Luka yang Sama

1311 Words
Beberapa hari Dita dirawat di rumah sakit ternyata belum cukup membuat Vano perhatian padanya. Pria itu malah menghilang entah kemana, sampai-sampai Luna geram melihat tingkahnya. "Kamu harus ikut pulang bersama Mama, Dita. Sekarang itu kamu adalah menantu Mama, dan tentu saja kamu adalah tanggung jawab Mama." Luna berucap seraya memasukkan pakaian Dita ke dalam sebuah ransel. Hari ini gadis itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah, asalkan dalam pengawasan dokter. Oleh karena itu, Luna memutuskan untuk membawa Dita pulang ke rumahnya. Dan nantinya akan ada dokter yang akan memeriksa keadaannya di rumah. Bukan hanya itu tujuan Luna memaksa Dita untuk tinggal bersama. Selain untuk menjaga dan melindungi Dita, Luna tidak ingin Miko datang menemuinya. Pria itu kedapatan beberapa kali menemui Dita ke rumah sakit, saat ia ada urusan penting di luar. Sedangkan Vano tidak tahu di mana kebersamaannya saat ini. Dan jika hal tersebut terus menerus terjadi, sampai kapanpun rumah tangga Vano dan Dita tidak akan pernah ada perkembangannya sama sekali. Begitupun hubungan Dita dan Miko.. Sampai kapanpun cinta mereka akan tetap utuh dan mengakar kuat di hati masing-masing. Dita yang duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit, menggelengkan kepalanya. "Aku ingin pulang ke rumah saja, Ma. Aku belum bisa …" "Dita. Mama mohon jangan membantah lagi apa yang Mama katakan!" Luna duduk di samping Dita. "Kamu itu menantu Mama, Dita. Tentu saja kamu harus tinggal bersama Mama. Lagi Pula, dengan siapa kamu akan tinggal di rumah itu? Karena para pekerja sudah pindah ke tempat Mama. Nanti dua orang dari mereka akan datang dua kali seminggu untuk membersihkan rumah kamu. Barang-barang kamu pun sudah Mama pindahkan ke rumah." "Tapi, Ma … aku tidak mungkin tinggal bersama Mama. Mama lihat sendiri, bukan? Kak Vano tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Dan mama juga bisa melihat, tidak ada sedikitnya niat dari kak Vano untuk datang sekedar melihat dan bertanya bagaimana keadaanku. Hubungan aku dan kak Vano saat ini tidak cocok dikatakan sebagai pasangan suami istri," tutur Dita. Mengeluarkan apa yang selama ini dirasakannya. Ingin rasanya saat ini Dita lari saja dan meninggalkan segalanya. Akan tetapi, Miko selalu memintanya untuk sabar dan ikhlas menjalani pernikahannya bersama Vano. Miko selalu berpesan agar ia menghargai ikatan suci pernikahan. Dan juga memintanya untuk selalu sabar dalam menghadapi Vano. Miko yakin, ada hikmah dibalik pernikahannya dengan pria itu. Akan tetapi, jika suatu hari Vano memilih pergi dan menceraikannya, Miko berjanji akan menerima kehadirannya. Apapun keadaannya nanti. "Kalau itu yang membuatmu tidak nyaman tinggal bersama Mama, makan mulai detik ini kamu akan melihat perubahan Vano.. Mama akan pastikan dia berubah menjadi suami yang baik." Mengusap pucuk kepala Dita, sebelum lanjut berkemas. "Itu tidak akan pernah terjadi," gumam Dita. Tersenyum tipis menertawakan dirinya sendiri. Melihat Luna yang tetap bersikeras memintanya untuk ikut pulang, membuat Dita jengah dan malah memilih menjaga jarak semakin jauh darinya. Bukannya apa, tidak seharusnya Luna memaksakan kehendaknya seperti sekarang. Memang ia adalah menantunya, tapi Vano tidak pernah menginginkan dan menganggap pernikahan itu ada. "Tidak bisakah kalian membiarkan aku pergi, dan menganggap tidak ada pernah ada aku di kehidupan kalian?" gumam Dita, menatap kosong pada dinding kamar bercat putih, yang baru saja di tempatinya. Kamar bernuansa Hitam putih tersebut adalah kamar yang ditempati oleh Vano. Sekaligus kamar yang akan ditempatinya dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Bukan hanya itu. Tanpa izin sama sekali ternyata Luna telah memindahkan seluruh barang-barangnya ke kamar Vano. Semua tampak tertata rapi, seakan kamar tersebut memang dirancang untuknya dan Vano. Dita berusaha menelan gumpalan pahit yang kini mengganjal di tenggorokannya. Untuk mengusir rasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Luna yang dulu tampak menyayanginya, kini berubah menjadi keras, seakan memaksakan kehendaknya sendiri. Tanpa memikirkan hatinya akan terluka atas pemaksaan tersebut. Bukan hanya itu, selain egois Dita juga bisa merasakan Luna berusaha mengekang kehidupan pribadinya. Karena tidak ada sedikitpun niat wanita paruh baya itu membantu untuk menemukan ponselnya yang hilang entah kemana. Jangankan untuk menemukan ponselnya. Berhenti di toko ponsel saja Luna tidak mau. Padahal ia ingin membeli ponsel dengan uangnya sendiri. Dari sana Dita semakin tidak enak hati..Ia seakan dikurung dan dijauhkan dari dunia luar. Dita tersenyum tipis. "Kak, apakah ini yang kamu sebut dengan sebuah kebahagiaan? Katamu mereka baik dan penyayang. Tapi, apa? Aku diperlakukan layaknya tahanan." Memukul bantal guling yang ada di pangkuannya. Untuk melepaskan sesak yang semakin menyesakkan dadanya saat ini. Tanpa mampu ditahan, Dita mulai menangis, meratapi nasib buruk yang ia alami. Entah kesalahan apa yang dilakukannya di masa lalu, sehingga hidupnya begitu menggemaskan. Ditinggal oleh seluruh keluarganya. Mereka pergi tanpa kembali, meninggalkan luka yang begitu besar. Menganga dan berdarah. Brakk! Baru saja Dita ingin berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemah, suara pintu kamar dibanting membuatnya kembali duduk bersila di ranjang. Perasaannya langsung tidak enak melihat Vano yang telah berdiri tepat di hadapannya. Dengan mata yang memerah dan rahang yang mengeras. Jangan lupakan. Aroma alkohol dan rokok lagi-lagi tercium dari tubuh Vano.. Entah darimana datangnya pria itu. Sehingga ia datang dalam keadaan mabuk, serta pakaian yang berantakan. "Puas kamu, Dita? Meracuni ibuku sendiri agar dia memaksaku untuk menerima pernikahan ini?" Vano mengusap wajahnya dengan kasar. "Baik! Kalau memang itu yang kamu inginkan!" sergahnya. Mendorong tubuh Dita, hingga berbaring di ranjang. Vano yang sedang sakit hati, langsung melampiaskan amarahnya kepada Dita. Ia yang tengah mabuk tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang dilakukannya saat ini. Tanpa belas kasih, Vano menindih tubuh mungil Dita. Ia berusaha memagut bibir merah muda, gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu. Tidak ingin Vano melakukan hal yang tidak-tidak padanya, meskipun mereka sudah sah menjadi suami istri, Dita berusaha mendorong dan menyadarkan Vano. Dita tidak rela melayani Vano dalam keadaan marah dan mabuk seperti sekarang. Sebagai seorang gadis, nantinya ia yang akan dirugikan dan semakin tersakiti jika itu terjadi. "Kak, aku pun sama sepertimu. Tidak ingin kak Alea pergi, karena dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dan asal Kakak tahu, aku pun tidak ingin pernikahan ini terjadi. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak kucintai dan tak mencintaiku juga!* lirih Dita. Berusaha mendorong tubuh Vano, yang kini menindihnya. "Jadi aku mohon, jangan lakukan yang tidak-tidak jika kamu tidak ingin bertanggung jawab. Lebih baik kamu ceraikan aku, agar aku pergi dari hidupmu!" pinta Dita, dengan suara yang bergetar. Karena Vano yang justru memeluknya dengan erat. "Ale, aku sangat merindukanmu. Aku mohon jangan pergi lagi," lirih Vano, tepat di telinga Dita. Membuat pergerakan gadis itu berhenti. Dengan sedikit memundurkan wajahnya, Dita bisa melihat dengan jelas wajah tampan Vano. Wajah tampan itu tampak lelah dan muram. Tidak berbeda jauh dengannya, Dita yakin Vano sama terluka dengan dirinya. "Ale …" gumam Vano. Dengan kedua mata yang tertutup rapat dan nafas yang mulai teratur. Namun, pelukannya pada Dita, tidak mengalami perubahan sama sekali. Tetap erat dan … hangat. "Kak … apa yang harus aku lakukan?" gumam Dita dalam hati. Melihat keadaan Vano seperti saat ini, langsung menguapkan amarah yang sempat merasukinya. "Apakah ini cara-Mu untuk mengobati luka di hati kami berdua?" Menatap nanar pada Vano yang terlelap dalam tidurnya. Buliran bening juga tampak mengalir di sudut matanya. Dita sadar. Saat ini yang terluka atas kepergian Alea bukan hanya dirinya saja. Vano pun begitu. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilanku? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua. Salam Desi Nurfitriani
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD