" iya, aku baru semester awal." Aulia memandang keluar jendela bus kota.
Aulia memang baru datang ke kota ini. Dia berasal dari salah satu kota di Surabaya. dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jakarta. Di sini dia kos.
" Kalo gitu Aulia panggil aku kakak atau mas aja ya, usiaku di atas kamu."
" He eh, iya kakak aja deh, lebih enak." Aulia memberikan senyum manis, tanda perkenalan. Rangga terpana sesaat. Imut banget, batinnya. Mereka kembali diam, sepertinya sedang menyusun kata- kata untuk bisa saling berkomunikasi. Tiba-tiba saja, entah kenapa Rangga merasa nyaman dekat gadis manis ini. Wajahnya begitu bersih, tanda seorang gadis yang solehah. Kulinya yang putih kekuningan menyiratkan kalau Aulia bukan gadis sembarangan. Dia, entah kenapa ingin mengenal gadis itu lebih jauh.
Setelah kira-kira 30 menit berkendara, " Stop, stop bang, ! aku turun di sini" Aulia berseru sambil mengeluarkan ongkos bus kota.
" Ga usah ongkos Aulia. Ntar aku aja yang bayar, ga apa apa ". Rangga menawarkan untuk bayar ongkos.
" Nggak usah kak, ini ada. Aku bayar juga dah untuk Kak Rangga. Dua Bang. " Mengulurkan uang lima puluh ribuan pada abang sopir. Si Bang sopirnya malah garuk-garuk kepala.
" Aduh Neng, belum ada kembalian Neng, abang baru aja keluar narik !" Si abang sopir tertawa miris.
" Nggak apa - apa dah, Bang, ambil aja, sekalian bayar untuk ibu dan adek yang ini, Ayo Kak Rangga, Aku duluan ya, sampai ketemu." Aulia melompat keluar bus. Singggg,... sesuatau jatuh dari dalam tasnya. Tapi Aulia tidak mendengarnya. Semua melongo.
" Mba, ada yang jatuh !" Bang sopir memanggil Aulia. Terlambat. Aulia sudah hilang ditelan sebuah belokan jalan.
" Alhamdulilah, dapat tumpangan gratis, gadis baik, semoga dapar rizki yang banyak dari Gusti Allah. Dan semoga dapat jodoh yang tampan dan kaya seperti mas ini." Si ibu yang tadi diongkosin sama Aulia, berkata gembira sambil memandang Rangga.
" Aamiiin,,,." Si abang sopir mengamini.
" Pacarnya cantik Mas. Semoga jodoh ya." Si ibu berkata lagi.
Rangga tertegun, siapa yang pacaran, kenal aja baru kurang satu jam. Tapi dia tersenyum dan mengangguk. Nggak ada salahnya mengamini, walaupun di dalam hati.
"Stop Bang, turun sini." Rangga menyetop. Bus berhenti. Rangga mengeluarkan lembaran merah dari saku bajunya.
" Ini Bang, ongkos saya. "
" Lah, Mas, kan tadi sudah dikasi ongkos sama si eneng." Bang sopir terbelalak kaget dan deg-degan. Bagaimana tidak deg-degan bakal dikasi ongkos dobel. Lembaran merah lagi. Wallahhhh....
" Ga papa Bang, ambil aja, Insya Allah mudahan berguna bagi Abang." Rangga sigap melompat. Bang sopir tertegun, " Tunggu,Mas. "
" Yap, ada apa," Rangga berbalik.
" Ini, kayaknya liontin punya temannya tadi. Mas ambil dah, nanti kasih ke temannya." Rangga mengambil kalung itu." Makasih Bang."
"Sama-sama Mas, saya yang terimakasih, udah dikasi ongkos dobel. Semoga berjodoh ya Mas." Teriak bang sopir. Ia sangat bahagia mendapatkan rizki hari ini. Terbayang anak dan istrinya yang menunggu dengan harap di rumah. Lalu kembali menjalankan angkutannya.
Rangga tertegun, hari ini, entah mengapa ia merasa begitu aneh. Ya hari ini ada beberapa orang mendoakannya berjodoh dengan gadis berhijab tadi. Gadis yang baru saja dikenalnya. Tiba- tiba dia tersadar sesuatu. Dia lupa menanyakan dimana tempat kuliah gadis itu. Sial, mengapa tak menanyakan di mana dia kost. Ah, tiba tiba saja hatinya berdebar aneh. Rangga coba menepis bayangan Aulia. Namun lagi-lagi dia tertegun. Kalung liontin ini. Tunggu, ke mana harus kukembalikan. Dia mengangkat kalung itu di depan wajahnya.Hey... mengapa hanya sepotong. Kemana potongan yang lainnya. Bentuknya seperti jantung yang terbelah. Agaknya liontin itu terjatuh dari patahannya. Hatinya semakin berdebar-debar. Suatu hari akan aku kembalikan, batinnya. Tiba-tiba saja ia ingin berbalik menuju tempat turunnya si gadis berhijab. Tapi ponselnya lagi-lagi berbunyi. Rupanya mamanya memanggil lagi. Hhh... besok sajalah kucari gadis itu. Ia berjalan menuju rumahnya.
Sebuah rumah dengan gerbang megah. Ada satpam yang berjaga de depan satpam, sehingga ketika Rangga pulang, segera saja pak satpam membukakan pintu untuk Rangga. " Silakan Mas Rangga, Tuan dan Nyonya sudah menunggu dari tadi."
" Assalamualaikum, Ma" Rangga mencium tangan mamanya
" Waalaikum salam, Rangga dari mana saja, mama sama papa udah nungguin dari tadi. Kakek dan nenek juga ada di dalam. Masuk yuk. " ajak mama lembut.
Rangga mengekor sang mama masuk rumah.
" Hai cucuku yang ganteng, gimana kabarnya nih," Kakek dan neneknya memang duo yang kompak. Mereka sangat menyayangi Rangga dan semua saudaranya. Rangga mempunyai dua saudara. Kakaknya sudah bekerja di perusahaan papanya dan sudah berkeluarga. Dan adik perempuannya masih sekokah SMA. Rangga sendiri masih kuliah menuntut ilmu di Turkey dan sedang pulang liburan semester.
" Baik-baik aja kek, nek," Rangga mencium tangan kakek dan neneknya bergantian.
" Kakek sama nenek juga apa kabar. Nenek makin cantik san imut aja,"Rangga langsung mencuri ciuman di pipi neneknya yang memang kelihatan masih cantik. Membuat kakeknya menatap horor dan sewot.
" Heh,... dasar cucu genit, main cium sembarangan sama soul mateku. Rangga tak perduli, malah semakin erat memeluk neneknya.
" Heh, heh, cucu nakal, sana cari istri biar bisa peluk- peluk. Ngapain pake peluk kekasihku !... Dasar cucu ndak laku-laku. Cucu gagal move on..."
" Siapa bilang aku nggak punya pacar. Rangga udah move on kek. " Rangga mencibir. Sekali lagi mencuri ciuman di pipi sang nenek yang tak perduli pada si kakek yang terus saja sewot. Rangga memang manja sama kakek, terutama sama neneknya.
" Kalao gitu mana pacar kamu itu" Kakek kembali menyerbu. "Kakek belum percaya kalau belum liat. "
" Kakek tenang aja, kalau udah waktunya bakal Rangga kenalin sama kakek dan nenek dan juga semuanya. " Padahal dalam hatinya dia memaki dirinya sendiri kenapa tidak menanyakan di mana gadis Aulia tinggal. Dia sepertinya harus bertindak. Harus mencari tahu gadis yang ditemuinya di toko buku dalam pertemuan singkat namun menyisakan sejuta perasaan aneh di dadanya. Dilihatnya kembali liontin itu. Satu satunya petunjuk untuk mencari gadis bernama Aulia itu. Ah rupanya hatinya sudah
tercuri gadis sederhana berhijab dengan wajah imut dan mata lentik itu. Mengingat itu hatinya berdebar lagi.
***
Sementara itu di tempat lain. Aulia berjalan pulang menuju kosannya. Sambil menenteng bawaannya ia membuka pintu gerbang. Ia langsung masuk ke kamarnya. Jam seginian teman-teman kosnya masih sepi. Ada yang belum pulang kuliah dan ada yang belum pulang bekerja. Kebanyakan temannya adalah sesama mahasiswa dan rata-rata usianya hampir sama sehingga Aulia tidak begitu susah dalam bergaul. Semua temannya adalah orang-orang yang baik.
Begitu tiba di kamar, Aulia merebahkan diri di tempat tidur, melepas lelah sejenak. Ia mengambil ponsel yang sejak tadi ditaruhnya di dalam tas. Tampak ia begitu terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dan notif dari kakaknya.
Aditya : Kamu di mana aja, kenapa hp ga diangkat, ayah sakit.
Aulia terhenyak. Langsung saja dia mendial nomor kakaknya.
Begitu tersambung
" Hallo kak, Assalamualaikum. Ini aku Aulia Kak"
" Hallo Lia, kamu bisa pulang besok pagi, ayah sakit."
Didengarnya suara bundanya yang terisak.
Bagai disambar petir, Aulia sangat rerkejut
" A,...ayah ss...sakit apa..Kak?"
" Jantungnya kumat. Segeralah berkemas !"
Aditya mematikan telefon.
Aulia tidak mau menunggu sampai besok.Sekarang saja dia sudah berkemas-kemas.