Mona mengikuti langkah Galih memasuki lobi hotel. Ia diam-diam melirik bagaimana lelaki itu menarik koper yang berisi pakaian keduanya. Rencana hanya menginap selama tiga malam, menjadikan mereka tidak terlalu membawa banyak pakaian.
Sebelumnya Mona telah menyetujui tawaran Rahayu untuk menginap di hotel. Takut membuat mertuanya itu kecewa yang berimbas kepada pandangannya terhadap orang tuanya sendiri. Keluarganya sendiri.
"Silakan ikut kami."
Setelah mengkonfirmasi pesanan kamar yang telah dibuat oleh Rahayu, maka Galih dan Mona mulai mengikuti pegawai hotel untuk mengarahkan mereka ke kamar mereka. Sebuah kamar kelas tertinggi di hotel itu dan berada pada lantai teratas.
"Karena memilih kamar ini, maka seluruh fasilitas yang berada di hotel ini bisa anda nikmati," ujar pegawai hotel menjelaskan dengan senyuman lebar.
Galih dan Mona mulai memasuki kamar mereka yang berukuran sangat luas dengan berbagai fasilitas yang bisa memanjakan mereka. Tirai dibuka oleh Galih dan dirinya bisa melihat Kota Tembagau dari tempatnya berdiri.
"Semoga hari kalian menyenangkan." Pegawai hotel pamit untuk keluar dari kamar hotel.
Sebenarnya Mona tidak bisa merasa tenang selama dalam perjalanan ke hotel. Sebelum meninggalkan rumah, ia telah berkemas di kamar sekaligus membersihkan kamarnya itu. Namun sesuatu tiba-tiba teringat olehnya, surat dari Angga.
Seingat Mona, ia menaruh surat tersebut di bawah ranjang secara terburu-buru pada hari pernikahannya. Namun setelah berkemas dan sadar akan hal itu, ia mencoba mencarinya kembali, namun tidak menemukannya.
Setelah menikah, Mona sangat yakin bahwa tidak ada orang yang pernah masuk ke kamarnya, bahkan sekadar untuk membersihkan. Tidak pula ibunya, karena dirinya lah yang selalu merapikan dan membersihkan kamar itu sendiri.
Mata Mona melirik Galih yang masih terlihat menikmati pemandangan Kota Tembagau. Ia tidak ingin berprasangka, tetapi mengapa sudut hati terdalamnya mengatakan bahwa mungkin ... mungkin saja lelaki itu yang telah menemukan surat dari Angga tersebut.
"Kau tidak lapar? Tadi kita terburu-buru ke sini, sehingga tidak sempat makan." Galih berujar sambil membalik tubuhnya. Menemukan Mona telah memandang lekat dirinya.
"Mona?"
Mona tersadar akan lamunannya. "Ya?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanpa perlu menduganya, Galih tahu bahwa isi kepala Mona berada pada tempat lain.
"Oh? Tidak, tadi Mas Galih bilang apa?"
Galih menghela napas sejenak. "Aku mau keluar mencari makan. Kau mau ikut?"
Pertanyaan Galih langsung dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Mona. Meski wanita itu masih merasa lelah setelah berkemas, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke hotel ini, tapi rasa lapar dalam dirinya tak mampu dilawannya.
"Baiklah, ayo kita keluar."
Galih dan Mona tidak perlu repot-repot keluar dari gedung tersebut, karena hotel yang mereka tempati memiliki restoran yang telah terkenal di penjuru Kota Tembagau. Keduanya langsung mengambil posisi berada dekat jendela. Sekali lagi pemandangan adalah hal utama di hotel tersebut.
Galih mulai memesan berbagai jenis makanan untuk disantapnya, berbicara dengan pelayan restoran yang mendatangi meja mereka. "Bagaimana denganmu?"
"Kurasa itu sudah cukup bagi kita berdua. Aku tidak masalah," jawab Mona mendengar bagaimana Galih menyebut setiap menu lauk yang dipesan.
Galih mengangguk singkat. "Baiklah, kami pesan itu saja."
Pelayan restoran mulai meninggalkan meja keduanya. Keheningan kembali mengalun antara Mona dan Galih. Seolah suara musik tak mampu meredam pemikiran masing-masing dari mereka berdua.
Mona ingin menanyakan perihal surat Angga kepada Galih. Namun tampak Galih sibuk menatap layar ponselnya.
"Kata Ibu, kau hanya perlu membawa pakaianmu nanti setelah kita pindah. Segala jenis perabot rumah sudah ada di sana," ujar Galih mendongak menatap Mona.
Mona paham akan maksud ucapan Galih. Sekali lagi mengingatkan dirinya bahwa lelaki di hadapannya itu berasal dari keluarga berada yang mungkin jika pindah ke Kota Tembagau akan menjadi yang terkaya di sana.
"Apakah ... Mas Galih benar-benar bersedia tinggal di sini?" tanya Mona telah mendengar sebelumnya bahwa Galih menghabiskan masa kecilnya di Jakarta yang notabene-nya adalah kota besar. Ia mendengar hal itu langsung dari Rahayu.
Galih tersenyum miring. "Bahkan jika aku menolak, apakah aku bisa kabur?"
Mona meneguk salivanya. Pemikiran bahwa Galih terpaksa tinggal di kota ini, sekaligus terpaksa menikahinya adalah hal yang tak dapat dipungkirinya.
"Tapi tidak perlu khawatir. Aku tidak akan kabur," ujar Galih memberi tatapan dalam kepada Mona.
Mona menahan napas sejenak, melihat bagaimana mata Galih seolah tak ada kata bercanda di dalamnya, ketika mengucapkan kalimat tadi.
"Jika pun aku kabur ... maka akan kupastikan membawamu juga," lanjut Galih, lalu memasang senyuman tipis.
Kabur. Mona merasa ia tidak akan perlu melakukannya. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan Kota Tembagau. Belum ada, setahunya hingga kini.
♡♡♡
"Kau ingin ke bagian rooftop?" tanya Galih melihat Mona telah selesai menyantap makanan penutupnya.
Mona mengerjap. "Hari masih siang. Pasti terik di atas sana."
"Apa kau takut gosong?" Meski belum pernah melihat Mona memakai riasan yan mencolok. Namun Galih hampir setiap malam melihat wanita itu memakai produk perawatan pada wajahnya.
"Tidak. Bukan seperti itu." Mona berdalih. Ucapan Galih seolah membuatnya seperti wanita yang anti dengan sinar matahari. "Aku hanya berpikir ... mungkin cukup terasa panas di atas."
Galih mulai bangkit berdiri. "Baiklah, biar aku yang naik saja. Kau bisa kembali ke kamar untuk istirahat sambil menyetel pendingin ruangan ke titik yang paling rendah." Ia menyeringai sekilas, sebelum akhirnya berjalan meninggalkan meja tempatnya makan tadi.
Mona melongo tidak percaya. Ia tidak berharap acara menginapnya dengan Galih akan berlangsung romantis, tetapi paling tidak dirinya ingin memahami lelaki itu lebih dekat. Begitupula harapnya pada Galih agar bisa tahu tentang dirinya lebih jauh. Komunikasi yang baik, prioritas Mona kali ini.
Awalnya Galih berpikir bahwa istrinya itu akan benar-benar memilih kembali ke kamar, bahkan untuk sekadar rebahan dengan perut yang kenyang. Namun pada kenyataannya, ekor matanya melirik bagaimana Mona mengikutinya hingga masuk ke elevator, tanpa menekan tombol menuju lantai kamar mereka.
"Pilihan yang bagus. Lagipula setelah ini kau akan puas tinggal di kamar," komentar Galih kemudian pintu elevator terbuka.
Mona berdecak sebal sebentar, sebelum melihat bahwa area rooftop masihlah memiliki atap, meski sudah tidak ada dinding apapun yang mengelilingi, kecuali pagar pembatas. Langit cerah dengan awan berarak, menjadikan mata Mona langsung cemerlang seketika. Melupakan rasa kesalnya terhadap Galih tadi.
"Dari atas sini, Kota Tembagau terlihat luas. Padahal untuk mengelilingi dengan mobil bahkan tidak membutuhkan waktu lama," ujar Galih mengungkapkan pemikirannya akan kota yang belum genap setahun didiaminya itu.
"Menurut Mas Galih apa daya tarik kota ini?" tanya Mona masih belum mengerti kenapa Galih rela meninggalkan gemerlap Kota Jakarta untuk tinggal di kota kecil seperti Tembagau. Padahal bahkan jika mereka telah menikah, lelaki itu bisa saja meminta kepada orang tuanya untuk tetap tinggal di Jakarta.
Galih tampak berpikir sejenak, sebelum menjawab pertanyaan Mona. "Aku datang ke sini seperti dibawa ke pengasingan setelah menjalani masa rehabilitasi. Lalu bertemu ayahmu dan menikahimu. Daya tarik?" Ia mendengkus pelan. "Anggap saja, karena kota ini memiliki satu-satunya mercusuar yang menyala pada malam hari. Mengingatkan kepada kapal yang berlayar bahwa mereka telah dekat dengan daratan."
Mona merasa bingung dengan jawaban Galih. Meski begitu, ia ikut menatap menara mercusuar yang berada di atas sebuah tebing menghadap ke laut. Ingatannya seolah kembali saat sebuah kapal membawa jasad Angga dalam sepinya malam itu.
"Apakah kau pernah ke mercusuar itu?" tanya Galih menoleh memandang Mona.
Reflek wanita itu ikut menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. "Belum, seseorang ... telah mengajakku. Janji yang tak akan pernah ditepatinya."
Galih terdiam mendengarnya. Tanpa perlu menebak, ia sudah tahu bahwa orang itu adalah mantan suami Mona, yaitu Angga. Apa lagi yang lebih menyesakkan dari janji tak pernah sanggup diwujudkan.
Setelah puas dengan pemandangan kota, hingga pada garis pantai yang samar. Galih mulai mengajak Mona kembali ke kamar mereka. Waktu juga telah memasuki sore hari hari. Waktu tepat untuk beristirahat.
Galih memilih berbaring di atas tempat tidur sambil mulai menyalakan televisi. Acara berita olahraga langsung menarik perhatiannya. Ia menyilangkan tangan di belakang kepala, mencoba fokus mendengar analisis pembawa berita tentang pertandingan bola semalam.
Pada sisi lain, Mona memilih untuk mandi. Tubuhnya tetap terasa gerah setelah dari rooftop tadi. Meski cukup menikmati suasana di atas. Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Mona untuk membersihkan dirinya.
"Kau sudah selesai?"
Pertanyaan Galih membuat Mona terkesiap, karena tidak menyangka bahwa pria itu telah bangkit dari tempat tidur bahkan telah membuka bajunya. Menyisakan celana pendek dengan handuk yang disampirkan pada bahunya.
"Ya," jawab Mona singkat mencoba memalingkan wajahnya. Ia sudah beberapa kali melihat penampilan Galih seperti itu. Namun tetap saja masih terasa asing baginya.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Mona beranjak menuju koper untuk mengambil dan memakai piyama yang dibawanya. Tak lupa dirinya juga menyediakan pakaian untuk Galih.
Mona memastikan rambutnya yang basah telah menjadi kering, sebelum berbaring dan mengganti Galih melihat acara televisi yang ada. Ternyata siaran di hotel tersebut tidak cukup banyak, membuatnya beralih bangkit dan menatap bagaimana matahari mulai kembali ke peraduan.
Mona mengambil ponselnya dan berusaha mengabadikan momen tersebut, sebelum kenangan tentang Angga kembali diingatnya.
"Senja akan terlihat indah di atas mercusuar itu? Mau ke sana besok?"
"Apa Mas Angga bercanda? Besokkan sudah berangkat."
"Kalau begitu ... bagaimana jika aku sudah kembali lagi?"
"Ya, mari ke sana jika Mas Angga sudah pulang."
Air mata Mona menetes tanpa ia sadari. Sekali lagi, satu janji Angga yang tak akan pernah dilakukan oleh lelaki itu membuat dadanya terasa sesak.
Namun tepat setelah Mona berbalik badan. Ternyata sudah ada Galih yang berdiri di belakangnya. Memandangnya lekat seolah bertanya-tanya, akan apa gerangan dengan uraian air matanya.
"Jika kau hanya menangis dengan datang ke sini. Tak seharusnya kau menyetujui usulan ibu," ujar Galih mulai bergerak mengambil piyama di atas tempat tidur.
"Apakah ... apakah Mas Galih yang mengambil surat di bawah tempat tidurku?"
Pertanyaan Mona hanya mampu membuat Galih memegang piyamanya, tanpa melanjutkan gerakannya untuk memakainya. Ia menoleh mendapati wanita itu telah mengepalkan tangan, seolah menahan emosi yang tertahan dalam dirinya.
"Ya, aku tidak sengaja menemukannya," jawab jujur Galih tanpa berusaha mengelak.
Mona melangkah maju, lalu mengulurkan tangannya. "Kembalikan padaku. Aku baru sekali membacanya, meski telah lama kuterima."
Mata Galih hanya menatap telapak tangan Mona. Ia menengadah, lalu tersenyum tipis. "Jika kau membacanya kembali, apa yang akan berubah? Dia tetap telah tiada."
"Mas Galih."
Sreett.
Hanya butuh satu tarikan dari Galih untuk membuat Mona mendekat padanya, sebelum membanting pelan tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.
"Aku sekarang adalah suamimu. Sedangkan dia adalah masa lalumu," kata Galih telah menindih tubuh Mona dengan bertopang pada kedua tangannya. Perlahan jemarinya terulur dan membelai lembut wajah istrinya yang tak dipungkirinya memiliki pesona kecantikan tersendiri. Murni sekaligus manis.
Mona meneguk salivanya, karena tatapan tajam dan sentuhan Galih padanya saat ini. Ia mencoba kuat untuk membalas perkataan pria itu serta berusaha bangkit, namun tubuhnya malah melemah mana kala Galih semakin merendahkan posisinya. Hingga pada satu titik tertentu, sentuhan intim pertama antara dirinya dan Galih tercipta.
Bibir Galih beradu dengan bibir Mona dalam kecupan lembut. Membuat wanita itu hanya bisa mengepalkan tangannya, sebelum jemari Galih menyelinap dan kembali meluruhkan pertahanannya.
♡♡♡
Ada yang menantikan kisah mendayu-dayu ini? wkwkwk