Runtuh

1414 Words
"Sudahlah. Tak penting bagiku siapa dia dan ada hubungan apa kau dengannya. Karena tak akan berpengaruh apapun terhadapku," dengus Vano. Melangkah pergi begitu saja meninggalkan Dita, yang ketakutan melihat tatapan tajamnya. Hingga kedua lutut gadis itu melemas dan tubuhnya luruh terduduk di atas dinginnya lantai. Dita menatap nanar punggung bidang Vano yang menghilang dibalik pintu kamar. Punggung pria yang telah resmi menjadi suaminya. Suami yang akan menjadi imam atas kehidupannya setelah ini. "Kak, apakah kakak yakin kak Vano yang terbaik untukku?" gumam Dita. Kembali bertanya kepada sosok Alea yang kini telah tiada. Dita ingin memastikan apakah benar Vano yang terbaik untuknya? Dulu. Vano memang baik kepadanya. Ikut memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya seorang kakak kepada adik perempuannya. Setiap kali Vano menghubungi Alea, ia pasti akan menanyakan di mana keberadaan Dita. Jadi tak heran. Saat Vano dan Alea melakukan penggilan video, wajah Dita ikut terpampang di sana. Mereka bertiga saling melempar gurauan satu sama lain. Hubungan mereka bertiga begitu akrab satu sama lain. Seakan mereka bertiga adalah adik kakak kandung, yang terlahir dari rahim yang sama. Sayangnya itu dulu. Saat Vano belum tahu Dita adalah Wanita Pengganti untuk Alea. Menggantikan Alea yang telah lama didambakan untuk menjadi sosok seorang istri. Yang akan menemaninya hingga ajal menjemput. Saat Vano melihat wanita yang menemuinya menggunakan pakaian pengantin adalah Dita, dari sanalah tatapan penuh kasih itu berubah menjadi tatapan penuh dengan kebencian. Vano menuding Dita ingin merenggut posisi Alea dan menggantikannya. Dita menghela nafas. Berusaha bangkit dan mengangkat wajahnya. Meskipun berat dan hatinya terus menolak, tidak ada salahnya ia mencoba untuk iklhas. Lagipula saat Vano lelah dan menyerah, bisa dipastikan perceraian akan hadir diantara mereka berdua. Dita tersenyum tipis. Menertawakan nasibnya yang begitu lucu dan mengenaskan. ** "Karena nenek tidak ada yang menemani di sini, jadi kamu dan Dita akan tinggal di sini, Van." Luna. Ibunya Vano membuka suara saat mereka duduk di ruang keluarga. Saat para tamu yang menghadiri pengajian Alea sudah pulang. Kini hanya tinggal keluarga besar mereka saja yang berkumpul untuk membahas tentang tempat tinggal Vano dan Dita. Dita yang kini merupakan istri sahnya Vano, tentu saja harus ikut kemana pun Vano akan membawanya. Akan tetapi, saat ini neneknya Alea hanya tinggal seorang diri dan tidak mungkin rasanya meninggalkan beliau seorang diri.. Meskipun di rumah mewah tersebut ada banyak asisten rumah tangga. "Tidak usah, Lun. Ibu bisa tinggal disini bersama yang lainnya. Sebagai istri Vano, Dita tentu saja harus ikut dengannya," ucap neneknya Alea. Seraya mengusap pucuk kepala Dita, yang kini tidur di pangkuannya. Wanita berusia senja tersebut juga memaksakan senyumannya. Agar tak ada yang keberatan atas usulan dirinya. Meskipun sebenarnya ia sangat berharap Dita masih tinggal bersamanya. Menghabiskan sisa usia yang kini di penghujung kehidupan. Namun, air wajah Vano yang langsung berubah masam saat mendengar penuturan ibunya sendiri, Maryam, neneknya Alea merasa itu bukanlah keputusan yang tepat. Dan sepertinya ia keliru telah mengizinkan Vano menikahi Dita. Karena semenjak kepergian Alea, tidak ada sedikitpun Vano menunjukkan sikap baiknya kepada Dita. Setelah ini entah bagaimana nasib cucu angkatnya itu. Maryam hanya bisa berharap Dita sanggup menghadapi Vano, meskipun tak ada dirinya nanti. "Tidak bisa begitu, Bu. Meskipun di sini Ibu tidak sendirian, tetap saja hanya Dita yang bisa menemani dan menjaga Ibu seutuhnya.. Lagipula, Alea baru saja pergi dan tentu saja hanya keberadaan Dita yang mampu menghalau duka di hati Ibu," tutur Luna. Wanita paruh baya itu bisa merasakan Maryam sangat terpaksa saat mengucapkan pernyataan Dita tidak apa ikut dengan Vano. Namun kedua matanya tidak bisa membohongi isi hatinya, yang mengatakan sangat membutuhkan Dita di sisinya. "Kamu benar," gumam Maryam. Matanya yang kini menatap Dita yang terlelap perlahan mengabur. Hingga satu buliran bening terjatuh di atas rambut panjang Dita. Maryam yang tidak mampu lagi menyembunyikan duka dan kesedihannya akhirnya menyerah. Ia menangis tanpa suara. Meratapi nasib buruk yang menimpanya dan Dita. Kehilangan sosok pelita di dalam kehidupan mereka berdua. Setelah ini tidak akan ada lagi yang mengajaknya tertawa. Setelah ini tidak akan ada lagi yang merengek meminta dibuatkan nasi goreng dengan telur mata sapi yang meleleh diatasnya Setelah ini tidak ada lagi yang menjahili Dita, hingga berujung ke kolam berenang. Suasana rumah yang selalu ramai dengan gelak tawa Dita dan Alea, setelah ini takkan terdengar lagi. Suasana rumah yang selalu hangat karena limpahan kasih sayang, takkan sehangat dulu karena sang pelita telah kembali pada sang pencipta. "Atau begini saja. Dita di sini dan aku ikut Mama pulang. Nanti sesekali aku akan datang kemari untuk menemuinya," celetuk Vano. Tanpa ada rasa segan sama sekali terhadap Maryam dan yang lainnya. Vano berkata demikian bukan tanpa sebab. Ia ingin mengungkapkan secara tidak langsung bahwa dirinya tidak menginginkan pernikahannya dengan Dita. "Vano!" dengus Luna, melirik tajam kepada putranya itu. "Begitu juga tak apa," sela Maryam cepat. Ia segera menyetujui keinginan Vano, untuk menunjukan bahwa dirinya pun menyesal telah menikahkan Dita dengannya. Maryam tidak ingin Dita hidup menderita dengan pria yang tak dicintai dan mencintainya. Sungguh ia pun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi. "Bu, tidak bisa begitu. Pernikahan antara Vano dan Dita sah secara hukum dan agama. Dan aku rasa tak elok mempermainkan pernikahan yang begitu sakral dan suci ini," susul Luna. Ia benar-benar tidak ingin pernikahan Dita dan Vano berakhir begitu saja. Bahkan tanah makam Alea saja masih merah. Sangat tidak adil jika Dita dan Vano tinggal terpisah, karena itu bisa memudahkannya untuk bercerai. "Tapi, Ibu lihat Vano tidak menyukai pernikahan ini." "Tidak, Bu. Itu tidak benar. Vano melakukan pernikahan ini serta merta karena rasa cintanya terhadap Alea. Dengan cara menikahi Dita, itu artinya Vano akan menggantikan Alea untuk menjaganya. Dan aku yakin, seiring dengan berjalannya waktu, akan ada cinta yang hadir diantara mereka." "Ma …" Luna mengangkat satu tangannya agar Vano diam, karena ia belum selesai berbicara. "Aku yang akan menjamin kebahagiaan Dita di tangan Vano," ucapnya kepada Maryam. Namun, tatapannya terarah kepada Vano. Membuat pria itu mendengus kesal dan langsung berdiri begitu saja. "Van, barang-barangmu nanti akan dibawa supir ke sini. Dan sebaiknya kamu dan Dita beristirahat," tutur Luna lagi. Semakin membuat Vano menekuk wajahnya. "..., dan tolong bawa istrimu ke kamar!" pinta Luna dengan suara datar, tapi mengandung ketegasan di sana. Dengan malas Vano berjalan mendekati Dita yang masih terlelap di pangkuan Maryam. Gadis itu tampak nyaman tidur di pangkuan nenek yang merupakan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. "Nek," lirih Dita. Matanya mengerjap saat merasakan tubuhnya melayang di udara. "Jangan turunkan Dita di sini. Turunkanlah dia di atas ranjang kalian," ucap Luna cepat. Saat melihat Vano berniat untuk menurunkan Dita dari gendongannya. Vano menghela nafas berat. Menunjukkan ketidak sukaannya dengan situasi yang kini dialaminya. Sesampainya di kamar, Vano langsung menurunkan Dita dari gendongannya. Dan tanpa bicara, ia langsung duduk sebuah sofa yang ada di depan ranjang tersebut. Di sana Vano duduk diam tanpa suara. Entah apa yang kini ia pikirkan. Tatapannya tampak kosong menatap foto yang menggantung di dinding kamar tersebut. Foto yang berisi dua orang gadis yang tengah berpelukan. Salah satu dari gadis tersebut adalah Alea, yang begitu dicintainya. Dan satu gadis lainnya adalah Dita, yang tadi siang dinikahinya. Vano menarik kedua sudut bibirnya. Menertawakan nasibnya yang harus kehilangan Alea secepat ini. Dan kini harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Dita. Miris. Dita yang tak pernah mengharapkan kebaikan dari Vano, memilih melanjutkan tidurnya. Kepalanya begitu sakit karena menangis seharian. Serta kehujanan tadi sore, membuat tubuhnya sedikit hangat, pertanda ia akan demam setelah ini. Tidak lama kemudian Dita langsung jatuh tertidur, dan tidak sadar Vano telah keluar dari kamar, tidak lama setelah keluarganya berpamitan untuk pulang. Maryam yang melihat Vano pergi begitu saja, hanya bisa mengelus da'da. Berharap umurnya panjang agar bisa menjaga Dita, sampai menemukan kebahagiaannya. Namun, keinginan Maryam tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan. Angan dan mimpinya itu akan ikut terkubur dengan jasadnya hari ini. Saat pagi menjelang, rumah mewah yang masih diselimuti kabut duka tersebut, riuh oleh suara teriakan dari seorang wanita paruh baya. Yang menyeru seluruh penghuni rumah mewah tersebut. Termasuk Dita. Yang masih terlelap dalam tidurnya, hingga terkejut mendengar suaranya disebut. "Ada apa, ya?" lirih Dita. Memaksakan tubuhnya yang lemah untuk beringsut turun dari ranjang. Berharap tubuh lemahnya tidak tumbang begitu saja. Dengan bermodalkan sisa tenaga serta penyangga tangga, Dita menuruni satu persatu anak tangga. Mencari dari mana asal suara yang sedari tadi menyerukan namanya. "Ada apa? Kenapa kalian ramai-ramai di depan kamar nenek? Nenek nggak kenapa-kenapa kan, ya?" lirih Dita. Perasaanya mendadak tidak enak. Melihat para pekerja yang ada di rumahnya berdiri di depan kamar sang nenek. "Nona muda harus tabah," gumam seorang asisten rumah tangga. Mendekat dan langsung memeluknya. "Nenek sudah pergi, Non."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD