4. Bincang Malam

1587 Words
"Bukankah lebih baik Mona tetap di sini, sampai rumahnya selesai di renovasi. Lagipula kata Ayah, akan selesai dalam tiga hari ini." Mona mencoba menolak dengan halus usulan ibunya untuk tinggal di hotel selama tiga hari bersama dengan suami barunya, Galih. Bukan tidak suka, tetapi jika berada di rumah orang tuanya, dirinya masih memiliki ruang untuk mencoba beradaptasi dengan statusnya sebagai istri Galih. Kamar hotel dan hanya berdua dengan Galih? Hal itu seolah membuat Mona merasa seperti digiring kepada lelaki itu. Satu ruang yang mungkin mengubah segalanya dalam semalam. Mona belum siap, belum dalam beberapa hari ini. "Mona, ini permintaan Ibu Mertuamu sendiri. Mereka telah menyiapkan hotel tersebut, masa kamu tolak. Lagipula ... anggap saja ini simulasi bulan madu kalian," balas Masita membuat Mona merasa sedikit tersipu mendengarnya. Mona tidak mampu membantahkan lebih lanjut. Ia takut ibunya berpikir bahwa dirinya menolak pernikahannya dengan Galih. Menghancurkan nama baik keluarganya, terlalu suram untuk Mona pikirkan. "Kami pulang." Suara Handoko muncul seiring dengan pintu depan terbuka. Menampilkan sang jenderal yang baru saja pulang bersama menantunya. Baru sehari setelah pernikahannya, Galih langsung diajak oleh Handoko untuk mengunjungi para tokoh masyarakat Kota Tembagau. Hal itu karena Handoko perlu kembali pergi bertugas dan akan meninggalkan sejenak keluarganya. "Kalian pasti lelah. Aku akan menyiapkan makan malam," ujar Masita beranjak. Handoko ikut masuk ke dalam untuk membersihkan diri, setelah keluar sejak siang hari. Ia juga perlu menghubungi bawahannya untuk mengabarkan bahwa dirinya akan segera kembali setelah cuti untuk pernikahan Mona. Hal itu membuat Mona dan Galih tinggal berdua di ruang tamu. Kecanggungan dalam senyap tak terelakkan begitu mata keduanua bertemu. Sepasang manusia yang baru kemarin mengikat janji sehidup semati. "Kau seharian ini hanya di rumah?" tanya Galih memecah keheningan ruangan itu. Mona mengangguk pelan. "Kau pasti mengunjungi banyak tempat." "Kebanyakan rumah masyarakat dan kenalan Ayahmu," balas Galih belum merasa ada tempat istimewa yang dikunjunginya di Kota Tembagau. "Oh begitu." "Tentang ajakan Ibuku ke hotel ... kau pasti menolaknya bukan?" Galih mengungkit tentang masalah yang tadi dibicarakan oleh Mona dan Masita. Mona meneguk salivanya. Bingung apakah harus berkata jujur atau menuruti permintaan tersebut. "Tidak usah. Aku juga tidak mau. Aku akan bicara dengan Ibu," tambah Galih melirik sekilas wajah Mona, sebelum melangkah masuk terlebih dahulu. Menyisakan Mona yang masih bimbang, sekaligus sedikit bingung. Ia mendengar bahwa Galih juga tidak ingin berada di hotel tersebut, apakah lelaki itu juga merasa tidak nyaman dengannya? Mona mengetahui bahwa Galih mungkin akan mandi, setelah hampir seharian berada di luar. Sadar akan tanggung jawabnya sebagai istri, ia masih berusaha menyiapkan pakaian luar bagi Galih. Kecuali pakaian dalam yang masih membuatnya malu. Baju kaus oblong dengan celana pendek. Mona menyiapkan hal itu untuk Galih, setelah melihat kemarin pakaian yang dipakai lelaki itu ketika akan tidur. Baru saja Mona berbalik badan berniat akan keluar kamar untuk menuju dapur dan membantu ibunya, namun matanya membeliak begitu menemukan sosok Galih yang keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Mona segera memalingkan wajahnya. Ia merasa pipinya telah menghangat, karena melihat bagaimana otot perut Galih yang seperti tercetak. Padahal tidak seharusnya dirinya merasa seperti itu. Mengingat status dirinya yang sebelumnya pernah menikah. Galih tidak mengatakan apapun dan hanya santai melewati Mona untuk menuju laci di mana pakaian dalamnya berada. Aroma sabun anti septik kemudian dapat dihirup oleh wanita itu. Menambah rasa gugup dan groginya berada dalam satu kamar dengan sosok Galih. "Ibu sedang memasak di dapur ya?" tanya Galih pelan. Mona kemudian mengingat hal tersebut. "Oh benar, aku ... akan keluar membantunya," ucapnya mendapat alasan untuk bisa bergerak pergi. Ia mulai melangkah menuju pintu tanpa berusaha menoleh memandangi Galih dulu. "Mona." Sebuah seruan membuat langkah Mona berhenti sebelum mencapai pintu. Wanita itu berbalik badan secara spontan. Panggilan seorang suami, tak boleh diabaikannya bukan? "Terima kasih ... sudah menyiapkan pakaianku," ujar Galih lalu tersenyum tipis. Mona hanya mengangguk singkat, kemudian kembali fokus untuk menuju dapur. Setelah menutup kembali pintu, ia berdiri di depan kamar beberapa saat. Ia merasa telah membuat langkah besar sebagai perannya dari seorang istri. Meski itu sebatas menyiapkan pakaian untuk suaminya, Galih. ♤♤♤ Makan malam berlangsung dengan tenang. Pembicaraan didominasi oleh keberangkatan Handoko yang bersamaan dengan Malik. Jika Handoko harus memenuhi tugas negara, maka Malik harus memenuhi tugasnya sebagai seorang pelajar. Setelah mengisi perut malam itu, Handoko dan Masita kembali ke kamar untuk memastikan barang bawaan Handoko tidak ada yang ketinggalan. Sedangkan Mona mencuci piring sambil merapikan peralatan makan di lemari dan bahan makanan di kulkas. Tersisa, Galih dan Malik di meja makan. Keduanya belum pernah bicara secara pribadi. Selain masih sibuk dengan pikiran masing-masing tentang satu sama lain, usia keduanya juga cukup terpaut jauh. "Mona, bisa buatkan aku kopi," ucap Galih berbalik badan sekilas memandang Mona yang masih berada di depan kulkas. Mona hanya mengangguk pelan. Ia kemudian beralih kepada Malik yang raut wajahnya tampak datar saja. "Aku akan membuatkanmu s**u cokelat kesukaanmu." Mata Malik membulat. "T-tidak. Aku juga mau kopi ... kopi susu." Ia langsung menolak tawaran kakak perempuannya itu dan ketika kembali menatap Galih, entah mengapa dirinya merasa laki-laki menahan tawanya, meski raut wajahnya masih tampak tenang. Hanya ada suara sendok yang sesekali mengetuk gelas kaca pada ruangan itu. Mona yang selesai mengaduk s**u dalam kopi Malik, kemudian mulai bersiap menyajikannya bersama dengan kopi Galih. Ia menaruh kedua cangkir itu di atas nampan dan berjalan menuju meja makan. Namun sebelum Mona mencapai meja makan, Galih bangkit terlebih dahulu. "Malik, ayo ke teras depan menikmati kopinya." Ajakan Galih langsung diberi anggukan kepala oleh Malik, seolah anak laki-laki itu telah menunggu momen tersebut. Awalnya Mona menjadi bingung sekaligus heran, tetapi dirinya harus mengikuti kedua lelaki itu sampai ke teras depan sambil membawa kopi tersebut. "Malik, jangan terlalu tidur larut. Besok kau perlu berangkat pagi-pagi," ujar Mona setelah meletakkan dua cangkir di atas meja bundar lecil yang berada di antara kursi Galih dan Malik. Malik mendengkus pelan. "Mbak Mona, aku sudah terbiasa bangun pagi sejak masuk Akpol." Dahi Galih mengenyit, lalu tampak berpikir sejenak. "Kau juga masuklah duluan ke kamar. Nanti aku akan menyusul," ucapnya menatap Mona. Mona terkesiap mendengarnya. Entah mengapa ia merasa ucapan Galih cukup ambigu. Ia tak membalas apapun dan segera menyingkir dari hadapan dua lelaki itu. Sepeninggal Mona, tangan Galih terulur terlebih dahulu untuk meraih cangkir kopi dan menyesapnya secara perlahan. Ekor matanya kemudian melirik Malik diam-diam juga memandang ke arahnya. "Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Galih membuat Malik refleks menoleh. Dengan wajah terkejut Malik, maka tebakan Galih memanglah benar. Adik Mona tersebut lalu