Bab 5: Sebuah Nasihat

1226 Words
Keesokan harinya Nayla bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Aska dan bertemu Salsa. ia membawa berbagai macam buah-buahan untuk Aska. Sesampainya dirumah sakit Nayla langsung menuju ruang rawat Aska. "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam Nay" jawab Salsa "Gimana keadaan Aska?" "Alhamdulillah udah mendingan. besok juga udah boleh pulang" Nayla melihat Aska yang sedang tidur nyenyak diranjangnya. "Jadi gimana kemarin?" Tanya Salsa yang mulai kepo. "Mas Ridwan minta ijin Abah. Sabtu depan mau ke rumah lamar aku" ujar Nayla "Alhamdulillah, akhirnya berani juga. Udah,langsung terima aja" ujar Salsa bersemangat. "Aku masih bingung Sal, maksud aku ini terlalu mendadak" jawab Nayla jujur. "Apa ini ada hubungannya sama Reyhan? Jangan bilang kamu masih belum move on?" "Gak. Bukan karena itu" jawab Nayla cepat. "Terus apa Nay? Ada seorang laki-laki yang serius sama kamu menawarkan hal baik dan meminta ijin langsung sama Abah. Apa sih yang kamu cari?Apa kamu masih ragu karena status dia yang duda dan punya anak?" Balas Salsa "Bukan itu, aku gak masalah kok Sal soal status mas Ridwan" kata Nayla. "Ya terus apa? Kamu tau gak,mas Ridwan udah suka sama kamu dari 2 tahun yang lalu. Dia cuma bisa mengagumi kamu dari jauh. Akhirnya dia berani nemuin Abah karena mungkin merasa kamu udah siap. Jadi apa lagi Nay? Saran aku kamu terima dia Nay. Insyallah mas Ridwan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab" "Kalau kamu masih ragu juga, coba solat istikharah minta petunjuk sama Allah nanti pasti akan ada jawabannya" kata Salsa. Nayla memikirkan saran dan nasihat dari Salsa. Mungkin memang sudah saatnya Nayla memikirkan soal pernikahan dan saat ini mas Ridwan menawarkan hal yang baik. Nayla memang percaya kalau mas Ridwan laki-laki yang baik. Laki-laki yang langsung meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikah. Laki-laki yang menghormatinya. Nayla yang baru saja sampai rumah langsung disambut sang Abah di ruang tamu. " Nduk sini dulu, yang Abah mau bicara sama kamu" Nayla yang dipanggil Abah seketika berjalan menuju sang Abah. "Gimana nduk? Kamu udah memikirkan lamaran dari Ridwan?kalau kamu tanya pendapat Abah jawabannya Abah setuju. Kemarin malam Ridwan udah bicara semuanya sama Abah. Abah percaya Ridwan laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Sekarang tinggal kamu aja. Abah juga udah ngabari mas dan mbak mu mereka juga setuju malah mbak mu udah siap-siap beli tiket ke Jakarta" "Coba sholat istikharah dulu nduk kalau kamu masih ragu,Minta jawaban sama Allah" kata Abah. "Iya bah, Nayla ke kamar dulu ya,mau bersih-bersih" Nayla pamit masuk ke kamarnya. Karena Abah dan Salsa menyuruh Nayla untuk sholat istikharah akhirnya Nayla pun melaksanakan sholat tersebut untuk meminta petunjuk. Setelah merasa yakin Nayla segera menghubungi mas Ridwan. Mungkin ini yang terbaik batin Nayla To: Mas Ridwan Mas besok bisa ketemu? Ada yang mau aku omongin Beberapa menit kemudian ada bunyi pesan masuk. Balasan dari mas Ridwan To : Nayla Baik. saya jemput kamu setelah kamu selesai praktek. _________ Keesokan harinya Nayla melakukan aktivitas seperti biasanya. Jujur saja Nayla merasa gugup tapi senang. Perasaan yang telah lama hilang kini Nayla rasakan lagi. Tumben sekali Adrian sudah berada di klinik sejak pukul 3 sore. "Nay, Salsa udah bilang soal mas Ridwan yang ngelamar kamu. Aku dukung semua keputusan kamu. Aku setuju kalau kamu mau sama mas Ridwan. dia laki-laki yang baik" ya sudah empat orang terdekat ku yang mendukung hubunganku dengan mas Ridwan. Salsa, Abah, mbak Nanda dan sekarang Adrian. "Nanti kamu kelarin praktek sampai jam 4 sore aja. Setelah itu aku yang handel. sekarang kamu hubungi mas Ridwan suruh jemput" perintah Adrian. Nayla segera mengambil handphone yang berada di meja kerjanya. To : Mas Ridwan Mas sebentar lagi aku selesai. Mas bisa jemput aku sekarang. Beberapa menit kemudian bunyi pesan masuk. To: Nayla Baik. Aku jemput sekarang. Selama menunggu mas Ridwan menjemput, perasaan Nayla semakin tidak menentu. Nayla