Mona memegang bibir yang kemarin beradu dengan milik Galih. Ia tahu tak seharusnya dirinya merasa marah apabila pria itu melakukannya, karena mengingat status Galih yang telah menjadi suaminya. Namun Mona merasa, kemarin Galih cenderung memaksakan hal tersebut. Meski itu masih bernapas lega bahwa pria itu tak berbuat lebih jauh. Mungkin lebih tepatnya, belum.
"Bangunlah."
"Apa?"
Mona tersentak, karena ternyata Galih sudah terbangun. Padahal ia bisa melihat jam dinding hotel masih menunjukkan pukul lima subuh.
Mau tidak mau, Mona terpaksa membalik tubuhnya. Menemukan suaminya itu sudah melepas bajunya. Matanya seketika berpaling. "Matahari bahkan belum terbit."
"Oleh karena itu, aku ingin mengajakmu ke sana. Melihat matahari terbit dari atas mercusuar."
Balasan Galih sontak membuat Mona terkejut. Ingatan akan janji Angga memperlihatkan matahari terbenam di mercusuar kembali terpatri di kepalanya.
"Aku akan mandi terlebih dahulu, lalu kita salat bersama sebelum ke sana."
Mona tidak dapat membalas lagi, karena selain masih terpaku dengan ajakan lelaki itu, Galih telah beranjak menuju kamar mandi.
Helaan napas mulai terdengar dari Mona. Ia kemudian memilih bangkit dari ranjang dan mencoba membuka tirai jendela kamar hotel. Langit masih biru kegelapan, belum tampak bias cahaya mentari.
Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepala Mona saat ini. Ajakan Galih tidak pernah terlintas dalam otaknya. Rasanya aneh memikirkan dirinya akan mengunjungi mercusuar tersebut, ketika mengingat bahwa di masa lalu ia memiliki janji yang tak terpenuhi. Seolah, kehadiran Galih menggantikan pemberi janji sebelumnya.
Sebelum Mona berpikir lebih jauh, Galih telah selesai mandi. Ia pun berganti melakukannya. Usai itu, keduanya mulai menunaikan salat bersama. Dipimpin oleh Galih sebagai imam. Mendengar lantunan ayat suci yang telah didengar oleh Mona beberapa hari ini, maka sulit percaya bagi wanita itu bahwa suaminya itu pernah masuk penjara, karena narkoba.
Setiap orang pernah berbuat salah. Itulah kalimat yang coba ditanamkan Mona pada dirinya, bahwa mungkin Galih pernah tersesat di masa lalu, karena barang haram tersebut. Ia hanya berharap bahwa hal itu tidak akan pernah jadi penghalang atau masalah dalam kehidupan pernikahan mereka pada masa yang akan datang.
"Kau sudah siap?" tanya Galih begitu Mona telah mengambil tas selempangnya.
Mona mengangguk singkat. Ia kemudian sedikit tersentak begitu merasakan Galih menarik tangannya untuk keluar dari kamar hotel. Seperti perkiraannya, lobi hotel masih sepi bahkan hanya ada beberapa pegawai yang melintas, tampak mulai sibuk menuju restoran hotel untuk menyiapkan sarapan.
"Mas Galih, kita ke sana pakai apa?" tanya Mona melirik tautan tangannya dengan lelaki itu.
"Kau akan tahu nanti," balas singkat Galih.
Mona pun hanya mengikuti langkah cepat pria itu. Ia pun sedikit menduga bahwa salah satu alasan mengapa Galih memegang tangannya saat ini adalah agar bisa berjalan beriringan. Gerak kaki Galih benar-benar cepat, hingga Mona tak sempat melihat sekelilingnya.
Akhirnya setelah Galih berhenti, Mona dapat mengetahui bahwa mereka sekarang berada di basement parkiran. Mata Mona kemudian tertuju pada sesuatu di depannya, ia ingin mengelak hal tersebut, tetapi Galih malah telah duduk dengan gagah di atasnya.
"Apa yang kau tunggu? Ayo naik," ujar Galih menepuk bangku belakang sebuah motor sport berwarna hitam yang terlihat kukuh.
Mona mengerjap. Ia belum pernah menaiki motor sejenis itu sebelumnya. Bahkan ayahnya selalu melarang Malik setiap kali akan membawanya jalan-jalan dengan motor skuter adiknya itu. Apalagi kalau bukan takut dirinya akan mengalami kecelakaan.
