PULANG

575 Words
Aulia segera menghubungi induk semangnya dan mengabarkan bahwa ia akan segera pulang ke Surabaya langsung sore ini. Memesan tiket on line dan langsung ke bandara menggunakan taxi on line juga. Barang yang di bawa juga seadanya saja. Laptop dan beberapa baju gantinya. 15 menit ia sampai di Bandara. Udara masih terasa dingin karna hujan masih rintik kecil begitu tiba di Cengkareng. Selama menunggu pemberangkatan Aulia terlihat sangat gelisah. Terbayang terus wajah ayahnya yang sedang sakit. Atau bahkan sedang....Ah, tidak...Aulia menepis bayangan buruk yang sempat hinggap di kepalanya. Ia menangis membayangkan jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Ya Allah, tolong sembuhkan ayah, jerit batinnya. Selama dalam pesawat, Aulia menenangkan diri dengan membaca Al Qur an mini yang selalu dibawa di dalam tasnya. Ada sedikit ketenangan dihatinya ketika dengan membaca Al Qur an, meski saat itu Aulia sedang berada di ketinggian lebih dari dua ribu kaki. Gadis solehhah itu memang tak pernah lupa dengan semua pesan ayah ibu dan juga gurunya untuk selalu membaca Al Qur an di manapun berada. Bukankan Al Qur an itu adalaj pelita dalam hidup setiap insan mukmin. Dua setengah jam ditempuh pesawat mendarat mulus di Bandara Juanda. Tergesa-gesa Aulia memesan taxi on line, memberikan alamat pada sopir, dan langsung ke rumahnya. Hatinya berdebar-debar tidak karuan. Ia tidak bisa tenang. Gadis itu terus saja menghapus air matanya. Satu jam kemudian Aulia sampai di kawasan rumahnya. Dilihatnya banyak sekali orang berkumpul. Ada paman dan bibi, saudara dari ayah dan ibunya, semua berdatangan. Begitu turun dari taxi dan membayar, ia langsung berlari ke dalam rumah. Kakaknya Aditya sangat kaget melihat adiknya pulang sendiri. " Kenapa tidak bilang kalau mau pulang langsung, biar aku jemput" Aulia menghambur begitu saja dipelukan kakaknya sambil terisak. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Adit. Ia tidak bisa berkata apa apa lagi sekarang. Ia paham apa yang sedang terjadi. Melihat orang-orang dan begitu banyak keluarga yang berkumpul membuat ia seakan tahu apa yang sedang terjadi tanpa diberitahu. " Aku langsung pulang begitu dapat telfon dari kakak. Hiks, hiks, aku terlambat, aku tak bisa ketemu sama Abi, huuù, huuuuk" Isaknya. Aditya memeluk adiknya tanpa bisa berkata apa-apa. Ia juga sabgat sedih dengan keadaan ini. Ia menggandeng adiknya masuk ke kamar duka. Ada Bundanya juga di situ. " Bundaaaaaaa," Ratap Aulia pilu. Ia menghambur ke pelukan bundanya. Nadia yang melihat putrinya datang dengan ratapan pilu, langsung memeluj putrinya. Semua dalam duka yang dalam. Ya hari ini keluarga Aulia berduka karna kehilangan seorang yang sangat mereka cintai. Penopang dan penyemangat keluarga. Lebih-lebih Abi adalah seorang yang sangat dekat dengan keluarga. Tidak terbayang bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh keluarga kecil yang bersahaja itu. Tapi itu adalah salah satu ujian untuk meninggikan derajat seseorang bukan ? Bukankah semakin tinggi tingkat keimanan seseorang Allah SWT akan memberikan ujian yang lebih tinggi lagi. Dan Dia akan selalu menjaga iman orang itu dalam takaran ujian yang ditentukan olehNya bukan? Ingatlah, bahwa Allah Tidak akan memberikan ujian pada seseorang melebihi kemampuannya. Dan inilah yang selalu ditekankan Abi Fakhri pada istrinya Nadia dan kedua anaknya, Aditya dan Aulia. Mereka adalah keluarga yang sederhana walaupun tergolong berada. Abi memiliki sebuah usaha yang kini sudah tidak dipimpinya lagi. Tapi sudah dukelola oleh putra sulungnya Aditya. Adit sendiri sudah mendapatkan pendidikan S2 dan sudah berkekuarga. Dia meneruskan usaha abinya dan ditangannya usaha itu berkembang dengan baik, walaupun tidak dikatakan besar. Nadia sendiri tidak begitu tertarik dengan segala yang berbau usaha. Ia lebih suka mempelajari tentang ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD