Wanita Pengganti

1270 Words
Dita menatap nanar pada gundukan tanah yang ada di depannya kini. Ia juga mengabaikan tetesan air hujan yang turun dari langit. Seakan langit ingin menutupi air mata duka yang tak pernah berhenti mengalir dari kedua sudut mata Dita. Meratapi kematian Alea, yang akan menorehkan luka sepanjang hidupnya. "Kak … kenapa harus secepat ini kamu pergi, Kak? Kenapa secepat ini kamu pergi meninggalkan aku di dunia ini? Bukankah kakak selalu berjanji untuk selalu berada di dekatku?" lirih Dita. Mengusap batu nisan yang tertancap di atas gundukan tanah tersebut. Seakan ia kini tengah mengusap kepala Alea. Seakan kini Alea tengah tidur di pangkuannya. Hal yang selalu dilakukan Alea saat merasakan lelah seharian bekerja di kantor. "Kak … kenapa aku harus menikah dengan kak Vano? Aku sudah memiliki Miko, Kak," lirih Dita lagi. Tidak mampu menahan kesedihan dan kepahitan yang dialaminya. Gadis itu benar-benar tidak sanggup untuk menghadapi kehidupannya yang baru. Kehidupan tanpa Alea, serta menyandang status sebagai istrinya Vano. Melepaskan Miko, yang begitu mencintai dan dicintainya. Dita memukul dadanya sendiri. Saat rasa sesak dan sakit itu kembali muncul menyesakkan dadanya. "Kenapa, Tuhan? Kenapa aku harus menjalani takdir seburuk ini? Belum cukupkah Engkau mengambil keluargaku? Kini Engkau mengambil kakakku dan menjadikanku istri dari pria yang tidak mencintaiku!" Di tengah hujan yang semakin deras. Di samping makam yang tanahnya masih merah, Dita menangis tergugu. Menyalahkan takdir yang tidak pernah adil terhadap hidupnya. Haruskan ia mengakhiri hidupnya sendiri agar semuanya selesai? "Dita …" ucap seorang pria. Ikut duduk di sampingnya. Merangkul dan memeluknya. Pelukan yang selalu menenangkan hati dan pikirannya. Pelukan dari seorang pria yang begitu dicintai dan mencintainya. Pelukan dari pria yang diharapkan menjadi suaminya kelak. "Miko … aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" balas Dita. Semakin terisak di dalam pelukan kekasihnya tersebut. "Yang harus kamu lakukan saat ini adalah ikhlas. Ikhlas menjalankan garis takdir yang telah tergaris untukmu. Dan aku yakin ada kebahagiaan yang menantimu di depan sana," bisik Miko. Berusaha menguatkan Dita, meskipun hatinya sendiri hancur atas kenyataan yang terjadi. Ingin rasanya saat ini Miko meminta Vano untuk menalak Dita, agar bisa menggantikan posisinya. Menjaga dan melindungi Dita. Akan tetapi, Miko tidak ingin egois dan hanya mementingkan perasaannya saja. Karena ia juga menghargai almarhumah Alea, dan Vano yang kini berstatus sebagai suami sahnya Dita. Serta neneknya Alea, yang memiliki harapan besar dengan pernikahan Dita dan Vano. Wanita yang telah berusia senja itu berharap, Dita bisa hidup bahagia dengan Vano, pria yang dikenalnya begitu baik dan bertanggung jawab. Meskipun saat resmi menjadi suami Dita, belum ada satupun sikap Vano yang menunjukkan tanggung jawab sebagai seorang suami. Jangankan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami, batang hidungnya saja tidak terlihat. Vano bahkan mengabaikan Dita yang pingsan, dan kini masih berada di makam Alea. Dalam keadaan menangis dan tubuhnya yang menggigil kedinginan. "Ikhlas? Aku tidak yakin bisa melakukannya. Bahkan untuk tetap bernyawa saja aku tidak akan sanggup, Mik!" lirih Dita. Ikhlas? Tentu saja untuk saat ini hal tersebut sangat mustahil baginya.. Sedari kecil hidup dalam limpahan kasih sayang, dan saat kehilangan keluarganya Dita mendapatkan gantinya dari Alea. Alea yang bukan siapa-siapa baginya, telah mencurahkan seluruh kasih sayang yang dimilikinya. Sehingga tidak ada ketimpangan yang dirasakan oleh Dita. Karena Alea berhasil mengisi tempat kosong yang ditinggalkan oleh keluarga Dita. Dan kini. Alea pergi untuk selamanya. Membawa seluruh kasih sayang dan meninggalkan Vano sebagai pengganti. Vano yang menatap jijik padanya saat tahu ia adalah Wanita Pengganti untuk Alea. Sekaligus wanita yang dianggap sebagai penghasut Alea agar tak bercerita tentang penyakit, yang tengah menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Sehingga ia menyerah dan pergi untuk selamanya. "Jangan berkata seperti itu, Dit. Kamu harus kuat. Kamu masih ada nenek yang harus kamu jaga. Dan kamu masih ada aku yang akan setia mendampingi dan menjagamu. Meskipun saat ini kamu bukan milikku lagi. Setidaknya aku bisa menjadi tempatmu pulang dan berkeluh kesah," ungkap Miko. Mengurai pelukannya pada Dita. Agar ia bisa . menatap kedua mata yang selalu memancarkan kebahagiaan. Namun, kini kedua mata itu diselimuti oleh duka yang begitu dalam. Kedua mata itu juga membengkak dan memerah. "Percayalah, Dit. Kamu akan mampu menghadapi semua ini. Kamu hanya harus bersabar dan ikhlas. Dan percayalah. Ada aku yang akan selalu mendampingi dirimu." Dita tersenyum tipis. Merespon apa yang dikatakan oleh Miko padanya. Apa yang dikatakan Miko sebenarnya masih bisa dilakukannya dengan ikhlas, jika ialah suami pilihan Alea. Akan tetapi, saat ini Vano adalah pria yang menyandang status sebagai suaminya. Jadi, apakah ia bisa ikhlas untuk menjalani seluruh takdir yang tertulis? Entahlah. Dita hanya bisa pasrah menerima. Sama halnya saat tubuhnya melayang dan berakhir di dalam gendongan Miko. Pria itu sepertinya tidak ingin Dita lebih lama lagi duduk meratapi kepergian Alea. Selain tidak baik untuk kesehatan mentalnya, guyuran hujan serta angin yang berhembus cukup kencang akan mengganggu kesehatan Dita nantinya. Sehingga dengan sangat terpaksa Miko menggendong tubuh Dita yang telah menggigil kedinginan menjauh dari makam Alea. Tepatnya, Miko membawa Dita pulang ke rumah, dengan sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari area pemakaman. Namun, tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang menangkap kebersamaan mereka. Mata dari seorang pria yang terpaksa menikahi Dita, sekaligus terpaksa menjemputnya. Karena ancaman yang diberikan oleh ibunya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Vano. Yang semakin membenci Dita karena keluarganya malah berpihak kepadanya. Padahal saat ini Vano tidak ingin diganggu oleh siapapun. Namun, sang ibu malah mendesaknya untuk menjemput Dita. Dan apa yang ia lihat saat ini membuat Vano semakin memupuk rasa benci kepada wanita yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu. Sesampainya di rumah, Dita langsung masuk dan mengganti pakaiannya di kamar mandi. Saat masuk ke rumah, Miko langsung berpamitan karena tidak enak dengan beberapa kerabat dekat Alea, serta keluarga Vano yang masih berada di rumah tersebut. Ia ingin menghargai status Dita sebagai istri Vano, sehingga memilih pergi begitu Dita sampai di ambang pintu masuk. Dan tanpa disadari Miko saat mobilnya keluar dari pekarangan rumah Alea, mobilnya berselisih dengan mobil yang dikendarai oleh Vano. Di Dalam mobil tersebut tampak Vano memandang benci terhadap mobil yang mengantarkan Dita. Terutama pria yang mengendarai mobil tersebut. "Vano! Darimana saja kamu sampai-sampai pria lain yang mengantarkan istrimu pulang?" Seorang wanita paruh baya langsung menghadang langkah Vano, saat menginjakkan kakinya di rumah Alea. "Dari makam wanita yang kucintai," sahutnya. Tanpa menghentikan langkahnya. "Kalau kamu dari makamnya Alea, lalu kenapa pria lain yang membawa Dita pulang?" desak wanita paruh baya yang tidak lain ibunya Vano. Ia juga berusaha mengejar langkah putranya menuju ke lantai dua. Tempat di mana kamar Dita dan Alea berada. Kamar yang terletak saling bersebelahan tersebut, salah satunya telah ditinggal pergi oleh sang pemilik. "Aku tidak tahu siapa dia, Ma. Tapi Mama tenaga saja. Aku akan bertanya kepada Dita. Jadi tunggu di sini!" pinta Vano. Sebelum menaiki satu persatu anak tangga, yang akan mengantarkannya ke kamar Dita. Pasrah. Melihat kilatan kemarahan dari mata Vano, mmmm hanya bisa menghela nafas. Menghentikan langkahnya dan kembali ke ruang tamu mempersiapkan pengajian untuk Alea. Tanpa tahu kini Vano yang telah sampai di kamar Dita, langsung menyelonong masuk dan menatap tajam padanya. Dita yang baru saja keluar dari kamar mandi tersentak. Melihat keberadaan Vano yang tiba-tiba saja berada di kamarnya. "Selain tidak tahu diri dan licik, ternyata kau juga mu'rahan! Menjadikan makam calon istriku sebagai tempat untuk memadu kasih dengan pria itu," ucap Vano datar. Seraya melangkah mendekati Dita, yang tampak ketakutan. Seraya mempertahankan handuk yang melilit tubuh mungilnya. "Ma-maksud Kakak apa?" gumamnya. Saat Vano telah mendesak tubuhnya di pintu kamar mandi. "Apa maksudku katamu?" sindir Vano. Semakin marah karena Dita tidak mengakui kebersamaanya dengan pria di makam Alea tadi. Dita hanya bisa mengangguk pelan. Pasrah dengan apa yang akan dilakukan Vano padanya. Sesuai dengan yang katakan oleh Miko padanya. Pasrah. Dan jalani dengan ikhlas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD