Siapa yang harus disalahkan saat ini? Saat luka belum mengering, ada duka baru yang tertoreh. Bahkan luka itu semakin dalam dan menyakitkan. Kemana Dita harus mengeluh dan kepada siapa harus marah?
Semalam ia masih bisa merasakan hangatnya dekapan sang nenek, kini beliau pun telah pergi untuk selamanya. Dan saat ini tak ada lagi yang bisa menguatkannya. Semua telah pergi. Semua telah hilang. Ditelan gundukan tanah dan tidak akan pernah keluar lagi.
Dita memeluk tubuhnya sendiri. Meratapi nasibnya yang harus ditinggalkan orang yang dicintai untuk selamanya.
Kenangan masa lalu pun muncul. Begitupun dengan suara teriakan anggota keluarganya, beberapa detik sebelum kecelakaan beruntun tersebut terjadi. Ia juga masih ingat bagaimana cepat dan sigapnya sang ibu membuka pintu mobil dan mendorongnya keluar.
Agar bisa selamat dari kecelakaan tersebut. Ibunya Dita ingin putrinya selamat dan tetap hidup untuk melanjutkan hidupnya di dunia ini. Akan tetapi, beliau lupa. Saat Dita selamat, disitu nantinya ia akan hidup sebatang kara menghadapi kekejaman dunia.
Dan saat dunia Dita runtuh menyaksikan bagaimana seluruh anggota keluarganya tewas karena kecelakaan tersebut, ada Alea yang tiba-tiba saja datang. Merangkul dan mengisi kerumpangan dalam hidupnya.
Sosok Alea mampu menggantikan sosok kedua orang tuanya. Ditambah dengan keberadaan sang nenek, semuanya terasa sempurna.
Dan kini semua telah hilang. Telah pergi. Telah sirna begitu saja. Terenggut dalam bentuk yang sama, tapi dengan cara yang berbeda. Entah bagaimana caranya Dita melanjutkan hidupnya setelah ini. Hidup tanpa didampingi oleh orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Apalagi harus menghadapi Vano, yang terang-terangan membenci dirinya.
Seperti saat ini. Dita yang masih dirundung duka, dengan demam tinggi yang masih dirasakannya, harus duduk sendirian di depan jendela kamarnya. Memeluk dirinya sendiri seraya menatap kaca jendela yang basah diguyur hujan.
Semenjak sang nenek dimakamkan, langit tidak berhenti mencurahkan rintikan air. Seakan langit pun ikut berduka atas duka yang dialaminya.
Dan saat duka semakin dalam, Dita benar-benar tidak memiliki siapapun untuk merangkul dirinya. Karena Luna, sang ibu mertua harus pergi ke Ambon, untuk menemui keluarga ayahnya Vano. Di sana pun ada karib keluarga yang tengah dirundung duka.
Mendengar Maryam meninggal dunia, Luna ingin segera pulang ke Jakarta. Akan tetapi, Vano meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Karena ia berjanji akan menjaga Dita di sini untuknya.
Vano juga berjanji akan menemani Dita. Menjaganya. Melindunginya. Dan mencurahkan segala kasih sayang, agar Dita tak merasa sendiri.
Tapi, itu hanyalah bualan semata. Semenjak ia meninggalkan kediaman Dita, belum pernah sekalipun Vano menampakkan batang hidungnya. Pria itu kini lebih memilih tidur di hotel. Menenangkan dirinya sendiri dengan larut dalam buaian minuman beralkohol. Entah telah berapa botol minuman keras yang ditenggaknya. Hingga tengah malam ia nyaris tak sadarkan diri, jika masih melanjutkan keinginannya untuk menenggak minuman keras tersebut.
Beruntung ponselnya berdering, sehingga tangannya yang telah terangkat untuk meraih botol, urung meraihnya. Dengan kesal Vano meraih ponselnya yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya duduk.
Mata Vano mengerjap dua kali. Memastikan pandangannya tidak salah sama sekali.
"Oh, astaga Mama! Bisa-bisanya menghubungiku jam segini."
Vano segera mengusap wajahnya. Menetralkan suaranya agar tak ketahuan kini dirinya tengah mabuk di sebuah kamar hotel. Bukannya menemani Dita di rumah, seperti yang telah ia janjikan.
"Ha-lo, Mama," sapanya, begitu panggilan terhubung.
"Bagaimana keadaan Dita? Apakah dia baik-baik saja? Sedari tadi Mama hubungi ke ponselnya, tidak ada yang mengangkat," cecar Luna. Tanpa menanyakan keadaan Vano terlebih dahulu.
Vano memutar bola matanya. "Mana aku tahu, Ma. Aku sedang di …. di luar," ucapnya. Seraya memukul mulutnya sendiri. Nyaris saja ia kelepasan menyebutkan dirinya tengah berada di hotel.
"Di luar? Ngapain kamu tengah makan begini di luar? Sekarang kamu pulang, Mama ingin berbicara dengan Dita! Dan kamu lihat saja apa yang akan mama lakukan padamu, begitu sampai di Jakarta," ancam Luna. Kedua matanya menatap tajam meskipun tidak ada satupun orang yang ada di hadapannya.
"Iya, ini aku pulang. Dan asal Mama tahu aku keluar untuk membelikan makanan buat Dita. Karena mana mendesak ku untuk pulang, ya, sudah. Aku batal melakukannya," ucap Vano sebelum mengakhiri panggilannya. Tanpa izin sama sekali kepada Luna.
Perhatian yang diberikan Luna terhadap Dita, bukannya menjadi contoh bagi Vano. Justru menambah kebencian di dalam hatinya.
Dengan cepat ia keluar dari hotel dan pulang ke rumah Dita dengan menggunakan taxi. Vano memilih meninggalkan mobilnya di hotel, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk mengemudi sendiri.
Begitu sampai di rumah Dita, Vano langsung mencari di mana keberadaan istrinya itu. Untuk memberikan ponselnya yang sedari tadi sudah berbunyi dan memekakkan telinga.
Semenjak panggilannya diakhiri, tidak ada sedikitpun niat Luna untuk berhenti melakukan panggilan. Sehingga ponsel Vano terus saja berbunyi tanpa henti.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu tidak mengangkat panggilan dari ibuku. Sehingga aku harus repot-repot mengantarkan ponsel ini untukmu."
Tanpa ada basa basi sedikitpun, Vano langsung melemparkan ponselnya ke tempat kosong yang ada di samping Dita. Membuat wajah pucat tersebut terangkat.
Dengan kedua alis yang nyaris bertaut, Dita memandangi wajah Vano.
"Apalagi yang kau tunggu?"
Dita menggeleng pelan. Meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilan tersebut.
Sedangkan Vano pergi ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Seraya menunggu Dita selesai dengan panggilan suara bersama sang ibu.
Vano yang berbaring telentang lebih memilih menatap langit-langit kamar Dita. Kamar yang di d******i dengan warna merah muda dan biru langit tersebut, terasa cukup nyaman baginya.
Aroma khas bunga mawar juga menyapa indra penciumannya. Sehingga Vano mulai merasakan kantuk yang menyerangnya. Sehingga ia memutuskan untuk berbaring miring dan menutup kedua matanya.
Namun, baru beberapa detik matanya terpejam, ia dikejutkan dengan getaran sebuah ponsel yang berada tidak jauh darinya.
Entah apa yang mendorong Vano untuk meraih ponsel berwarna hitam tersebut. Lalu memeriksa siapa yang menghubungi ponsel tersebut tengah malam seperti sekarang.
"Miko?" gumam Vano. Kedua alisnya nyaris bertaut menggumamkan nama tersebut. Otaknya juga ikut berpikir siapa pria yang ada di layar ponsel tersebut.
Pria yang tengah mengacungkan dua jari tangannya ke depan kamera, seraya merangkul bahu Dita.
*Ah, ya, pria yang di makam Alea!" pekik Vano dalam hati. Saat otaknya mengingat siapa pria tersebut.
Tidak ingin pria bernama Miko tersebut menghubungi Dita lagi, Vano langsung mematikan ponsel tersebut dan memasukkannya ke dalam celah antara kepala ranjang dan dinding kamar. Ia menjamin Dita tidak akan menemukan ponsel tersebut dalam waktu cukup lama.
Untuk menetralkan suara jatuhnya ponsel tersebut, Vano dengan sengaja menjatuhkan pajangan berbentuk hati di atas nakas. Seakan ia tidak sengaja menjatuhkan pajangan berbentuk hati itu, karena ia langsung berpura-pura tidur. Seakan itu tidak pernah terjadi.
Mendengar suara berisik dari belakangnya, Dita langsung menoleh. Ia menggelengkan kepalanya melihat Vano yang tertidur dengan satu tangan berada di atas nakas. Benar-benar seperti orang yang tak sengaja menjatuhkan pajangan miliknya. Pajangan yang diukir Miko, sebagai kado ulang tahunnya tahun lalu.
"Kak Vano di sini kok, Ma. Menemani Dita di sini. Menjaga dan melindungi Dita. Tadi kak Miko memang keluar sebentar. Katanya ingin membelikan sesuatu, tapi Dita lihat dia pulang tanpa membawa apapun. Dan sepertinya mama benar. Kak Vano batal membeli sesuatu karena terdesak pulang ke rumah," ucap Dita. Membenarkan apa yang tanyakan Luna padanya.
Dita yang tidak ingin mendapatkan masalah dari Vano, memilih berbohong saja. Karena ia tidak ingin hubungannya dengan Vano semakin runyam dan buruk.