merasa deg-degan. Tidak lama sebuah mobil hitam yang Nayla kenal sudah ada didepan. Subhanallah Mas Ridwan yang hanya memakai kemeja putih dan celana hitam kain terlihat sangat tampan. "Assalamualaikum Nay" sapa mas Ridwan sambil tersenyum manis. "Waalaikumsalam mas" balas Nayla malu. "Mau ngobrol dimana?" "Di kafe dekat sini aja mas biar nanti Nayla gak jauh kalau balik ke klinik ambil mobil" "Oke" jawab mas Ridwan sambil membukakan pintu untuk Nayla. Karena kafe tempat mereka ngobrol dekat jadi tidak sampai 5 menit sudah sampai. "Mau pesan apa mas?" Tanya Nayla "Cappucino aja sama roti bakar" jawab mas Ridwan. Nayla kemudian menuju kasir untuk order sesuai pesanan mas Ridwan. "Jadi mau ngomong apa Nay?" Kata mas Ridwan membuka percakapan kami. "Mas Ridwan serius mau lamar aku?" "Apa kamu pikir saya bercanda Nay?" Jawab mas Ridwan menatap Nayla tajam. "Bu..bukan begitu mas" ucap Nayla gugup "Mungkin sampai detik ini kamu masih ragu. Aku mengerti. Apakah terlalu sulit buat saya meyakinkan kamu kalau saya sangat sangat serius sama kamu. Saya mencintai kamu sudah lama dan saya baru berani mengutarakan perasaan saya sekarang karena saya pikir saya sudah siap dan kamu pun juga sudah siap" balas mas Ridwan. "Bisakah mas Ridwan ceritakan kenapa mas Ridwan sampai bercerai dengan mantan istri mas?" Kata Nayla. Nayla memang membutuhkan penjelasan dan alasan dari mas Ridwan. "Baiklah Memang sudah saatnya kamu tau masa lalu saya. Saya menikah dengan Mutia saat umur saya 27 tahun. Pernikahan kami hanya bertahan 1,5 tahun. Awalnya kami bahagia seperti pasangan pada umumnya. Sampai beberapa bulan kemudian Mutia dinyatakan hamil. Tentunya kami sangat bahagia. Selama ini tidak ada yang aneh pada kehamilannya. Sampai Danar lahir pun tidak ada keanehan. Tapi setelah usia Danar 3 bulan, ada suatu kejanggalan dalam diri Danar. Mutia berusaha menolak dan mengatakan kalau Danar sama seperti anak pada umumnya. Mungkin dia masih pada tahap denial. Saya selalu berusaha menjelaskan kalau memang Danar anak yang berbeda. Tapi Mutia tidak mau menerima, dia mulai merasa menyesal telah melahirkan Danar. Tentu saja saat itu saya marah. Ditambah lagi tekanan keluarga besarnya yang mengolok-olok Mutia semakin membuatnya sering marah dan melampiaskannya kepada Danar. Dia kemudian pergi dari rumah meninggalkan Danar dan saya. Tak lama kemudian dia melayangkan gugatan cerai. Sebenarnya saya sudah berulang kali berusaha mengadakan mediasi. Tapi dia menolak. Mungkin tidak sepenuhnya salah Mutia, saya pun juga salah. Pada saat itu saya sedang sibuk membangun yayasan dan juga sedang banyak pekerjaan. Saat itu mungkin ia butuh support moril dari saya. "jika dalam suatu hubungan hanya salah satu yang berjuang maka hasilnya juga sia-sia. Mungkin saya tidak bisa membahagiakan Mutia jadi daripada membuat dia semakin tertekan akhirnya saya membebaskan dia dari pernikahan ini. Saya juga meminta maaf pada keluarga besarnya tapi saya malah di caci maki. Alhamdulillah hak asuh Danar jatuh ketangan saya. Meskipun ia berbeda tapi saya menyayangi putra saya. Ini cerita saya, kalau setelah ini kamu menolak saya tidak apa-apa. Saya tidak akan memaksa kamu" kata mas Ridwan. Ada sendu dimatanya, ketika mengatakan tentang masa lalunya. Rasa sakit dan sedih. Tapi ia lelaki yang kuat dan tangguh. "Maaf ya mas saya tidak bisa" ucap Nayla menatap lekat Ridwan. Ridwan langsung menunduk sedih sesaat kemudian ia menatap Nayla. "Tidak apa-apa Nay mungkin kamu bukan jodoh saya meskipun saya berharap kamu memang jodoh saya" Kata mas Ridwan. Mas Ridwan yang hendak berdiri dari tempat duduknya seketika Nayla berkata. "Mas. Saya belum selesai ngomong" ucapku "Maaf, saya tidak bisa menolak mas Ridwan karena saya semakin yakin untuk menerima lamaran mas Ridwan" kataku tersenyum lebar. Mas Ridwan yang kaget langsung tersenyum lega. Dia seakan tidak bisa berkata apa-apa. Ia masih memandang Nayla, melihat kesungguhan Nayla yang telah menerima lamarannya. Nayla seketika mengangguk sembari tersenyum lebar. "Alhamdulillah" ucap Ridwan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD