “Bagaimana dengan rencana Mama?” tanya Kamila pelan. Arzan menarik nafasnya. Ia sudah menduga Kamila akan menanyakan hal tersebut. Dan ia sadar, sudah seharusnya ia membicarakannya dengan Kamila. “Kamu mau?” “Apa aku bisa punya pilihan lain?” Kamila balik bertanya. “Siapa tahu.” Kamila terdiam. Ia teringat Raditya. Sehabis peringatan 40 hari kematian suaminyam lelaki itu sudah beberapa kali mengajaknya bertemu. Namun, Kamila tidak berani. Apalagi sejak Tane Dian mengancam akan mengambil alih Naura. Jadi jika sudah terkait Naura, ia sungguh tidak punya pilihan. Namun, sejujurnya, ia mau menerima perjodohannya dengan Arzan, karena akalnya tidak menolak lelaki ini. Jika dengan Ardian dulu ia menggunakan hati dan mengandalkan perasaannya, kali ini lebih mengandalkan logikanya. Ia mengenal Arzan sebagai pria yang baik, mapan, dan sebenarnya cukup menyenangkan. Dan terutama adalah dia sangat menyayangi Naura. Dia yakin, cinta bisa dipelajari dan tumbuh kemudian. Kamila hendak menanyakan keinginan Arzan, tetapi Naura lebih dulu bertanya tentang mainannya. Selesai dijawab Arzan, Naura sudah siap dengan pertanyaan lain yang berlanjut dengan obrolan keduanya yang sulit untuk disela. Akhirnya, Kamila menelan sendiri keingintahuannya atas sikap Arzan terhadap persoalan yang mereka hadapi. Pembicaraan mereka tidak tuntas. Lagipula, tak mungkin juga mereka membahasnya di depan Naura. Sampai di halaman rumah, Naura langsung melompat turun membawa mainannya. Mama Dian menyambut mereka dengan mata berbinar. Ia bahagia dan bersemangat melihat gambaran keserasian keluarga kecil anak cucunya. Begitu Kamila menutup pintu mobil, Mama Dian menarik tangan Arzan dan Kamila, lalu mendudukkan keduanya di kursi ruang tamu. Kamila hanya bisa pasrah disandingkan berdekatan dengan kakak iparnya. “Dengar! Mama sudah memutuskan, kalian akan menikah dua minggu lagi!” Mama Dian menetapkan tanpa basa-basi lagi. Kamila tercekat. Meski dia sudah merelakan nasib di tangan mertuanya, dia tidak menyangka akan secepat ini dirinya terikat menjadi isteri lagi. Sementara Arzan malah memandangi dirinya. Matanya menyiratkan kerisauan yang tidak dimengerti Kamila. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD