Dita mengangguk. "Mama tidak perlu khawatir. Dita baik-baik saja," ucapnya Dengan tatapan yang tertuju pada Vano, yang tampak terlelap di atas ranjangnya.
Tidak ingin memperpanjang daftar kebohongannya, Dita memilih untuk mengakhiri panggilan dengan ibu mertuanya itu. Lalu meletakkan ponsel Vano ke atas nakas, dan ia pun tidur di atas sofa. Dengan bermodalkan selimut yang ada di lemari.
Sebelum tidur, Dita menatap pria yang baru dua hari ini menyandang status sebagai suaminya. Sangat tampan. Tapi, sayang. Tidak akan pernah ada cinta diantara mereka.
Daripada berharap kisah cintanya akan berakhir indah seperti drama Korea, lebih baik Dita langsung membangun dinding pembatas yang begitu tinggi dan kokoh di antara mereka berdua.
Bukannya apa, Vano adalah tipikal pria yang keras kepala dan sulit luluh terhadap orang lain. Ia juga pria yang tertutup. Di dunianya, hanya ada Alea, Alea, dan Alea.
Melihat fakta tersebut tentu saja Dita tidak ingin berharap banyak dari pernikahannya. Akan tetapi, saat ini ia sangat mengharapkan perceraian secepatnya dari Vano.
Meskipun duka bertubi-tubi menghampiri, sebagai manusia biasa tentu saja Dita tetap mampu menutup kedua mata, sebab tubuhnya yang masih lemah karena sakit. Ia juga telah lelah karena menangis.
Sehingga saat matahari terbit, Dita masih betah tidur di bawah selimut. Tidur meringkuk di sofa, dengan suhu tubuh yang semakin tinggi.
Akan tetapi, itu semua belum sanggup untuk membuat Vano simpati padanya. Ketika bangun, pria itu justru tersenyum tipis melihat Dita tidur meringkuk dengan wajah yang sangat pucat.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini, Lea?" gumam Vano. Menatap nanar pada foto Alea yang tergantung di dinding kamar.
"Apakah aku benar-benar harus menjalani pernikahan dengan adikmu itu? Apakah aku benar-benar harus menjalani rumah tangga dengan wanita yang telah menyembunyikan penyakitmu. Sehingga kamu pergi secara tiba-tiba. Seandainya dia memberitahuku, pasti aku akan segera pulang dan melamarmu. Membawamu kemanapun aku pergi," lirihnya.
Meratapi kesalahan yang tidak lakukan Dita. Semua itu terjadi murni karena keinginan Alea, yang tidak ingin ada seorang pun tahu penyakitnya. Ia hanya ingin Dita yang mengetahui hal tersebut dan mendampinginya sampai sembuh.
Meskipun akhirnya Alea menyerah, dan kini Dita yang dianggap sebagai penghasut untuk menyembunyikan penyakitnya. Yang kini membuat Vano marah dan membenci dirinya.
Dengan langkah gontai, Vano menuruni satu persatu anak tangga rumah mewah tersebut. Rumah yang dulunya selalu ramai karena suara tawa dari keceriaan penghuninya. Rumah yang dulu hangat dengan kasih sayang dan cinta dari para penghuni, yang kini telah tiada.
Kini tinggal kesunyian dan kabut duka yang masih menutupi. Di rumah mewah tersebut tampak pada pekerja sedang menunaikan kewajibannya masing-masing. Ada yang membereskan pajangan, membersihkan lantai, memasak sarapan, dan lain sebagainya.
Jika di hari biasanya mereka tampak bahagia melihat nona muda mereka saling berkejaran, kini mereka tampak muram. Karena pelita tersebut sudah pergi untuk selamanya. Karena cahaya kehangatan dari rumah tersebut pun sudah menyusul pelita hatinya.
Kini tinggal Dita, satu-satunya pelita berharga yang mereka miliki. Yang telah sah menjadi istri orang lain dan tentu saja akan dibawa pula jauh dari mereka.
Setelah ini, dengan siapa mereka akan tinggal? Kepada siapa mereka akan mengabdikan diri untuk mendapatkan rezeki. Tidak ada Dita, tentu saja tak akan ada lagi tempat mereka mengais rezeki.
Vano mengadahkan kepalanya. Menahan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Aura kesedihan sangat kental terasa di dalam rumah tersebut. Apalagi di sana banyak kenangan indah bersama Alea, sebelum ia berangkat ke kuliah ke luar negeri.
Apalagi di rumah tersebut banyak bingkai foto yang menampakkan wajah Alea, yang tampak manis dan begitu ceria. Wajah wanita yang begitu sangat dicintainya.
Vano menggelengkan kepalanya. Berlama-lama di rumah tersebut akan semakin membuatnya terpuruk. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke hotel. Mengambil mobil dan akan pergi kemanapun untuk mengusir rasa sesak di hatinya. Tanpa tahu di dalam kamar ada Dita yang membutuhkan kehadirannya sebagai seorang suami.
Dita yang merasakan tubuhnya semakin melemah, berusaha bangkit dan mencari ponselnya yang semalam di letakkan di atas ranjang. Untuk menghubungi salah satu asisten rumah tangga, karena ia yakin tubuhnya tidak akan sanggup untuk dibawa menuruni satu persatu anak tangga di rumahnya.
"Di mana, ya? Perasaan semalam aku letakkan di sini?" gumam Dita, seraya memeriksa setiap sudut ranjangnya. Namun, nihil. Ia tak kunjung menemukan benda pipih, berbentuk segi panjang tersebut.
Lelah berusaha akhirnya Dita menyerah dan duduk di tepi ranjang. Tidak sanggup menahan pusing, Dita memutuskan untuk berbaring sejenak. Berharap ketika bangun nanti kondisinya membaik.
Namun, kondisi tubuhnya tak kunjung berubah, meskipun sudah tidur selama satu jam. Bahkan kondisinya malah semakin parah, dibandingkan satu jam yang lalu.
Tidak ingin berlama-lama sakit di dalam kamar sendirian, Dita nekat bangkit dan keluar dari kamar. Bersamaan dengan kedatangan salah satu asisten rumah tangganya, yang menyampaikan ada Miko di bawah.
"Sudah dari tadi, Bik?" lirih Dita.. Wajahnya tampak semakin pucat saja.
"Baru datang, Nona," sahut asisten rumah tangga tersebut. Seraya menuntun Dita untuk menuruni anak tangga. "Nona, badannya panas sekali, sebaiknya ke rumah sakit, ya."
Dita menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Bik. Kebetulan ada Miko aku akan pergi dengannya." Menarik kedua sudut bibirnya, sebelum kembali fokus pada anak tangga.
"Dit, kamu sakit?" ucap Miko cepat, langsung menyusul Dita, begitu sampai di lantai dasar.
"Sepertinya begitu, Mik," lirih Dita. Menjangkau Miko dan menjadikan tubuh kekarnya tempat untuk menopang tubuh lemahnya.
Dita tidak peduli statusnya sebagai istri sah Vano, karena tidak ingin larut dengan harapannya sendiri. Lebih baik ia tetap menjaga hubungannya dengan Miko, sampai Vano menceraikannya.
"Dari semalam nona muda tidak ingin makan apa-apa. Beliau hanya minum su'su coklat dan air hangat saja," adu asisten rumah tangga tersebut kepada Miko, berharap nona mudanya tersebut mau makan agar keadaannya membaik.
"Benar itu, Dit?" tanya Miko, dengan kedua alis yang nyaris bertaut.
"Aku tidak ingin apa-apa saat ini. Aku hanya ingin mengurung diri sampai hatiku tenang, dan mampu ikhlas menerima ini semua, Mik. Bukannya apa, ini semua sudah bisa dikatakan telah merenggut hidupku. Jadi, untuk apa aku …"
"Sssttt." Miko menutup mulut Dita dengan telapak tangannya. "Jangan pernah berkata demikian. Aku tidak suka itu.
"Tapi, Mik …"
"Tidak ada tapi-tapian! Hidupmu masih panjang, Dita. Aku yakin Alea dan nenek bersedih melihatmu seperti sekarang. Aku yakin mereka berdua ingin kamu kuat dan melanjutkan hidupmu. Lagi pula …" Miko menarik nafasnya. "Lagi pula kamu sudah memiliki suami. Setidaknya hiduplah untuknya, agar kalian berdua bisa menemukan kebahagiaan."
Meskipun sakit, Miko akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak akan bisa bertahan hidup jika itu demi dirinya."
"Kalau begitu lakukan demi aku," lirih Miko, seraya membawa Dita ke dalam pelukannya. Membuat pertahanannya runtuh. Miko langsung mengadahkan kepalanya, agar buliran bening tidak meluncur dari kedua sudut matanya.
Bukannya cengeng atau apa. Miko yang sangat mencintai Dita tentu saja tidak akan mudah baginya melupakan kisah cinta mereka. Meskipun mulutnya selalu mengatakan ikhlas untuk melepaskan Dita. Tetapi, tetap saja rasa sakit dan sesak itu masih menyesakkan dadanya.
Dita tergugu. Bertahan demi Miko? Tentu saja ia mau.. Tanpa diminta pun ia akan berusaha sekuat tenaga agar tetap kuat dan bertahan.
Akan tetapi, statusnya sebagai istri sah Vano, telah mengubah semuanya. Apakah ia harus menganggap Vano tidak ada, agar semuanya lebih mudah? Layaknya yang dilakukan Vano padanya. Tidak menganggap kebersamaannya sama sekali, bahkan membenci dan menyalahkannya atas kematian Alea.
"Dita …, Dit …" ucap Miko, mulai panik karena Dita yang ada di dalam pelukannya tidak bergerak lagi.
Miko mengurai pelukannya. "Astaga … Dita!" pekiknya. Saat Dita nyaris terjatuh karena pelukan mereka terurai.
Entah sejak kapan Dita tidak sadarkan diri di dalam pelukannya. Sehingga Miko kelabakan dan langsung menggendongnya. Tidak peduli Dita istri orang atau bukan. Yang jelas saat ini gadis yang dicintainya itu harus sampai di rumah sakit sesegera mungkin.
Layaknya seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya, Miko mengurus segala kebutuhan dan administrasi rumah sakit untuk Dita. Dan andai saja tidak ada Vano, diantara mereka berdua bisa dipastikan saat ini mereka sudah menikah.
"Apakah aku harus menemui pria itu dan memintanya untuk menceraikanmu?" gumam Miko. Menatap Dita, yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Gadis itu dehidrasi karena kekurangan cairan. Ia juga belum makan apa-apa dari kemarin sehingga maagnya kambuh. Serta demam karena hujan-hujan dua hari yang lalu, membuatnya demam sehingga kondisinya semakin memburuk. Dan itu semua tidak diketahui sama sekali oleh Vano.
Entah di mana kini pria itu berada. Sehingga ia tidak tahu bagaimana kondisi Dita saat ini.
Miko menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir pikiran untuk memiliki Dita dan memisahkannya dari Vano. Bagaimana pun sikap Vano, ia tidak berhak menghakiminya secara sepihak.
Mencintai Dita tak seharusnya memiliki secara utuh. Ia bisa menjaga dan melindungi Dita, sebagai wujud cintanya kepada gadis itu. Namun, saat Vano menyerah dan pergi, barulah bisa mendekat dan memiliki secara utuh.
"Bertahanlah. Aku akan selalu ada di sisimu. Menjagamu, dan melindungimu. Meskipun kita tidak bisa bersatu aku …"
"Kalau kau benar mencintainya, maka bawalah dia pergi bersamamu. Jangan biarkan dia berada di sekitarku, karena aku tak suka itu," ucap Vano. Seraya mendudukkan bokongnya di sofa, yang ada di hadapan ranjang Dita.
Miko yang tengah duduk di samping Dita, seraya menggenggam erat tangannya, langsung bangkit. Untuk menghampiri Vano yang tampak semakin kusut saja. Entah apa lagi yang membuat pria itu semakin tidak baik-baik saja seperti sekarang.
"Kamu tidak perlu mengurus urusanku dengan Dita, Van. Cukup urusi saja apa yang perlu kamu urus. Mengurus dan memperhatikan Dita misalnya? Atau mencoba untuk peduli, agar tahu Dita saat ini sedang sakit," tutur Miko. Tepat menusuk ke dalam jantung Vano.
Sebagai suaminya Dita, tentu saja ia lah yang seharusnya berada di posisi Miko saat ini. Mendampingi dan menjaga Dita, meskipun duka dan luka karena kehilangan Alea, memiliki porsi yang sama di hati tetap sama.
Meskipun begitu, Vano sebagai suami, tentu saja harus bersedia menjadi penopang bagi Dita saat ini.
Vano menarik nafasnya dalam-dalam. Seraya melirik Dita yang kini masih menutup kedua matanya. Kini gadis itu keadaanya mulai membaik dari saat terakhir ia melihatnya. Wajahnya kini tampak tak terlalu pucat pagi.
"Aku tidak mencintai dia. Dan mustahil bagiku untuk mencintainya, karena dia turut andil atas kematian Alea."
"Apa katamu? Dita turut andil atas kematian Alea? Persepsi macam apa ini? Alea itu meninggal karena sakit, Vano Sebastian! Jangan 9ila kamu!"sanggah Miko. Mulai terpancing emosi karena ucapan Vano.
Vano menarik satu sudut bibirnya. "Ya, Dita orangnya. Seandainya dia memberitahu padaku bahwa Alea sedang menghadapi penyakit yang mematikan, tentu saja aku akan pulang untuk menikahinya. Membawanya pergi kemana pun aku pergi. Mencarikannya dokter terbaik yang ada di dunia ini untuknya. Tapi, apa, hah? Dia malah diam dan ikut menutupi. Bahkan ikut berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja!" sergahnya.
Vano langsung berdiri dari tempat duduknya. Sebelum Miko sempat membuka mulut untuk menepis semua tuduhannya.
"Kalau benar kau mencintai dia, bawa dia pergi. Dan aku akan …"
"Jika kau menceraikan Dita, aku pastikan kau tidak akan ada dalam daftar anakku lagi!" sergah Luna. Menatap tajam kepada Vano, yang ingin mentalak Dita di hadapan Miko.
"Mama …."
Vano mendengus, seraya mengusap kasar wajahnya. "Bisa-bisanya Mama lebih memilih dia daripada aku?"
"Jangan banyak bertanya! Cukup lakukan saja tugasmu dengan baik dan bersikaplah layaknya sebagai seorang suami." Luna beranjak dan duduk di di kursi yang ada di dekat ranjang Dita. "Bukankah tadi Mama memintamu untuk datang dan menjaga Dita? Bukannya malah menyerahkannya kepada pria ini."
"Aku tidak menyerahkannya, Ma! Aku hanya membantu mereka berdua untuk bersatu, karena mereka saling mencintai. Sedangkan aku? Aku tidak mencintai Dita dan begitupun sebaliknya." Vano menghela nafas berat. "..., dan asal Mama ketahui. Saat ini aku justru membenci Dita. Karena dia aku kehilangan Alea untuk selamanya."
Luna menggelengkan kepalanya. "Ini takdir, Van! Tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Dan Mama mohon padamu, berusahalah untuk mencintai Dita. Mama yakin kalian bisa. Mama yakin kalian berdua adalah jodoh dan inilah cara Tuhan mempertemukan kalian berdua," tuturnya.
Luna berucap dengan penuh tekanan di setiap kata yang diucapkannya. Berharap Vano mau mendengar dan mengerti. Saat ini yang dimiliki Dita hanyalah Vano, sebagai seorang suami.
"Terserah Mama. Aku tidak bisa berjanji apapun saat ini. Akan tetapi, saat Dita lelah, biarkan dia pergi dan mencari kebahagiannya sendiri. Jangan pernah berharap lebih dariku, karena aku tidak akan pernah berubah," sanggah Vano, sebelum meninggalkan ruang rawat Dita.
Sekaligus meninggalkan luka yang cukup dalam di hati Dita. Sedari tadi gadis itu sudah terbangun dan mendengar seluruh pembicaraan mereka semua.
"Aku permisi, Tan," ucap Miko, ketika Vano menghilang di balik pintu kamar. Ia tidak ingin menjadi pelampiasan Luna nantinya.
"Setelah ini, aku mohon jangan ganggu dan temui Dita lagi. Dia adalah istri putraku," sindir Luna, saat Miko sampai di ambang pintu kamar.
Miko berbalik dan mengulas senyum. "Aku bisa melakukan hal tersebut saat Vano telah berubah menjadi suami yang sesungguhnya. Suami yang memperhatikan dan menjaga Istrinya dengan baik. Akan tetapi,jika hal tersebut belum terjadi, bisa dipastikan aku akan selalu berada di samping Dita. Menjaga dan melindunginya. Seperti hari." Menutup pintu kamar tersebut dan meneruskan langkahnya.
Miko pasrah kemana takdir akan membawanya. Ia akan tetap menjaga Dita meskipun suatu hari nanti Vano berhasil mendepaknya dari hati Dita.