"Bagaimana Mas Galih mendapatkan motor ini?" tanya Mona mengingat mereka datang ke hotel dengan mobil taksi.
"Setelah kau tidur semalam, seseorang membawakannya untukku," jawab Galih dengan santai.
"Seseorang?" Dahi Mona mengerut. Setahunya Galih belum terlalu lama tinggal di Kota Tembagau dan tak mungkin secepat itu mempunyai kenalan baik yang rela mengantar motor itu padanya.
"Sudahlah, sebaiknya kau naik, atau kugendong untuk naik."
Ancaman Galih seketika membuat Mona bergerak maju dan segera menaiki motor tersebut. Wajah Mona tampak cemberut dan Galih dapat melihatnya dengan jelas melalui spion motor.
"Pegangan yang erat," ujar Galih terdengar ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, tetapi lelaki itu tak peduli, toh Mona sudah menjadi istrinya.
Awalnya Mona tidak ingin terlalu menempel dengan punggung Galih, rasanya masih aneh. Namun ketika merasakan kecepatan motor semakin bertambah ketika berada di jalanan utama, mau tidak mau Mona terpaksa memeluk erat lelaki itu.
Mona bahkan harus memejamkan mata, karena angin kencang menerpa wajahnya saat Galih mencoba memacu kendaraannya lebih cepat. Ia terus berdoa dalam hati, agar tidak terjadi apapun dalam perjalanan singkat mereka itu. Barulah ketika merasakan motor mulai melambat, Mona membuka matanya secara perlahan.
Penampakan mercusuar yang tadinya seolah seperti botol kecap dari gedung hotel, kini Mona melihat bangunan itu bagai menara yang kukuh tak tergoyahkan bahkan dengan hentakan ombak yang keras.
"Ayo masuk. Sebentar lagi fajar akan tiba." Galih berujar sambil menarik tangan Mona menuju mercusuar tersebut.
Akan tidak lucu, jika ternyata mercusuar tersebut tidak dapat dimasuki dan dinaiki. Namun hal itu tidak terjadi, karena Galih dan Mona telah melangkah pelan menaiki tangga mercusuar. Setidaknya ada puluhan anak tangga yang perlu keduanya lalui dan seperti dugaan awal, Mona memerlukan jeda setiap menaiki beberapa anak tangga.
Napas wanita itu tersengal. "Kukira menaikinya mudah," ujarnya sedikit mendongak ke arah Galih yang sudah berada pada dua anak tangga lebih tinggi.
Tangan Galih kemudian terulur. "Sedikit lagi," balasnya mencoba menyemangati Mona.
Tanpa ragu, Mona menerima uluran tangan Galih. Ia pun dibantu oleh lelaki itu untuk bisa sampai ke puncak mercusuar. Angin sepoi-sepoi dari laut lepas langsung menampar wajah Mona ketika telah berhasil berdiri di atas sana. Pada bagian atas mercusuar, terdapat dinding kaca yang beberapa bagiannya sengaja dilubangi dengan maksud membuat cahaya dari lampu bisa terlihat dari luar.
Suara deru ombak beradu dengan napas Mona yang masih terengah, usai menapaki puluhan anak tangga. Mata wanita itu kemudian mulai melihat bias cahaya dari arah samping.
"Tahu tidak fungsi mercusuar?" tanya Galih melirik Mona.
"Navigasi bagi kapal bukan? Lihatlah tebing di bawah, bukankah berbahaya bagi kapal jika sampai menghantamnya tanpa bantuan cahaya dari mercusuar?" Mona menjelaskan sambil melihat bola lampu mercusuar yang masih menyala dengan terang.
"Ya itu benar. Apa ayahmu yang memberitahu tentang itu?"
Pertanyaan Galih membuat Mona terdiam.
"Mas Angga. Dia yang menjawab pertanyaanku, seperti pertanyaan yang Mas Galih ucapkan tadi," ungkap Mona dengan jujur. Ia kemudian menarik napas panjang. "Dia bahkan berjanji membawaku ke sini ... jika telah kembali nanti."
"Janji yang tak akan bisa dia tepati," ulang Galih pernah mendengar Mona mengatakan hal itu sebelumnya di rooftop hotel. "Aku tidak membawamu ke sini untuk memenuhi janjinya padamu."
"Aku tahu. Mas Galih pasti juga lebih penasaran ke sini," balas Mona cepat. Meski ia awalnya pernah berpikiran seperti itu, tetapi baginya Galih bukanlah pria yang akan menjadi perpanjangan tangan dari janji Angga.
"Aku ingin kau menenggelamkan segala janjinya padamu."
Ucapan Galih sontak membuat Mona terkejut, hingga spontan menoleh memandang lekat lelaki itu. "Apa?"
Galih sudah mengubah posisinya menjadi menyamping. Menatap mata Mona yang masih dihinggapi rasa terkejut akan ucapannya tadi. "Aku tahu Angga adalah kenangan yang akan selalu hadir dalam ingatanmu. Tetapi ... melupakannya adalah salah satu cara membuatnya abadi bukan?"
Sudut mata Mona telah berair mendengar hal tersebut. "Itu tidak mudah. Bahkan aku telah mencobanya setiap kali memandang fotonya. Meyakinkan diriku sendiri, bahwa dia telah tiada." Air matanya telah menetes. "Semakin aku berusaha melupakannya, semakin jelas wajahnya terbayang."
"Jadi kau memilih tetap mengingatnya?" tanya Galih pelan dengan mata sayup.
Kepala Mona mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Hal itu menjadikan Galih mendengkus pelan dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Surat Angga yang ditemukannya di bawah kolong tempat tidur Mona.
"Selamanya ... dia akan menjadi bayanganmu ... di antara kita," tukas Galih memberi surat tersebut, sebelum melangkah menuruni tangga mercusuar.
"Kalau begitu bantu aku...." Mona berujar. Menyebabkan kaki Galih berhenti menuruni anak tangga lebih lanjut. Suara ombak menabrak karang kembali terdengar. Bersamaan dengan sinar mentari yang mulai tampak menembus kaca mercusuar.
"Bantu aku melupakannya, Mas Galih," lanjut Mona dengan tangan masih memegang amplop berisi surat dari Angga. Wanita itu tak bergurau saat meminta bantuan dari Galih. Secara sadar dan paham, bahwa memang hanya pria itu yang dapat membantunya. Pria yang telah menjadi suaminya.
Galih berbalik. "Kau yakin?" Ia belum beranjak, entah kembali naik ke atas menuju Mona atau melanjutkan perjalanannya untuk turun.
Mona mengangguk singkat. "Aku akan menenggelamkan segala janjinya, seperti ombak yang menyapu bibir pantai."
Mas Angga, aku lelah mengingat janji-janji kita. Semuanya fana, seperti bayangan dirimu. Dulu Mona pernah dianggap sudah tidak waras, setelah beberapa hari pemakaman Angga telah dilakukan. Wanita itu selalu kembali ke dermaga, di mana Angga dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa.
"Kalau begitu mulai dari surat itu. Kau berjanji akan menceritakan kisah sejarah untuknya bukan?"
Galih telah bersuara. Mata lelaki itu lalu menangkap tangan Mona mengepal memegang surat itu. Seolah enggan melepaskannya. Hal itu membuat Galih menyeringai, lalu mulai kembali berbalik badan menuju ke bawah.
Krakkk....
Kkrrak....
Hanya butuh dua sobekan untuk membuat Galih sadar bahwa Mona menuruti ucapannya. Setelah mencoba memandang wanita itu lagi, ia telah menemukan Mona menuju bagian balkon mercusuar. Memaksa kakinya mengikuti Mona, karena tahu bahwa pembatas balkon tidak cukup tinggi.
"Mona," seru Galih telah mendapati Mona menerbangkan sisa sobekan surat dari Angga tersebut.
"Seperti kata Mas Galih, maka kenangan tentangnya akan abadi," ucap Mona lalu mengulas senyuman tipis yang samar akan kemirisan.
Dalam satu gerakan, Galih membawa Mona ke dalam pelukannya. Menjadikan cahaya matahari fajar menyoroti tubuh keduanya tanpa halangan, dalam dekapan penuh harapan akan hidup masa depan keduanya.
Hangat. Mona dapat merasakannya, entah karena pelukan Galih atau terpaan cahaya mentari pagi. Cerita tentang Angga dan dirinya telah terbenam, akankah kisah tentang Galih akan menyingsing bersamanya?
♡♡♡
Jangan lupa tinggalkan jejak, atau kisah ini akan berakhir sampai di sini wkwkwk