"Pagi, Non!" sapa Dini yang sudah berdiri di samping Dara yang baru saja membuka kedua matanya.
"Pagi," balas Dara dengan suara berat, menggeliat sesaat lantas kaget saat menyadari dirinya tidak memakai pakaian sama sekali dan hanya tertutup selimut. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam, dan saat berhasil mengingatnya, Dara langsung menarik selimutnya yang semula hanya menutupi sampai d**a, kini hingga leher yang membuat Dini tersenyum lucu karenanya.
Dara menoleh ke sebelah kiri, tak ada Demian di sampingnya. Dara kembali menarik tatapannya ke arah lain yang kali ini ke arah jam dinding di atas pintu kamar. Jarum jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dan seperti biasa, Demian pasti sudah pergi ke kantor dengan alasan yang sama, rapat.
"Tuan Muda kamu di mana? Udah berangkat lagi?" tanya Dara dengan perasaan kesal bukan main karena Demian berhasil menyentuhnya lagi tadi malam.
"Tuan Muda lagi pemanasan di dekat kolam, Non, mau berenang. Tuan Muda meminta saya untuk mengajak Non berenang."
Dara menggeleng cepat, "Saya gak suka berenang! Ambilkan saja saya handuk dan pakaian, saya mau mandi dan shalat subuh," perintah Dara yang mulai terbiasa dilayani Dini.
"Baik, Non," jawab Dini yang langsung beralih ke lemari pakaian di ruangan berbeda tanpa pintu di sebelah kamar tidur Dara. Ruangan yang sengaja di design untuk dipenuhi lemari-lemari kaca dan meja yang juga terbuat dari kaca di tengahnya yang khusus untuk tempat pakaian, tas, sepatu serta semua barang lainnya milk Demian dan Dara yang tampak tersusun rapi. Demian yang tidak suka berantakan, membuat Dini dan beberapa pekerja yang diutus membereskan kamar Demian, harus ekstra membersihkan barang-barang di lemari setiap tiga hari sekali. Sekedar membersihkan debu atau barang yang letaknya tidak simetris sesuai letak yang diinginkan Demian sebelumnya.
Sementara itu, Dara yang masih berbaring, langsung menghentak-hentakkan tubuhnya kesal bukan main yang masih di bawah selimut. Dia tidak menyangka, Demian kembali berhasil mendapatkannya. Entah ilmu apa yang dipakai Demian hingga selalu berhasil menghipnotis Dara untuk melakukan hubungan suami istri dengannya, padahal sebelumnya Dara sudah bertekad tidak mau memberikannya kenikmatan beberapa hari ke depan, sebagai hukuman akibat perbuatannya yang seenaknya membuat surat perjanjian aneh itu.
"Sudah saya siapkan di dalam, Non, ada lagi? Atau Non mau sekalian saya panaskan air buat mandi?" tanya Dini yang sudah kembali berdiri di samping tempat tidur.
"Gak usah, saya gak biasa mandi pakai air panas," jawab Dara. "Em ... Demian sudah shalat subuh?" tanya Dara yang malah berhasil mengubah ekspresi Dini yang kini terlihat bingung.
"Shalat?" tanya Dini. "Tuan Muda jarang shalat, Non."
"Jarang, atau sama sekali gak pernah?" tanya Dara lagi.
Dini menggelengkan kepala dengan ekspresi yang seolah ikut merasakan malu akibat majikannya yang tak pernah shalat. Dara sendiri hanya menghela napas pelan. Andai saja akad kemarin tidak berlangsung secara islam, mungkin saat ini Dara tahu alasan kenapa Demian tidak mau melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Ada lagi, Non?" tanya Dini.
"Gak ada, ke luar saja, saya mau mandi dulu."
"Baik, Non."
Dini ke luar dari kamar meninggalkan Dara yang menatapnya dengan pikiran tertuju ke Demian. Ada rasa tanggung jawab yang begitu besar dirasakan Dara kali ini. Dara menyadari, kehadirannya di kehidupan Demian seakan ingin menarik lelaki tampan itu untuk kembali ke jalannya yang seharusnya. Entah itu tentang shalat, atau tentang hal yang lainnya.
***
Dara membuka pintu kaca yang langsung menuju ke kolam renang. Langkah pertama Dara ke luar halaman belakang bertepatan dengan Demian yang baru saja ke luar dari kolam renang. Dara terpukau melihat badan Demian yang athletic dengan perut kotak-kotak. Demian melangkah ke arah tempat tidur khusus untuk berjemur di sisi kolam, mengambil handuk tanpa menyadari Dara yang masih terpaku di dekat pintu.
Perlahan, Dara seperti melangkah tanpa dia sadari. Mendekati Demian yang masih membelakanginya sembari mengeringkan rambut dengan handuk. Dara menikmati punggung Demian, hingga tidak menyadari, tangan kanannya bergerak berniat menyentuh punggung Demian yang persis seperti lelaki-lelaki idaman para wanita di film-film action.
"Tergoda?" tanya Demian yang tiba-tiba berbalik menghadap ke Dara.
Dara spontan mundur beberapa langkah, mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha menghindari sorot mata Demian yang masih menatapnya lekat.
"Mana mungkin!" jawab Dara.
"Jadi ngapain mau nyentuh segala?" tanya Demian sembari melempar handuk ke tempat semula.
"Tadi cuma ... cuma ...." Dengan cepat Dara mencari jawaban atas pertanyaan jebakan Demian. "Tadi ada kotoran di punggung kamu, jadi aku mau bersihkan!"
Demian tertawa kecil, "Seharusnya semua kotoran hilang setelah kena air, kenapa malah masih ada."
"Ya mana aku tau!" jawab Dara sembari duduk di tempat berjemur. "Lagian, tumben gak ke kantor, cuti apa gimana?" Dara berusaha mengalihkan pembicaraan agar Demian tidak terus membuatnya terjebak.
"Perusahaan punyaku, dan terserah aku juga mau datang atau gak," jawab Demian sembari duduk di tempat yang sama namun di sisi berbeda. "Ada rencana mau ke mana hari ini?"
"Gak ada, seharusnya aku yang nanya mau ada rencana apa sampai gak masuk kerja. Biasanya orang-orang kaya jadwalnya padat banget. Ketemu sama si A, ketemu sama si B, jamuan makanan di sinilah, di sanalah. Repot!"
Demian tersenyum, "Ada, nanti siang."
"Ke mana? Apa aku harus ikut?" tanya Dara dengan ekspresi malas.
"Papi kamu, minta kita untuk hadir di rumah buat makan siang bersama. Katanya, sejak kita menikah, dia belum pernah ngundang aku untuk makan di rumah sebagai menantu." Demian mengarahkan tatapan ke Dara yang terlihat menundukkan kepala. "Kamu harusnya ikut."
"Kalau aku menolak?" tanya Dara tanpa melihat ke Demian. Sikap Dara yang tiba-tiba berubah sedih, membuat Demian curiga. Yang Demian tahu, anak perempuan yang sudah menikah, pasti ingin selalu pulang ke rumah untuk bertemu dengan orang tuanya. Bahkan terasa berat jika terlalu lama tidak berkumpul. Namun Dara malah terlihat tidak tertarik dengan undangan makan siang itu.
"Kenapa?" tanya Demian dengan nada suara rendah. "Apa ada masalah?" tanya Demian yang merasa ada yang tidak beres dengan perubahan sikap dan ekspresi Dara.
Dara menghela napas berat, lantas menggelengkan kepala, "Hanya sedikit malas saja. Tapi ya udahlah, mustahil juga aku gak datang." Dara mencoba menarik senyuman di bibirnya.
Terkesan terpaksa, itulah yang tertangkap di kedua mata Demian. Tanpa banyak basa basi, Dara malah langsung beranjak dari tempatnya duduk menuju ke dalam rumah.
"Sarapan yuk, aku lapar!" serunya sembari melangkah melewati pintu tanpa berbalik melihat ke Demian yang terus menatapnya pergi dengan tatapan curiga. Dia yakin, ada sesuatu yang terjadi pada Dara hingga membuatnya enggan bertemu dengan kedua orang tuanya sendiri.