berdehem sejenak. Mencoba mengeluarkan kalimat yang telah bersemayam dalam pikirannya. "Jangan pernah menyakiti Mbak Mona. Dia sudah banyak menderita," ujar Malik menatap ke depan. "Lalu?" Malik sedikit tercengang akan balasan kakak iparnya itu. "Aku tahu pernikahan kalian tak lebih dari sebuah perjodohan. Jadi jika ... jika kau tak bisa mencintainya Mbak Mona atau memiliki tambatan hati lain ... maka lepaskan dia secara baik-baik." Galih tertegun mendengar ucapan Malik yang lebih mirip dengan sebuah permintaan. Padahal ia berpikir bahwa lelaki itu akan melontarkan kalimat dingin, penuh ancaman. "Menurutmu aku akan menyakitinya?" Kini Galih sudah menoleh menatap lekat Malik. Malik mengangguk. "Kau sanggup melakukannya, bukan berarti akan." Ia balas menatap Galih. Sungguh dirinya tak bisa membaca apa yang mungkin sedang dipikirkan atau direncanakan oleh lelaki itu atas pernikahan yang telah terjadi. "Bahkan jika kami tak saling mencintai, maka bukan berarti kami tidak bisa bersama bukan?" "Kalian harus bersama dengan orang yang kalian cintai, untuk bisa hidup bahagia," balas Malik tidak menyetujui ucapan Galih tersebut. "Lalu bagaimana ... jika kakak perempuanmu yang terlebih dahulu memiliki tambatan hati lain? Bukan aku." Galih kembali menyeruput kopinya. Kali ini meminumnya hingga habis. Malik terdiam sejenak. "Tidak akan. Seluruh hati Mbak Mona telah tenggelam bersama dengan kematian Mas Angga." Lebih dari siapapun, dirinya tahu tentang bagaimana rasa cinta dan kehilangan Mona tersebut. Galih lalu bangkit berdiri dengan bibir tersungging senyuman tipis. "Hati ... siapa yang tahu. Aku masuk duluan, Mona ... mungkin sudah menungguku." Malik mengerjap. Ia tahu bahwa perasaan adalah sesuatu yang tak tertebak, bisa saja Galih atau Mona akan menaruh perasaan satu sama lain, atau malah keduanya saling jatuh cinta. Namun siapa yang terlebih dahulu harus merasa tersiksa sekaligus bahagia dengan perasaan seperti itu. "Seperti kata Mona. Jangan tidur terlalu malam, tapi habiskan kopi susumu dulu," ucap Galih sebelum akhirnya benar-benar masuk. Meninggalkan Malik dengan banyak pertanyaan yang sepertinya sukar untuk terjawab. Akhirnya Galih benar-benar masuk ke dalam kamar. Begitu membuka pintu, dirinya bisa melihat Mona sedang bersandar pasa bahu ranjang sambil membaca sebuah buku. Wanita itu seolah tak sadar akan kedatangannya. "Kau membaca karya Eka Kurniawan?" Suara Galih membuat Mona terkejut sejenak. Ia menutup buku novel berjudul Cantik Itu Luka dan beralih memandang Galih yang ternyata telah masuk ke dalam kamar. Bahkan lelaki itu sudah naik ke atas ranjang juga. "Kau juga membacanya?" tanya Mona seolah merasa Galih mengetahui sang penulis. "Aku membaca Lelaki Harimau," jawab Galih telah sepenuhnya berbaring. Mona menoleh sekilas sambil mengulum senyuman simpul. "Tidak terduga." "Apanya yang tidak terduga? Apa aku terlihat seperti laki-laki yang tidak pernah membaca karya sastra seperti itu?" Galih mengubah posisinya seperti Mona. Kepala Mona mengangguk singkat. "Mas Galih ... terlihat misterius." Ia tak dapat memungkiri kesannya kepada Galih akan hal itu. Bahkan dirinya masih penasaran, apa sebenarnya yang Galih dulu lakukan, contohnya pekerjaan lelaki itu. Galih menyeringai. "Memangnya aku mata-mata?" "Bisa saja." Kali ini Galih terdiam mendengarnya. "Lalu itu...." lanjut Mona menggantung kalimatnya. "Apa?" "Jangan beritahu Ibumu soal kita batal ke hotel. Kita ... pergi saja." Galih tercengang mendengar sesuatu yang tak disangkanya. Melalui bibir wanita itu sendiri, mereka mungkin benar-benar akan pergi. ♤♤♤ update di sini juga aja wkwk padahal awalnya mau di KBM, cuma sudah nyaman :(
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD